LOGIN"Kamu deket kah sama Nugie?" ucap Arumi membuka obrolan.
"Mas Nugie itu sepupuku. Mamaku adalah adik dari Mamanya Mas Nug. Pas Mamanya Mas Nug meninggal, Mama sama Kakek yang bantu ngurus Mas Nug. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku belum lama lulus dari sekolah boga di Swiss. Terus Mas Nug nawarin kerjaan ke aku untuk ngurus apartemen ini dan jadi chef pribadinya dia selama dia kerja atau ketika dia lagi keluar kota atau negeri."
"Kamu tahu soal Kalea kah?"
"Ah...Kalea..." ucap Alena malas. "Mamaku nggak suka dia! Mama dulu suka nemenin Kakek dinner bareng keluarganya Kalea sebelum dia sempet dijodohin sama Mas Nug. Ide perjodohan itu datangnya dari keluarga Kalea. Mereka selalu aja ngebahas 'Aduh kalau Kalea menikah dengan cucumu blablabla~' selalu aja kayak gitu! Kayak kepedean banget gitu loh Mbak! Padahal Mas Nug tuh juga nggak kepincut!" seru Alena berapi-api.
"Tapi Nugie bilang yang pernah kencan sama Kalea itu Verdi yang nyamar jadi dia?"
"Memang! kalau Mas Verdi aja nggak tertarik, gimana Mas Nug?? Kalo kata Mas Ver, Kalea itu cantik tapi terlalu lebay. Yang dia bahas selalu nggak jauh dari urusan harta benda dan gaya hidup mentereng. Sama nggak jauh dari urusan perselangkangan bebas! Mbak paham lah maksud aku."
"Maksud kamu...Kalea sempet ngode untuk ngajakin Verdi, yang jadi Nugie, untuk tidur bareng??"
"Yep! tapi Mas Ver jelas nggak mau lah! dia kan hidupnya lurus banget nggak neko-neko."
"Apa Nugie pernah cerita sama kamu tentang aku?"
"Eum...habis Kakek meninggal, Mas Nug cuma bilang kalau dia mau menikah dalam waktu dekat. Aku rasa yang tahu detailnya Mama karena Mas Nug ceritanya ke Mama. Tapi yang aku inget, Mas Nug akan bawa calonnya kalo kondisi dia udah sehat," ucap Alena.
"Apa itu artinya Mama kamu tahu kondisi aku?"
"Iyalah! Nggak pernah ada rahasia antara Mas Nug dan Mama. Mama sih nggak mau cerita ke aku tapi yang jelas, menurut aku Mama setuju kok sama pilihan Mas Nug kali ini, yaitu Mbak! Ini Mas Nug loh yang pilih sendiri bukan karena dipaksa siapapun. Dia pria baik-baik. Aku bisa jamin itu," ucap Alena tersenyum.
***
Nugie turun dari mobil dan lekas menjabat tangan Verdi yang sudah menantinya. Mereka berada di sebuah gedung dan keduanya berjalan berdampingan menuju auditorium. "Udah siap semua?"
"Yah udah sekitar 70% an lah...masih ada 2 hari lagi sebelum acara," ujar Verdi memasuki lift bersama Nugie. "Gimana dia? Mbak Arumi."
"Seperti yang bisa diprediksi, jelas banyak pertanyaan. Tapi sejauh ini dia cukup nanggepin semuanya dengan tenang. Gue belum ngomong soal Gala Dinner lusa," ucap Nugie.
"Nanti acara itu akan kacau banget," ucap Verdi. "Menurut lo, gimana Kalea ketika dia tahu bahwa gue itu bukan lo? Dan tentu aja, selingkuhannya–"
"Dia akan ngamuk, yang jelas, karena besok kita tatap muka perdana dan gue akan go public sama Arumi. Ngomong-ngomong, dia gimana? Setelah akhirnya harus lepas jabatan?" Ucap Nugie keluar dari lift dengan didampingi Verdi.
"Ya..nggak gimana-gimana. Emangnya dia punya pilihan buat naik banding? Itu udah tertulis di surat warisan Kakek lo. Dia dan keluarganya udah cukup mengeruk keuntungan dari perusahaan selama menjabat sementara. Selingkuhannya naik pangkat jadi sekretaris dia–kenapa nggak lo pecat aja sih? Pajak gaji karyawan dipotong lumayan gede–setengah masuk ke kantong dia dan keluarganya, setengah lagi ke kas negara. Nggak keliatan ada penyesalan karena setelah ini mereka cuma turun jabatan; Kalea jadi Direktur SDM dan selingkuhannya Direktur Produksi–"
Nugie menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Verdi. "Orang kayak Kalea nggak bisa cuma diperkarain, dipecat lalu selesai. Kita harus jaga musuh untuk tetap dekat. Kakek gue meninggal karena kelakuan dia, dan gue akan buat dia, juga selingkuhannya menderita, karena wewenang udah gue pegang sekarang. Gue akan buat mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan ke kakek, dan Arumi."
Sementara itu di tempat lain, Verdi memasuki sebuah kafe yang belum beroperasi. Di dalam sana, Tante Ine sedang membereskan area konter depan. "Siang Tante~""Oh?? Verdi! Len! Lena ada Verdi nih!" Seru Tante Ine dan Alena lekas keluar dari dapur dengan terburu-buru."Mas ngapain?? Kan kafenya baru dibuka pertengahan bulan depan?!" Sungut Alena sebal."Ya nggak apa-apa, mau numpang lunch aja," ujarnya mengangkat bungkus makanan yang sejak tadi dibawanya. "Tante udah makan?""Oh?? Verdi juga beli buat Tante dan Alena kah?" Ucap Tante Ine sumringah."Iyalah~ayo makan bareng!""Kamu ambil piring sana!" Ucap Tante Ine menyuruh Alena."Tapi Lena lagi tester menu Mah!""Udah nanti aja makan dulu! Ini Verdi udah repot-repot bawain loh! Kamu tuh nggak menghargai banget!"Alena pun mau tak mau melakukan apa yang diminta sang Ibu dan bergabung bersama keduanya untuk makan siang bersama. "Kenapa nggak sama Mas Nug? Tumben..." sungut Alena."Eyy~ kan kita udah beda kantor," ujar Verdi yang kini me
Keesokan harinya, Arumi turun dari mobil dan mengikuti Nugie memasuki kantor. Mereka belum sepenuhnya bertugas, hanya melakukan inspeksi dadakan dan mengetahui kondisi kantor agar tahu apa yang harus dibenahi. Arumi ikut serta untuk mendampingi Nugie. Beberapa dewan direksi menyambut dan mengajaknya berkeliling kantor. Mereka pun akhirnya tiba di divisi dimana Allen dan Kalea berada dalam satu ruangan."Perkenalkan, Nama saya Nugie. Saya yang akan menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Pak Ramli. Ini adalah sekretaris sekaligus tunangan saya, Arumi," ucap Nugie memperkenalkan Arumi. Nugie memintanya maju dan Arumi hanya membungkuk dan terus menunduk karena Ia bisa merasakan banyak tatap mata yang terarah padanya."Sekitar jam 11, Saya minta semua direksi berkumpul di ruang meeting dan tolong persiapkan laporan kinerja masing-masing divisi kalian secara menyeluruh. Saya mau ada evaluasi supaya tahu apa yang harus dibenahi," ujar Nugie tegas. "Ayo," gumam Nugie menyentuh lembut pungg
"Saya Nugie dan ini Arumi, tunangan saya.""Apa?!" Seru Kalea terkejut."Kale–" PRANG!!Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri Kalea. Sama seperti Kalea, yang seperti sedang melihat hantu, gelas di tangan pria itu pun meluncur bebas dari genggamannya. "A-Arumi??" Ucapnya tertahan.Nugie melirik Arumi yang hanya menatap pria itu bingung. Ini adalah reaksi yang diharapkannya. Arumi adalah kunci yang akan membuka tabir mimpi buruk bagi Kalea dan pria itu. Kalea lekas undur diri dan menarik pria itu menjauh, mengabaikan pelayan yang bertugas membersihkan sisa pecahan gelas di depan mereka.Sontak, sebuah perasaan sesak mendadak dirasakan Arumi. Nafasnya menjadi tak beraturan dan perasaannya tak terasa menyenangkan. Pria itu serta Kalea menghadirkan sebuah rasa tak nyaman dalam dirinya dan Ia tak tahu kenapa. "A-Aku mau ke toilet dulu..." ucap Arumi menjauh."Sebaiknya lo cek dia deh," gumam Verdi pada Nugie."Sebentar–" ucap Nugie lekas menyusul Arumi menyusuri lorong yang terarah me
Arumi sedang memakai serum di wajahnya. Ia menghabiskan waktu bersama Alena seharian termasuk berbelanja beberapa kebutuhan mendasar yang diperlukan Arumi termasuk skincare dan make-up. Ia lekas berlari kecil keluar kamar ketika mendengar suara pintu terbuka dan Nugie muncul membawa sebuah goodie bag besar yang kemudian Ia serahkan pada Arumi."Huh?? apa ini?" Ucap Arumi, tanpa sadar, mengikuti Nugie masuk ke kamar yang bersebelahan dengannya."Lusa akan ada Gala Dinner kantor dimana Aku bakal muncul di depan publik kantor dan resmi diangkat jadi Presdir–" ucap Nugie memasuki apartemen sambil melepas jasnya. "Semua urusannya udah beres?""Ada beberapa urusan tapi bukan sesuatu yang besar. Jadi ya bisa disimpulkan kalau sudah beres.""Oh...Aku buka boleh?" Ucap Arumi yang lekas disambut anggukan oleh Nugie yang sedang sibuk melepas jaketnya. "Oh? Ini gaun–""Yea...karena lusa aku juga akan mengenalkan kamu sebagai tunanganku," Ucap Nugie mengistirahatkan dirinya di sisi tempat tidur.
"Kamu deket kah sama Nugie?" ucap Arumi membuka obrolan."Mas Nugie itu sepupuku. Mamaku adalah adik dari Mamanya Mas Nug. Pas Mamanya Mas Nug meninggal, Mama sama Kakek yang bantu ngurus Mas Nug. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku belum lama lulus dari sekolah boga di Swiss. Terus Mas Nug nawarin kerjaan ke aku untuk ngurus apartemen ini dan jadi chef pribadinya dia selama dia kerja atau ketika dia lagi keluar kota atau negeri.""Kamu tahu soal Kalea kah?""Ah...Kalea..." ucap Alena malas. "Mamaku nggak suka dia! Mama dulu suka nemenin Kakek dinner bareng keluarganya Kalea sebelum dia sempet dijodohin sama Mas Nug. Ide perjodohan itu datangnya dari keluarga Kalea. Mereka selalu aja ngebahas 'Aduh kalau Kalea menikah dengan cucumu blablabla~' selalu aja kayak gitu! Kayak kepedean banget gitu loh Mbak! Padahal Mas Nug tuh juga nggak kepincut!" seru Alena berapi-api. "Tapi Nugie bilang yang pernah kencan sama Kalea itu Verdi yang nyamar jadi dia?""Memang! kalau Mas Verdi aja nggak
"Apa Ibuku tahu tentang ini?"Nugie mengangguk pelan, "Aku terbuka sama beliau ketika aku memutuskan mau melamar kamu. Aku cuma minta Ibu kamu untuk nggak cerita apapun sampai kita ketemu Kalau kamu penasaran kenapa aku bisa bujuk ibu kamu, karena aku udah buat surat perjanjian hitam di atas putih dengan beliau, bahwa aku yang akan menanggung segala keperluan kamu secara psikis dan materi. Kamu butuh payung hukum? Aku bisa sediakan itu untuk kamu dan keluarga kamu.""Kenapa aku butuh itu?""Karena kamu nggak akan tahu kedepannya akan gimana. Akan sulit untuk kamu kalau bergerak sendiri, percaya sama aku," ucap Nugie meyakinkan."A-Aku ada hubungannya kah sama ini semua?""Ada. Kamu kunci dari semuanya. Itu sebabnya aku butuh kamu," ujar Nugie. Arumi menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang terjadi. "Ini handphone kamu...udah aktif, udah aku simpen juga di handphone ku. Handphone lama kamu udah hancur dalam kecelakaan itu.""Thanks...""Aku tahu kamu masih punya banyak pert







