Home / Zaman Kuno / Balas Dendam Istri Jenderal Qu / Bab 11. Paralel Penyesalan

Share

Bab 11. Paralel Penyesalan

Author: Andrea_Wu
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-03 12:35:42

Malam itu, hujan turun di Kediaman Jenderal Qu.

Beberapa pelayan kediaman Qu bergerak cepat membawa lentera-lentera terang, sementara yang lainnya sigap menutup jendela. Kehangatan memenuhi aula utama, namun di tengah segala kehangatan itu, Jenderal Qu Liang justru merasakan kekosongan yang tak bisa ia jelaskan.

Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, melamun dengan tatapan mata kosong.

Di atas meja terbentang laporan militer, peta wilayah perbatasan, dan surat-surat resmi. Namun matanya justru tak membaca satu pun tumpukan perkamen di atas mejanya.

Pandangannya berulang kali tertuju pada sudut ruangan—tempat yang dulu selalu disediakan kursi kecil bagi Shen Lihua ketika ia menunggunya dengan diam.

Kini sudut itu kosong. Tidak ada lagi sosok istrinya yang selalu menemaninya setiap kali ia sibuk mengerjakan laporan militer.

Sudah berhari-hari. Entah, ia sudah tak bisa menghitungnya lagi.

Qu Liang mengerutkan kening, meneguk teh yang telah dingin. Entah sejak kapan, ia mulai sering lupa meminum teh selagi hangat—kebiasaan kecil yang dulu selalu diingatkan oleh Shen Lihua dengan suara lembut.

"Teh dingin tak baik untuk perut," katanya dulu. "Minumlah selagi hangat, Jenderal. Nanti perutmu mual."

Qu Liang menghela napas pendek. Kenapa bayangan itu selalu muncul.

"Aku tidak memikirakannya, kan?" monolognya. Mencoba menepis segala bayangan Shen Lihua di dalam kepalanya.

Ia berdiri, melangkah keluar menuju koridor. Dari kejauhan, Paviliun Anggrek terlihat gelap. Tak ada lentera menyala. Tempat yang selalu terang dan berbau harum kini lenyap, berganti kegelapan.

Dadanya terasa aneh—hanya kehampaan yang mengendap di dalamnya.

"Dia yang memilih pergi," gumamnya, seolah meyakinkan diri sendiri. "Bukan aku yang menyuruhmu. Itu keinginanmu sendiri, Shen Lan."

Namun langkahnya tetap terhenti lebih lama dari yang seharusnya. Matanya yang sipit terus menatap ruang kosong di Paviliun Anggrek.

Beberapa menit berlalu. Napasnya berhembus berat.

"Aku tidak meridukannya, tidak mungkin."

Lalu kakinya melangkah menjauh.

***

Di Paviliun Teratai, Su Minshan tengah berbaring.

Perutnya yang masih datar tertutup selimut sutra, wajahnya damai. Beberapa hari terakhir, Nyonya Tua Qu memberi perintah ketat agar semua orang menjaga ketenangan di paviliun ini.

Sejak kepergian Shen Lihua—perceraian wanita itu dengan Jenderal Qu—kini, dengan resmi Nyonya Tua Qu mengangkat Su Minshan sebagai nyonya muda Qu, menggantikan posisi Shen Lihua.

"Nyonya, air mandinya sudah siap?" pelayan setianya datang menghadap.

Su Minshan bangkit dari atas ranjang empuknya.

"Tolong bantu aku, Mo Ran."

Pelayan bernama Mo Ran dengan sigap memapah tubuh Su Minshan ke arah bak mandi kayu yang mengepulkan uap panas. Aroma wewangian menguap dari sana.

Mo Ran membantu melepaskan jubah milik Su Minshan, sebelum wanita itu menenggelamkan diri ke dalam bak kayu.

"Nyonya, apakah sudah hangat?" tanyanya.

Su Minshan mengangguk, matanya terpejam erat, menikmati sentuhan hangat menembus kulitnya.

"Mo Ran?" tanyanya.

"Ada apa, Nyonya?"

"Kamu tahu kabar Shen Lihua sekarang?"

Mo Ran menghentikan gerakan tangannya memijat punggung Su Minshan. Pelayan itu mengangguk pelan, lalu kembali memijat lembut pundak sang nyonya sembari berbicara.

"Kabarnya, kediaman Shen tak menginginkan Nyonya Shen lagi."

Senyum di bibir Su Minshan terbit lebih lebar. Inilah yang ia inginkan. Menyingkirkan Shen Lihua. Ia telah mencapai puncak tahta—menjadi Nyonya Jenderal Qu. Sedangkan Shen Lihua, wanita itu pasti hidup terlunta-lunta di luar sana.

"Siapa yang menginginkan wanita sampah seperti dia. Bahkan dia tak mampu melahirkan keturunan Jenderal. Sungguh dewa sangat adil."

Mo Ran hanya diam dan melanjutkan aktivitasnya.

"Bagaimana menurutmu?" Su Minshan kembali bersuara.

"Hamba tidak berani berpendapat, Nyonya. Hanya saja, hamba sering melihat Jenderal Qu berdiri lama di depan Paviliun Anggrek."

Mendengar penuturan Mo Ran, mata Su Minshan langsung terbuka. Tangannya mengepal, memecah air di dalam bak.

Hatinya memanas.

Sudah sejauh ini, namun Qu Liang tetap saja enggan melupakan sosok Shen Lihua.

"Aku akan melenyapkannya, bahkan bayangannya sekalipun. Dia hanya wanita tak berguna, yang tak mampu melakukan apa-apa. Kalau saja dia bukan berasal dari klan terhormat. Dia pasti sudah mati muda. Dia hanya sampah yang tak berguna." Su Minshan kembali memejamkan mata.

***

"Lin Ru?"

Yang ditanya hanya tersenyum tipis, lalu memilih duduk di bangku kayu panjang, tepat di sebelah ranjang bambu tempat Shen Lihua terbaring.

"Terima kasih untuk waktu itu, Nona—"

"Shen Lihua, atau kau bisa memanggilku Shen Lan."

Lin Ru mengangguk. Ia mengamati wajah cantik Shen Lihua. Ketertarikannya bukan tanpa alasan—menurut gurunya, Lan Rui Hong, wanita itu hampir mati di tengah badai salju, dengan luka parah di punggung akibat pukulan benda tumpul.

"Nona Shen, maaf boleh aku tanya apa yang terjadi denganmu? Maaf, bukan aku lancang, hanya saja—"

"Aku sudah dibuang, dan aku tak lagi memiliki tempat pulang."

Shen Lihua segera memotong. Ia menceritakan apa adanya. Untuk apa berbohong? Tidak ada gunanya juga.

Dia tak meminta belas kasihan pada siapa pun.

Lin Ru terdiam sejenak. Ia mengembuskan napas berat, lalu berdiri. Lelaki itu berjalan ke arah jendela reot yang terbuka, berderit karena diterpa angin.

Lin Ru menatap keluar. Hujan masih mengamuk di luar sana.

"Kau tidak melawan?"

Shen Lihua terdiam sejenak. "Menurutmu?"

Lin Ru kembali berbalik. Senyumnya teduh berpendar di atas bibir. "Kau terlihat menyedihkan, Nona."

Shen Lihua berdecak pelan. Namun semua perkataan Lin Ru memang benar adanya.

"Ya, aku wanita menyedihkan. Aku wanita tak berguna yang bahkan tak mampu melahirkan darah sang Jenderal. Pengorbananku sia-sia tiga tahun ini. Bahkan dewa pun tak berpihak padaku. Namun sekarang aku tahu—hidup memang tak semudah yang kukira. Dengan begini, aku bisa meraih cita-citaku kembali, dan menunjukkan pada mereka semua, jika Shen Lihua bukan sampah seperti apa kata mereka semua."

Ucapannya terhenti di sana.

Hujan di luar semakin deras, namun mata Shen Lihua justru memancarkan sesuatu yang berbeda—sebuah nyala tekad yang perlahan bangkit dari abu kehancuran.

Lin Ru memandangnya lama. Dia tahu, Shen Lihua bukan wanita biasa.

Seperti halnya dirinya, seorang putra mahkota yang tak ingin terkekang oleh aturan istana yang kolot.

Dia memilih berkelana, untuk melihat kehidupan rakyatnya sebelum dia naik tahta sebagai kaisar di masa depan.

"Kalau begitu," ujar Lin Ru akhirnya. Dia menatap Shen Lihua dengan mata tajamnya. "Jangan mati sebelum cita-citamu tercapai, dan membalas semua perbuatan mereka, Nona Shen."

Shen Lihua menoleh. Untuk pertama kalinya sejak lama, sudut bibirnya terangkat tipis.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 61. Debaran

    Malam itu, di Paviliun Qinglan, suasana begitu tenang dengan sinar rembulan yang menyusup di balik tirai keemasan. Shen Lihua duduk di depan cermin perunggu. Rambutnya yang panjang tergerai hingga pinggang, hitam legam seperti tinta malam. Ia menyisirnya perlahan, helai demi helai. Di sudut k

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 58. Ujian Tabib Yang Memukau.

    Genta berdentang dua kali, menandakan ujian tahap kedua dimulai. Tak peduli ttapan sinis dari anggota keluarga Shen, Shen Lihua tetap fokus pada ujiannya, meskipun dia satu-satunya peserta wanita di tempat itu. "Ujian tabib tahap kedua dimulai, semua peserta bersiap di tempat masing-masing!" Serua

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 57. Tantangan.

    Lin Ye Su duduk tenang di singgahsananya ketika tatapan Lin Hua Su menghunus padanya. "Yang Mulia, setelah ini adalah ujian tabib tahap kedua. Apa kau yakin, wanita itu bisa lolos di tahap kedua ini." Lin Ye Su tersenyum bodoh seperti biasa, dia duduk dengan tenang. Seolah ucapan Lin Hua Su tak b

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 56. Kekuatan

    Suasana Aula Qinghe kembali sunyi. Para tabib senior yang bertindak sebagai penilai berkumpul di sisi dalam aula, berunding dengan suara pelan untuk menentukan bentuk ujian tabib tahap kedua. Shen Lihua duduk di balik mejanya dengan punggung tegap. Wajahnya tenang, nyaris tanpa emosi, meski dari a

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status