Share

Balas Dendam Pernikahan
Balas Dendam Pernikahan
Author: S. Novalet

PROLOGUE

Author: S. Novalet
last update publish date: 2026-04-14 19:27:32

Nit! Nit! Nit!

Suara alat elektronik itu seolah menyadarkanku dari bayangan kematian yang selama ini menghantui. Entah sudah berapa lama aku berada di antara batas gelap dan terang; seolah seperti mati namun aku tak yakin apakah aku berada di surga atau neraka.

Aku terjebak di dalam ruang kosong tanpa siapapun, tanpa ada apapun yang menemuiku di sana. Apa hal ini dapat dikatakan bahwa sesungguhnya aku memang belum mati?

Aku melangkah, mencari-cari sumber suara tersebut di dalam ruang kosong tanpa batas itu. Suara itu terdengar semakin lama semakin jelas dan perlahan indera penciumanku bisa merasakan bau-bauan yang terasa familiar.

Rumah sakit? Ya. Ini aroma khas rumah sakit. Aku berlari kesana-kemari mencari pintu keluar seiring suara alat yang semakin intens terdengar serta bau antiseptik rumah sakit yang khas, yang menguar semakin kuat.

"Tidak banyak perubahan–"

"Huh??" Kali ini kudengar suara berat seorang pria. Ternyata aku tak sendiri.

"Bergerak..." Suara pria itu terdengar lagi. 

"Ya??"

"Jarinya bergerak–cepat panggil Dokter atau perawat sekarang!" seru pria itu. Tak lama setelahnya, kudengar suara derap kaki berbondong-bondong muncul dan keramaian terdengar di sekitarnya.

"Ack!" Aku merasakan nyeri di dadaku–seperti sengatan listrik yang diulang berkali-kali hingga penglihatanku mulai berkunang-kunang. Mulutku mengucap kata 'Tolong' tanpa suara dan aku yakin, mereka tak mendengarku sama sekali. Jika memang belum mati, tolong keluarkan aku dari ruang tanpa batas dan kepastian ini. Hanya itu satu permintaan ku pada Tuhan.

Kakiku mulai terasa lemas dan kunang-kunang di mataku semakin terlihat lebih terang dari sebelumnya. Suara alat kesehatan yang beradu dengan aroma antiseptik dan keramaian yang tiba-tiba itu, beradu menjadi satu hingga tak lagi bisa kukenali semuanya hingga semua berubah gelap total.

Mungkin kali ini, Aku benar-benar mati.

***

Januari, 2024

Nit! Nit!

Suara itu terdengar lagi. Kali ini aku membuka kedua mata dan mendapati diriku berada di dalam sebuah ruangan dengan dominasi warna putih dan aroma antiseptik khas rumah sakit seperti apa yang kualami sebelumnya. Namun kali ini, aku bisa merasakan angin sepoi khas pendingin ruangan.

Aku perlahan menoleh ke sisi kiri dan menghela nafas lega ketika kulihat sinar matahari yang terhalau gorden jendela. Kali ini, Aku tak lagi berada di ruangan tanpa batas. Rupanya aku berhasil keluar dari sana.

Aku memejamkan kedua mataku sejenak lalu menarik nafas dan menghela nafas panjang–sebuah selebrasi sederhana setelah berhasil berpisah dengan maut. Selang terpasang di hidung dan alat penyangga kehidupan terpasang di beberapa titik di tubuhku. Namun ini terasa jauh lebih baik dibandingkan terjebak dalam ruang tanpa batas itu.

Aku masih ingin hidup. Entah untuk apa. Namun sesuatu dalam diri ini mendorongku untuk tetap bertahan hidup meski tak tahu apa yang tengah kuperjuangkan.

"Arumi?"

Suara itu? Salah satu suara berat yang kukenali. Aku menggerakkan bola mataku ke sisi kanan dan kusadari jika kini aku tak sendiri di sana–seorang pria duduk di samping bangsal rawat dan menatapku lekat seraya mengharapkan respon dariku. Aku mengingatnya sebagai pria yang bersikeras memanggilkan tim medis ketika melihat tanda kehidupan pada diriku. Mungkin bisa kukatakan jika ternyata pria ini mendengar 'jeritan' permintaan tolong yang tak bisa kusampaikan. Aku berhutang nyawa padanya. Dengan sisa kekuatanku, Aku berusaha mengingat rupanya; Rambut hitam sekelam langit malam, kulit kuning langsat, namun yang menjadi ciri khas darinya adalah sepasang mata layaknya rubah yang terlindungi di balik kacamata minus berframe hitam.

Aku tak tahu bagaimana harus meresponnya karena pergerakanku yang terbatas. Tapi aku cukup mampu mengenali ekspresi lega di wajahnya ketika Ia berhasil mendeteksi pergerakan bola mataku sebagai respon atas suaranya.

"Kamu siuman," gumamnya tersenyum tipis.

Aku tak mengerti apa yang Ia ucapkan. Aku tak tahu dia siapa...Arumi itu namaku? Apa ini harga yang harus kubayar demi lolos dari kematian? Tuhan membiarkanku hidup namun mengambil semua memoriku.

Aku tak tahu siapa diriku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Pernikahan   009.

    Sementara itu di tempat lain, Verdi memasuki sebuah kafe yang belum beroperasi. Di dalam sana, Tante Ine sedang membereskan area konter depan. "Siang Tante~""Oh?? Verdi! Len! Lena ada Verdi nih!" Seru Tante Ine dan Alena lekas keluar dari dapur dengan terburu-buru."Mas ngapain?? Kan kafenya baru dibuka pertengahan bulan depan?!" Sungut Alena sebal."Ya nggak apa-apa, mau numpang lunch aja," ujarnya mengangkat bungkus makanan yang sejak tadi dibawanya. "Tante udah makan?""Oh?? Verdi juga beli buat Tante dan Alena kah?" Ucap Tante Ine sumringah."Iyalah~ayo makan bareng!""Kamu ambil piring sana!" Ucap Tante Ine menyuruh Alena."Tapi Lena lagi tester menu Mah!""Udah nanti aja makan dulu! Ini Verdi udah repot-repot bawain loh! Kamu tuh nggak menghargai banget!"Alena pun mau tak mau melakukan apa yang diminta sang Ibu dan bergabung bersama keduanya untuk makan siang bersama. "Kenapa nggak sama Mas Nug? Tumben..." sungut Alena."Eyy~ kan kita udah beda kantor," ujar Verdi yang kini me

  • Balas Dendam Pernikahan   008.

    Keesokan harinya, Arumi turun dari mobil dan mengikuti Nugie memasuki kantor. Mereka belum sepenuhnya bertugas, hanya melakukan inspeksi dadakan dan mengetahui kondisi kantor agar tahu apa yang harus dibenahi. Arumi ikut serta untuk mendampingi Nugie. Beberapa dewan direksi menyambut dan mengajaknya berkeliling kantor. Mereka pun akhirnya tiba di divisi dimana Allen dan Kalea berada dalam satu ruangan."Perkenalkan, Nama saya Nugie. Saya yang akan menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Pak Ramli. Ini adalah sekretaris sekaligus tunangan saya, Arumi," ucap Nugie memperkenalkan Arumi. Nugie memintanya maju dan Arumi hanya membungkuk dan terus menunduk karena Ia bisa merasakan banyak tatap mata yang terarah padanya."Sekitar jam 11, Saya minta semua direksi berkumpul di ruang meeting dan tolong persiapkan laporan kinerja masing-masing divisi kalian secara menyeluruh. Saya mau ada evaluasi supaya tahu apa yang harus dibenahi," ujar Nugie tegas. "Ayo," gumam Nugie menyentuh lembut pungg

  • Balas Dendam Pernikahan   007.

    "Saya Nugie dan ini Arumi, tunangan saya.""Apa?!" Seru Kalea terkejut."Kale–" PRANG!!Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri Kalea. Sama seperti Kalea, yang seperti sedang melihat hantu, gelas di tangan pria itu pun meluncur bebas dari genggamannya. "A-Arumi??" Ucapnya tertahan.Nugie melirik Arumi yang hanya menatap pria itu bingung. Ini adalah reaksi yang diharapkannya. Arumi adalah kunci yang akan membuka tabir mimpi buruk bagi Kalea dan pria itu. Kalea lekas undur diri dan menarik pria itu menjauh, mengabaikan pelayan yang bertugas membersihkan sisa pecahan gelas di depan mereka.Sontak, sebuah perasaan sesak mendadak dirasakan Arumi. Nafasnya menjadi tak beraturan dan perasaannya tak terasa menyenangkan. Pria itu serta Kalea menghadirkan sebuah rasa tak nyaman dalam dirinya dan Ia tak tahu kenapa. "A-Aku mau ke toilet dulu..." ucap Arumi menjauh."Sebaiknya lo cek dia deh," gumam Verdi pada Nugie."Sebentar–" ucap Nugie lekas menyusul Arumi menyusuri lorong yang terarah me

  • Balas Dendam Pernikahan   006.

    Arumi sedang memakai serum di wajahnya. Ia menghabiskan waktu bersama Alena seharian termasuk berbelanja beberapa kebutuhan mendasar yang diperlukan Arumi termasuk skincare dan make-up. Ia lekas berlari kecil keluar kamar ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie muncul membawa sebuah goodie bag besar yang kemudian Ia serahkan pada Arumi."Huh?? apa ini?" Ucap Arumi, tanpa sadar, mengikuti Nugie masuk ke kamar yang bersebelahan dengannya."Lusa akan ada Gala Dinner kantor dimana Aku bakal muncul di depan publik kantor dan resmi diangkat jadi Presdir–" ucap Nugie memasuki apartemen sambil melepas jasnya. "Semua urusannya udah beres?""Ada beberapa urusan tapi bukan sesuatu yang besar. Jadi ya bisa disimpulkan kalau sudah beres.""Oh...Aku buka boleh?" Ucap Arumi yang lekas disambut anggukan oleh Nugie yang sedang sibuk melepas jaketnya. "Oh? Ini gaun–""Yea...karena lusa aku juga akan mengenalkan kamu sebagai tunanganku," Ucap Nugie mengistirahatkan dirinya di sisi tempat tidur.

  • Balas Dendam Pernikahan   005.

    "Kamu deket kah sama Nugie?" ucap Arumi membuka obrolan."Mas Nugie itu sepupuku. Mamaku adalah adik dari Mamanya Mas Nug. Pas Mamanya Mas Nug meninggal, Mama sama Kakek yang bantu ngurus Mas Nug. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku belum lama lulus dari sekolah boga di Swiss. Terus Mas Nug nawarin kerjaan ke aku untuk ngurus apartemen ini dan jadi chef pribadinya dia selama dia kerja atau ketika dia lagi keluar kota atau negeri.""Kamu tahu soal Kalea kah?""Ah...Kalea..." ucap Alena malas. "Mamaku nggak suka dia! Mama dulu suka nemenin Kakek dinner bareng keluarganya Kalea sebelum dia sempet dijodohin sama Mas Nug. Ide perjodohan itu datangnya dari keluarga Kalea. Mereka selalu aja ngebahas 'Aduh kalau Kalea menikah dengan cucumu blablabla~' selalu aja kayak gitu! Kayak kepedean banget gitu loh Mbak! Padahal Mas Nug tuh juga nggak kepincut!" seru Alena berapi-api. "Tapi Nugie bilang yang pernah kencan sama Kalea itu Verdi yang nyamar jadi dia?""Memang! kalau Mas Verdi aja nggak

  • Balas Dendam Pernikahan   004.

    "Apa Ibuku tahu tentang ini?"Nugie mengangguk pelan, "Aku terbuka sama beliau ketika aku memutuskan mau melamar kamu. Aku cuma minta Ibu kamu untuk nggak cerita apapun sampai kita ketemu Kalau kamu penasaran kenapa aku bisa bujuk ibu kamu, karena aku udah buat surat perjanjian hitam di atas putih dengan beliau, bahwa aku yang akan menanggung segala keperluan kamu secara psikis dan materi. Kamu butuh payung hukum? Aku bisa sediakan itu untuk kamu dan keluarga kamu.""Kenapa aku butuh itu?""Karena kamu nggak akan tahu kedepannya akan gimana. Akan sulit untuk kamu kalau bergerak sendiri, percaya sama aku," ucap Nugie meyakinkan."A-Aku ada hubungannya kah sama ini semua?""Ada. Kamu kunci dari semuanya. Itu sebabnya aku butuh kamu," ujar Nugie. Arumi menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang terjadi. "Ini handphone kamu...udah aktif, udah aku simpen juga di handphone ku. Handphone lama kamu udah hancur dalam kecelakaan itu.""Thanks...""Aku tahu kamu masih punya banyak pert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status