LOGIN"Apa Ibuku tahu tentang ini?"
Nugie mengangguk pelan, "Aku terbuka sama beliau ketika aku memutuskan mau melamar kamu. Aku cuma minta Ibu kamu untuk nggak cerita apapun sampai kita ketemu Kalau kamu penasaran kenapa aku bisa bujuk ibu kamu, karena aku udah buat surat perjanjian hitam di atas putih dengan beliau, bahwa aku yang akan menanggung segala keperluan kamu secara psikis dan materi. Kamu butuh payung hukum? Aku bisa sediakan itu untuk kamu dan keluarga kamu."
"Kenapa aku butuh itu?"
"Karena kamu nggak akan tahu kedepannya akan gimana. Akan sulit untuk kamu kalau bergerak sendiri, percaya sama aku," ucap Nugie meyakinkan.
"A-Aku ada hubungannya kah sama ini semua?"
"Ada. Kamu kunci dari semuanya. Itu sebabnya aku butuh kamu," ujar Nugie. Arumi menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang terjadi. "Ini handphone kamu...udah aktif, udah aku simpen juga di handphone ku. Handphone lama kamu udah hancur dalam kecelakaan itu."
"Thanks..."
"Aku tahu kamu masih punya banyak pertanyaan terkait kehidupan kamu sebelum ini. Tapi kurasa itu nggak baik, dalam kondisi kamu yang belum stabil kayak gini. Paling tidak, ketika kamu sudah tahu semuanya, Kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendiri. Seperti apa yang aku janjikan ke Ibu kamu, Aku akan penuhi semua kebutuhan kamu. Jadi beritahu aku apa yang kamu butuhkan," ujar Nugie bangkit dari sofa.
"Kamu mau pergi kah?"
"Ya. Ada beberapa urusan yang mau kuurus. Aku udah mempekerjakan asisten rumah yang akan dateng setiap jam 12 dan 5 sore. Dia tinggal di lantai bawah dan dia yang akan urus kamu selama aku nggak ada. Namanya Alena. Dia akan dateng sekitar setengah jam lagi. Aku balik sekitar jam 8-9 malem. Tanya aku kalau ada pertanyaan, jangan ibumu atau aku akan cabut semua fasilitas yang aku kasih ke kamu dan Ibu kamu-"
"Kenapa?? Kan Ibu aku yang paling tahu aku??" protes Arumi.
"Aku nggak mau melibatkan orang tua. Ibu kamu cukup menderita tentang apa yang udah terjadi sama kamu. Aku akan beritahu sesuai porsinya. Kamar kamu ada di sana. Istirahatlah," ucap Nugie sebelum pergi.
Selepas kepergian Nugie, Arumi pun melihat-lihat seisi apartemen itu. Terdapat dua kamar di sana. Sepertinya memang ini adalah tempat tinggal utama Nugie sebelum kakeknya meninggal. Karena semua begitu tiba-tiba, Nugie pun harus mengurus banyak hal dalam waktu yang berdekatan.
Arumi pun memindahkan tasnya ke dalam kamar yang sempat ditunjuk Nugie sebagai kamarnya. Ia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian santai. Hari masih pagi menjelang siang, namun rasanya Arumi hanya ingin bermalas-malasan. Berada di rumah sakit berhari-hari membuatnya penat.
Setelah segar karena mandi, Arumi pun berbaring santai di sofa besar lalu menyalakan televisi berukuran besar sambil mencari tontonan menarik. "Jadi gini rasanya hidup ala konglomerat..." gumam Arumi. Sedikit sesal Ia rasakan karena hanya bisa menikmati ini seorang diri tanpa sang ibu. Tapi di sisi lain Ia juga yakin bahwa sang Ibu belum tentu nyaman hidup seperti ini.
Namun entah mengapa Arumi merasa bahwa akan ada sesuatu yang besar terjadi itu sebabnya Nugie membiarkannya bersantai. "Nggak-Aku harus tetap waspada!" ucap Arumi terbangun dari posisinya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan seorang gadis muda muncul di sana. "Oh?" ucap Arumi lekas berdiri.
"M-Mbak, Mbak Arumi kah?" seorang gadis muda berdiri di depan pintu.
"Benar. S-Siapa ya?"
"Aku Alena!" ucap gadis itu menghela nafas lega lalu menghampiri Arumi dan menjabat tangannya. "Aku yang akan bantu selama mbak tinggal di sini. Mbak udah makan kah?" ucap Alena membawa belanjaannya ke konter dapur dan Arumi mengikutinya seperti anak bebek.
"Belum."
"Oke! Aku masak dulu ya," ujar Alena mengisi stok di kulkas besar.
"Aku mau bantu...sekaligus belajar masak."
Alena menoleh dan menatap Arumi penuh tanya, "Beneran mau?"
"Eum!"
"Oke! Kita bagi tugas," ujar Alena mengeluarkan bahan masakan dan memberitahu Arumi apa yang harus wanita itu lakukan.
Sementara itu di tempat lain, Verdi memasuki sebuah kafe yang belum beroperasi. Di dalam sana, Tante Ine sedang membereskan area konter depan. "Siang Tante~""Oh?? Verdi! Len! Lena ada Verdi nih!" Seru Tante Ine dan Alena lekas keluar dari dapur dengan terburu-buru."Mas ngapain?? Kan kafenya baru dibuka pertengahan bulan depan?!" Sungut Alena sebal."Ya nggak apa-apa, mau numpang lunch aja," ujarnya mengangkat bungkus makanan yang sejak tadi dibawanya. "Tante udah makan?""Oh?? Verdi juga beli buat Tante dan Alena kah?" Ucap Tante Ine sumringah."Iyalah~ayo makan bareng!""Kamu ambil piring sana!" Ucap Tante Ine menyuruh Alena."Tapi Lena lagi tester menu Mah!""Udah nanti aja makan dulu! Ini Verdi udah repot-repot bawain loh! Kamu tuh nggak menghargai banget!"Alena pun mau tak mau melakukan apa yang diminta sang Ibu dan bergabung bersama keduanya untuk makan siang bersama. "Kenapa nggak sama Mas Nug? Tumben..." sungut Alena."Eyy~ kan kita udah beda kantor," ujar Verdi yang kini me
Keesokan harinya, Arumi turun dari mobil dan mengikuti Nugie memasuki kantor. Mereka belum sepenuhnya bertugas, hanya melakukan inspeksi dadakan dan mengetahui kondisi kantor agar tahu apa yang harus dibenahi. Arumi ikut serta untuk mendampingi Nugie. Beberapa dewan direksi menyambut dan mengajaknya berkeliling kantor. Mereka pun akhirnya tiba di divisi dimana Allen dan Kalea berada dalam satu ruangan."Perkenalkan, Nama saya Nugie. Saya yang akan menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Pak Ramli. Ini adalah sekretaris sekaligus tunangan saya, Arumi," ucap Nugie memperkenalkan Arumi. Nugie memintanya maju dan Arumi hanya membungkuk dan terus menunduk karena Ia bisa merasakan banyak tatap mata yang terarah padanya."Sekitar jam 11, Saya minta semua direksi berkumpul di ruang meeting dan tolong persiapkan laporan kinerja masing-masing divisi kalian secara menyeluruh. Saya mau ada evaluasi supaya tahu apa yang harus dibenahi," ujar Nugie tegas. "Ayo," gumam Nugie menyentuh lembut pungg
"Saya Nugie dan ini Arumi, tunangan saya.""Apa?!" Seru Kalea terkejut."Kale–" PRANG!!Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri Kalea. Sama seperti Kalea, yang seperti sedang melihat hantu, gelas di tangan pria itu pun meluncur bebas dari genggamannya. "A-Arumi??" Ucapnya tertahan.Nugie melirik Arumi yang hanya menatap pria itu bingung. Ini adalah reaksi yang diharapkannya. Arumi adalah kunci yang akan membuka tabir mimpi buruk bagi Kalea dan pria itu. Kalea lekas undur diri dan menarik pria itu menjauh, mengabaikan pelayan yang bertugas membersihkan sisa pecahan gelas di depan mereka.Sontak, sebuah perasaan sesak mendadak dirasakan Arumi. Nafasnya menjadi tak beraturan dan perasaannya tak terasa menyenangkan. Pria itu serta Kalea menghadirkan sebuah rasa tak nyaman dalam dirinya dan Ia tak tahu kenapa. "A-Aku mau ke toilet dulu..." ucap Arumi menjauh."Sebaiknya lo cek dia deh," gumam Verdi pada Nugie."Sebentar–" ucap Nugie lekas menyusul Arumi menyusuri lorong yang terarah me
Arumi sedang memakai serum di wajahnya. Ia menghabiskan waktu bersama Alena seharian termasuk berbelanja beberapa kebutuhan mendasar yang diperlukan Arumi termasuk skincare dan make-up. Ia lekas berlari kecil keluar kamar ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie muncul membawa sebuah goodie bag besar yang kemudian Ia serahkan pada Arumi."Huh?? apa ini?" Ucap Arumi, tanpa sadar, mengikuti Nugie masuk ke kamar yang bersebelahan dengannya."Lusa akan ada Gala Dinner kantor dimana Aku bakal muncul di depan publik kantor dan resmi diangkat jadi Presdir–" ucap Nugie memasuki apartemen sambil melepas jasnya. "Semua urusannya udah beres?""Ada beberapa urusan tapi bukan sesuatu yang besar. Jadi ya bisa disimpulkan kalau sudah beres.""Oh...Aku buka boleh?" Ucap Arumi yang lekas disambut anggukan oleh Nugie yang sedang sibuk melepas jaketnya. "Oh? Ini gaun–""Yea...karena lusa aku juga akan mengenalkan kamu sebagai tunanganku," Ucap Nugie mengistirahatkan dirinya di sisi tempat tidur.
"Kamu deket kah sama Nugie?" ucap Arumi membuka obrolan."Mas Nugie itu sepupuku. Mamaku adalah adik dari Mamanya Mas Nug. Pas Mamanya Mas Nug meninggal, Mama sama Kakek yang bantu ngurus Mas Nug. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku belum lama lulus dari sekolah boga di Swiss. Terus Mas Nug nawarin kerjaan ke aku untuk ngurus apartemen ini dan jadi chef pribadinya dia selama dia kerja atau ketika dia lagi keluar kota atau negeri.""Kamu tahu soal Kalea kah?""Ah...Kalea..." ucap Alena malas. "Mamaku nggak suka dia! Mama dulu suka nemenin Kakek dinner bareng keluarganya Kalea sebelum dia sempet dijodohin sama Mas Nug. Ide perjodohan itu datangnya dari keluarga Kalea. Mereka selalu aja ngebahas 'Aduh kalau Kalea menikah dengan cucumu blablabla~' selalu aja kayak gitu! Kayak kepedean banget gitu loh Mbak! Padahal Mas Nug tuh juga nggak kepincut!" seru Alena berapi-api. "Tapi Nugie bilang yang pernah kencan sama Kalea itu Verdi yang nyamar jadi dia?""Memang! kalau Mas Verdi aja nggak
"Apa Ibuku tahu tentang ini?"Nugie mengangguk pelan, "Aku terbuka sama beliau ketika aku memutuskan mau melamar kamu. Aku cuma minta Ibu kamu untuk nggak cerita apapun sampai kita ketemu Kalau kamu penasaran kenapa aku bisa bujuk ibu kamu, karena aku udah buat surat perjanjian hitam di atas putih dengan beliau, bahwa aku yang akan menanggung segala keperluan kamu secara psikis dan materi. Kamu butuh payung hukum? Aku bisa sediakan itu untuk kamu dan keluarga kamu.""Kenapa aku butuh itu?""Karena kamu nggak akan tahu kedepannya akan gimana. Akan sulit untuk kamu kalau bergerak sendiri, percaya sama aku," ucap Nugie meyakinkan."A-Aku ada hubungannya kah sama ini semua?""Ada. Kamu kunci dari semuanya. Itu sebabnya aku butuh kamu," ujar Nugie. Arumi menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang terjadi. "Ini handphone kamu...udah aktif, udah aku simpen juga di handphone ku. Handphone lama kamu udah hancur dalam kecelakaan itu.""Thanks...""Aku tahu kamu masih punya banyak pert







