Mag-log inMeski kebingungan masih menyelimuti mereka, keduanya tetap melangkah perlahan menyusuri halaman istana yang luas dan megah itu. Angin berembus lembut, menggerakkan tirai-tirai sutra yang tergantung di setiap paviliun, sementara cahaya matahari sore memantul di permukaan batu giok yang menghiasi jalan setapak. Kabar baiknya, tak satu pun orang di tempat itu mampu melihat ataupun merasakan kehadiran mereka, karena pada kenyataannya, hanya jiwa mereka yang terjebak dalam distorsi ruang dan waktu. Shen Lihua memperlambat langkahnya, sorot matanya mengamati setiap sudut dengan saksama. Wajah-wajah yang ia lihat terasa begitu familiar, namun tampak jauh lebih muda. Langkahnya terhenti ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang membuat napasnya tercekat sejenak. Di bawah bayangan pohon plum yang sedang berbunga, seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun tampak merengek sambil menggerakkan kedua tangannya ke arah seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Wajah anak
Lin Shue mundur satu langkah ke belakang, lalu satu langkah lagi, seolah lantai di bawah kakinya tiba-tiba berubah menjadi jurang tak berdasar. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini pucat pasi, darah seakan tersedot habis dari sana. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu tak beraturan, dan untuk sesaat—hanya sesaat—dia benar-benar tampak seperti pria tua yang rapuh, bukan seorang kaisar yang berdiri di puncak kekuasaan.Namun hanya dalam satu tarikan napas panjang, segalanya berubah.Tatapannya kembali mengeras, punggungnya kembali tegak, dan aura dingin yang selama ini membuat semua orang tunduk padanya kembali menyelimuti seluruh ruangan. Seolah kelemahan barusan hanyalah ilusi sesaat yang tak pernah benar-benar ada.Di hadapannya, puluhan pasang mata menatap tanpa berkedip—para pejabat, pengawal, bahkan anggota keluarga kerajaan—semuanya menunggu, menekan, menuntut jawaban atas kalimat yang baru saja terucap dari bibir Lin Ye Su.Suasana menjadi begitu sunyi hingga su
Tubuh Lin Ye Su gemetar hebat, seolah seluruh darah di nadinya mendidih dan membeku dalam waktu bersamaan. Ucapan Lin Que Yang barusan bagaikan petir yang membelah langit kesadarannya— hingga menghancurkan semua keyakinan yang selama ini ia pegang teguh. Jika benar selama ini Kaisar Lin Shue tak pernah benar-benar menyentuh hidupnya sebagai seorang ayah, maka satu-satunya kemungkinan yang tersisa hanyalah kebenaran yang jauh lebih kejam—bahwa dirinya adalah putra kandung Kaisar Lu. Sebuah fakta yang seharusnya mustahil, namun kini berdiri begitu nyata di hadapannya. Namun… bagaimana bisa? Bagaimana mungkin ia, yang tumbuh sebagai putra mahkota Negara Yanqing, justru berasal dari darah kekaisaran Xianlong? Bagaimana nasib dapat mempermainkannya hingga terlempar sejauh ini, hidup dalam identitas yang bahkan bukan miliknya sejak awal? Semua terasa seperti lelucon kejam yang disusun oleh takdir—rumit, berlapis, dan menyakitkan. Ia ingin tertawa. Benar-benar ingin tertawa keras hingg
Semua mata terpaku, mengerucut pada satu titik—pada sosok Lin Que Yang yang berdiri tegak di tengah ruangan luas itu. Aula kediaman pangeran yang biasanya tenang kini berubah menjadi lautan ketegangan. Udara terasa berat, seolah setiap napas yang diambil mengandung beban rahasia yang telah lama terkubur. Para pejabat dan pengawal yang berjajar di sisi kanan dan kiri hanya mampu menahan diri, tidak berani bergerak sedikit pun. Bahkan suara langkah kaki pun seakan enggan muncul di tengah atmosfer yang mencekam itu. Ucapan yang baru saja keluar dari bibir Lin Que Yang mengguncang seluruh isi ruangan. Ia menyatakan bahwa Pangeran Lin Hua Su… adalah anak haram Kaisar. Sejenak, waktu seolah berhenti. "Apa katamu?" Suara Kaisar Lin Shue terdengar berat, namun di balik ketenangannya tersimpan gelombang kemarahan yang menggelegak. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke arah kakaknya. "Kakak, jangan berbicara sembarangan. Aku hanya memiliki satu putri, Shen Lihua. Ataukah… kau mu
"Bagaimana kau akan menjelaskan semua ini, Pangeran Lin?" ujar Lin Ye Su dengan suara tenang, namun sorot matanya menjelaskan segalanya jika dia menekan Lin Hua Su untuk berkata sejujurnya. Suasana di aula kediaman itu seketika menegang. Udara terasa berat, seolah setiap hela napas pun dipenuhi tekanan yang tak kasat mata. Di tangan Lin Ye Su tergenggam erat sebuah manuskrip tua—kertasnya telah menguning dimakan waktu, namun tulisan di atasnya masih jelas terbaca. Itu bukan sekadar catatan biasa. Di dalamnya tertuang goresan tangan Permaisuri Xian Yi, berisi curahan hati yang selama ini terkubur dalam diam, bercampur dengan tulisan tangan Lin Que Yang sendiri. Sebuah pengakuan tanpa suara, yang kini berubah menjadi pedang tajam yang mengarah pada kebenaran. Namun berbeda dengan itu, manuskrip yang berada di tangan Lin Hua Su justru menjadi bukti gelap—rekaman bisu dari kejahatan yang selama ini tersembunyi di balik wajah penuh kebajikan milik pemuda itu. "Omong kosong!" bentak
Mata Kaisar Lu perlahan menajam, sorotnya berubah dingin sekaligus tajam seperti bilah pedang yang baru diasah. Tatapannya terpaku pada wajah Lin Ye Su tanpa berkedip, seolah ingin menembus lapisan kulit dan melihat kebenaran yang tersembunyi di baliknya. Di sampingnya, Lu Fang Yin hanya berdiri diam, tenang seperti permukaan danau yang tak terusik angin. Tidak ada keterkejutan di wajahnya—karena wajah itu, wajah Lin Ye Su, telah lebih dulu ia lihat sebelumnya. Dan sejak saat itu, benih kecurigaan telah tumbuh dalam diam di lubuk hatinya. Sementara itu, di sisi lain aula, tubuh Lin Que Yang mendadak terasa lemas. Langkahnya mundur setengah langkah, napasnya tercekat di tenggorokan. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi, seperti seseorang yang tiba-tiba melihat hantu dari masa lalu. Kedatangan Lu Fang Yin di balik punggung Kaisar Lu seolah menjadi bayangan yang membangkitkan ingatan lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat. "Bagaimana… bisa?" Suara Lu Yin Fe bergetar pel
"Nona di belakangmu!" Luo Qingyu berteriak sekencang mungkin. Anak panah itu melesat membelah udara. Cepat, tanpa suara dan mematikan. Waktu seakan melambat. Namun Shen Lihua tidak panik. Selama beberapa bulan ini selain berlatih ilmu pengobatan, dia juga melatih ilmu bela dirinya. Tubuhnya
Angin malam berdesir panjang di atas permukaan kolam teratai Istana Yanqing. Bayangan bulan terpecah-pecah oleh riak air, seperti hati Lin Ye Su yang kini terbelah antara darah dan cinta. Lin Hua Su menatapnya seolah menatap orang gila. "Baik lah kalau itu menjadi keinginanmu," desisnya pada
Aula Paviliun Naga diselimuti keheningan yang menekan. Ukiran naga emas di pilar-pilar raksasa memantulkan cahaya obor, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai cakar-cakar raksasa mencengkeram lantai marmer. Di ujung aula, di atas singgasana tinggi, duduk Kaisar Lin Shue yang telah menunggu
Shen Libua berdiri di depan Lin Hua Su. Amarahnya menguar. Tidak, ia tidak marah ketika orang lain menyebutnya sampah, atau pun wanita tak berguna. Namun, ia tak akan pernah mampu melihta Lin Ye Su kehilangan nyawanya. Ia juga tak rela jika ibunya—Mo Lan An—dianggap seorang pembunuh dan musuh is







