LOGINGerbang Kediaman Shen berdiri megah di hadapan mereka, lampu-lampu lentera menggantung rapi di sisi kanan dan kiri, memancarkan cahaya kekuningan yang dingin.
Shen Lihua menatapnya dengan mata berkabut. Tempat ini adalah rumah kelahirannya. Tempat ia dibesarkan sejak kecil. Tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhir ketika seluruh dunia menolaknya. Namun entah mengapa, langkahnya terasa semakin berat. Ia tidak tahu kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya kali ini. "Qingyu," ucapnya pelan, "Bantu aku berdiri tegak. Jangan biarkan mereka melihatku seperti ini." Luo Qingyu mengangguk cepat. Ia merapikan jubah nonanya sebisanya, meski noda darah masih tampak jelas di punggungnya. Ketika pintu samping diketuk, seorang pelayan Kediaman Shen keluar. Begitu melihat Shen Lihua, wajah pelayan itu langsung berubah. "N-Nona muda?" "Yu Lanyi, apa kabar?" ujarnya pada seorang pelayan muda di kediaman Shen. Yu Lanyi diam terpaku menatap sosok Shen Lihua. "Nona, saya baik. Mari Nona muda, silakan masuk." Shen Lihua mengangguk dengan bibir tersenyum. Di sampingnya, Qingyu masih setia memapahnya. Luka akibat tiga puluh kali pukulan, nyaris meremukkan punggungnya. Tak lama kemudian, kabar kedatangan Shen Lihua menyebar ke aula utama. Di sana, Patriark Shen duduk di kursi utama. Wajahnya kaku, tatapannya dingin seperti es. Di sampingnya, Nyonya Shen menggenggam cangkir teh dengan ekspresi tak sabar. Beberapa paman dan bibi Shen Lihua juga hadir, memandangnya dengan mata penuh penilaian. Begitu Shen Lihua melangkah masuk, bisik-bisik langsung terdengar di aula. "Itu dia?" ujar Shen Dao Er—bibinya. "Menantu yang diusir dari keluarga Jenderal Qu?" Wanita itu menambahkan. "Tak bisa melahirkan keturunan, malah membawa malu pada keluarga Shen." Kali ini Shen Lan —pamannya berkata begitu menyakitkan. Setiap kata seperti pisau kecil yang menusuk perlahan. Shen Lihua berlutut dengan tertib. "Putri tidak berbakti ini memberi salam pada Ayah dan Ibu." Belum sempat ia berkata lebih jauh, Patriark Shen sudah menghantam meja dengan telapak tangannya. "Diam!" Suara itu menggema di aula. "Kau masih berani menyebut dirimu putri keluarga Shen?" bentaknya dingin. "Baru saja kau diusir dari keluarga Qu, lalu berani kembali ke sini membawa aib?" Jantung Shen Lihua mencelos. "Ayah… aku—" "Cukup!" Nyonya Shen menyela tajam. "Tiga tahun menikah, kau tak mampu memberi keturunan. Kini diceraikan dan dipulangkan. Apa kau ingin seluruh ibu kota menertawakan keluarga Shen?" Shen Lihua mengepalkan jemarinya di balik lengan baju. "Aku tidak pernah berkhianat. Perceraian ini bukan kehendakku. Meski aku menginginkannya karena mereka menyakitiku, Ibu." Salah satu bibinya tertawa kecil penuh sindiran. "Lalu siapa yang salah? Jangan bilang kau ingin menyalahkan keluarga Qu?" "Seorang wanita yang baik akan tahu diri. Jika tak bisa melahirkan, setidaknya jangan mempermalukan keluarga sendiri, itu menjijikan. Kau tahu!" Setiap kata menghantam tepat ke harga dirinya. Patriark Shen menatapnya penuh emosi. "Kau sudah bukan istri Jenderal Qu. Keluarga Shen tidak membutuhkan anak perempuan yang tak berguna dan membawa malu." Hati Shen Lihua bergetar hebat. Kenapa semua orang tak menginginkannya. Runah ini, rumah tempatnya lahir, satu-satunya tempatnya pulang, justru menyakitinya begitu dalam. "Ayah…" Suaranya nyaris tak terdengar. "Aku hanya ingin tinggal sementara. Setelah lukaku sembuh, aku akan pergi." Namun jawaban yang ia terima hanyalah tawa dingin dari orang-orang yang ada di sana. "Pergi?" Nyonya Shen bangkit berdiri. "Kau seharusnya tidak datang sejak awal." "Ibu kumohon, izinkan aku tinggal. Aku berjanji akan mengembalikan kehormatan keluarga Shen. Aku, akan belajar sungguh-sungguh. Akan kubuktikan, aku akan menjadi tabib wanita pertama di kekaisaran Lin, di dinasti Ruo." Bukan kalimat dukungan, namun justru tawa itu semakin kencang. "Kau! Mimpi saja tidak akan bisa. Kau pikir kedudukan wanita bisa lebih tinggi dari seorang pria. Wanita hanya bertugas melayani, jangan bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin. Kau tidak pantas!" teriak Patriack Shen. Nyonya Shen berdiri. "Pergi!" Ia menunjuk ke arah pintu. Mengulang kalimatnya beberapa saat lalu. "Mulai hari ini, Shen Lihua bukan lagi anggota keluarga Shen." Kata-kata itu jatuh seperti palu terakhir. "Qingyu." Patriark Shen menambahkan. "Bawa majikanmu pergi. Jangan biarkan orang luar melihat keluarga Shen memiliki putri seperti ini." Luo Qingyu gemetar. "Tuan, Nyonya… Nona sedang terluka—" "Keluar!" bentak Patriark Shen. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. Shen Lihua perlahan bangkit. Punggungnya terasa seperti hendak patah, namun ia tetap berdiri tegak. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Ia menatap mereka satu per satu. "Ayah, Ibu… mulai hari ini, hutang budi sebagai anak telah Shen Lan lunasi. Aku akan pergi, aku terima jika aku bukan bagian dari keluarga ini lagi." Ia membungkuk dalam-dalam. Lalu berbalik. Tanpa air mata, atau luapan emosi. Gerbang Kediaman Shen tertutup di belakangnya dengan suara berat. Di luar, angin malam berembus dingin. Shen Lihua akhirnya kehilangan kekuatan di kakinya dan hampir terjatuh. Luo Qingyu segera memeluknya. "Nona… kita benar-benar tak punya tempat pulang lagi." Shen Lihua memejamkan mata. Setetes darah kembali merembes dari lukanya, menodai salju tipis di tanah. "Tidak," ucapnya lirih namun tegas. "Aku hanya kehilangan dua rumah. Bukan kehilangan hidupku." Ia melirik Luo Qingyu dengan senyum tipis yang terlihat miris. "Ayo pergi, ke mana pun kaki ini melangkah." Qingyu mengangguk, ia memapah Shen Lihua keluar dari kediaman Shen. Salju turun dengan lebat, langkah tertatihnya masih terus berlanjut. Tak peduli tubuhnya menggigil hebat, dan suhu tubuh mulai meninggi. Hingga sampai ke perbatasa kota. Shen Lihua kehilangan kesadarannya. Wanita itu jatuh tak sadarkan diri di tengah lebatnya salju.Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah
Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S
Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb
Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H
Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang
Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol
Qu Liang melirik ke arah Su Minshan dengan tatapan penuh tanya. Sejak pertemuan mereka di Pasar Yunglong, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—kata-kata Su Minshan terus terngiang, tak mau lenyap begitu saja. Begitu mereka tiba di Kediaman Qu, pria itu langsung menghentikan langkahnya. Tanpa
Malam merangkak naik, saat Shen Lihua keluar dari kediaman gurunya dengan sebutir obat yang barusaja selesai dia racik. Senyumnya mengembang puas, lalu berjalan kembali ke arah pondoknya. Luo Qingyu yang sedang mengumpulkan kayu bakar, langsung berlari kecil menghampiri sang nona yang terlihat
Malam turun perlahan di Paviliun Barat istana Yanqing. Lampu minyak menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding. Aroma dupa istana memenuhi ruangan, bercampur dengan hawa dingin yang menyusup dari celah jendela. Selepas pertemuan rahasia, dan kedatangan Lin Ye Su secara tiba-tiba yang
Shen Lihua terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar dari punggung hingga ke tengkuk. Setiap tarikan napasnya terasa berat, seakan tubuhnya baru saja dibanting tanpa ampun. Ia mengerjap pelan, berusaha memfokuskan pandangannya yang masih buram. Yang pertama kali tertangkap matanya bukanlah h







