Mag-log in
Nit! Nit! Nit!
Suara alat elektronik itu seolah menyadarkanku dari bayangan kematian yang selama ini menghantui. Entah sudah berapa lama aku berada di antara batas gelap dan terang; seolah seperti mati namun aku tak yakin apakah aku berada di surga atau neraka.
Aku terjebak di dalam ruang kosong tanpa siapapun, tanpa ada apapun yang menemuiku di sana. Apa hal ini dapat dikatakan bahwa sesungguhnya aku memang belum mati?
Aku melangkah, mencari-cari sumber suara tersebut di dalam ruang kosong tanpa batas itu. Suara itu terdengar semakin lama semakin jelas dan perlahan indera penciumanku bisa merasakan bau-bauan yang terasa familiar.
Rumah sakit? Ya. Ini aroma khas rumah sakit. Aku berlari kesana-kemari mencari pintu keluar seiring suara alat yang semakin intens terdengar serta bau antiseptik rumah sakit yang khas, yang menguar semakin kuat.
"Tidak banyak perubahan–"
"Huh??" Kali ini kudengar suara berat seorang pria. Ternyata aku tak sendiri.
"Bergerak..." Suara pria itu terdengar lagi.
"Ya??"
"Jarinya bergerak–cepat panggil Dokter atau perawat sekarang!" seru pria itu. Tak lama setelahnya, kudengar suara derap kaki berbondong-bondong muncul dan keramaian terdengar di sekitarnya.
"Ack!" Aku merasakan nyeri di dadaku–seperti sengatan listrik yang diulang berkali-kali hingga penglihatanku mulai berkunang-kunang. Mulutku mengucap kata 'Tolong' tanpa suara dan aku yakin, mereka tak mendengarku sama sekali. Jika memang belum mati, tolong keluarkan aku dari ruang tanpa batas dan kepastian ini. Hanya itu satu permintaan ku pada Tuhan.
Kakiku mulai terasa lemas dan kunang-kunang di mataku semakin terlihat lebih terang dari sebelumnya. Suara alat kesehatan yang beradu dengan aroma antiseptik dan keramaian yang tiba-tiba itu, beradu menjadi satu hingga tak lagi bisa kukenali semuanya hingga semua berubah gelap total.
Mungkin kali ini, Aku benar-benar mati.
***
Januari, 2024
Nit! Nit!
Suara itu terdengar lagi. Kali ini aku membuka kedua mata dan mendapati diriku berada di dalam sebuah ruangan dengan dominasi warna putih dan aroma antiseptik khas rumah sakit seperti apa yang kualami sebelumnya. Namun kali ini, aku bisa merasakan angin sepoi khas pendingin ruangan.
Aku perlahan menoleh ke sisi kiri dan menghela nafas lega ketika kulihat sinar matahari yang terhalau gorden jendela. Kali ini, Aku tak lagi berada di ruangan tanpa batas. Rupanya aku berhasil keluar dari sana.
Aku memejamkan kedua mataku sejenak lalu menarik nafas dan menghela nafas panjang–sebuah selebrasi sederhana setelah berhasil berpisah dengan maut. Selang terpasang di hidung dan alat penyangga kehidupan terpasang di beberapa titik di tubuhku. Namun ini terasa jauh lebih baik dibandingkan terjebak dalam ruang tanpa batas itu.
Aku masih ingin hidup. Entah untuk apa. Namun sesuatu dalam diri ini mendorongku untuk tetap bertahan hidup meski tak tahu apa yang tengah kuperjuangkan.
"Arumi?"
Suara itu? Salah satu suara berat yang kukenali. Aku menggerakkan bola mataku ke sisi kanan dan kusadari jika kini aku tak sendiri di sana–seorang pria duduk di samping bangsal rawat dan menatapku lekat seraya mengharapkan respon dariku. Aku mengingatnya sebagai pria yang bersikeras memanggilkan tim medis ketika melihat tanda kehidupan pada diriku. Mungkin bisa kukatakan jika ternyata pria ini mendengar 'jeritan' permintaan tolong yang tak bisa kusampaikan. Aku berhutang nyawa padanya. Dengan sisa kekuatanku, Aku berusaha mengingat rupanya; Rambut hitam sekelam langit malam, kulit kuning langsat, namun yang menjadi ciri khas darinya adalah sepasang mata layaknya rubah yang terlindungi di balik kacamata minus berframe hitam.
Aku tak tahu bagaimana harus meresponnya karena pergerakanku yang terbatas. Tapi aku cukup mampu mengenali ekspresi lega di wajahnya ketika Ia berhasil mendeteksi pergerakan bola mataku sebagai respon atas suaranya.
"Kamu siuman," gumamnya tersenyum tipis.
Aku tak mengerti apa yang Ia ucapkan. Aku tak tahu dia siapa...Arumi itu namaku? Apa ini harga yang harus kubayar demi lolos dari kematian? Tuhan membiarkanku hidup namun mengambil semua memoriku.
Aku tak tahu siapa diriku.
Tiga bulan berlalu semenjak serentetan kejadian tak mengenakkan yang terjadi dalam rumah tangga baru Nugie dan Arumi. Setelah berdiskusi panjang, mereka pun setuju untuk membatalkan resepsi pernikahan mereka dan segala booking terkait pernikahan diambil alih oleh Verdi dan Alena sebagai "Hadiah" dari Nugie untuk pernikahan mereka yang baru berlangsung hari ini."Huwah! Akhirnya selesai juga!" Ucap Arumi memasuki kamar setelah seharian hadir di resepsi pernikahan Alena dan Verdi. Mereka menginap di hotel karena lokasi venue yang cukup jauh dari rumah dengan biaya penginapan hotel keluarga ditanggung oleh Verdi dan Ine.Nugie membuka jendela sejenak dan menatap suasana malam kota Bogor yang tenang, "Besok jalan yuk? Di Bogor banyak kuliner...""Boleh," ucap Arumi tersenyum sambil melepas beberapa perhiasannya. Lalu senyum itu kembali muncul ketika Nugie muncul di refleksi cermin dan memeluknya dari belakang ketika Ia sedang melepas anting-antingnya."Kamu cantik banget malam ini," Gumam
Andhita minta duit dari Mas?!" Seru Alena terkejut. Malam itu mereka berkumpul di apartemen Nugie, dengan Verdi juga turut hadir karena Arumi yang mengundang mereka."Terus lo kasih?""Ya...gimana... kalau nggak gitu kayaknya dia bakal neror gue terus," ucap Nugie menikmati camilan bersama Verdi dan Alena hingga Arumi datang dan membawakan minuman untuk mereka. "Thanks babe–" gumam Nugie."Dih kalau aku jadi Mas sih bodo amat! Dia yang ngancurin hidup Mas kok enteng banget minta-minta duit sama Mas! Kerja lah!" Sungut Alena kesal."Jujur, Aku sebenernya juga nggak setuju sih sama ide kamu yang dengan gampangnya kasih uang ke dia dan itu bahkan bukan uang yang sedikit..." ujar Arumi."I know, Aku cuma nggak mau dia ganggu hidup kita lagi...""Lo yakin kah setelah ini dia nggak akan gangguin lo lagi?""Gue bilang akan penjarain dia sih kalo dia ganggu gue lagi dan gue serius...Haa...Why does my life suck?? Gue sampai nggak nafsu lagi sama resepsian nikahan.""Ya udah batalin aja!" samba
Pagi hari berikutnya, Nugie bergerak malas di balik selimut. Tangannya meraba-raba sisi tempat tidurnya yang sudah kosong. Ia lekas terbangun dan mengecek jam yang kini menunjukkan pukul 6:30 pagi. "Ah sial! Telat!" sungutnya lekas terbangun dan berlari ke kamar mandi.Setelah mandi dan berpakaian, Nugie keluar dari kamar dan mendapati apartemen mereka yang kosong. "Sayang? Arumi??" ucapnya mencari-cari sosok sang istri. Sebuah perasaan Deja Vu dirasakan Nugie dan sontak hal itu membuatnya panik. Ia mencari wanita itu ke sekeliling rumah dan berniat untuk meneleponnya ketika kemudian Nugie melihat note tertempel di pintu kulkas:Aku udah coba bangunin kamu dari jam 5 tadi, But you sleep like a dead man. Jadi aku berangkat duluan karena ini hari pertamaku resmi kerja dan banyak yang harus aku pelajari. I've prepared breakfast. See you at the office! ♡Nugie menghela nafas lega setelah mengetahui dimana Arumi berada. Ia mengecek meja makan dan sepiring nasi goreng serta tas bekal yang m
Arumi lekas terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie memasuki kamar sambil membawa wadah berisi air dingin dan handuk bersih. "Istirahat aja...aku cuma kompres luka memar kamu.""Aku nggak bisa tidur..."Nugie duduk di sisi tempat tidur lalu mulai memeras handuk bersih itu dan mengompres luka memar akibat pukulan yang dilakukan Allen. "Lihat kamu..kamu bahkan nggak meringis kesakitan.""Mungkin badan aku udah kebal sama kekerasan dia.." gumam Arumi muram."Dan menurut kamu itu normal?"Arumi menatap Nugie sejenak lalu tertunduk dan menggeleng pelan, "Maaf..."Nugie menghela nafas pelan lalu kembali mencelupkan dan memeras handuk sebelum mengompres kembali wajah Arumi. "He almost raped you...""Ya??" Arumi cukup terkejut ketika mendengar itu. Ia tak tahu karena kala itu tidak sadarkan diri.Nugie berhenti sejenak lalu mengatur nafasnya yang tak beraturan karena terbawa emosi setiap kali teringat hal itu. "Itu bukan salah kamu, Aku tahu. Tapi...aku ngerasa bersalah aja k
"BRENGSEK!" ucap Nugie tertahan dan pria itu kembali menghajar Allen habis-habisan."MAS! UDAH!" Seru Alena lekas menarik Nugie menjauh dari Allen yang sudah tak sadarkan diri. Disaat bersamaan, Verdi muncul bersama Security apartemen dan tercengang dengan pemandangan yang dilihatnya. Alena lekas menghubunginya sebelum Ia berniat menghubungi Nugie namun pria itu sudah tiba lebih dulu."NGGAK BISA! GUE BAKAL HABISIN–""MAS UDAH!" Verdi lekas menahan Nugie dan mendorongnya menjauh sementara Tante Ine memanggil polisi."Tapi–""LO BISA DIPENJARA KALO DIA MATI!" Seru Verdi dan Alena terkejut mendengarnya karena rasanya baru kali ini Ia mendengar Verdi meninggikan suaranya. "Udah cukup...that's enough.. biar kali ini polisi yang handle semuanya..."Nugie terduduk lemas. Ia kemudian menoleh dan mendapati Arumi tak sadarkan diri di pangkuan Alena. Sesak dirasakannya ketika melihat tanda kemerahan di leher Arumi karena bekas cekikan yang dilakukan Allen juga luka lebam di pipi kanan dekat are
Arumi menunggu Alena mengunci pintu kafe. "Mbak nggak capek kah? Habis kerja bantuin aku di sini?""Nggak kok...biasa. Ibu aku juga punya rumah makan, jadi udah biasa," ujar Arumi berjalan berdampingan dengan Alena. "Lagian aku juga takut sendirian kalau nggak ada Nugie...apalagi setelah yang terjadi hari ini.""Kenapa nggak dipenjarain aja sih Mbak? Masa cuma Kalea yang dipenjarain? Allen kan juga pernah kdrt sama Mbak? Kalau dia masih dibiarin di luar, dia bisa aja dendam dan nyerang mbak ketika Mas Nugie nggak ada.""Masalahnya aku udah nggak punya bukti Len. Percaya deh! Ibu aku udah pernah laporin dia ke polisi tapi cuma berujung disuruh mediasi. Kalea ditangkap karena memang ada buktinya. Allen nggak bisa berbuat banyak karena itu udah terjadi tanpa sepengetahuan dia.""Emang kita tuh nggak bisa berharap banyak sama hukum di sini...""Verdi nggak ke sini kah hari ini?" Alena menghela nafas dan tertunduk muram lalu menggeleng pelan. "Dia datang ke kantor kok pagi tadi...mungkin a
Hari ini Alena disibukkan oleh kafenya yang perdana dibuka. Ia dibantu oleh sang ibu dan beberapa karyawan yang belum lama direkrutnya, bergerak ke sana kemari, mengantarkan pesanan dari satu meja ke meja lain sore itu."Hufh..." Ia berhenti sejenak, pandangannya berpendar memastikan semua pesanan
Kalea dan Allen sontak membeku ketika Arumi membahas hal itu. Tak banyak yang tahu jika Kalea memecat auditor kantor saat Siska sedang cuti melahirkan dan diminta untuk tidak lagi melanjutkan pekerjaannya karena sebagai wanita yang baru melahirkan, Ia dianggap tak akan bisa produktif lagi.Namun pa
Dua hari berlalu dilewati Arumi dengan kegelisahan. Hari ini pun tiba, Hari dimana Ia akhirnya keluar dari rumah sakit. Ibu bilang akan mengunjunginya langsung ke tempat tinggal Arumi yang baru dan seseorang akan datang menjemputnya. Arumi membereskan pakaiannya dengan diliputi rasa gelisah. Bagaim
Pagi itu, Aku duduk di bangsal tempat tidur, memperhatikan suasana di luar rumah sakit dari jendela tempatku dirawat. Sudah hampir 10 hari berlalu semenjak kejadian itu. Perkembanganku pulih dengan cukup cepat dari hari ke hari.Dokter memberitahuku bahwa penyebab utama aku dirawat adalah karena ke







