Home / Romansa / Balas Dendam Anak Kandung / ๐ŸBab 3๐Ÿ

Share

๐ŸBab 3๐Ÿ

Author: Swahy Sw
last update publish date: 2026-04-30 20:46:29

"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya

"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar.

"Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi.

"Duduk!" perintah Tuan Hans.

"Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan alisnya sambil menoleh.

"Duduk, kita lanjutkan wawancaranya. Aku tidak peduli seperti apa reputasimu," sahut Tuan Hans lagi menarik tangan Ashuna.

Ashuna memicingkan matanya. "Kau yakin? Bukankah dulu sering meremehkanku?"

"Dengar Ashuna, dulu aku memang meremehkanmu karena naif. Tapi sekarang aku ingin melihat perkembanganmu setelah terpuruk," ucap Tuan Hans memberitahu alasannya.

Ashuna pun tersenyum tipis, ia langsung melanjutkan wawancaranya dan lulus. Sejak diterima bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service, sedikit demi sedikit bisa menabung untuk kuliahnya sendiri. Sesekali menerima pesan dari Rafello, hanya itu dan fokus untuk masa depannya sendiri.

Waktu memang tak mengenal jeda, sudah lima tahun berlalu sejak Ashuna pergi meninggalkan kota Jakarta. Mungkin bagi orang lain itu singkat saja, tetapi bagi Ashuna hampir panjang prosesnya. Tekadnya yang ditempa dengan luka, kerja keras, pengkhianatan dan air mata kini menjadi perempuan kuat. Hari ini, Ashuna berdiri sebagai perempuan sukses, pemilik perusahaan musik yang mulai diperhitungkan di industri musik internasionalโ€”Shuna Group.

Salah satu agensi yang berada di bawah naungannya melakukan audisi, Ashuna kembali ke Jakarta. Pesawat yang membawanya ke bandara, ia dijemput oleh sopir yang sudah siapkan. Di tengah jalan ibukota yang ramai, dadanya berdegup lagi oleh perasaan yang sulit untuk diartikan.

Ashuna menghela napasnya panjang, entah kenapa ia merasa gugup dan tak terkendali. Apakah ini yang dinamakan trauma? Entahlah, ia juga tidak mengetahuinya.

"Sudah lima tahun ya ... akhirnya hari yang kunanti tiba juga," gumam Ashuna pelan sambil wajahnya mendongak ke atas menatap langit cerah.

Perusahaan milik Ashuna merupakan induknya, ia menaungi tiga agensi kecil. Akan tetapi, artis-artis mereka mulai merambah ke internasional. Salah satu agensi kecil yang baru dibangun, mencari talenta muda yang berbakat untuk bergabung. Shuna Group bekerja sama dengan PT. R'N Groupโ€”perusahaan hiburan besar yang juga berkembang pesat di ibukota mengundang kerja sama sebulan yang lalu.

Mobil yang dinaiki Ashuna melaju cepat menuju hotel, suasana yang dulu sudah banyak berubah. Ia tersenyum kecil saat melihat taman kota yang sering ia jadikan tempat menenangkan diri, mengusir rasa resah kala itu. Tidak lama kemudian, mobilnya berhenti di depan hotel mewah.

Setelah memperlihatkan kartu namanya kepada resepsionis, ia langsung diantar ke kamarnya. Di dalam kamar hotel, Ashuna beristirahat sebentar karena perjalanannya cukup melelahkan.

"Lelah sekali," ucap Ashuna saat berbaring di tempat tidur. "Jadwalku hari ini juga sangat padat. Lebih baik tidur dulu beberapa menit, nanti baru periksa lagi jadwal audisinya."

Sekitar 30 menit Ashuna tidur, ia sudah merasa cukup istirahatnya. Setelah itu mencuci mukanya dengan bersih, baru memeriksa jadwal audisi yang diselenggarakan besok.

Keesokan harinya setelah sarapan pagi, Ashuna juga bersiap ingin pergi. Seorang staf menghampirinya. "Nona Ashuna, audisi mau dimulai. Apaman Anda sudah siap?"

Ashuna pun mengangguk pelan. "Baiklah, aku juga sudah siap."

"Ayo kita berangkat, Nona," ucap staff itu mengajak pergi.

Ashuna melangkah menuju ruang audisi, duduk di kursi juri bersama beberapa eksekutif lain. Saat kursi di sampingnya terisi, Ashuna menolehโ€”dan dunia seakan berhenti sesaat.

Ashuna dan staff itu menuju ke tempat audisi yang tak jauh dari hotel, setelah sampai ia duduk di kursi yang sama dengan juri. Setelah semua kursi terisi juri, Ashuna menoleh ke arah sampingnya yang tak jauh dari beberapa kru kamera.

"Rafello," batin Ashuna melihat sahabat laki-lakinya yang selalu mendukung sepanjang karirnya, kini pria itu terlihat lebih dewasa.

"Sudah lama ya kita tidak bertemu," ucap Rafello yang akhirnya menghampiri Ashuna dan memeluknya.

"Umm ... lima tahun bukan," sahut Ashuna mengusap pelan punggung Rafello.

"Kau banyak berubah, tapi aku senang melihatnya." Rafello memujinya lalu melepaskan pelukan hangat tadi.

"Begitu juga dengan dirimu," ucap AshunA tersenyum lembut.

Keduanya pun menyudahi percakapan itu, tak ada lagi yang ingin mereka katakan. Lampu audisi pun menyala lalu perserta dipanggil, satu per satu menampilkan bakatnya yang terbaik. Semua juri mencatat dengan teliti, mulai dari teknik vokal, karakter suara, penguasaan panggung. Setelah perserta ke-20, ada seorang gadis muda yang memiliki sorot mata tajam.

"Perkenalkan dirimu," ucap Rafello menatap gadis itu.

"Namaku Heca, 17 tahun," sahutnya menunduk sopan.

"Mau menyanyi apa?" tanya Ashuna kemudian seraya tangannya jadi pangkuan dagunya.

"Jalan hidupku," sahutnya ramah sambil tersenyum malu.

Musik dimainkan, Heca menikmati sebelum intro masuk. Ia mulai bernyanyi dengan suara merdunya.

"Suaranya bagus," puji Ashuna menikmati nyanyiannya, bahkan kedua tangannya mengiringi musik.

"Dia punya teknik vocal yang bagusx sedikit lagi diasah akan jadi sempurna," ucap Rafello menoleh ke arah Ashuna sebentar, lalu kembali menatap Heca

Setelah selesai bernyanyi, para juri bertepuk tangan. Tidak lupa Heca menunduk hormat kepada mereka, ia sekarang merasa lega karena sudah menyanyi.

"Heca, secara keseluruhan bagus. Tapi teknik vocal kamu akan lebih bagus jika diasah lagi," ucap juri lain.

Heca tersenyum tipis. "Terima kasih."

Banyaknya peserta yang mendaftar, audisi berakhir menjelang sore. Semua peserta meninggalkan gedung dengan wajah yang sulit dijelaskan, campur aduk antara cemas dan harapan.

"Mau kuantar," ucap Rafello menawarkan diri.

"Tidak usah," sahut Ashuna dengan lembut menolaknya.

"Baiklah, nanti malam aku jemput," ucapnya lagi.

"Untuk?" tanya Ashuna sambil menaikkan alisnya.

Rafello menyentuh dagu Ashuna sambil tersenyum. "Dandan saja yang cantik, kau pasti akan suka."

Ashuna menurunkan tangan Rafello dari dagunya, ia menatap sahabatnya ini. "Bagaimana keadaannya setelab aku pergi?"

Rafello menghela napasnya dengan kasar, ia menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap langit-langit panggung.

"Dia menghilang, Ashuna," ucap Rafello.

"Siapa?" tanya Ashuna lagi.

"Romy," sahut Rafello. "satu lagi, Nyonya Shiona masuk rumah sakit jiwa. Entah apa yang terjadi?"

"Owh, jadi wanita bodoh itu masuk rumah sakit jiwa. Aku berharap dari dulu saja dia masuk rumah sakit jiwanya," ujar Ashuna yang sama sekali tak merasa sedih.

"Kau tidak sedih?" tanya Rafello menatap Ashuna dengan sendu.

"Menangis untuk wanita seperti itu hanya sia-sia, Raf," sahut Ashuna jujur.

Rafello kemudian berdiri karena sekarang sudah mulai sepi. "Ayo kuantar ke depan."

Ashuna mengangguk, ia pun juga berdiri dan keluar dari ruang audisi sambil bercerita santai.

"Aku tidak menyangka Tuan Hans ada di pihakmu," ucap Rafello yang baru tahu jika salah satu keluarga Nyonya Shiona membela Ashuna.

"Ya, sekarang aku mengerti kenapa dia pergi meninggalkan keluarga Arnando setelah Nyonya Shiona menikah dengan Tuan Wisnu." Ashuna banyak dapat informasi darinya.

"Pasti punya alasan yang kuat bukan," ucap Rafello lagi dengan pandangan lurus ke depan.

"Benar," sahut Ashuna mengiyakannya.

Setelah itu Rafello dan Ashuna sampai di parkiran, ia juga meminta staff itu untuk menjaga sahabatnya dengan baik.

Di lain tempat ada vas bunga yang memecahkan cermin karena sengaja di lempar. Ia berteriak keras. "Arrghhhhhh!"

โ€‹

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“26๐Ÿ’“

    Suasana studio mendadak terasa menegangkan, Ashuna masih duduk di hadapan pembawa acara. Pertanyaan terakhir belum juga dijawabnya."Apakah dalam perjalanan menuju kesuksesan, pernah ada seseorang yang sangat melukai hidup Anda?"Seluruh penonton menunggu. Ashuna menarik napas pelan, tatapannya tenang."Tentu pernah." Jawabannya singkat.Pembawa acara kembali bertanya dengan hati-hati.."Apakah Anda membencinya?"Ashuna tersenyum tipis. "Dulu ... iya.""Lalu sekarang?" tanya pembawa acara itu lagi."Sekarang saya lebih memilih berterima kasih," sahut Ashuna.Semua orang tampak bingung."Karena tanpa mereka ... saya tidak akan menjadi pribadi yang kuat seperti hari ini," lanjut Ashuna menjelaskan.Tepuk tangan memenuhi studio, tidak ada satu nama pun yang disebut. Tidak ada kebencian yang diumbar, namun jawaban itu berhasil menyentuh hati banyak orang. Di rumah keluarga Zaemley, Shiona menangis tanpa suara."Itu pasti tentang kami...." gumam Shiona sambil menutup wajahnya.Wisnu hanya m

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“25๐Ÿ’“

    Malam yang dinanti akhirnya tiba. Gedung stasiun televisi nasional dipenuhi wartawan sejak sore hari, lampu kamera terus berkedip, sementara para penggemar memenuhi area depan gedung hanya untuk melihat secara langsung sosok pengusaha muda yang sedang menjadi perbincangan.Di dalam mobil, Ashuna duduk tenang mengenakan setelan jas putih elegan dipadukan celana panjang hitam. Riasannya sederhana, tetapi memancarkan wibawa yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.Di sampingnya, asisten pribadi sedang menjelaskan susunan acara. "Nona, wawancara berlangsung sekitar satu jam. Setelah itu ada sesi foto bersama."Ashuna hanya mengangguk, mobil perlahan memasuki area parkir VIP. Begitu pintu mobil dibuka, puluhan kamera langsung mengarah kepadanya."Nona Ashuna!""Nona, lihat ke sini!""Bagaimana perasaan Anda kembali ke Indonesia?"Ashuna hanya memberikan senyum tipis dan lambaian singkat, sebelum memasuki gedung dengan pengawalan keamanan.***Di sisi lain, sebuah mobil hitam ber

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“24๐Ÿ’“

    Pagi itu, Ashuna berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memegang secangkir kopi hangat. Tatapannya tertuju pada langit kota yang mendung, pesan dari Shiona semalam masih tersimpan di ponselnya. Ia sudah membacanya berkali-kali, namun, tak sekali pun membalas. Tok, tok. "Nona." Asistennya masuk membawa beberapa berkas. "Ada jadwal baru." "Apa?" tanya Ashuna menatap asisten itu. "Stasiun televisi nasional, meminta Anda menjadi bintang tamu dalam program wawancara eksklusif mereka malam besok." Ashuna menerima berkas tersebut, program itu merupakan salah satu acara paling populer di negara itu. Jutaan orang menontonnya setiap minggu. "Mereka sudah menghubungi tiga kali," ucap asisten itu. "Apa alasannya?" tanya Ashuna. "Mereka ingin membahas perjalanan hidup Anda. Dari mahasiswa pindahan yang memulai hidup dari nol di Korea, hingga menjadi CEO muda paling berpengaruh." Ashuna membaca rincian acaranya, biasanya, ia akan langsung menolak acara yang terlalu mencampu

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“23๐Ÿ’“

    Pagi itu, hujan gerimis turun membasahi halaman rumah keluarga Zaemley. Di lantai dua rumah besar itu, Shiona Arnando duduk di kursi rodanya sambil memandangi sebuah album foto lama. Tangannya yang mulai keriput membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, senyumnya bergetar ketika menemukan sebuah foto yang sangat dikenalnya. Foto Ashuna saat baru diterima di kampus impiannya di Indonesia, gadis itu tersenyum lebar sambil memeluknya erat."Ma! Akhirnya Ashuna diterima!""Mama bangga sama Ashuna.""Hehehe... nanti kalau Ashuna sukses, Mama jangan lupa bangga terus sama Ashuna, ya?""Memangnya Mama pernah tidak bangga?"Ashuna tertawa kecil. "Kalau Ashuna sudah jadi orang hebat, Ashuna mau membahagiakan Mama dan Papa."Air mata Shiona jatuh membasahi foto itu, lima tahun berlalu. Gadis yang dulu penuh impian itu, pergi meninggalkan rumah dengan hati hancur. Dan dirinya menjadi salah satu alasan kepergian putrinya."Ashuna..." Suara Shiona pecah. "Maafkan Mama..."Tok... tok..."Masu

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“22๐Ÿ’“

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang kerja Ashuna. Suasana kantor PT. Ashuna Group sudah ramai sejak pukul tujuh pagi, para karyawan berlalu-lalang dengan berkas di tangan, sementara jadwal sang CEO semakin padat.Ashuna sedang memeriksa proposal kerja sama baru, ketika asistennya kembali masuk."Nona," panggil asisten itu."Ada apa?" tanya Ashuna."Permintaan pertemuan dari Nyonya Shiona kembali masuk."Tangan Ashuna yang sedang membalik halaman berhenti sesaat. "Berapa kali?""Sudah tiga kali sejak kemarin."Ashuna menatap layar tablet yang diberikan, isi pesannya singkat."Ashuna, Mama hanya ingin bertemu sebentar. Mama ingin meminta maaf."Tatapan Ashuna berubah kosongโ€”Mama. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar dirinya dikaitkan dengan panggilan itu."Nona?" Asistennya tampak ragu. "Apakah akan ditolak?"Ashuna mengembalikan tablet itu. "Biarkan dulu.""Baik."Meskipun demikian, setelah asistennya keluar, Ashuna tidak lagi fokus pada dokumen di depannya. Kal

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“21๐Ÿ’“

    Malam itu hujan turun perlahan membasahi halaman rumah keluarga Zaemley, di lantai dua, sebuah lampu kamar masih menyala. Shiona Arnando duduk di kursi rodanya, sambil menatap foto lama yang berada di pangkuannya. Foto itu sudah sedikit kusam, karena terlalu sering disentuh. Di dalam foto terlihat dirinya, Wisnu, Romy, Ashuna, dan Mora. Namun yang paling sering ia pandangi adalah senyum Ashuna, senyum yang dulu selalu memenuhi rumah itu dengan kehangatan. "Lima tahun..." air mata perlahan jatuh ke pipinya, Shiona menggenggam foto itu erat. "Lima tahun Mama tidak melihatmu, Nak." Semakin tua usianya, semakin besar penyesalan yang ia rasakan. Ia masih ingat hari ketika Ashuna pergi, hari ketika putrinya menangis dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, dirinya justru memilih mempercayai orang lain. Bukan anak yang selama ini dibesarkannya, bukan pula anak yang selalu memanggilnya Mama dengan penuh kasih. Tok. Tok. Pintu kamar diketuk pelan. "Masuk," ucap Shiona. Seoran

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 5๐Ÿ

    "Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit."Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan H

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 4๐Ÿ

    "Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya men

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 2๐Ÿ

    "Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati."Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mam

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 1๐Ÿ

    Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status