Beranda / Zaman Kuno / Balas Dendam Istri Jenderal Qu / Bab 17. Penyesalan Berbalut Gengsi

Share

Bab 17. Penyesalan Berbalut Gengsi

Penulis: Andrea_Wu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 11:38:40
Malam turun perlahan di Kediaman Qu. Salju telah mencair memasuki awal musim semi. Namun, kediaman Qu terasa lebih dingin dari biasanya.

Lampu minyak di ruang kerja Jenderal Qu Liang masih menyala, cahayanya bergetar tertiup angin musim semi yang menyusup dari celah jendela. Di atas meja kayu hitam, tergeletak sebuah jubah luar berwarna gelap—belum disentuh sejak sore tadi.

Qu Liang duduk sendiri.

Hanya terdiam dalam senyap.

Padahal lusa adalah hari pernikahannya yang kedua.

Ia mengangkat cangkir teh di hadapannya. Teh itu telah lama dingin, namun Qu Liang tetap meneguknya. Rasa pahit menjalar di lidahnya—dan entah mengapa, mengingatkannya sosok istri pertamanya.

"Jenderal, tehnya jangan diminum jika sudah dingin. Nanti perut Anda tidak nyaman."

Suara itu tiba-tiba terngiang di kepalanya.

Qu Liang terdiam.

Dulu, setiap malam setelah kembali dari barak atau pertemuan militer, Shen Lihua selalu menunggunya. Tak pernah mengeluh apapun. Wanita itu selalu menunggunya denga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 19. Rencana Balas Dendam

    Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Shen Lihua terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak malam ini. Udara pegunungan masih dingin. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang bambu, membuat dunia terasa sunyi dan pucat. Ia bangkit perlahan dari tikar jerami, merapikan pakaiannya, lalu melangkah keluar gubuk. Namun, gubuk tempat tinggal Lin Ru terlihat gelap. Tak biasanya, obor tak dinyalakan. Meskipun Li. Ru telah terbangun, tak biasanya pemuda itu memadamkan obor kebih awal. Mengingat hari masih begitu gelap. Seruling giok yang biasa tergeletak di meja bambu di halaman juga tak terlihat. Bahkan cangkir teh yang semalam masih digunakan telah dibersihkan rapi, seolah pemiliknya memang telah pergi sejak dini hari. "Apa dia pergi berburu ke hutan. Bukannya dia sudah janji akan menemaniku datang ke jamua di kediaman Qu," gumam Shen Lihua pelan. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit kosong. Ia menoleh ke arah kamar Lan Rui Hong, namun pintu tertutup rapat. Pria tua itu jelas ti

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 18. Kekuatan Tersembunyi.

    Malam merangkak naik perlahan. Api di perapian berderak kecil, memantulkan cahaya jingga ke wajah Shen Lihua yang masih duduk tenang di hadapannya. Tangannya sibuk membuka gulungan kertas yang ia dapatkan dari Lan Rui Hong. Di dalam gulungan itu tertulis berbagai materi pengobatan—nama tanaman obat, sifat-sifatnya, hingga ramuan khusus untuk penyakit tertentu. Tulisan tinta hitam itu rapi dan padat makna. Selama dua bulan terakhir, Shen Lihua telah berlatih tanpa henti. Ia kini mampu menghafal sebagian besar tanaman obat, bahkan sudah bisa memeriksa penyakit hanya dari detak nadi seseorang. Di ruangan yang sama, Luo Qingyu telah berbaring di atas tikar jerami. Namun matanya belum terpejam. Ia beberapa kali membalikkan badan, menatap Nonanya dengan rasa takjub yang tak ia sembunyikan. "Nona Shen…" "Ada apa?" Shen Lihua melirik sekilas. Senyum tipis masih terpatri di bibirnya, lembut namun mengandung gurat luka yang masih tersimpan. . "Apakah Anda benar-benar akan datang be

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 17. Penyesalan Berbalut Gengsi

    Malam turun perlahan di Kediaman Qu. Salju telah mencair memasuki awal musim semi. Namun, kediaman Qu terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu minyak di ruang kerja Jenderal Qu Liang masih menyala, cahayanya bergetar tertiup angin musim semi yang menyusup dari celah jendela. Di atas meja kayu hitam, tergeletak sebuah jubah luar berwarna gelap—belum disentuh sejak sore tadi. Qu Liang duduk sendiri. Hanya terdiam dalam senyap. Padahal lusa adalah hari pernikahannya yang kedua. Ia mengangkat cangkir teh di hadapannya. Teh itu telah lama dingin, namun Qu Liang tetap meneguknya. Rasa pahit menjalar di lidahnya—dan entah mengapa, mengingatkannya sosok istri pertamanya. "Jenderal, tehnya jangan diminum jika sudah dingin. Nanti perut Anda tidak nyaman." Suara itu tiba-tiba terngiang di kepalanya. Qu Liang terdiam. Dulu, setiap malam setelah kembali dari barak atau pertemuan militer, Shen Lihua selalu menunggunya. Tak pernah mengeluh apapun. Wanita itu selalu menunggunya denga

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu    Bab 16. Perlawanan.

    Tamparan itu membuat pasar Yunglong seketika hening mendadak, seolah udara membeku di antara kerumunan manusia yang langsung mengarahkan tatapan mereka pada Shen Lihua maupun Su Minshan. Su Minshan terhuyung setengah langkah, tangannya menutup pipi yang memerah. Matanya membelalak, tak percaya seorang wanita yang pernah ia injak-injak kini berani menyentuhnya. Semua orang paham, jika Shen Lihua adalah wanita penakut dan lemah lembut. Faktanya, wanita ini bahkan berani menamparnya di muka umum. "Berani-beraninya kau!" Su Minshan menggertakkan gigi, amarah dan rasa malu bercampur jadi satu. "Kau masih berani muncul di kota ini? Wanita buangan sepertimu seharusnya bersembunyi di lubang tikus, bukan berkeliaran di pasar! Apa kau sudah tidak punya muka!" Qu Liang menegang. Kabar tentang pemutusan hubungan Shen Lihua dengan keluarganya telah mencuat di muka umum. Namun bukan berarti Su Minshan bisa lancang menghinannya. Entah kenapa hatinya merasa sakit—tapi terlalu gengsi untuk m

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 15. Pertemuan Tak Terduga.

    "Nona, Anda yakin kita akan pergi ke pasar mencari ramuan obat?" Luo Qingyu tampak ragu. Bukan tanpa alasan Shen Lihua mengajaknya turun ke ibu kota Yunglong—tempat segala intrik, kenangan, dan luka lama berkumpul. Beberapa bahan obat yang mereka perlukan memang tak bisa ditemukan di gunung. Ramuan itu kelak akan diracik dan dijual di kota untuk menutup kebutuhan hidup mereka ke depan. "Kenapa tidak, kau takut apa?" Kata-kata Shen Lihua terdengar biasa saja. Qingyu tak mengerti, apakah secepat itu Shen Lihua melupakan rasa sakit di hatinya. Jika itu dia, maka dirinya tak akan sudi menginjakkan kakinya lagi di Yunglong. "Nona, Anda tahu sendiri, Kota Yunglong adalah tempat tinggal Jenderal Qu, bagaimana kalau—" "Bertemu dengannya?" Senyum di bibir Shen Lihua terbit. Mungkin jika dia adalah Shen Lihua dua bulan lalu, maka wanita itu akan terus bersembunyi dari Qu Liang. Namun, dia bukanlah wanita lemah yang akan menangis sejak pengkhianatan, dan hukuman 30 cambukan yang dia te

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 14. Titik Balik, dan Gejolak di Istana

    "Nona Shen, apa Anda tahu siapa orang yang begitu keji hingga menipu Anda?" Sejak tadi Luo Qingyu tak henti-hentinya bertanya. Hatinya masih dipenuhi amarah ketika mengingat bagaimana Nonanya dipaksa menelan ramuan pahit pencegah kehamilan itu—ramuan yang perlahan menghancurkan hidup Shen Lihua. "Aku belum tahu pasti," jawab Shen Lihua tenang. "Namun jika suatu hari aku mengetahui siapa pelakunya, aku tak akan ragu untuk membuat dia membayar segalanya." Luo Qingyu bisa melihat kilat kebencian di bola mata Shen Lihua yang dulu begitu lembut. Mereka duduk mengitari perapian kecil di dalam gubuk bambu sederhana—tempat Shen Lihua dan Luo Qingyu kini tinggal. Api berderak pelan, memantulkan cahaya hangat di dinding bambu yang kusam. Di sisi Luo Qingyu, Lin Ru duduk diam, tatapannya tak lepas dari wajah Shen Lihua. "Kenapa kau menatap Nonaku seperti itu?" Luo Qingyu berdecak kesal. Tatapan Lin Ru terlalu terang-terangan. Wajah pria itu memang tak buruk, hanya saja luka panjang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status