Share

004.

Author: S. Novalet
last update publish date: 2026-05-04 16:28:42

"Apa Ibuku tahu tentang ini?"

Nugie mengangguk pelan, "Aku terbuka sama beliau ketika aku memutuskan mau melamar kamu. Aku cuma minta Ibu kamu untuk nggak cerita apapun sampai kita ketemu Kalau kamu penasaran kenapa aku bisa bujuk ibu kamu, karena aku udah buat surat perjanjian hitam di atas putih dengan beliau, bahwa aku yang akan menanggung segala keperluan kamu secara psikis dan materi. Kamu butuh payung hukum? Aku bisa sediakan itu untuk kamu dan keluarga kamu."

"Kenapa aku butuh itu?"

"Karena kamu nggak akan tahu kedepannya akan gimana. Akan sulit untuk kamu kalau bergerak sendiri, percaya sama aku," ucap Nugie meyakinkan.

"A-Aku ada hubungannya kah sama ini semua?"

"Ada. Kamu kunci dari semuanya. Itu sebabnya aku butuh kamu," ujar Nugie. Arumi menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang terjadi. "Ini handphone kamu...udah aktif, udah aku simpen juga di handphone ku. Handphone lama kamu udah hancur dalam kecelakaan itu."

"Thanks..."

"Aku tahu kamu masih punya banyak pertanyaan terkait kehidupan kamu sebelum ini. Tapi kurasa itu nggak baik, dalam kondisi kamu yang belum stabil kayak gini. Paling tidak, ketika kamu sudah tahu semuanya, Kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendiri. Seperti apa yang aku janjikan ke Ibu kamu, Aku akan penuhi semua kebutuhan kamu. Jadi beritahu aku apa yang kamu butuhkan," ujar Nugie bangkit dari sofa.

"Kamu mau pergi kah?"

"Ya. Ada beberapa urusan yang mau kuurus. Aku udah mempekerjakan asisten rumah yang akan dateng setiap jam 12 dan 5 sore. Dia tinggal di lantai bawah dan dia yang akan urus kamu selama aku nggak ada. Namanya Alena. Dia akan dateng sekitar setengah jam lagi. Aku balik sekitar jam 8-9 malem. Tanya aku kalau ada pertanyaan, jangan ibumu atau aku akan cabut semua fasilitas yang aku kasih ke kamu dan Ibu kamu-"

"Kenapa?? Kan Ibu aku yang paling tahu aku??" protes Arumi. 

"Aku nggak mau melibatkan orang tua. Ibu kamu cukup menderita tentang apa yang udah terjadi sama kamu. Aku akan beritahu sesuai porsinya.  Kamar kamu ada di sana. Istirahatlah," ucap Nugie sebelum pergi. 

Selepas kepergian Nugie, Arumi pun melihat-lihat seisi apartemen itu. Terdapat dua kamar di sana. Sepertinya memang ini adalah tempat tinggal utama Nugie sebelum kakeknya meninggal. Karena semua begitu tiba-tiba, Nugie pun harus mengurus banyak hal dalam waktu yang berdekatan.

Arumi pun memindahkan tasnya ke dalam kamar yang sempat ditunjuk Nugie sebagai kamarnya. Ia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian santai. Hari masih pagi menjelang siang, namun rasanya Arumi hanya ingin bermalas-malasan. Berada di rumah sakit berhari-hari membuatnya penat.

Setelah segar karena mandi, Arumi pun berbaring santai di sofa besar lalu menyalakan televisi berukuran besar sambil mencari tontonan menarik. "Jadi gini rasanya hidup ala konglomerat..." gumam Arumi. Sedikit sesal Ia rasakan karena hanya bisa menikmati ini seorang diri tanpa sang ibu. Tapi di sisi lain Ia juga yakin bahwa sang Ibu belum tentu nyaman hidup seperti ini.

Namun entah mengapa Arumi merasa bahwa akan ada sesuatu yang besar terjadi itu sebabnya Nugie membiarkannya bersantai. "Nggak-Aku harus tetap waspada!" ucap Arumi terbangun dari posisinya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan seorang gadis muda muncul di sana. "Oh?" ucap Arumi lekas berdiri.

"M-Mbak, Mbak Arumi kah?" seorang gadis muda berdiri di depan pintu.

"Benar. S-Siapa ya?"

"Aku Alena!" ucap gadis itu menghela nafas lega lalu menghampiri Arumi dan menjabat tangannya. "Aku yang akan bantu selama mbak tinggal di sini. Mbak udah makan kah?" ucap Alena membawa belanjaannya ke konter dapur dan Arumi mengikutinya seperti anak bebek.

"Belum."

"Oke! Aku masak dulu ya," ujar Alena mengisi stok di kulkas besar.

"Aku mau bantu...sekaligus belajar masak."

Alena menoleh dan menatap Arumi penuh tanya, "Beneran mau?"

"Eum!"

"Oke! Kita bagi tugas," ujar Alena mengeluarkan bahan masakan dan memberitahu Arumi apa yang harus wanita itu lakukan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Pernikahan   (TAMAT)

    Tiga bulan berlalu semenjak serentetan kejadian tak mengenakkan yang terjadi dalam rumah tangga baru Nugie dan Arumi. Setelah berdiskusi panjang, mereka pun setuju untuk membatalkan resepsi pernikahan mereka dan segala booking terkait pernikahan diambil alih oleh Verdi dan Alena sebagai "Hadiah" dari Nugie untuk pernikahan mereka yang baru berlangsung hari ini."Huwah! Akhirnya selesai juga!" Ucap Arumi memasuki kamar setelah seharian hadir di resepsi pernikahan Alena dan Verdi. Mereka menginap di hotel karena lokasi venue yang cukup jauh dari rumah dengan biaya penginapan hotel keluarga ditanggung oleh Verdi dan Ine.Nugie membuka jendela sejenak dan menatap suasana malam kota Bogor yang tenang, "Besok jalan yuk? Di Bogor banyak kuliner...""Boleh," ucap Arumi tersenyum sambil melepas beberapa perhiasannya. Lalu senyum itu kembali muncul ketika Nugie muncul di refleksi cermin dan memeluknya dari belakang ketika Ia sedang melepas anting-antingnya."Kamu cantik banget malam ini," Gumam

  • Balas Dendam Pernikahan   050.

    Andhita minta duit dari Mas?!" Seru Alena terkejut. Malam itu mereka berkumpul di apartemen Nugie, dengan Verdi juga turut hadir karena Arumi yang mengundang mereka."Terus lo kasih?""Ya...gimana... kalau nggak gitu kayaknya dia bakal neror gue terus," ucap Nugie menikmati camilan bersama Verdi dan Alena hingga Arumi datang dan membawakan minuman untuk mereka. "Thanks babe–" gumam Nugie."Dih kalau aku jadi Mas sih bodo amat! Dia yang ngancurin hidup Mas kok enteng banget minta-minta duit sama Mas! Kerja lah!" Sungut Alena kesal."Jujur, Aku sebenernya juga nggak setuju sih sama ide kamu yang dengan gampangnya kasih uang ke dia dan itu bahkan bukan uang yang sedikit..." ujar Arumi."I know, Aku cuma nggak mau dia ganggu hidup kita lagi...""Lo yakin kah setelah ini dia nggak akan gangguin lo lagi?""Gue bilang akan penjarain dia sih kalo dia ganggu gue lagi dan gue serius...Haa...Why does my life suck?? Gue sampai nggak nafsu lagi sama resepsian nikahan.""Ya udah batalin aja!" samba

  • Balas Dendam Pernikahan   049.

    Pagi hari berikutnya, Nugie bergerak malas di balik selimut. Tangannya meraba-raba sisi tempat tidurnya yang sudah kosong. Ia lekas terbangun dan mengecek jam yang kini menunjukkan pukul 6:30 pagi. "Ah sial! Telat!" sungutnya lekas terbangun dan berlari ke kamar mandi.Setelah mandi dan berpakaian, Nugie keluar dari kamar dan mendapati apartemen mereka yang kosong. "Sayang? Arumi??" ucapnya mencari-cari sosok sang istri. Sebuah perasaan Deja Vu dirasakan Nugie dan sontak hal itu membuatnya panik. Ia mencari wanita itu ke sekeliling rumah dan berniat untuk meneleponnya ketika kemudian Nugie melihat note tertempel di pintu kulkas:Aku udah coba bangunin kamu dari jam 5 tadi, But you sleep like a dead man. Jadi aku berangkat duluan karena ini hari pertamaku resmi kerja dan banyak yang harus aku pelajari. I've prepared breakfast. See you at the office! ♡Nugie menghela nafas lega setelah mengetahui dimana Arumi berada. Ia mengecek meja makan dan sepiring nasi goreng serta tas bekal yang m

  • Balas Dendam Pernikahan   048.

    Arumi lekas terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie memasuki kamar sambil membawa wadah berisi air dingin dan handuk bersih. "Istirahat aja...aku cuma kompres luka memar kamu.""Aku nggak bisa tidur..."Nugie duduk di sisi tempat tidur lalu mulai memeras handuk bersih itu dan mengompres luka memar akibat pukulan yang dilakukan Allen. "Lihat kamu..kamu bahkan nggak meringis kesakitan.""Mungkin badan aku udah kebal sama kekerasan dia.." gumam Arumi muram."Dan menurut kamu itu normal?"Arumi menatap Nugie sejenak lalu tertunduk dan menggeleng pelan, "Maaf..."Nugie menghela nafas pelan lalu kembali mencelupkan dan memeras handuk sebelum mengompres kembali wajah Arumi. "He almost raped you...""Ya??" Arumi cukup terkejut ketika mendengar itu. Ia tak tahu karena kala itu tidak sadarkan diri.Nugie berhenti sejenak lalu mengatur nafasnya yang tak beraturan karena terbawa emosi setiap kali teringat hal itu. "Itu bukan salah kamu, Aku tahu. Tapi...aku ngerasa bersalah aja k

  • Balas Dendam Pernikahan   047.

    "BRENGSEK!" ucap Nugie tertahan dan pria itu kembali menghajar Allen habis-habisan."MAS! UDAH!" Seru Alena lekas menarik Nugie menjauh dari Allen yang sudah tak sadarkan diri. Disaat bersamaan, Verdi muncul bersama Security apartemen dan tercengang dengan pemandangan yang dilihatnya. Alena lekas menghubunginya sebelum Ia berniat menghubungi Nugie namun pria itu sudah tiba lebih dulu."NGGAK BISA! GUE BAKAL HABISIN–""MAS UDAH!" Verdi lekas menahan Nugie dan mendorongnya menjauh sementara Tante Ine memanggil polisi."Tapi–""LO BISA DIPENJARA KALO DIA MATI!" Seru Verdi dan Alena terkejut mendengarnya karena rasanya baru kali ini Ia mendengar Verdi meninggikan suaranya. "Udah cukup...that's enough.. biar kali ini polisi yang handle semuanya..."Nugie terduduk lemas. Ia kemudian menoleh dan mendapati Arumi tak sadarkan diri di pangkuan Alena. Sesak dirasakannya ketika melihat tanda kemerahan di leher Arumi karena bekas cekikan yang dilakukan Allen juga luka lebam di pipi kanan dekat are

  • Balas Dendam Pernikahan   046.

    Arumi menunggu Alena mengunci pintu kafe. "Mbak nggak capek kah? Habis kerja bantuin aku di sini?""Nggak kok...biasa. Ibu aku juga punya rumah makan, jadi udah biasa," ujar Arumi berjalan berdampingan dengan Alena. "Lagian aku juga takut sendirian kalau nggak ada Nugie...apalagi setelah yang terjadi hari ini.""Kenapa nggak dipenjarain aja sih Mbak? Masa cuma Kalea yang dipenjarain? Allen kan juga pernah kdrt sama Mbak? Kalau dia masih dibiarin di luar, dia bisa aja dendam dan nyerang mbak ketika Mas Nugie nggak ada.""Masalahnya aku udah nggak punya bukti Len. Percaya deh! Ibu aku udah pernah laporin dia ke polisi tapi cuma berujung disuruh mediasi. Kalea ditangkap karena memang ada buktinya. Allen nggak bisa berbuat banyak karena itu udah terjadi tanpa sepengetahuan dia.""Emang kita tuh nggak bisa berharap banyak sama hukum di sini...""Verdi nggak ke sini kah hari ini?" Alena menghela nafas dan tertunduk muram lalu menggeleng pelan. "Dia datang ke kantor kok pagi tadi...mungkin a

  • Balas Dendam Pernikahan   037.

    Arumi melangkah melewati tempat tidurnya menuju balkon. Ia membuka gorden dan berhenti sejenak lalu menoleh ke arah tempat tidur ketika mendengar erangan pelan Nugie yang bergerak malas dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.Arumi tersenyum tipis lalu membuka pintu geser dan bersanta

  • Balas Dendam Pernikahan   036.

    Satu Minggu KemudianAllen memasuki ruangan milik Nugie dan meletakkan laporan pekerjaan di sana. Ia terdiam menatap kursi kerja milik Nugie yang kosong tiga 3 hari terakhir ini. Menurut gosip yang beredar, Kabarnya Nugie mulai mengambil cuti untuk mempersiapkan pernikahannya."Ada yang bisa dibant

  • Balas Dendam Pernikahan   035.

    Nugie membereskan peralatannya sore itu dan beranjak pulang. "Halo?" ucapnya berbicara di telepon. "Sesi terapi kamu sore?" ujarnya mempercepat langkahnya memasuki lift dan mengangguk pelan sebagai ungkapan terimakasih karena karyawan yang menahan pintu lift untuknya."Mau aku jemput aja?""Nggak u

  • Balas Dendam Pernikahan   032.

    Nugie membuka matanya lalu mendapati wajah Arumi sebagai hal pertama yang dilihatnya. Ia meraih handphone dan menyadari jika hari sudah sore menjelang petang. Entah sudah berapa lama Ia tertidur, Ia bahkan tak tahu sejak kapan Arumi terlelap di sampingnya namun Ia merasa aman ketika mendapati wanit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status