LOGINPagi itu, Aku duduk di bangsal tempat tidur, memperhatikan suasana di luar rumah sakit dari jendela tempatku dirawat. Sudah hampir 10 hari berlalu semenjak kejadian itu. Perkembanganku pulih dengan cukup cepat dari hari ke hari.
Dokter memberitahuku bahwa penyebab utama aku dirawat adalah karena kecelakaan berat yang menimpaku. Mobil yang kukendarai lepas kendali dan menabrak pembatas jalan tol. Kepalaku mengalami benturan berat yang berujung pada amnesia yang kuderita. Dokter bahkan menegaskan bahwa aku sudah menghabiskan seluruh keberuntunganku demi bisa selamat dari kecelakaan maut yang cukup mengerikan itu.
"Arumi~"
Aku menoleh dan tersenyum ketika melihat seorang wanita setengah baya tergopoh-gopoh mendatangiku. Dia ibuku, begitu yang dikatakannya ketika aku sudah bisa berinteraksi dengan orang-orang. Setelah kuamati lagi, kami memiliki wajah yang cukup mirip.
Melalui Ibu, Aku mendapat banyak info tentang diriku sendiri. Ibu tinggal bersama Nenek sementara Ayahku sudah meninggal. Ibuku memiliki usaha rumah makan yang seiring waktu membaik dan cukup untuk menghidupi kami semua dan membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Nenek tak bisa datang mengunjungiku karena usianya yang sudah tua dan mudah lelah. Namun terakhir kali aku menghubunginya melalui ponsel Ibuku Kudengar Ia menangis bahagia ketika mengetahui bahwa aku berhasil lolos dari maut.
Aku senang dan bersyukur atas kondisiku saat ini. Namun ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagiku. Aku memperhatikan Ibu berceloteh tentang masakan yang Ia buat untukku hari ini. Kabar baik juga datang dari Dokter yang memberitahu bahwa lusa aku sudah bisa pulang.
"Ibu nanti jemput aku kah?"
Ibuku terdiam sejenak dan menatapku dengan tatapan yang tak bisa kudeskripsikan. "Bukan Ibu...nanti ada orang lain yang jemput kamu."
"Kita nggak tinggal bareng kah?"
Ibu meraih tangan kananku dan menyentuh jari manisku– sebuah cincin yang melingkar di sana. "Udah ada orang lain yang bertanggung jawab sama kamu, Nak..."
Cincin di jari manis itu memang menjadi satu-satunya yang melekat padaku dari kecelakaan itu. Awalnya aku hanya berpikir bahwa itu hanya cincin biasa yang kupakai tanpa alasan. Aku sama sekali tak berpikir bahwa sesungguhnya aku sudah terikat dengan orang lain. Mendengar ucapan Ibu, sontak membuatku teringat pria bersuara berat yang kulihat di hari pertama aku sadar. Namun aku tak pernah berani membahasnya dengan ibu karena itu pertama dan terakhir kali aku melihat pria itu. Sepuluh hari berlalu, Ia tak lagi muncul dihadapanku hingga aku berpikir bahwa mungkin aku hanya berhalusinasi.
Jadi pria itu pasanganku??
"Kalau memang aku udah menikah, kenapa dia nggak pernah jenguk aku, bu?”
Beliau lalu terdiam sejenak sembari membereskan kotak bekal yang Ia bawa untukku. Entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, tapi aku bisa melihat ada ekspresi tak biasa di wajah ibu–ekspresi sebuah ketidakyakinan akan sesuatu. Apa mungkin sesungguhnya Ibu tak menyetujui calonku?
"Kalau memang dia suamiku, kenapa dia nggak pernah datang berkunjung? Aku udah dirawat 10 hari loh bu di sini?" ucapku tak mengerti.
"Dia orang sibuk, Arumi. Lagipula dia sudah bilang ke Ibu kalau belakangan ini nggak bisa berkunjung karena mau mempersiapkan banyak hal."
"Mempersiapkan apa?"
"Ya macam-macam! Siapa lagi yang mau mengurus karena keadaanmu lagi begini kalau bukan dia?” ujar Ibu lalu duduk di samping dan menggenggam tanganku. "Ibu paham kamu was-was...tapi Ibu pastikan kali ini dia ada di pihakmu..."
"Huh?" Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan Ibu yang terasa janggal bagiku. Berada di pihakku? Apa maksudnya?
"Ibu setuju dan membiarkan dia mengurus semuanya karena Ibu udah nggak mau lihat kamu menderita. Percaya sama Ibu, dia nggak seburuk apa yang kamu bayangkan. Ibu nggak bisa bicara banyak sekarang, Nanti dia yang akan jelaskan ke kamu semuanya. Makan dulu...Ibu mau ke dokter untuk tebus obat-obatmu..."
"Ibu ada biaya kah untuk bayar pengobatanku?"
"Dia sudah urus semuanya. Termasuk biaya perawatanmu selama kamu koma," ujar Ibu tersenyum tipis lalu pergi dari kamar rawat, menyisakan berbagai macam pertanyaan mengganjal dalam diriku; sebelum kecelakaan aku menderita? Kali ini dia di pihakku? Bukankah kalau memang dia suamiku, dia sudah pasti ada di pihakku? Apa maksudnya? Apa yang terjadi padaku sebelumnya?
Sementara itu di tempat lain, Verdi memasuki sebuah kafe yang belum beroperasi. Di dalam sana, Tante Ine sedang membereskan area konter depan. "Siang Tante~""Oh?? Verdi! Len! Lena ada Verdi nih!" Seru Tante Ine dan Alena lekas keluar dari dapur dengan terburu-buru."Mas ngapain?? Kan kafenya baru dibuka pertengahan bulan depan?!" Sungut Alena sebal."Ya nggak apa-apa, mau numpang lunch aja," ujarnya mengangkat bungkus makanan yang sejak tadi dibawanya. "Tante udah makan?""Oh?? Verdi juga beli buat Tante dan Alena kah?" Ucap Tante Ine sumringah."Iyalah~ayo makan bareng!""Kamu ambil piring sana!" Ucap Tante Ine menyuruh Alena."Tapi Lena lagi tester menu Mah!""Udah nanti aja makan dulu! Ini Verdi udah repot-repot bawain loh! Kamu tuh nggak menghargai banget!"Alena pun mau tak mau melakukan apa yang diminta sang Ibu dan bergabung bersama keduanya untuk makan siang bersama. "Kenapa nggak sama Mas Nug? Tumben..." sungut Alena."Eyy~ kan kita udah beda kantor," ujar Verdi yang kini me
Keesokan harinya, Arumi turun dari mobil dan mengikuti Nugie memasuki kantor. Mereka belum sepenuhnya bertugas, hanya melakukan inspeksi dadakan dan mengetahui kondisi kantor agar tahu apa yang harus dibenahi. Arumi ikut serta untuk mendampingi Nugie. Beberapa dewan direksi menyambut dan mengajaknya berkeliling kantor. Mereka pun akhirnya tiba di divisi dimana Allen dan Kalea berada dalam satu ruangan."Perkenalkan, Nama saya Nugie. Saya yang akan menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Pak Ramli. Ini adalah sekretaris sekaligus tunangan saya, Arumi," ucap Nugie memperkenalkan Arumi. Nugie memintanya maju dan Arumi hanya membungkuk dan terus menunduk karena Ia bisa merasakan banyak tatap mata yang terarah padanya."Sekitar jam 11, Saya minta semua direksi berkumpul di ruang meeting dan tolong persiapkan laporan kinerja masing-masing divisi kalian secara menyeluruh. Saya mau ada evaluasi supaya tahu apa yang harus dibenahi," ujar Nugie tegas. "Ayo," gumam Nugie menyentuh lembut pungg
"Saya Nugie dan ini Arumi, tunangan saya.""Apa?!" Seru Kalea terkejut."Kale–" PRANG!!Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri Kalea. Sama seperti Kalea, yang seperti sedang melihat hantu, gelas di tangan pria itu pun meluncur bebas dari genggamannya. "A-Arumi??" Ucapnya tertahan.Nugie melirik Arumi yang hanya menatap pria itu bingung. Ini adalah reaksi yang diharapkannya. Arumi adalah kunci yang akan membuka tabir mimpi buruk bagi Kalea dan pria itu. Kalea lekas undur diri dan menarik pria itu menjauh, mengabaikan pelayan yang bertugas membersihkan sisa pecahan gelas di depan mereka.Sontak, sebuah perasaan sesak mendadak dirasakan Arumi. Nafasnya menjadi tak beraturan dan perasaannya tak terasa menyenangkan. Pria itu serta Kalea menghadirkan sebuah rasa tak nyaman dalam dirinya dan Ia tak tahu kenapa. "A-Aku mau ke toilet dulu..." ucap Arumi menjauh."Sebaiknya lo cek dia deh," gumam Verdi pada Nugie."Sebentar–" ucap Nugie lekas menyusul Arumi menyusuri lorong yang terarah me
Arumi sedang memakai serum di wajahnya. Ia menghabiskan waktu bersama Alena seharian termasuk berbelanja beberapa kebutuhan mendasar yang diperlukan Arumi termasuk skincare dan make-up. Ia lekas berlari kecil keluar kamar ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie muncul membawa sebuah goodie bag besar yang kemudian Ia serahkan pada Arumi."Huh?? apa ini?" Ucap Arumi, tanpa sadar, mengikuti Nugie masuk ke kamar yang bersebelahan dengannya."Lusa akan ada Gala Dinner kantor dimana Aku bakal muncul di depan publik kantor dan resmi diangkat jadi Presdir–" ucap Nugie memasuki apartemen sambil melepas jasnya. "Semua urusannya udah beres?""Ada beberapa urusan tapi bukan sesuatu yang besar. Jadi ya bisa disimpulkan kalau sudah beres.""Oh...Aku buka boleh?" Ucap Arumi yang lekas disambut anggukan oleh Nugie yang sedang sibuk melepas jaketnya. "Oh? Ini gaun–""Yea...karena lusa aku juga akan mengenalkan kamu sebagai tunanganku," Ucap Nugie mengistirahatkan dirinya di sisi tempat tidur.
"Kamu deket kah sama Nugie?" ucap Arumi membuka obrolan."Mas Nugie itu sepupuku. Mamaku adalah adik dari Mamanya Mas Nug. Pas Mamanya Mas Nug meninggal, Mama sama Kakek yang bantu ngurus Mas Nug. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku belum lama lulus dari sekolah boga di Swiss. Terus Mas Nug nawarin kerjaan ke aku untuk ngurus apartemen ini dan jadi chef pribadinya dia selama dia kerja atau ketika dia lagi keluar kota atau negeri.""Kamu tahu soal Kalea kah?""Ah...Kalea..." ucap Alena malas. "Mamaku nggak suka dia! Mama dulu suka nemenin Kakek dinner bareng keluarganya Kalea sebelum dia sempet dijodohin sama Mas Nug. Ide perjodohan itu datangnya dari keluarga Kalea. Mereka selalu aja ngebahas 'Aduh kalau Kalea menikah dengan cucumu blablabla~' selalu aja kayak gitu! Kayak kepedean banget gitu loh Mbak! Padahal Mas Nug tuh juga nggak kepincut!" seru Alena berapi-api. "Tapi Nugie bilang yang pernah kencan sama Kalea itu Verdi yang nyamar jadi dia?""Memang! kalau Mas Verdi aja nggak
"Apa Ibuku tahu tentang ini?"Nugie mengangguk pelan, "Aku terbuka sama beliau ketika aku memutuskan mau melamar kamu. Aku cuma minta Ibu kamu untuk nggak cerita apapun sampai kita ketemu Kalau kamu penasaran kenapa aku bisa bujuk ibu kamu, karena aku udah buat surat perjanjian hitam di atas putih dengan beliau, bahwa aku yang akan menanggung segala keperluan kamu secara psikis dan materi. Kamu butuh payung hukum? Aku bisa sediakan itu untuk kamu dan keluarga kamu.""Kenapa aku butuh itu?""Karena kamu nggak akan tahu kedepannya akan gimana. Akan sulit untuk kamu kalau bergerak sendiri, percaya sama aku," ucap Nugie meyakinkan."A-Aku ada hubungannya kah sama ini semua?""Ada. Kamu kunci dari semuanya. Itu sebabnya aku butuh kamu," ujar Nugie. Arumi menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang terjadi. "Ini handphone kamu...udah aktif, udah aku simpen juga di handphone ku. Handphone lama kamu udah hancur dalam kecelakaan itu.""Thanks...""Aku tahu kamu masih punya banyak pert







