LOGINDua hari berlalu dilewati Arumi dengan kegelisahan. Hari ini pun tiba, Hari dimana Ia akhirnya keluar dari rumah sakit. Ibu bilang akan mengunjunginya langsung ke tempat tinggal Arumi yang baru dan seseorang akan datang menjemputnya. Arumi membereskan pakaiannya dengan diliputi rasa gelisah. Bagaimana jika orang-orang yang dikatakan Ibunya ternyata punya niat jahat padanya? Entah apa yang dialami Arumi sebelumnya hingga insting waspada itu muncul begitu saja dalam dirinya.
"Selamat Pagi..."
Arumi tersentak kaget dan refleks menoleh ke belakang ketika mendengar suara berat seseorang yang terasa familiar baginya namun berbeda dengan suara pria pertama yang Ia dengar ketika sadar.
Seorang pria blasteran dalam balutan kemeja yang kasual, muncul di dekatnya. Arumi larut dalam lamunannya sejenak, akan pesona pria muda itu. Berambut cokelat gelap pendek dengan warna mata senada menghiasi wajah keturunannya, rasanya sulit jika pria setampan ini benar-benar ada di dunia nyata.
"Mbak Arumi? Perkenalkan, nama saya Verdi. Saya yang ditugaskan untuk menjemput Mbak dari Rumah Sakit."
"Ditugaskan?"
"Benar. Saya sekretaris sementara dan tangan kanan dari Mas Nugie."
"Nugie...apa itu nama suamiku?"
"Benar. Mas Nugie sudah menunggu di apartemen tempat Mbak Arumi akan tinggal nanti. Mari saya bantu bawakan–" ujar Verdi meraih tas besar milik Arumi dan membimbingnya keluar dari ruang rawat lalu bergegas menuju mobil yang sudah menunggunya. Verdi membimbingnya duduk di kursi belakang lebih dulu sebelum menyusul masuk dan duduk di samping Arumi.
"Saya rasa banyak pertanyaan yang mau ditanyakan?" ucap Verdi seolah memahami kebingungan di wajah Arumi.
"Ya...untuk seseorang yang baru bangkit dari koma dan dalam kondisi amnesia, rasanya nggak mungkin kalau aku nggak punya banyak pertanyaan.”
“Bisa dipahami,” sambar Verdi cepat.
“Seperti apa Nugie?”
“Mas Nugie…” ucap Verdi terdiam sejenak. “Dia pria yang baik dan tidak banyak bicara.”
“Apa kami dipaksa menikah? Kenapa dia belum jenguk aku lagi setelah terakhir kali aku sadar dari koma?”
“Mas Nugie adalah seorang pemimpin dari sebuah perusahaan. Dia belum lama menjabat dan banyak hal yang harus diurusnya sehingga belum sempat datang ke rumah sakit. Tapi saya bisa pastikan, selama Mbak Arumi mengalami koma, Mas Nugie selalu ada di sisi Mbak,” ujar Verdi.
Arumi terdiam selama beberapa saat. Ia teringat ucapan Ibunya tentang sang calon yang kali ini berada di pihaknya. Apa ini maksudnya? Gumam Arumi dalam hati. "Oh...begitu..." gumam Arumi sontak merasa bersalah. "Maaf..." sambungnya sambil menyentuh cincin di jari manisnya.
"It's okay. Amnesia bukanlah sesuatu yang mudah. Semua memori kehidupan anda terhapus begitu saja dalam sekejap. Semua pasti terasa asing bagi anda."
"Tentang Aku dan Nugie...gimana kami sebelumnya? Eum–maksudku...sebagai pasangan..."
"Ah, itu..." Verdi terlihat ragu dan salah tingkah. “Saya rasa itu bukan ranah saya untuk membahas hal itu. Anda bisa bertanya sendiri pada Mas Nugie nanti.”
Lagi-lagi, Arumi menemui jalan buntu. Ia sungguh tak tahu sosok seperti apa pria bernama Nugie ini? Apa dia pria yang menyambutnya pertama kali ketika Ia sadar? Namun 12 hari sudah berlalu dan memori tentang wajah pria itu perlahan kabur dari ingatan Arumi.
***
Verdi mengantar Arumi hingga tiba di depan unit Apartemen. Ia menekan bel intercom lalu undur diri karena tak mau mengganggu diskusi antara dirinya dan Nugie.
Clik!
Arumi tersentak kaget ketika pintu terbuka dari dalam. Jantungnya berdebar kencang hingga akhirnya sosok pria bernama Nugie itu muncul dari balik pintu. Benar rupanya, Ia pria yang pertama kali 'menyambut' Arumi ketika sadar. Nugie terlihat cukup santai dengan kaus putih panjang kebesaran dan celana training. Orang kaya ini tak seperti bayangannya yang selalu memakai pakaian necis dimanapun.
"Oh? Udah sampai? Masuk-" ujar Nugie dengan suara beratnya yang khas. Ia membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Arumi untuk masuk sambil membantu membawakan tas wanita itu. "Maaf, aku cuma berkaus. Ini hari libur, aku cuma mau santai," ucap Nugie seolah bisa membaca pikiran Arumi. Pria itu memiliki sepasang mata kecil namun tajam, sekilas menyerupai seekor rubah. Kulitnya kuning langsat dengan rambut hitam legam sebatas tengkuk dan sepasang kacamata minus ber-frame tipis menghiasi mata indahnya.
"Nggak apa-apa..." balas Arumi melihat-lihat isi apartemen tipe studio yang sudah didesain dengan konsep semi-industrial. Apartemen itu rasanya cukup besar untuknya tinggal sendiri. "A-Aku bakal tinggal di sini?"
"Eum," ucap Nugie beranjak ke dapur dan membuka kulkas lalu mengambil dua kaleng minuman. Ia membuka salah satu kaleng dan menyerahkannya pada Arumi sebelum Ia membuka kalengnya sendiri lalu duduk di sofa.
"Eum...biasanya aku tinggal sama kakekku. Tapi beliau meninggal sebulan yang lalu," ucap Nugie membuka minumannya.
"K-Kakek? Sakit apa? Ibu nggak bilang apapun sama aku soal kakek kamu."
"Jantung," balas Nugie cepat. "Ya, karena memang itu nggak ada urusannya denganmu."
"A-Aku pikir kita suami-istri..." ucap Arumi bingung.
"Ah...ya, aku nggak bisa salahkan kalau kamu berpikir begitu," balas Nugie.
"Kita bukan suami-istri??" seru Arumi terkejut. Ia mengangkat tangan dan menunjukkan jari manisnya. "Tapi ini??"
"Itu cincin dariku, betul. Belum, lebih tepatnya," ucap Nugie. "Tapi kamu boleh menganggap dan bersikap seolah kita adalah suami-istri."
"A-aku nggak ngerti..." balas Arumi. Mendadak, kepalanya kembali terasa sakit.
"Sebenarnya aku belum mau bahas ini dan berniat menunggu sampai kamu sembuh. Tapi karena kamu sudah bertanya, jadi aku akan jujur. Kita akan menikah, itu betul. Demi membalaskan dendam," ucap Nugie.
Tiga bulan berlalu semenjak serentetan kejadian tak mengenakkan yang terjadi dalam rumah tangga baru Nugie dan Arumi. Setelah berdiskusi panjang, mereka pun setuju untuk membatalkan resepsi pernikahan mereka dan segala booking terkait pernikahan diambil alih oleh Verdi dan Alena sebagai "Hadiah" dari Nugie untuk pernikahan mereka yang baru berlangsung hari ini."Huwah! Akhirnya selesai juga!" Ucap Arumi memasuki kamar setelah seharian hadir di resepsi pernikahan Alena dan Verdi. Mereka menginap di hotel karena lokasi venue yang cukup jauh dari rumah dengan biaya penginapan hotel keluarga ditanggung oleh Verdi dan Ine.Nugie membuka jendela sejenak dan menatap suasana malam kota Bogor yang tenang, "Besok jalan yuk? Di Bogor banyak kuliner...""Boleh," ucap Arumi tersenyum sambil melepas beberapa perhiasannya. Lalu senyum itu kembali muncul ketika Nugie muncul di refleksi cermin dan memeluknya dari belakang ketika Ia sedang melepas anting-antingnya."Kamu cantik banget malam ini," Gumam
Andhita minta duit dari Mas?!" Seru Alena terkejut. Malam itu mereka berkumpul di apartemen Nugie, dengan Verdi juga turut hadir karena Arumi yang mengundang mereka."Terus lo kasih?""Ya...gimana... kalau nggak gitu kayaknya dia bakal neror gue terus," ucap Nugie menikmati camilan bersama Verdi dan Alena hingga Arumi datang dan membawakan minuman untuk mereka. "Thanks babe–" gumam Nugie."Dih kalau aku jadi Mas sih bodo amat! Dia yang ngancurin hidup Mas kok enteng banget minta-minta duit sama Mas! Kerja lah!" Sungut Alena kesal."Jujur, Aku sebenernya juga nggak setuju sih sama ide kamu yang dengan gampangnya kasih uang ke dia dan itu bahkan bukan uang yang sedikit..." ujar Arumi."I know, Aku cuma nggak mau dia ganggu hidup kita lagi...""Lo yakin kah setelah ini dia nggak akan gangguin lo lagi?""Gue bilang akan penjarain dia sih kalo dia ganggu gue lagi dan gue serius...Haa...Why does my life suck?? Gue sampai nggak nafsu lagi sama resepsian nikahan.""Ya udah batalin aja!" samba
Pagi hari berikutnya, Nugie bergerak malas di balik selimut. Tangannya meraba-raba sisi tempat tidurnya yang sudah kosong. Ia lekas terbangun dan mengecek jam yang kini menunjukkan pukul 6:30 pagi. "Ah sial! Telat!" sungutnya lekas terbangun dan berlari ke kamar mandi.Setelah mandi dan berpakaian, Nugie keluar dari kamar dan mendapati apartemen mereka yang kosong. "Sayang? Arumi??" ucapnya mencari-cari sosok sang istri. Sebuah perasaan Deja Vu dirasakan Nugie dan sontak hal itu membuatnya panik. Ia mencari wanita itu ke sekeliling rumah dan berniat untuk meneleponnya ketika kemudian Nugie melihat note tertempel di pintu kulkas:Aku udah coba bangunin kamu dari jam 5 tadi, But you sleep like a dead man. Jadi aku berangkat duluan karena ini hari pertamaku resmi kerja dan banyak yang harus aku pelajari. I've prepared breakfast. See you at the office! ♡Nugie menghela nafas lega setelah mengetahui dimana Arumi berada. Ia mengecek meja makan dan sepiring nasi goreng serta tas bekal yang m
Arumi lekas terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie memasuki kamar sambil membawa wadah berisi air dingin dan handuk bersih. "Istirahat aja...aku cuma kompres luka memar kamu.""Aku nggak bisa tidur..."Nugie duduk di sisi tempat tidur lalu mulai memeras handuk bersih itu dan mengompres luka memar akibat pukulan yang dilakukan Allen. "Lihat kamu..kamu bahkan nggak meringis kesakitan.""Mungkin badan aku udah kebal sama kekerasan dia.." gumam Arumi muram."Dan menurut kamu itu normal?"Arumi menatap Nugie sejenak lalu tertunduk dan menggeleng pelan, "Maaf..."Nugie menghela nafas pelan lalu kembali mencelupkan dan memeras handuk sebelum mengompres kembali wajah Arumi. "He almost raped you...""Ya??" Arumi cukup terkejut ketika mendengar itu. Ia tak tahu karena kala itu tidak sadarkan diri.Nugie berhenti sejenak lalu mengatur nafasnya yang tak beraturan karena terbawa emosi setiap kali teringat hal itu. "Itu bukan salah kamu, Aku tahu. Tapi...aku ngerasa bersalah aja k
"BRENGSEK!" ucap Nugie tertahan dan pria itu kembali menghajar Allen habis-habisan."MAS! UDAH!" Seru Alena lekas menarik Nugie menjauh dari Allen yang sudah tak sadarkan diri. Disaat bersamaan, Verdi muncul bersama Security apartemen dan tercengang dengan pemandangan yang dilihatnya. Alena lekas menghubunginya sebelum Ia berniat menghubungi Nugie namun pria itu sudah tiba lebih dulu."NGGAK BISA! GUE BAKAL HABISIN–""MAS UDAH!" Verdi lekas menahan Nugie dan mendorongnya menjauh sementara Tante Ine memanggil polisi."Tapi–""LO BISA DIPENJARA KALO DIA MATI!" Seru Verdi dan Alena terkejut mendengarnya karena rasanya baru kali ini Ia mendengar Verdi meninggikan suaranya. "Udah cukup...that's enough.. biar kali ini polisi yang handle semuanya..."Nugie terduduk lemas. Ia kemudian menoleh dan mendapati Arumi tak sadarkan diri di pangkuan Alena. Sesak dirasakannya ketika melihat tanda kemerahan di leher Arumi karena bekas cekikan yang dilakukan Allen juga luka lebam di pipi kanan dekat are
Arumi menunggu Alena mengunci pintu kafe. "Mbak nggak capek kah? Habis kerja bantuin aku di sini?""Nggak kok...biasa. Ibu aku juga punya rumah makan, jadi udah biasa," ujar Arumi berjalan berdampingan dengan Alena. "Lagian aku juga takut sendirian kalau nggak ada Nugie...apalagi setelah yang terjadi hari ini.""Kenapa nggak dipenjarain aja sih Mbak? Masa cuma Kalea yang dipenjarain? Allen kan juga pernah kdrt sama Mbak? Kalau dia masih dibiarin di luar, dia bisa aja dendam dan nyerang mbak ketika Mas Nugie nggak ada.""Masalahnya aku udah nggak punya bukti Len. Percaya deh! Ibu aku udah pernah laporin dia ke polisi tapi cuma berujung disuruh mediasi. Kalea ditangkap karena memang ada buktinya. Allen nggak bisa berbuat banyak karena itu udah terjadi tanpa sepengetahuan dia.""Emang kita tuh nggak bisa berharap banyak sama hukum di sini...""Verdi nggak ke sini kah hari ini?" Alena menghela nafas dan tertunduk muram lalu menggeleng pelan. "Dia datang ke kantor kok pagi tadi...mungkin a
Verdi bergerak malas di balik selimutnya. Namun Ia lekas terbangun ketika mencium aroma masakan yang terasa sedap. Tangannya kemudian meraih pakaian di dekat dan lekas memakainya lalu menyibak selimut. Ia melangkah keluar dari kamar dan berhenti sejenak menatap Alena yang sudah sibuk di dapur. "Mor
Nugie menggandeng Arumi keluar dari butik dan berjalan-jalan sejenak di sekitar Mall setelah mereka melakukan fitting pakaian pernikahan. "Kenapa tadi nggal sekalian nyobain sih?""Kan aku udah fitting sama Ibu kemarin.""Ya tapi kan aku mau liat juga?""Nggak mau! Rahasia, biar surprise.""Tch–dasa
Sesampainya di rumah, setelah mandi, Nugie mencukur bulu tipis di dagu dan area mulutnya yang mulai tumbuh. Sembari melakukan itu, Ia tenggelam dalam pikirannya dan teringat mimpinya pagi tadi. "Ack!" rintihnya ketika pisau cukur yang digunakan tak sengaja melukai dagunya."Ah, sial–" rutuknya samb
"Sorry??" ucap Nugie refleks menoleh menatap Arumi."Ibu cerita sama aku kalau dia nyaris aja dapet cucu. Tapi impiannya hancur ketika denger berita kalau aku keguguran. Dia denger dari Allen kalo katanya aku keguguran karena jatuh pas di kantor. Tapi Ibu curiga dan akhirnya ngajak aku check-up die







