Compartilhar

Bab 8. Awal Dari Takdir

Autor: Andrea_Wu
last update Data de publicação: 2026-01-02 15:40:23

Shen Lihua melangkah tertatih, diikuti oleh Luo Qingyu yang setia memapahnya meninggalkan Kediaman Jenderal Qu.

Sebuah peti kayu kecil ia dekap erat ke dada, seolah itu satu-satunya benda yang masih tersisa sebagai miliknya. Semuanya telah berakhir. Pernikahan tiga tahun yang ia jaga dengan sepenuh hati, kini runtuh tanpa sisa.

Ia telah diusir dari kediaman Jenderal Qu, dicampakkan seperti sampah tak berguna. Difitnah hingga begitu keji.

Bukan tubuhnya yang sakit, melainkan hatunya yang remuk redam tak bersisa.

Ketika kakinya berhenti di depan gerbang utama keluarga Qu, Shen Lihua menghela napas panjang. Kepalanya menoleh perlahan ke belakang. Papan nama keluarga Qu masih tergantung kokoh di atas sana, berkilau diterpa cahaya lentera malam, namun justru membuat nyeri di dadanya kian perih.

Bayangan Su Minshan yang memeluk lengan Qu Liang kembali terpatri jelas di benaknya—sebuah momok menyakitkan yang tak bisa ia singkirkan.

Selama tiga tahun ini, apa yang tidak ia lakukan demi membuat suaminya bahagia. Ia bangun lebih pagi dari pelayan, mengurus rumah tangga tanpa keluh, menahan caci maki ibu mertua, bahkan menelan hinaan karena tak kunjung mengandung.

Namun pada akhirnya, seorang pelayan rendahan mampu menggoyahkan singgasana rumah tangganya.

"Nona, kita akan pergi ke mana?" Suara Luo Qingyu terdengar lirih, penuh kehati-hatian.

Shen Lihua terdiam di tempat. Beberapa saat kemudian, bibir pucatnya melengkungkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

"Ke mana lagi," ucapnya pelan. "Tentu saja ke Kediaman Shen. Aku tak memiliki tempat untuk pulang selain keluargaku sendiri, Qingyu."

Luo Qingyu hanya mampu mengangguk. Ia memapah tubuh nonanya dengan lebih erat. Sesekali Shen Lihua meringis menahan ngilu yang menjalar dari punggungnya.

Jubah merah muda yang ia kenakan telah ternoda bercak darah, kini terlihat gelap dan mengering.

"Nona, hari sudah larut," kata Qingyu dengan nada cemas. "Bagaimana jika kita mencari penginapan terlebih dahulu? Luka Nona cukup parah. Kita harus menemukan tabib sebelum melanjutkan perjalanan besok."

Qingyu tetap setia menopang tubuh Shen Lihua yang semakin lemah. Di dalam hatinya, kemarahan dan kesedihan bercampur menjadi satu.

Siapa yang tak tahu betapa besar keinginan nonanya untuk mengandung pewaris keluarga Qu?

Namun kini, wanita sebaik Shen Lihua justru dibuang tanpa belas kasihan—demi seorang pelayan rendah.

Shen Lihua mengangguk lemah. "Ya sudah, carilah penginapan terdekat. Aku tahu kau juga lelah."

Qingyu mengangguk, melanjutkan langkahnya menyusuri jalan gelap dalam pekatnya malam.

Salju kembali turun, meskipun hanya butiran-butiran kecil yang jatuh di atas kepala.

Shen Lihua tetap melangkah, ia berhenti sebentar hanya untuk menatap udara kosong di depan.

"Nona, kenapa berhenti?"

"Qingyu."

"Ya, Nona."

Tangan Shen Lihua mengepal erat. "Aku tidak ingin lagi berjalan di takdir yang sama dengan Qu Liang. Ingatlah itu, setelah ini aku akan menjadi tabib wanita pertama di kekaisaran Ruo. Akan kubuktian, bahwa wanita juga bisa menajdi seorang pejabat negara. Aku ingin membungkam mulut mereka yang merendahkan martabatku."

***

Malam semakin dalam ketika keduanya menyusuri jalan kecil di luar kota. Lentera-lentera redup bergoyang tertiup angin, memantulkan bayangan panjang di tanah berbatu.

Tiba-tiba, langkah Luo Qingyu terhenti ketika melihat siluet seseorang tergeletakntak jauh dari mereka berdiri.

"Nona… tunggu."

Di tepi gang sempit, terbaring seorang pemuda berpakaian kasar. Tubuhnya bersandar pada dinding batu, napasnya tersengal. Darah merembes dari balik pakaiannya, menodai tanah di bawahnya.

Wajah pemuda itu pucat, namun garis-garis ketegasan tetap terlihat jelas di rautnya.

"Dia terluka parah," gumam Qingyu panik. "Nona, sebaiknya kita menjauh. Tak baik mencampuri urusan orang asing."

Namun Shen Lihua justru menatap pemuda itu lebih lama. Pandangannya tertuju pada cara pemuda tersebut menekan lukanya—tepat di sisi perut bawah. Cara bernapasnya, warna darahnya, hingga getaran tangannya.

Itu bukan luka biasa.

"Qingyu," ucap Shen Lihua perlahan, suaranya tetap tenang meski wajahnya pucat. "Dia kehilangan banyak darah. Jika dibiarkan, dia tak akan bertahan hingga fajar."

"Nona—"

"Aku tahu." Shen Lihua memotong lembut. "Tapi aku tak bisa menutup mata. Nyawa manusia itu sangat berharga."

Ia berlutut perlahan, menahan rasa sakit di punggungnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka sedikit pakaian pemuda itu. Luka sabetan senjata tajam terlihat jelas, cukup dalam dan berbahaya.

Luo Qingyu terkejut. "Nona… sejak kapan Nona mengerti ilmu pengobatan? Aku tahu Nona 8ngin menjadi tabib, tapi selama ini Tuan dan Nyonya Shen begitu melarang Anda. Apalagi setelah Anda menikah."

Shen Lihua tersenyum samar. "Sejak lama. Aku mempelajarinya secara diam-diam di kediaman Qu. Awalnya hanya untuk berjaga-jaga… siapa sangka, hari ini justru menyelamatkan orang lain."

Ia mengeluarkan kain bersih dari petinya, juga beberapa jarum perak tipis yang selama ini ia simpan tersembunyi.

Dengan gerakan terampil, Shen Lihua membersihkan luka, menekan titik-titik penting untuk menghentikan pendarahan, lalu menjahit luka itu dengan hati-hati.

Pemuda itu mengerang pelan, kelopak matanya bergetar.

"Bertahanlah," bisik Shen Lihua. "Jangan tidur dulu."

Beberapa saat kemudian, napas pemuda itu mulai stabil. Darah tak lagi mengalir deras.

Luo Qingyu menatap nonanya dengan mata berkaca-kaca. "Nona… Anda berhasil."

Pemuda itu perlahan membuka mata. Sepasang mata gelap yang dalam menatap Shen Lihua.

"Siapa… kau?" Suaranya serak namun tetap berwibawa.

Shen Lihua menarik tangannya, lalu bangkit perlahan. "Aku hanya seorang wanita yang kebetulan lewat. Tuan, kau sudah aman. Cepatlah cari tempat perlindungan."

Pemuda itu terdiam sejenak, lalu berkata pelan. "Kenapa kau menolongku?"

Shen Lihua berdiri perlahan, menampilkan senyum tipis yang berpendar terpapar sinar rembulan. "Bukankah kita sesama manusia? Siapa pun kau, dari mana pun asalmu. Menolong adalah sikap yang mulia karena nyawa manusia itu berharga."

Senyum tipis terbit di bibir pemuda itu,meski ringisan pelan masih terdengar ketika dia mencoba berdiri.

"Aku hanya pelayan rendahan yang diusir dari kediaman pejabat. Perampok-perampok itu melukaiku. Kau tidak takut rugi menolong rakyat jelata sepertiku?"

"Untung rugi itu bukan untukku, Tuan. Biarlah, semua sudah menjadi kehendak dewa."

Shen Lihua kembali tersenyum, ia membungkuk sebelum berpamitan pergi.

Saat berbalik, pria itu berteriak. "Terima kasih, namaku Lin Ru."

Shen Lihua melirik sebentar, ia mengangguk lalu pergi.

Lin Ru diam di tempat, ia kembali tersenyum. "Dia tidak tahu siapa aku ternyata."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 97. Melepaskan Takhta

    "Nona di belakangmu!" Luo Qingyu berteriak sekencang mungkin. Anak panah itu melesat membelah udara. Cepat, tanpa suara dan mematikan. Waktu seakan melambat. Namun Shen Lihua tidak panik. Selama beberapa bulan ini selain berlatih ilmu pengobatan, dia juga melatih ilmu bela dirinya. Tubuhnya

    last updateÚltima atualização : 2026-03-30
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 98. Hukuman Cambuk

    Aula Paviliun Naga diselimuti keheningan yang menekan. Ukiran naga emas di pilar-pilar raksasa memantulkan cahaya obor, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai cakar-cakar raksasa mencengkeram lantai marmer. Di ujung aula, di atas singgasana tinggi, duduk Kaisar Lin Shue yang telah menunggu

    last updateÚltima atualização : 2026-03-30
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 95. Kenyataan Pahit.

    "Apa yang kau katakan!" Kaisar mengepakkan lengan jubah naganya ketika mendengar laporan dari Menteri Hong. Suaranya menggema di aula dalam, mengguncang udara pagi yang belum sepenuhnya hangat. "Hamba mengatakan apa adanya, Yang Mulia," jawab Menteri Hong dengan kepala tertunduk. "Putra Mahkota b

    last updateÚltima atualização : 2026-03-30
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 99. Dipisahkan

    Aula kembali mencekam. Setelah mendengar kabar jika Lin Ye Su akan dihukum, ia datang bersama ayahnya Lin Que Yang ke aula naga. Bersama penasehat Qi, dan beberapa menteri dari faksi timur, mereka menyaksikan ketika cambuk naga itu dibawa oleh dua pengawal khusus dari Balai Hukuman. Gagangnya hit

    last updateÚltima atualização : 2026-03-30
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status