Inicio / Zaman Kuno / Balas Dendam Istri Jenderal Qu / Bab 11. Paralel Penyesalan

Compartir

Bab 11. Paralel Penyesalan

Autor: Andrea_Wu
last update Última actualización: 2026-01-03 12:35:42

Malam itu, hujan turun di Kediaman Jenderal Qu.

Beberapa pelayan kediaman Qu bergerak cepat membawa lentera-lentera terang, sementara yang lainnya sigap menutup jendela. Kehangatan memenuhi aula utama, namun di tengah segala kehangatan itu, Jenderal Qu Liang justru merasakan kekosongan yang tak bisa ia jelaskan.

Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, melamun dengan tatapan mata kosong.

Di atas meja terbentang laporan militer, peta wilayah perbatasan, dan surat-surat resmi. Namun matanya justru tak membaca satu pun tumpukan perkamen di atas mejanya.

Pandangannya berulang kali tertuju pada sudut ruangan—tempat yang dulu selalu disediakan kursi kecil bagi Shen Lihua ketika ia menunggunya dengan diam.

Kini sudut itu kosong. Tidak ada lagi sosok istrinya yang selalu menemaninya setiap kali ia sibuk mengerjakan laporan militer.

Sudah berhari-hari. Entah, ia sudah tak bisa menghitungnya lagi.

Qu Liang mengerutkan kening, meneguk teh yang telah dingin. Entah sejak kapan, ia mulai sering l
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 17. Penyesalan Berbalut Gengsi

    Malam turun perlahan di Kediaman Qu. Salju telah mencair memasuki awal musim semi. Namun, kediaman Qu terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu minyak di ruang kerja Jenderal Qu Liang masih menyala, cahayanya bergetar tertiup angin musim semi yang menyusup dari celah jendela. Di atas meja kayu hitam, tergeletak sebuah jubah luar berwarna gelap—belum disentuh sejak sore tadi. Qu Liang duduk sendiri. Hanya terdiam dalam senyap. Padahal lusa adalah hari pernikahannya yang kedua. Ia mengangkat cangkir teh di hadapannya. Teh itu telah lama dingin, namun Qu Liang tetap meneguknya. Rasa pahit menjalar di lidahnya—dan entah mengapa, mengingatkannya sosok istri pertamanya. "Jenderal, tehnya jangan diminum jika sudah dingin. Nanti perut Anda tidak nyaman." Suara itu tiba-tiba terngiang di kepalanya. Qu Liang terdiam. Dulu, setiap malam setelah kembali dari barak atau pertemuan militer, Shen Lihua selalu menunggunya. Tak pernah mengeluh apapun. Wanita itu selalu menunggunya denga

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu    Bab 16. Perlawanan.

    Tamparan itu membuat pasar Yunglong seketika hening mendadak, seolah udara membeku di antara kerumunan manusia yang langsung mengarahkan tatapan mereka pada Shen Lihua maupun Su Minshan. Su Minshan terhuyung setengah langkah, tangannya menutup pipi yang memerah. Matanya membelalak, tak percaya seorang wanita yang pernah ia injak-injak kini berani menyentuhnya. Semua orang paham, jika Shen Lihua adalah wanita penakut dan lemah lembut. Faktanya, wanita ini bahkan berani menamparnya di muka umum. "Berani-beraninya kau!" Su Minshan menggertakkan gigi, amarah dan rasa malu bercampur jadi satu. "Kau masih berani muncul di kota ini? Wanita buangan sepertimu seharusnya bersembunyi di lubang tikus, bukan berkeliaran di pasar! Apa kau sudah tidak punya muka!" Qu Liang menegang. Kabar tentang pemutusan hubungan Shen Lihua dengan keluarganya telah mencuat di muka umum. Namun bukan berarti Su Minshan bisa lancang menghinannya. Entah kenapa hatinya merasa sakit—tapi terlalu gengsi untuk m

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 15. Pertemuan Tak Terduga.

    "Nona, Anda yakin kita akan pergi ke pasar mencari ramuan obat?" Luo Qingyu tampak ragu. Bukan tanpa alasan Shen Lihua mengajaknya turun ke ibu kota Yunglong—tempat segala intrik, kenangan, dan luka lama berkumpul. Beberapa bahan obat yang mereka perlukan memang tak bisa ditemukan di gunung. Ramuan itu kelak akan diracik dan dijual di kota untuk menutup kebutuhan hidup mereka ke depan. "Kenapa tidak, kau takut apa?" Kata-kata Shen Lihua terdengar biasa saja. Qingyu tak mengerti, apakah secepat itu Shen Lihua melupakan rasa sakit di hatinya. Jika itu dia, maka dirinya tak akan sudi menginjakkan kakinya lagi di Yunglong. "Nona, Anda tahu sendiri, Kota Yunglong adalah tempat tinggal Jenderal Qu, bagaimana kalau—" "Bertemu dengannya?" Senyum di bibir Shen Lihua terbit. Mungkin jika dia adalah Shen Lihua dua bulan lalu, maka wanita itu akan terus bersembunyi dari Qu Liang. Namun, dia bukanlah wanita lemah yang akan menangis sejak pengkhianatan, dan hukuman 30 cambukan yang dia te

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 14. Titik Balik, dan Gejolak di Istana

    "Nona Shen, apa Anda tahu siapa orang yang begitu keji hingga menipu Anda?" Sejak tadi Luo Qingyu tak henti-hentinya bertanya. Hatinya masih dipenuhi amarah ketika mengingat bagaimana Nonanya dipaksa menelan ramuan pahit pencegah kehamilan itu—ramuan yang perlahan menghancurkan hidup Shen Lihua. "Aku belum tahu pasti," jawab Shen Lihua tenang. "Namun jika suatu hari aku mengetahui siapa pelakunya, aku tak akan ragu untuk membuat dia membayar segalanya." Luo Qingyu bisa melihat kilat kebencian di bola mata Shen Lihua yang dulu begitu lembut. Mereka duduk mengitari perapian kecil di dalam gubuk bambu sederhana—tempat Shen Lihua dan Luo Qingyu kini tinggal. Api berderak pelan, memantulkan cahaya hangat di dinding bambu yang kusam. Di sisi Luo Qingyu, Lin Ru duduk diam, tatapannya tak lepas dari wajah Shen Lihua. "Kenapa kau menatap Nonaku seperti itu?" Luo Qingyu berdecak kesal. Tatapan Lin Ru terlalu terang-terangan. Wajah pria itu memang tak buruk, hanya saja luka panjang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 13. Rasa Itu Telah Hilang Ditelan Badai

    Malam itu, hujan salju turun tanpa suara, menutup Kediaman Jenderal Qu dengan selimut putih yang dingin dan sunyi. Lentera-lentera bergoyang pelan tertiup angin, memantulkan cahaya kekuningan di atas jalan setapak yang basah dan licin.Jenderal Qu Liang berdiri angkuhdi depan Paviliun Anggrek.Paviliun itu gelap. Tak ada lagi cahaya lampu minyak di balik jendela. Tak ada aroma teh hangat, maupun aroma wewangian yang selalu tercium saat Shen Lihua masih berada di tempat ini.Tak ada suara langkah pelan, atau tawa lembut dari sosok anggun Shen Lihua. Semuanya kosong—seperti hatinya sendiri.Tangannya terulur, lalu berhenti di udara, seolah hendak mendorong pintu. Namun gengsi yang selama ini ia banggakan menahannya di tempat.Ia tertawa kecil, teramat getir."Sudah pergi," gumamnya. "Untuk apa merindukan sesuatu yang telah memilih meninggalkan tempat ini. Dia yang menginginkan ini."Namun ingatan tak pernah patuh pada logika.Ia teringat sosok kurus Shen Lihua yang selalu patuh meski di

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 12. Kenyataan

    Beberapa hari telah berlalu sejak Lan Rui Hong menemukan Shen Lihua dalam keadaan mengenaskan. Kini, tubuh Shen Lihua perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Demam tinggi yang sempat merenggut kesadarannya telah mereda. Luka di punggungnya mulai mengering, meski rasa perih masih kerap menyergap ketika ia bergerak terlalu cepat. Namun setidaknya, ia sudah mampu duduk lebih lama, dan berjalan perlahan tanpa harus sepenuhnya bersandar pada dinding. Pagi itu, Shen Lihua melangkah keluar dari kamar bambu sederhana yang menjadi tempat perawatannya selama beberapa hari terakhir. Udara dingin menyentuh wajahnya, membawa aroma khas obat-obatan yang sedang dijemur di halaman. Di sudut halaman, Luo Qingyu tampak sibuk menata ramuan kering di atas tampah bambu. Wajah gadis itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya, matanya sembab—jelas bekas tangis semalam karena terus memikirkan nasib nona mudanya. "Qingyu, apa yang sedang kau lakukan?" Luo Qingyu terkejut. Tangannya berhenti mena

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status