ANMELDEN"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya
"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar. "Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi. "Duduk!" perintah Tuan Hans. "Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan alisnya sambil menoleh. "Duduk, kita lanjutkan wawancaranya. Aku tidak peduli seperti apa reputasimu," sahut Tuan Hans lagi menarik tangan Ashuna. Ashuna memicingkan matanya. "Kau yakin? Bukankah dulu sering meremehkanku?" "Dengar Ashuna, dulu aku memang meremehkanmu karena naif. Tapi sekarang aku ingin melihat perkembanganmu setelah terpuruk," ucap Tuan Hans memberitahu alasannya. Ashuna pun tersenyum tipis, ia langsung melanjutkan wawancaranya dan lulus. Sejak diterima bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service, sedikit demi sedikit bisa menabung untuk kuliahnya sendiri. Sesekali menerima pesan dari Rafello, hanya itu dan fokus untuk masa depannya sendiri. Waktu memang tak mengenal jeda, sudah lima tahun berlalu sejak Ashuna pergi meninggalkan kota Jakarta. Mungkin bagi orang lain itu singkat saja, tetapi bagi Ashuna hampir panjang prosesnya. Tekadnya yang ditempa dengan luka, kerja keras, pengkhianatan dan air mata kini menjadi perempuan kuat. Hari ini, Ashuna berdiri sebagai perempuan sukses, pemilik perusahaan musik yang mulai diperhitungkan di industri musik internasional—Shuna Group. Salah satu agensi yang berada di bawah naungannya melakukan audisi, Ashuna kembali ke Jakarta. Pesawat yang membawanya ke bandara, ia dijemput oleh sopir yang sudah siapkan. Di tengah jalan ibukota yang ramai, dadanya berdegup lagi oleh perasaan yang sulit untuk diartikan. Ashuna menghela napasnya panjang, entah kenapa ia merasa gugup dan tak terkendali. Apakah ini yang dinamakan trauma? Entahlah, ia juga tidak mengetahuinya. "Sudah lima tahun ya ... akhirnya hari yang kunanti tiba juga," gumam Ashuna pelan sambil wajahnya mendongak ke atas menatap langit cerah. Perusahaan milik Ashuna merupakan induknya, ia menaungi tiga agensi kecil. Akan tetapi, artis-artis mereka mulai merambah ke internasional. Salah satu agensi kecil yang baru dibangun, mencari talenta muda yang berbakat untuk bergabung. Shuna Group bekerja sama dengan PT. R'N Group—perusahaan hiburan besar yang juga berkembang pesat di ibukota mengundang kerja sama sebulan yang lalu. Mobil yang dinaiki Ashuna melaju cepat menuju hotel, suasana yang dulu sudah banyak berubah. Ia tersenyum kecil saat melihat taman kota yang sering ia jadikan tempat menenangkan diri, mengusir rasa resah kala itu. Tidak lama kemudian, mobilnya berhenti di depan hotel mewah. Setelah memperlihatkan kartu namanya kepada resepsionis, ia langsung diantar ke kamarnya. Di dalam kamar hotel, Ashuna beristirahat sebentar karena perjalanannya cukup melelahkan. "Lelah sekali," ucap Ashuna saat berbaring di tempat tidur. "Jadwalku hari ini juga sangat padat. Lebih baik tidur dulu beberapa menit, nanti baru periksa lagi jadwal audisinya." Sekitar 30 menit Ashuna tidur, ia sudah merasa cukup istirahatnya. Setelah itu mencuci mukanya dengan bersih, baru memeriksa jadwal audisi yang diselenggarakan besok. Keesokan harinya setelah sarapan pagi, Ashuna juga bersiap ingin pergi. Seorang staf menghampirinya. "Nona Ashuna, audisi mau dimulai. Apaman Anda sudah siap?" Ashuna pun mengangguk pelan. "Baiklah, aku juga sudah siap." "Ayo kita berangkat, Nona," ucap staff itu mengajak pergi. Ashuna melangkah menuju ruang audisi, duduk di kursi juri bersama beberapa eksekutif lain. Saat kursi di sampingnya terisi, Ashuna menoleh—dan dunia seakan berhenti sesaat. Ashuna dan staff itu menuju ke tempat audisi yang tak jauh dari hotel, setelah sampai ia duduk di kursi yang sama dengan juri. Setelah semua kursi terisi juri, Ashuna menoleh ke arah sampingnya yang tak jauh dari beberapa kru kamera. "Rafello," batin Ashuna melihat sahabat laki-lakinya yang selalu mendukung sepanjang karirnya, kini pria itu terlihat lebih dewasa. "Sudah lama ya kita tidak bertemu," ucap Rafello yang akhirnya menghampiri Ashuna dan memeluknya. "Umm ... lima tahun bukan," sahut Ashuna mengusap pelan punggung Rafello. "Kau banyak berubah, tapi aku senang melihatnya." Rafello memujinya lalu melepaskan pelukan hangat tadi. "Begitu juga dengan dirimu," ucap AshunA tersenyum lembut. Keduanya pun menyudahi percakapan itu, tak ada lagi yang ingin mereka katakan. Lampu audisi pun menyala lalu perserta dipanggil, satu per satu menampilkan bakatnya yang terbaik. Semua juri mencatat dengan teliti, mulai dari teknik vokal, karakter suara, penguasaan panggung. Setelah perserta ke-20, ada seorang gadis muda yang memiliki sorot mata tajam. "Perkenalkan dirimu," ucap Rafello menatap gadis itu. "Namaku Heca, 17 tahun," sahutnya menunduk sopan. "Mau menyanyi apa?" tanya Ashuna kemudian seraya tangannya jadi pangkuan dagunya. "Jalan hidupku," sahutnya ramah sambil tersenyum malu. Musik dimainkan, Heca menikmati sebelum intro masuk. Ia mulai bernyanyi dengan suara merdunya. "Suaranya bagus," puji Ashuna menikmati nyanyiannya, bahkan kedua tangannya mengiringi musik. "Dia punya teknik vocal yang bagusx sedikit lagi diasah akan jadi sempurna," ucap Rafello menoleh ke arah Ashuna sebentar, lalu kembali menatap Heca Setelah selesai bernyanyi, para juri bertepuk tangan. Tidak lupa Heca menunduk hormat kepada mereka, ia sekarang merasa lega karena sudah menyanyi. "Heca, secara keseluruhan bagus. Tapi teknik vocal kamu akan lebih bagus jika diasah lagi," ucap juri lain. Heca tersenyum tipis. "Terima kasih." Banyaknya peserta yang mendaftar, audisi berakhir menjelang sore. Semua peserta meninggalkan gedung dengan wajah yang sulit dijelaskan, campur aduk antara cemas dan harapan. "Mau kuantar," ucap Rafello menawarkan diri. "Tidak usah," sahut Ashuna dengan lembut menolaknya. "Baiklah, nanti malam aku jemput," ucapnya lagi. "Untuk?" tanya Ashuna sambil menaikkan alisnya. Rafello menyentuh dagu Ashuna sambil tersenyum. "Dandan saja yang cantik, kau pasti akan suka." Ashuna menurunkan tangan Rafello dari dagunya, ia menatap sahabatnya ini. "Bagaimana keadaannya setelab aku pergi?" Rafello menghela napasnya dengan kasar, ia menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap langit-langit panggung. "Dia menghilang, Ashuna," ucap Rafello. "Siapa?" tanya Ashuna lagi. "Romy," sahut Rafello. "satu lagi, Nyonya Shiona masuk rumah sakit jiwa. Entah apa yang terjadi?" "Owh, jadi wanita bodoh itu masuk rumah sakit jiwa. Aku berharap dari dulu saja dia masuk rumah sakit jiwanya," ujar Ashuna yang sama sekali tak merasa sedih. "Kau tidak sedih?" tanya Rafello menatap Ashuna dengan sendu. "Menangis untuk wanita seperti itu hanya sia-sia, Raf," sahut Ashuna jujur. Rafello kemudian berdiri karena sekarang sudah mulai sepi. "Ayo kuantar ke depan." Ashuna mengangguk, ia pun juga berdiri dan keluar dari ruang audisi sambil bercerita santai. "Aku tidak menyangka Tuan Hans ada di pihakmu," ucap Rafello yang baru tahu jika salah satu keluarga Nyonya Shiona membela Ashuna. "Ya, sekarang aku mengerti kenapa dia pergi meninggalkan keluarga Arnando setelah Nyonya Shiona menikah dengan Tuan Wisnu." Ashuna banyak dapat informasi darinya. "Pasti punya alasan yang kuat bukan," ucap Rafello lagi dengan pandangan lurus ke depan. "Benar," sahut Ashuna mengiyakannya. Setelah itu Rafello dan Ashuna sampai di parkiran, ia juga meminta staff itu untuk menjaga sahabatnya dengan baik. Di lain tempat ada vas bunga yang memecahkan cermin karena sengaja di lempar. Ia berteriak keras. "Arrghhhhhh!" Malam yang dingin tipis membasahi kaca gedung tinggi milik RN'Group karena hujan, seorang pria duduk santai di ruangan kerja paling atas, ia memutar gelas wine di tangannya.Matanya menatap tajam, pada layar tablet yang memperlihatkan siaran ulang di bandara saat kedatangan Ashuna pagi tadi."Akhirnya ... kamu kembali juba," ucap Rafello sambil tersenyum tipis.Ketukan pintu terdengar dari luar, Rafello menyuruhnya masuk. "Masuk."Pria yang berpakaian hitam masuk sambil membawa map tipis, ia berdiri tegak di depan meja kerja Rafello."Kami sudah menyiapkan laporan tentang Nona Ashuna, Tuan," ucapnya."Baca!" ucap Rafello meletakkan gelasnya perlahan."Nona Ashuna langsung menuju hotel Grand Royal, setelah konferensi pers selesai. Lalu besoknya Nona Ashuna ada jadwal pagi bersama panitia audisi idol nasional," sahutnya."Ternyata dia masih sama?" Rafello mengangguk pelan sambil tersenyum tipis."Maksud Tuan?" anak buahnya menaikkan alisnya, ia terlihat bingung."Dia itu masih terlalu b
"Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit."Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan Heca, ia juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Heca."Jadilah artis yang besar atas kerja kerasmu sendiri," sahut Ashuna lalu menjelaskan apa maksudnya dari artis kepercayaan agensi.Setelah dijelaskan, Heca pun paham maksud Ashuna. Ia berjanji akan menjadi artis besar di bawah bimbingan agensi mereka, Ashuna senang mendengarnya."Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ashuna pamit."Hati-hati, Nona," sahut Heca sedikit menunduk kepalanya tanda hormat.Beberapa hari kemudian, Ashuna menghadiri audisi di kota lain. Suasana langsung riuh ketika ia datanga, namun ada seorang wanita terpaku melihatnya.Tangan wanita itu bergetar, bola matanya membesar, menatap sosok yang dinantikan teman-te
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya mengikuti sang dokter.Setelah diberi obat penenang, Romi berhenti mengamuk. Dokter Tama dan perawatnya keluar, namun percakapan mereka berdua saat keluar dari ruangan membuat salah satu perawat menghela napasnya."Kita beritahu Nona M," ucap Dokter Tama."Apa kita perlu memindahkannya?" tanya perawat."Mungkin," sahut Dokter Tama.Keduanya pun menghilang dari pandangan perawat tadi—Dona salah satu kepercayaan seseorang."Jahat sekali mereka," gumam Dona di depan pintu ruang rawat Romi.Dalam sebuah gedung mewah utama milik Zaemley Group, suasananya jauh dari tenang. Beberapa wajah karyawan terlihat tegang, seolah mereka akan kehilangan pekerjaannya.Seseorang duduk di kursi direktur sementara,
"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan alisnya sambil menoleh."Duduk, kita lanjutkan wawancaranya. Aku tidak peduli seperti apa reputasimu," sahut Tuan Hans lagi menarik tangan Ashuna.Ashuna memicingkan matanya. "Kau yakin? Bukankah dulu sering meremehkanku?""Dengar Ashuna, dulu aku memang meremehkanmu karena naif. Tapi sekarang aku ingin melihat perkembanganmu setelah terpuruk," ucap Tuan Hans memberitahu alasannya.Ashuna pun tersenyum tipis, ia langsung melanjutkan wawancaranya dan lulus. Sejak diterima bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service, sedikit demi sedikit bisa menabung untuk kuliahnya sendiri. Sesekali menerima pesan dari Rafello, hanya itu dan fokus untuk masa depannya sendiri.Waktu memang tak mengenal j
"Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati."Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mama angkatnya bicara. "Aneh," batin Mora lalu kembali ke kamarnya sendiri.Di lain tempat, lebih tepatnya kota Palangkaraya di mana Ashuna membuka layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Rafello, bibirnya tersenyum tipis."Aku baik-baik saja di sini, Rafello. Tak perlu mengkhawatirkanku." Ashuna membalas pesan Rafello."Baguslah, aku senang mendengarnya. Kau jaga kesehatan di sana ya," balas Rafello menggunakan emot love-love."Kau juga, sudah ya, aku mau menata kamar baruku." Ashuna menyudahi chattingan-nya.Ashuna langsung menatap kamar barunya dengan semangat, ia juga tak lupa mencari pekerjaan paruh waktu di sini.Di kamar barunya yang sudah tertata rapi, meskipun kecil dan tidak mewah. Na
Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdiri di depan cermin lalu menatap duplikat dirinya dalam-dalam. Mata bengkak karena banyak menangis, wajah pucat seperyi orang sakit, rambut terurai ditiup angin, inikah dirinya yang tersakiti. Semuanya berawal dari video sialan itu, sebuah video berdurasi kurang dari 1 menit. Dalam video itu sepertinya direkam dari suduy yang salah, seperti sengaja dipotong tanpa sebab, kemudian disebarkan dengan kalimat dan kata-kata yang sudah disusun dengan rapi untuk menggiring opini. "Kau itu selalu saja berpura-pura suci, Ashuna!" Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Gustav waktu itu. "Aku melihat video itu dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada editan di sana." Setelah kejadian itu ia menjauh ta







