共有

Bab 7. Hukuman

作者: Andrea_Wu
last update 公開日: 2026-01-02 13:11:20

Pelataran Kediaman Qu diterangi obor-obor tinggi.

Angin malam berembus dingin, menyapu daun-daun kering di lantai batu. Langit gelap, tanpa bintang—seolah turut menutup mata pada apa yang akan terjadi.

Shen Lihua dibawa keluar oleh dua pengawal.

Ia berjalan tanpa perlawanan. Wajahnya tampak tenang, seperti orang yang tak menanggung beban apa pun.

Punggungnya tegak, langkahnya tenang, meski wajahnya tampak pucat di bawah cahaya api. Kalung giok putih masih tergantung di lehernya, satu-satunya benda yang ia bawa karena benda itu adalah hadiah dari neneknya di kediaman Shen.

Para pelayan berkerumun di kejauhan. Tak satu pun berani bersuara untuk membela Shen Lihua.

Termasuk Luo Qingyu, gadis itu berdiri di lorong menuju pelataran. Tangisnya belum padan, melihat sebentar lagi Shen Lihua akan menerima hukuman.

Qu Liang berdiri di tangga batu, menatapnya dari atas dengan sorot mata dingin.

"Kau menampar Su Minshan?" tanyanya langsung.

"Benar," jawab Shen Lihua tanpa menunduk. "Aku melakukannya."

Tidak ada pembelaan. Dia sudah lelah, untuk apa.

Apa Qu Liang akan percaya?

Lihat saja, Nyonya Tua Qu hanya diam dengan tongkatnya mengetuk lantai. menatapnya penuh intimidasi, seolah dia adalah penjahat yang wajib dieksekusi.

Mata Qu Liang menyempit. "Kau tahu apa artinya melukai wanita yang sedang mengandung darah bangsawan Qu?"

Shen Lihua tersenyum samar. "Lalu, apa aku harus berdiam diri, ketika pelayan itu merendahkan harga diriku, Jenderal Qu? Apa aku harus menangis, dan membiarkan harga diriku terus diinjak olehnya?"

Tamparan kata-kata itu tak kalah keras. Namun Qu Liang tak goyah. Dia tetap akan berdiri di sisi Su Minshan karena wanita itu mamou memberinya keturunan.

"Kau lancang! Su Minshan tidak mungkin berani, jangan mengarang cerita!" Nadanya naik satu oktaf.

Shen Lihua semakin melebarkan senyumnya, ternyata dugaannya benar.

Dia tak memiliki lagi tempat di hati Qu Liang. Lalu, untuk apa dia terus menyangkal.

Lara di hatinya, akan dia genggam seorang diri. Suatu saat nanti dia akan membalasnya dengan lebih keji.

"Aku bukan penyair, tetapi tidak ada artinyajuga aku terus membela diri. Bagimu, tetap akulah yang bersalah, Jenderal."

"Pengawal!" katanya dingin. "Hukum sesuai aturan keluarga."

Sebuah balok kayu panjang dibawa ke tengah pelataran.

Shen Lihua dipaksa berlutut di hadapan Qu Liang, dan Nyonya Tua Qu.

Dua pengawal menahan bahunya, sementara satu lainnya berdiri di belakang, menggenggam kayu dengan kedua tangan.

"Tiga puluh kali!" perintah Qu Liang singkat.

Shen Lihua memejamkan mata. Rasa sakit ini, tak akan sebanding dengan ratusan pukulan bilah kayu yang akan menghantam punggungnya.

Pukulan pertama jatuh.

Kayu menghantam punggungnya dengan suara tumpul.

Tubuh Shen Lihua tersentak, namun tak ada teriakan keluar dari bibirnya. Ia hanya diam, merasakan nyeri di hatinya.

Pukulan kedua. Ketiga.

Rasa sakit menjalar, panas, menusuk hingga ke tulang. Tangannya mengepal di atas lantai batu, kuku-kukunya mencengkeram keras.

Namun ia tetap diam.

Keheningan itu justru membuat beberapa pelayan gemetar. Mereka merasa iba, namun tak berani melawan titah sang Jenderal.

Pukulan demi pukulan terus mendarat.

Sepuluh kali.

Lima belas.

Napas Shen Lihua mulai tersengal, keringat dingin membasahi pelipisnya. Punggung jubahnya telah kusut, tubuhnya sedikit condong ke depan—namun ia menolak untuk jatuh.

Kalung giok di lehernya bergetar pelan.

Dua puluh kali.

Qu Liang mengerutkan kening.

Entah mengapa, melihat wanita itu tidak memohon, tidak menangis, tidak berteriak—dadanya justru terasa semakin sesak.

"Cukup, jangan pukul Nona Shen lagi!" teriak Luo Qingyu sambil menangis. Gadis itu taku kuat melihatnya.

"Lanjutkan," jawab Qu Liang dingin.

"Jenderal Qu, saya mohon. Nona bisa mati!"

"Jangan dengarkan dia, pukul lagi!" teriak Qu Liang.

Dua puluh lima.

Darah mulai merembes tipis di balik kain, namun Shen Lihua tetap menelan sakit itu sendirian. Bibirnya pucat, tapi sorot matanya—ketika sesekali terbuka—tetap jernih.

Tiga puluh.

Kayu berhenti.

Shen Lihua terhuyung, nyaris roboh, namun masih berusaha menopang dirinya sendiri.

Pengawal melepaskan cengkeraman.

Ia terbatuk pelan, lalu mengangkat wajahnya perlahan ke arah Qu Liang.

Tatapan mereka bertemu. Namun hanya sorot datar tanpa ekspresi yang terlihat di kedua netra abu milik Shen Lihua.

"Hukuman telah selesai," ucapnya lirih. "Mulai malam ini… aku tidak lagi berutang apa pun pada keluarga Qu. Aku bukan lagi Nyonya kediaman Jenderal Qu. Aku hanya Shen Lihua." Ia meringis merasakan sakit, tapi memaksakan senyumnya yang sarat akan luka. "Hiduplah berbahagia dengannya, Jenderal. Kita tidak tahu, masa depan apa yang akan kau hadapi nanti. Semoga karma tidak mengikuti keluarga Qu."

Qu Liang terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus berkata apa.

Shen Lihua menunduk sebentar, memberi hormat terakhir—bukan sebagai istri, melainkan sebagai manusia yang memilih pergi dengan sisa martabatnya.

Lalu, dengan langkah tertatih, ia bangkit dan berjalan menjauh dari pelataran diikuti Luo Qingyu yang datang memapah tubuhnya.

Shen Lihua pergi meninggalkan Kediaman Qu.

Meninggalkan takdir yang pernah ia sebut rumah.

Karena ia tak ingin lagi berjalan pada takdir bersama Qu Liang.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 89. Kenyataan Tak Terungkap

    Menteri Hong duduk di sisi ranjang naga, sikapnya penuh kehati-hatian. Pria paruh baya itu adalah orang kepercayaan Kaisar Lin Shue sejak insiden besar yang mengguncang istana—tepat setelah kematian Permaisuri Xian Yi, peristiwa yang hingga kini masih menyisakan bayang-bayang kelam di balik dindi

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 84. Siapa Wanita Itu?

    Shen Lihua berdiri membisu cukup lama hingga suara air kolam teratai kembali mengalun pelan, menampar kesadarannya bahwa dunia tidak berhenti hanya karena hatinya kacau. Namun, kata-kata Lin Ye Su masih menggantung di udara, menjeratnya tanpa ampun. Sialan. Jantung Shen Lihua berdegup begitu k

    last update最終更新日 : 2026-03-28
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 86. Rahasia Gelap Istana.

    Shen Lihua hanya mampu terdiam. Bibirnya tertutup rapat, tak sanggup mengajukan pertanyaan apa pun. Barangkali semua ini hanyalah kebetulan—ya, hanya kebetulan semata. Di dunia ini pasti pembuat kalung tidak hanya satu yang mirip. Ketiganya kemudian melangkah menuju gerbang utama istana. Tujuan

    last update最終更新日 : 2026-03-28
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 82. Luka

    Tubuh Shen Lihua menegang seketika, saat sepasang tangan melingkar di perutnya. Aroma darah tipis bercampur wangi kayu pinus yang familiar menyusup ke inderanya—bau yang tak mungkin ia salah kenali, bahkan jika waktu telah berusaha menguburnya. Napasnya tercekat. Seluruh bulu kuduknya meremang.

    last update最終更新日 : 2026-03-28
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status