MasukSalju turun semakin rapat, menelan jejak langkah Shen Lihua dan Luo Qingyu hingga nyaris tak tersisa. Angin gunung berdesir tajam, memotong kulit seperti bilah tipis yang tak terlihat.
Tubuh Shen Lihua ambruk sepenuhnya di batas kota. Nafasnya nyaris tak terdengar, wajahnya pucat keabu-abuan, sementara darah dari punggungnya membeku bercampur salju. "Nona—!" Luo Qingyu berteriak parau, memeluk tubuh nonanya yang dingin. Tangannya gemetar hebat, matanya merah oleh air mata karena ketakutan. "Bangun, Nona… kumohon, jangan tinggalkan aku…" Namun Shen Lihua tak lagi merespons. Tubuhnya semakin dingin dalam dekapan Luo Qingyu. Ia tak mengerti kenapa nasib nonanya menjadi seperti ini. Shen Lihua adalah seorang wanita keturunan bangsawan. Dia wanita yang baik, menjunjung tinggi nama baik klannya. Akan tetapi, kenapa takdir begitu kejam padanya. "Nona Shen, kumohon bangunlah. "Luo Qingyu kembali meraung, dadanya sesak akibat terlalu lama menangis. Tempat ini begitu terpencil, di pinggiran kota perbatasan, hampir masuk ke dalam hutan. "Dewa, tolonglah kami!" jerit Luo Qingyu. Entah sudah berapa lama Luo Qingyu memeluk tubuh itu, hingga akhirnya samar-samar terdengar suara tongkat kayu menghantam tanah bersalju. Dari balik tirai salju, muncul sosok seorang kakek tua berjanggut putih panjang. Tubuhnya kurus dengan punggung sedikit bungkuk, namun sorot matanya tajam dan jernih—seperti mata seseorang yang telah melihat terlalu banyak kematian. Ia mengenakan jubah kasar berwarna abu-abu, sederhana, namun terlihat bersih. Sebuah keranjang bambu tergantung di punggungnya, penuh dengan akar-akaran dan dedaunan obat. Kakek itu berhenti di hadapan mereka. "Kakek, tolong kami!" seru Luo Qingyu di tengah rasa keputusasaan. "Hm…" gumamnya pelan, berlutut perlahan untuk memeriksa Shen Lihua. Jarum perak entah dari mana muncul di antara jemarinya yang keriput. Dengan cekatan, ia menusukkannya di beberapa titik akupuntur di pergelangan tangan dan leher Shen Lihua. Alisnya langsung berkerut. "Luka cambukan, cukup parah. Merusak tulang punggung dan urat darah," ucapnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Ditambah hawa dingin yang masuk ke jantung… anak ini nyaris mati." Luo Qingyu menatapnya dengan mata penuh harap. "Kakek… tolong Nona saya! Aku mohon, aku akan melakukan apa pun demi keselamatan Nonaku." Kakek tua itu mengangkat pandangan. Matanya tepat terpaku pada Luo Qingyu. "Dia terluka cukup parah." "Kumohon tolong kami, apa pun yang Anda minta. Meskopun aku harus bekerja seumur hidup. Kumohon." Tatapan Luo Qingyu memelas. Kakek itu terdiam sejenak. Lalu perlahan berdiri. "Bawa dia ikut denganku." "Benarkah?!" Qingyu hampir tak percaya. Senyumnya merekah walau tipis. "Jika terlambat satu jam saja, bahkan dewa pun takkan bisa menolongnya," ucap sang kakek datar. "Tempat tinggalku memang terpencil, tapi setidaknya ia masih punya peluang hidup." Tanpa menunggu jawaban, kakek itu mengeluarkan serbuk obat berwarna hijau pucat, dari dalam balik jubahnya, menempelkannya di luka punggung Shen Lihua, lalu menutupinya dengan kain bersih dari keranjang. Anehnya, darah yang semula terus merembes, perlahan berhenti. Luo Qingyu mengusap air matanya. Lalu mendongak. "Nama Anda siapa?" tanya Luo Qingyu dengan pelan. Ia akan berterima kasih padanya nanti. "Namaku Lan Rui Hong." Qingyu terpekur sejenak. Nama itu, dia seperti pernah mendengarnya, namun entah di mana dia lupa. *** Kediaman tempat Lan Rui Hong tinggal terletak jauh dari jalur utama. Pondok kayu sederhana berdiri di antara pepohonan pinus, dikelilingi kabut tipis yang turun setiap malam. Perapian menyala hangat di dalam pondok. Shen Lihua terbaring di dipan kayu, tubuhnya dibersihkan dan dibalut rapi. Wajahnya masih pucat, keningnya panas, namun nafasnya kini lebih teratur. Lan Rui Hong duduk di sampingnya, menempelkan dua jari di pergelangan tangan Shen Lihua. Matanya menyipit, ekspresinya berubah semakin serius. "Lukanya sudah lebih baik? Tetapi, ada yang salah dengan tubuhnya," gumamnya. "Ada apa, Kakek?" tanya Luo Qingyu cemas. "Dia sudah menikah, bukan?" Anggukan dari kepala Luo Qingyu menjadi jawaban "Nonaku sudah menikah, selama tiga tahun ini. Namun, dia tidak mampu melahirkan keturunan Jenderal. Hingga.... Nona diceraikan dan diusir dari kediaman Qu." Lan Rui Hong menggelengkan kepalanya, kembali tangannya mengecek nadi Shen Lihua. "Sungguh rugi." "Apa maksud, Kakek?" "Kondisi rahimnya dingin, namun tidak rusak,” jawabnya pelan. "Ia tidak mandul." Qingyu tertegun. "Tidak… mandul?" "Justru tubuhnya kuat. Terlalu kuat untuk seorang wanita bangsawan yang dibesarkan dengan penuh tata krama, dan kelembutan." Lan Rui Hong melirik wajah Shen Lihua yang tenang dalam tidur tak sadarnya. "Wanita ini... akan hidup panjang. Jika tak mati malam ini." Ia berdiri, menuang ramuan pahit ke dalam mangkuk. "Jika ia selamat, mungkin takdir memang sedang mempersiapkannya untuk jalan yang berbeda." Meskipun Luo Qingyu tak mengerti, namun ia cukup terkejut. Shen Lihua tak mandul, lalu kenapa nonanya tak bisa mengandung selama ini? Mungkinkah ada yang salah? *** Sementara itu, jauh di jantung Kekaisaran Lin—di dalam Istana Naga Emas. Aula utama dipenuhi hawa tegang. Kaisar Lin duduk di singgasananya, wajahnya muram. Jubah naga emasnya berkilau di bawah cahaya lentera, namun aura kemarahannya jauh lebih mencolok. "Putra Mahkota belum juga kembali?" tanyanya dingin. Seorang kasim berlutut dengan tubuh gemetar. "Melapor pada Paduka… Yang Mulia Putra Mahkota masih berada di luar istana. Ia… menyamar sebagai rakyat jelata." Craak! Cangkir giok di tangan Kaisar Lin retak oleh genggaman kerasnya. "Cukup!" bentaknya. "Sebagai calon penguasa negeri, ia justru berkeliaran di luar istana, makan di kedai rakyat, tidur di penginapan murahan, bahkan—!" Kaisar menghela napas berat, jelas menahan amarah. Tidak mengerti dengan jalan pikiran putra mahkota. "Apakah ia mengira tahta kekaisaran adalah permainan?" Seorang menteri tua memberanikan diri angkat suara. "Paduka… Putra Mahkota memiliki hati yang terlalu lembut. Ia ingin melihat sendiri penderitaan rakyat." "Negeri ini tidak membutuhkan kaisar yang hanya tahu bersimpati tanpa wibawa!" Kaisar Lin bangkit berdiri. "Kirim orang. Temukan Lin Ye Su. Bawa pulang sebelum rumor semakin menyebar." Tatapan Kaisar mengeras. "Jika perlu… ingatkan dia, darah naga yang mengalir di tubuhnya tidak memberinya hak untuk lari dari takdirnya." Kasim mengerti, dia segera undur diri. Namun sebelum pergi, Kaisar Lin kembali angkat suara. "Bawa dia ke hadapanku. Jangan biarkan dia terus bermain-main. Lin Ru, tidak boleh membawa citra buruk bagi istana kekaisaran." "Laksanakan Paduka Kaisar." Kasim berlutut, lalu bergerak mundur sesuai titah kaisar untuk mencari putra mahkota, Lin Ye Su atau nama lahirnya adalah Lin Ru. *** Di pondok Lan Rui Hong yang sunyi, Shen Lihua perlahan membuka mata. Yang ia lihat pertama kali bukanlah aula dingin atau gerbang megah, melainkan langit-langit kayu sederhana dan cahaya api yang hangat. "Di mana aku?" Shen Lihua bergerak pelan dari ranjang. Punggungnya masih terasa nyeri, meski tak sehebat beberapa waktu lalu. Dia mencoba bersandar pada kepala ranjang, saat matanya menemukan sosok laki-laki tampan, tersenyum ke arahnya. "Kau sudah bangun?" tanyanya. Samar-samar, Shen Lihua seperti mengenali wajah itu. "Kau, kau Lin Ru."Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah
Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S
Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb
Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H
Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang
Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol
Kabut Gunung Qishan bergerak pelan, menelan sosok tinggi yang berdiri di antara abu dan arang. Angin berembus dari utara, membawa sisa panas kebakaran yang belum sepenuhnya padam. Bau kayu terbakar dan tanah gosong menusuk hidung, bercampur samar dengan aroma obat-obatan yang dulu sering tercium d
Aula kembali mencekam. Setelah mendengar kabar jika Lin Ye Su akan dihukum, ia datang bersama ayahnya Lin Que Yang ke aula naga. Bersama penasehat Qi, dan beberapa menteri dari faksi timur, mereka menyaksikan ketika cambuk naga itu dibawa oleh dua pengawal khusus dari Balai Hukuman. Gagangnya hit
Qu Liang melirik ke arah Su Minshan dengan tatapan penuh tanya. Sejak pertemuan mereka di Pasar Yunglong, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—kata-kata Su Minshan terus terngiang, tak mau lenyap begitu saja. Begitu mereka tiba di Kediaman Qu, pria itu langsung menghentikan langkahnya. Tanpa
Shen Lihua terdiam di dalam kamar, jemarinya tetap menggenggam kuas, tetapi guratan tinta di atas kertas sudah lama berhenti. Ramuan yang seharusnya ia salin dengan teliti kini hanya menyisakan satu garis miring yang tak bermakna.Pikirannya melayang jauh.Kalung giok itu.Giok berbentuk setengah b







