Share

002.

Author: S. Novalet
last update publish date: 2026-04-14 20:05:28

Dua hari berlalu dilewati Arumi dengan kegelisahan. Hari ini pun tiba, Hari dimana Ia akhirnya keluar dari rumah sakit. Ibu bilang akan mengunjunginya langsung ke tempat tinggal Arumi yang baru dan seseorang akan datang menjemputnya. Arumi membereskan pakaiannya dengan diliputi rasa gelisah. Bagaimana jika orang-orang yang dikatakan Ibunya ternyata punya niat jahat padanya? Entah apa yang dialami Arumi sebelumnya hingga insting waspada itu muncul begitu saja dalam dirinya.

"Selamat Pagi..."

Arumi tersentak kaget dan refleks menoleh ke belakang ketika mendengar suara berat seseorang yang terasa familiar baginya namun berbeda dengan suara pria pertama yang Ia dengar ketika sadar.

Seorang pria blasteran dalam balutan kemeja yang kasual, muncul di dekatnya. Arumi larut dalam lamunannya sejenak, akan pesona pria muda itu. Berambut cokelat gelap pendek dengan warna mata senada menghiasi wajah keturunannya, rasanya sulit jika pria setampan ini benar-benar ada di dunia nyata.

"Mbak Arumi? Perkenalkan, nama saya Verdi. Saya yang ditugaskan untuk menjemput Mbak dari Rumah Sakit."

"Ditugaskan?"

"Benar. Saya sekretaris sementara dan tangan kanan dari Mas Nugie."

"Nugie...apa itu nama suamiku?"

"Benar. Mas Nugie sudah menunggu di apartemen tempat Mbak Arumi akan tinggal nanti. Mari saya bantu bawakan–" ujar Verdi meraih tas besar milik Arumi dan membimbingnya keluar dari ruang rawat lalu bergegas menuju mobil yang sudah menunggunya. Verdi membimbingnya duduk di kursi belakang lebih dulu sebelum menyusul masuk dan duduk di samping Arumi.

"Saya rasa banyak pertanyaan yang mau ditanyakan?" ucap Verdi seolah memahami kebingungan di wajah Arumi.

"Ya...untuk seseorang yang baru bangkit dari koma dan dalam kondisi amnesia, rasanya nggak mungkin kalau aku nggak punya banyak pertanyaan.”

“Bisa dipahami,” sambar Verdi cepat.

“Seperti apa Nugie?” 

“Mas Nugie…” ucap Verdi terdiam sejenak. “Dia pria yang baik dan tidak banyak bicara.”

“Apa kami dipaksa menikah? Kenapa dia belum jenguk aku lagi setelah terakhir kali aku sadar dari koma?”

“Mas Nugie adalah seorang pemimpin dari sebuah perusahaan. Dia belum lama menjabat dan banyak hal yang harus diurusnya sehingga belum sempat datang ke rumah sakit. Tapi saya bisa pastikan, selama Mbak Arumi mengalami koma, Mas Nugie selalu ada di sisi Mbak,” ujar Verdi. 

Arumi terdiam selama beberapa saat. Ia teringat ucapan Ibunya tentang sang calon yang kali ini berada di pihaknya. Apa ini maksudnya? Gumam Arumi dalam hati. "Oh...begitu..." gumam Arumi sontak merasa bersalah. "Maaf..." sambungnya sambil menyentuh cincin di jari manisnya.

"It's okay. Amnesia bukanlah sesuatu yang mudah. Semua memori kehidupan anda terhapus begitu saja dalam sekejap. Semua pasti terasa asing bagi anda."

"Tentang Aku dan Nugie...gimana kami sebelumnya? Eum–maksudku...sebagai pasangan..."

"Ah, itu..." Verdi terlihat ragu dan salah tingkah. “Saya rasa itu bukan ranah saya untuk membahas hal itu. Anda bisa bertanya sendiri pada Mas Nugie nanti.” 

Lagi-lagi, Arumi menemui jalan buntu. Ia sungguh tak tahu sosok seperti apa pria bernama Nugie ini? Apa dia pria yang menyambutnya pertama kali ketika Ia sadar? Namun 12 hari sudah berlalu dan memori tentang wajah pria itu perlahan kabur dari ingatan Arumi.

***

Verdi mengantar Arumi hingga tiba di depan unit Apartemen. Ia menekan bel intercom lalu undur diri karena tak mau mengganggu diskusi antara dirinya dan Nugie.

Clik!

Arumi tersentak kaget ketika pintu terbuka dari dalam. Jantungnya berdebar kencang hingga akhirnya sosok pria bernama Nugie itu muncul dari balik pintu. Benar rupanya, Ia pria yang pertama kali 'menyambut' Arumi ketika sadar. Nugie terlihat cukup santai dengan kaus putih panjang kebesaran dan celana training. Orang kaya ini tak seperti bayangannya yang selalu memakai pakaian necis dimanapun.

"Oh? Udah sampai? Masuk-" ujar Nugie dengan suara beratnya yang khas. Ia membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Arumi untuk masuk sambil membantu membawakan tas wanita itu. "Maaf, aku cuma berkaus. Ini hari libur, aku cuma mau santai," ucap Nugie seolah bisa membaca pikiran Arumi. Pria itu memiliki sepasang mata kecil namun tajam, sekilas menyerupai seekor rubah. Kulitnya kuning langsat dengan rambut hitam legam sebatas tengkuk dan sepasang kacamata minus ber-frame tipis menghiasi mata indahnya.

"Nggak apa-apa..." balas Arumi melihat-lihat isi apartemen tipe studio yang sudah didesain dengan konsep semi-industrial. Apartemen itu rasanya cukup besar untuknya tinggal sendiri. "A-Aku bakal tinggal di sini?"

"Eum," ucap Nugie beranjak ke dapur dan membuka kulkas lalu mengambil dua kaleng minuman. Ia membuka salah satu kaleng dan menyerahkannya pada Arumi sebelum Ia membuka kalengnya sendiri lalu duduk di sofa.

"Eum...biasanya aku tinggal sama kakekku. Tapi beliau meninggal sebulan yang lalu," ucap Nugie membuka minumannya. 

"K-Kakek? Sakit apa? Ibu nggak bilang apapun sama aku soal kakek kamu."

"Jantung," balas Nugie cepat. "Ya, karena memang itu nggak ada urusannya denganmu." 

"A-Aku pikir kita suami-istri..." ucap Arumi bingung. 

"Ah...ya, aku nggak bisa salahkan kalau kamu berpikir begitu," balas Nugie. 

"Kita bukan suami-istri??" seru Arumi terkejut. Ia mengangkat tangan dan menunjukkan jari manisnya. "Tapi ini??"

"Itu cincin dariku, betul. Belum, lebih tepatnya," ucap Nugie. "Tapi kamu boleh menganggap dan bersikap seolah kita adalah suami-istri."

"A-aku nggak ngerti..." balas Arumi. Mendadak, kepalanya kembali terasa sakit. 

"Sebenarnya aku belum mau bahas ini dan berniat menunggu sampai kamu sembuh. Tapi karena kamu sudah bertanya, jadi aku akan jujur. Kita akan menikah, itu betul. Demi membalaskan dendam," ucap Nugie. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Pernikahan   009.

    Sementara itu di tempat lain, Verdi memasuki sebuah kafe yang belum beroperasi. Di dalam sana, Tante Ine sedang membereskan area konter depan. "Siang Tante~""Oh?? Verdi! Len! Lena ada Verdi nih!" Seru Tante Ine dan Alena lekas keluar dari dapur dengan terburu-buru."Mas ngapain?? Kan kafenya baru dibuka pertengahan bulan depan?!" Sungut Alena sebal."Ya nggak apa-apa, mau numpang lunch aja," ujarnya mengangkat bungkus makanan yang sejak tadi dibawanya. "Tante udah makan?""Oh?? Verdi juga beli buat Tante dan Alena kah?" Ucap Tante Ine sumringah."Iyalah~ayo makan bareng!""Kamu ambil piring sana!" Ucap Tante Ine menyuruh Alena."Tapi Lena lagi tester menu Mah!""Udah nanti aja makan dulu! Ini Verdi udah repot-repot bawain loh! Kamu tuh nggak menghargai banget!"Alena pun mau tak mau melakukan apa yang diminta sang Ibu dan bergabung bersama keduanya untuk makan siang bersama. "Kenapa nggak sama Mas Nug? Tumben..." sungut Alena."Eyy~ kan kita udah beda kantor," ujar Verdi yang kini me

  • Balas Dendam Pernikahan   008.

    Keesokan harinya, Arumi turun dari mobil dan mengikuti Nugie memasuki kantor. Mereka belum sepenuhnya bertugas, hanya melakukan inspeksi dadakan dan mengetahui kondisi kantor agar tahu apa yang harus dibenahi. Arumi ikut serta untuk mendampingi Nugie. Beberapa dewan direksi menyambut dan mengajaknya berkeliling kantor. Mereka pun akhirnya tiba di divisi dimana Allen dan Kalea berada dalam satu ruangan."Perkenalkan, Nama saya Nugie. Saya yang akan menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Pak Ramli. Ini adalah sekretaris sekaligus tunangan saya, Arumi," ucap Nugie memperkenalkan Arumi. Nugie memintanya maju dan Arumi hanya membungkuk dan terus menunduk karena Ia bisa merasakan banyak tatap mata yang terarah padanya."Sekitar jam 11, Saya minta semua direksi berkumpul di ruang meeting dan tolong persiapkan laporan kinerja masing-masing divisi kalian secara menyeluruh. Saya mau ada evaluasi supaya tahu apa yang harus dibenahi," ujar Nugie tegas. "Ayo," gumam Nugie menyentuh lembut pungg

  • Balas Dendam Pernikahan   007.

    "Saya Nugie dan ini Arumi, tunangan saya.""Apa?!" Seru Kalea terkejut."Kale–" PRANG!!Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri Kalea. Sama seperti Kalea, yang seperti sedang melihat hantu, gelas di tangan pria itu pun meluncur bebas dari genggamannya. "A-Arumi??" Ucapnya tertahan.Nugie melirik Arumi yang hanya menatap pria itu bingung. Ini adalah reaksi yang diharapkannya. Arumi adalah kunci yang akan membuka tabir mimpi buruk bagi Kalea dan pria itu. Kalea lekas undur diri dan menarik pria itu menjauh, mengabaikan pelayan yang bertugas membersihkan sisa pecahan gelas di depan mereka.Sontak, sebuah perasaan sesak mendadak dirasakan Arumi. Nafasnya menjadi tak beraturan dan perasaannya tak terasa menyenangkan. Pria itu serta Kalea menghadirkan sebuah rasa tak nyaman dalam dirinya dan Ia tak tahu kenapa. "A-Aku mau ke toilet dulu..." ucap Arumi menjauh."Sebaiknya lo cek dia deh," gumam Verdi pada Nugie."Sebentar–" ucap Nugie lekas menyusul Arumi menyusuri lorong yang terarah me

  • Balas Dendam Pernikahan   006.

    Arumi sedang memakai serum di wajahnya. Ia menghabiskan waktu bersama Alena seharian termasuk berbelanja beberapa kebutuhan mendasar yang diperlukan Arumi termasuk skincare dan make-up. Ia lekas berlari kecil keluar kamar ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie muncul membawa sebuah goodie bag besar yang kemudian Ia serahkan pada Arumi."Huh?? apa ini?" Ucap Arumi, tanpa sadar, mengikuti Nugie masuk ke kamar yang bersebelahan dengannya."Lusa akan ada Gala Dinner kantor dimana Aku bakal muncul di depan publik kantor dan resmi diangkat jadi Presdir–" ucap Nugie memasuki apartemen sambil melepas jasnya. "Semua urusannya udah beres?""Ada beberapa urusan tapi bukan sesuatu yang besar. Jadi ya bisa disimpulkan kalau sudah beres.""Oh...Aku buka boleh?" Ucap Arumi yang lekas disambut anggukan oleh Nugie yang sedang sibuk melepas jaketnya. "Oh? Ini gaun–""Yea...karena lusa aku juga akan mengenalkan kamu sebagai tunanganku," Ucap Nugie mengistirahatkan dirinya di sisi tempat tidur.

  • Balas Dendam Pernikahan   005.

    "Kamu deket kah sama Nugie?" ucap Arumi membuka obrolan."Mas Nugie itu sepupuku. Mamaku adalah adik dari Mamanya Mas Nug. Pas Mamanya Mas Nug meninggal, Mama sama Kakek yang bantu ngurus Mas Nug. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku belum lama lulus dari sekolah boga di Swiss. Terus Mas Nug nawarin kerjaan ke aku untuk ngurus apartemen ini dan jadi chef pribadinya dia selama dia kerja atau ketika dia lagi keluar kota atau negeri.""Kamu tahu soal Kalea kah?""Ah...Kalea..." ucap Alena malas. "Mamaku nggak suka dia! Mama dulu suka nemenin Kakek dinner bareng keluarganya Kalea sebelum dia sempet dijodohin sama Mas Nug. Ide perjodohan itu datangnya dari keluarga Kalea. Mereka selalu aja ngebahas 'Aduh kalau Kalea menikah dengan cucumu blablabla~' selalu aja kayak gitu! Kayak kepedean banget gitu loh Mbak! Padahal Mas Nug tuh juga nggak kepincut!" seru Alena berapi-api. "Tapi Nugie bilang yang pernah kencan sama Kalea itu Verdi yang nyamar jadi dia?""Memang! kalau Mas Verdi aja nggak

  • Balas Dendam Pernikahan   004.

    "Apa Ibuku tahu tentang ini?"Nugie mengangguk pelan, "Aku terbuka sama beliau ketika aku memutuskan mau melamar kamu. Aku cuma minta Ibu kamu untuk nggak cerita apapun sampai kita ketemu Kalau kamu penasaran kenapa aku bisa bujuk ibu kamu, karena aku udah buat surat perjanjian hitam di atas putih dengan beliau, bahwa aku yang akan menanggung segala keperluan kamu secara psikis dan materi. Kamu butuh payung hukum? Aku bisa sediakan itu untuk kamu dan keluarga kamu.""Kenapa aku butuh itu?""Karena kamu nggak akan tahu kedepannya akan gimana. Akan sulit untuk kamu kalau bergerak sendiri, percaya sama aku," ucap Nugie meyakinkan."A-Aku ada hubungannya kah sama ini semua?""Ada. Kamu kunci dari semuanya. Itu sebabnya aku butuh kamu," ujar Nugie. Arumi menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang terjadi. "Ini handphone kamu...udah aktif, udah aku simpen juga di handphone ku. Handphone lama kamu udah hancur dalam kecelakaan itu.""Thanks...""Aku tahu kamu masih punya banyak pert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status