Home / Zaman Kuno / Balas Dendam Istri Jenderal Qu / Bab 19. Rencana Balas Dendam

Share

Bab 19. Rencana Balas Dendam

Author: Andrea_Wu
last update Last Updated: 2026-01-08 13:32:08

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Shen Lihua terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak malam ini.

Udara pegunungan masih dingin. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang bambu, membuat dunia terasa sunyi dan pucat. Ia bangkit perlahan dari tikar jerami, merapikan pakaiannya, lalu melangkah keluar gubuk.

Namun, gubuk tempat tinggal Lin Ru terlihat gelap.

Tak biasanya, obor tak dinyalakan. Meskipun Li. Ru telah terbangun, tak biasanya pemuda itu memadamkan obor kebih awal. Mengingat hari masih begitu gelap.

Seruling giok yang biasa tergeletak di meja bambu di halaman juga tak terlihat. Bahkan cangkir teh yang semalam masih digunakan telah dibersihkan rapi, seolah pemiliknya memang telah pergi sejak dini hari.

"Apa dia pergi berburu ke hutan. Bukannya dia sudah janji akan menemaniku datang ke jamua di kediaman Qu," gumam Shen Lihua pelan.

Entah kenapa, dadanya terasa sedikit kosong. Ia menoleh ke arah kamar Lan Rui Hong, namun pintu tertutup rapat. Pria tua itu jelas ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 22. Identitas Tersembunyi

    Tubuh Shen Lihua masih terasa ringan di udara ketika dua lengan kuat itu menahannya dengan kokoh. Suasana aula seketika membeku. Musik pernikahan berhenti mendadak. Para tamu menahan napas, tak satu pun berani bergerak. Bahkan Nyonya Tua Qu yang biasanya lantang, kini membisu dengan wajah pucat, ketika melihat rombongan istana. Shen Lihua menatap pria di hadapannya. Menilai setiap sudut wajah rupawan itu dengan seksama. Jubah kuning keemasan itu— lambang naga berkuku lima— tak mungkin salah. Putra Mahkota Yanqing. Lin Ye Su. Jantungnya sempat berdegub sebentar sebelum dia mampu menguasai dirinya sendiri, dan memperbaiki posisinya. Pria itu menunduk sedikit, memastikan Shen Lihua berdiri dengan benar sebelum melepaskan pelukannya. "Apa Nona baik-baik saja?" tanyanya. Shen Lihua sempat mencerna, suara ini seperti familiar. Namun, dia mengabaikan segala pikiran liarnya. "Mana mungkin dia Lin Ru, tidak mungkin. Lin Ru memiliki luka memanjang di wajah, sedangkan

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 21. Harga Diri

    Kediaman Qu telah berubah menjadi lautan merah. Lentera bergantung di sepanjang lorong, kain sutra merah membentang dari gerbang hingga aula utama. Musik pernikahan mengalun riuh, megah, dan penuh gairah. Shen Lihua melangkah masuk bersama Luo Qingyu di sisinya. Mengenakan Hanfu sewarna langit, dengan aksen bunga. Meskipun terlihat sederhana, tetapi Shen Lihua cukup memukau dengan wajah cantiknya. Bisik-bisik langsung menyebar, ketika dirinya tiba di aula depan kediaman Qu. "Bukankah itu Shen Lihua?" "Dia masih berani datang?" "Wanita tidak tahu diri, untuk apa dia datang kembali?" Tatapan merendahkan, mengejek, bahkan jijik menghujani dirinya. Ia mengabaikan semuanya. Membiarkan mulut-mulut itu mengejeknya. Dia tak peduli, untuk apa? Hanya membuang energi positifnya saja. Lagipula, kedatangannya ke sini untuk mencari bukti keterlibatan Su Minshan, sekaligus mendekati putra mahkota untuk bisa mengikuti ujian tabib istana. Namun saat tiba di aula utama, langk

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 20. Rahasia Putra Mahkota.

    Istana Kekaisaran Yanqing. Gerbang tinggi istana terbuka lebar ketika kereta Putra Mahkota memasuki halaman dalam. Sejak pagi, para pejabat dan pangeran telah berkumpul—berpura-pura sibuk, berpura-pura menantikan kedatangannya. Padahal, siapa pun di istana tahu, Putra Mahkota itu adalah sosok yang paling tidak disukai karena rumor yang beredar di dalam istana kekaisaran. Lin Ru turun dari kereta dengan wajah datar. Ia tak pernah peduli dengan tatapan orang-orang di dalamnya. Sejak kematian ibunya, Lin Ru tak suka berada di dalam istana dengan segala aturan kolotnya. Selir kaisar, lebih memperhatikan putra-putri mereka daripada dirinya. Apalagi para pangeran itu, mereka memiliki niat untuk merebut tahta kekaisaran—terutama Lin Hua Su, putra pamannya. Para selir, dan adik kaisar menyebarkan rumor jika dirinya itu bodoh, dan tak memiliki bakat apa pun. Akan tetapi, Lin Ru memilih diam, dan membiarkan rumor itu berkembang. Jadi, dia bisa melakukan apa pun tanpa orang lain

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 19. Rencana Balas Dendam

    Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Shen Lihua terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak malam ini. Udara pegunungan masih dingin. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang bambu, membuat dunia terasa sunyi dan pucat. Ia bangkit perlahan dari tikar jerami, merapikan pakaiannya, lalu melangkah keluar gubuk. Namun, gubuk tempat tinggal Lin Ru terlihat gelap. Tak biasanya, obor tak dinyalakan. Meskipun Li. Ru telah terbangun, tak biasanya pemuda itu memadamkan obor kebih awal. Mengingat hari masih begitu gelap. Seruling giok yang biasa tergeletak di meja bambu di halaman juga tak terlihat. Bahkan cangkir teh yang semalam masih digunakan telah dibersihkan rapi, seolah pemiliknya memang telah pergi sejak dini hari. "Apa dia pergi berburu ke hutan. Bukannya dia sudah janji akan menemaniku datang ke jamua di kediaman Qu," gumam Shen Lihua pelan. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit kosong. Ia menoleh ke arah kamar Lan Rui Hong, namun pintu tertutup rapat. Pria tua itu jelas ti

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 18. Kekuatan Tersembunyi.

    Malam merangkak naik perlahan. Api di perapian berderak kecil, memantulkan cahaya jingga ke wajah Shen Lihua yang masih duduk tenang di hadapannya. Tangannya sibuk membuka gulungan kertas yang ia dapatkan dari Lan Rui Hong. Di dalam gulungan itu tertulis berbagai materi pengobatan—nama tanaman obat, sifat-sifatnya, hingga ramuan khusus untuk penyakit tertentu. Tulisan tinta hitam itu rapi dan padat makna. Selama dua bulan terakhir, Shen Lihua telah berlatih tanpa henti. Ia kini mampu menghafal sebagian besar tanaman obat, bahkan sudah bisa memeriksa penyakit hanya dari detak nadi seseorang. Di ruangan yang sama, Luo Qingyu telah berbaring di atas tikar jerami. Namun matanya belum terpejam. Ia beberapa kali membalikkan badan, menatap Nonanya dengan rasa takjub yang tak ia sembunyikan. "Nona Shen…" "Ada apa?" Shen Lihua melirik sekilas. Senyum tipis masih terpatri di bibirnya, lembut namun mengandung gurat luka yang masih tersimpan. . "Apakah Anda benar-benar akan datang beso

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 17. Penyesalan Berbalut Gengsi

    Malam turun perlahan di Kediaman Qu. Salju telah mencair memasuki awal musim semi. Namun, kediaman Qu terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu minyak di ruang kerja Jenderal Qu Liang masih menyala, cahayanya bergetar tertiup angin musim semi yang menyusup dari celah jendela. Di atas meja kayu hitam, tergeletak sebuah jubah luar berwarna gelap—belum disentuh sejak sore tadi. Qu Liang duduk sendiri. Hanya terdiam dalam senyap. Padahal lusa adalah hari pernikahannya yang kedua. Ia mengangkat cangkir teh di hadapannya. Teh itu telah lama dingin, namun Qu Liang tetap meneguknya. Rasa pahit menjalar di lidahnya—dan entah mengapa, mengingatkannya sosok istri pertamanya. "Jenderal, tehnya jangan diminum jika sudah dingin. Nanti perut Anda tidak nyaman." Suara itu tiba-tiba terngiang di kepalanya. Qu Liang terdiam. Dulu, setiap malam setelah kembali dari barak atau pertemuan militer, Shen Lihua selalu menunggunya. Tak pernah mengeluh apapun. Wanita itu selalu menunggunya denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status