Home / Mafia / Balas Dendam Putra Mafia Terkuat / Kekuatan Raja Serigala

Share

Kekuatan Raja Serigala

Author: Raden Arya
last update publish date: 2026-05-19 18:33:03

Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka.

"Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut.

"Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah.

WUSSHHH!!!

Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah.

"IBUUU...!"

Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman.

WUUGHHH!!!

Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman.

"Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani main-main dengan Kelompok Kepala Ular!" seru Draxen lantang kepada anak buahnya.

Namun Raga sama sekali tidak menghiraukan ratusan orang yang kini mengincar nyawanya. Ia berlari secepat kilat menerobos kerumunan, menuju ke arah Bu Ratmi yang masih tergeletak.

BUAAAGHHH!!!

Satu per satu anggota Kepala Ular terlempar jatuh hanya dengan satu hantaman tangan atau tinju dari Raga. Ia bergerak bagaikan badai yang menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya. Seperti badak liar yang mengamuk, tak ada satu pun yang mampu menghentikan langkah kakinya.

Melihat anak buahnya dipukuli dan diporak-porandakan begitu saja oleh satu orang pemuda, Draxen Varga semakin memuncak kemarahannya. Namun saat ia melihat Bu Ratmi yang mulai bangkit berdiri, ide licik muncul di kepalanya.

SREGGG!!!

Draxen melangkah cepat, kembali mencengkeram leher Bu Ratmi dengan lengan kirinya hingga wanita itu tak bisa bergerak, sementara tangan kanannya diam-diam meraih pisau lipat tajam yang tersimpan di saku celananya.

"RAGA! LIHAT KE SINI!" teriak Draxen sambil menyandera Bu Ratmi di hadapannya.

Gerakan Raga seketika terhenti. Ia berbalik, tatapan matanya yang tajam dan dingin kini tertuju lurus ke arah Draxen.

"Dasar pengecut!" hardik Raga dengan suara rendah namun bergetar karena marah. "Kalau kau memang jantan, lawanlah aku secara langsung! Jangan bawa-bawa wanita tua yang tak berdaya!"

"Cih... dasar anak ingusan yang sok jago," umpat Draxen merasa tersinggung. "Kau akan menyesal seumur hidupmu sudah berani menantangku, Draxen Varga!"

Angin malam seolah berhenti bertiup. Seluruh warga dan anggota geng menahan napas. Sebentar lagi, semua orang akan menyaksikan pertarungan yang tak seimbang: seorang pemuda kumuh yang hanya bekerja sebagai pemulung melawan Draxen Varga, ketua geng Kepala Ular yang namanya sangat ditakuti seantero Kota Valora.

Di mata orang-orang, Raga hanyalah pemuda biasa yang kurus dan hidup miskin. Bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan seorang pemimpin geng yang terkenal kejam dan sadis?

Draxen bukan menjadi pemimpin begitu saja. Ia memiliki segudang pengalaman di dunia kriminal, ribuan pertarungan sudah ia lewati. Di hadapan tubuh Draxen yang kekar dan besar, Raga terlihat kecil dan tak berdaya, seolah seekor harimau sedang berhadapan dengan anak serigala.

"Aku akui, nyalimu cukup besar untuk ukuran anak muda," ucap Draxen menyeringai angkuh di hadapan Raga. "Tapi kau sudah salah langkah dan salah memilih musuh. Sebaiknya kau berpesan sekarang pada ibumu dan teman-temanmu, suruh mereka bersiap menggali kuburan untukmu malam ini juga!"

Raga tetap berdiri tegak, sorot matanya tidak menampakkan rasa takut sedikit pun. Ia menjawab dengan tenang, "Justru sebaiknya kau yang berpesan pada anak buahmu... agar mereka menyiapkan satu lubang kuburan yang cukup besar untuk mengubur jasadmu nanti malam."

"Hahaha! Sangat berani sekali mulutmu! Aku benar-benar sudah tak sabar ingin meremas jantungmu dari dada," Draxen mengepalkan tangan kanannya yang besar di depan dada, terlihat sangat bernafsu untuk segera menghabisi nyawa pemuda itu.

Di sisi lain, Bu Ratmi yang kini sudah dilepaskan dan mundur ke arah warga, merasa sangat gelisah. Tangannya meremas dada, matanya menatap Raga dengan penuh kekhawatiran.

"Raga... Nak... kenapa kau harus terlibat urusan dengan mereka?" gumamnya pelan sambil menahan tangis. "Seharusnya kau diam saja dan menjauh. Ibu sangat takut terjadi apa-apa padamu..."

Bu Ratmi memejamkan matanya, berdoa dalam hati sekuat tenaga agar anak angkatnya selamat dari ancaman maut malam ini.

Draxen masih mengepalkan tangan kanannya, otot-otot lengannya yang besar berdenyut kencang. Ia mulai mengambil ancang-ancang, tangannya sedikit bergetar menahan tenaga yang akan ia keluarkan.

WUSSHHH!!!

Draxen menerjang ke depan, melontarkan satu pukulan keras mengincar wajah Raga. Kepalan tangan Draxen jauh lebih besar dan lebih berat dibandingkan tangan Raga, pukulan yang biasa digunakan untuk melumpuhkan lawan seketika.

"AAAA!!!" Banyak warga berteriak ngeri, takut melihat Raga akan terluka parah.

BUGHHH!!!

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang terbelalak tak percaya.

Secara mengejutkan, Raga tidak menghindar. Ia justru menyambut pukulan itu dengan kepalan tangan kirinya sendiri. Kedua kepalan tangan itu bertemu di udara, menciptakan hentakan keras yang terdengar sampai ke telinga orang-orang di belakang.

Draxen langsung terhenyak mundur selangkah. Matanya terbelalak lebar penuh keterkejutan. Sosok pemuda yang selama ini diremehkannya, ternyata mampu menahan pukulan mautnya dengan mudah. Bahkan, tangan kanan Draxen kini terasa mati rasa dan kesemutan hebat akibat benturan itu.

Tidak mungkin... bocah ini berhasil menahan pukulanku? Dan tanganku... kenapa terasa begitu sakit? gerutu Draxen dalam hatinya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam terpaku mulut menganga. Para anak buah Draxen yang tadinya yakin Raga akan tumbang dalam hitungan detik, kini menelan ludah gugup.

"Raga..." Bu Ratmi berbisik pelan, menatap anak angkatnya dengan tatapan yang rumit, seolah ada sesuatu yang ia pahami namun tak bisa ia ucapkan.

Kini giliran Raga yang tersenyum mengejek. Senyum dingin dan mengerikan.

"Hehehe... apa ini? Apakah pukulan lemah ini milik pemimpin geng Kepala Ular yang sangat ditakuti orang-orang?" ucap Raga santai namun penuh sindiran tajam. "Sungguh... sangat lemah, bahkan anak kecil pun mungkin tak akan terluka dipukul seperti itu." Lanjutnya.

"Jangan merasa hebat dulu!" sergah Draxen, napasnya mulai memburu dan keringat mulai menetes deras. "Aku hanya mengeluarkan sepuluh persen dari kekuatan asliku tadi! Kau belum melihat apa-apa!"

Draxen mulai merasakan hawa yang berbeda dari diri Raga. Di hadapannya bukan lagi anak serigala yang lemah, melainkan sosok Raja Serigala yang buas dan kejam yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.

Sambil mundur perlahan, tangan Draxen diam-diam bergerak ke belakang, meraba saku celananya mencari pisau lipat yang tadi sempat ia simpan. Ia berniat bermain curang.

Namun Raga dengan cepat menangkap gerakan itu. Tanpa buang waktu, tangan kanan Raga bergerak kilat mencengkeram pergelangan tangan Draxen sebelum pisau itu sempat ditarik keluar.

"Dasar pengecut!" hardik Raga tajam. "Kau kira aku tidak tahu isi saku celanamu? Kau pikir aku sebodoh itu?"

Saat berhadapan jarak sedekat itu, pandangan Draxen tertuju tepat pada lengan kiri Raga. Matanya terpaku pada satu benda yang melilit di sana—sebuah gelang hitam polos dengan ukiran nama berwarna emas yang berkilauan diterangi cahaya api, lengkap dengan lambang matahari yang rumit dan indah.

Draxen menatap gelang itu dengan tatapan tak percaya, pupil matanya membesar.

Gelang hitam berukir nama dan lambang Matahari dengan tinta emas... Bukankah ini lambang dari keluarga itu? Jangan-jangan anak muda ini adalah...

Seketika itu juga, bayangan masa lalu melintas di benak Draxen. Ia teringat pada sosok penguasa mutlak Kota Valora di masa lalu, sosok yang sangat dihormati sekaligus ditakuti, sosok yang mampu menundukkan semua gengster dan mafia di kota ini sendirian—ayah kandung Raga.

Wajah Draxen seketika menjadi pucat pasi. Keringat dingin bercucuran deras membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Tubuhnya yang besar dan kekar itu tiba-tiba gemetar hebat. Ia menelan ludah berkali-kali dengan susah payah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Tembakan Kematian

    Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir."Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telap

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Gelang Hitam Misterius

    Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal."Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Kekuatan Raja Serigala

    Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani m

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Membangunkan Serigala Yang Tertidur

    Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisan!" suara Draxen menggelegar, terdengar jelas oleh semua orang. "Kalian semua pasti tahu siapa yang melakukannya! Ingatlah baik-baik, aku adalah Draxen Varga, pemimpin Kelompok Kepala Ular! Siapa saja yang berani menginjak-injak harga diri kelompokku, aku pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini!" Suasana menjadi hening total. Warga hanya bisa menunduk gemetar, keringat dingin bercucuran dari kepala hingga kaki. Beberapa perempuan ada yang mulai menangis tertahan ketakutan. Di antara kerumunan itu, ada Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia juga menunduk, namun tubuhnya tidak gemetar sedikit pun. Justru di dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sudah kuduga...

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Mencari Angin Segar

    Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai pengemudi, sementara Raga duduk di belakang, menikmati semilir angin malam."Ka... perutmu masih terasa sakit?" tanya Raga memecah keheningan, nada suaranya sedikit khawatir.Jaka tertawa kecil sambil tetap menyetir santai. "Hahaha, tendangan lemah seperti itu mana mungkin bikin aku sakit lama, Ra! Aku ini kan Jaka yang tangguh, ingat itu!"Namun kemudian nada bicaranya berubah menjadi antusias. "Tapi ngomong-ngomong... kamu hebat juga ya! Selama kita berteman akrab dari kecil, baru kali ini aku lihat kamu bertarung. Dua orang preman yang sok jago itu sampai babak belur di tanganmu saja. Luar biasa!"Raga hanya tersenyum tipis di kegelapan malam. "Mungkin karena saat itu aku sedang sangat la

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Amarah Yang Meledak

    Leo melangkah maju, menatap keduanya dengan pandangan yang seolah ingin membunuh. "Diam saja kalau tidak mau celaka. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kami patahkan leher kalian satu per satu!" Namun, Raga sama sekali tidak bergeming. Seolah tak mendengar ancaman mengerikan itu, ia berjalan santai melewati kedua preman yang berbadan besar itu, lalu duduk tenang di bangku kayu yang kosong. "Bu Mira, saya merasa sangat lapar. Tolong buatkan makanan seperti pesanan saya yang biasa ya," ucap Raga dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah, seolah tak ada orang lain yang berbahaya di ruangan itu selain dirinya dan pemilik warung. Bu Mira yang sedari tadi diam ketakutan hanya bisa mengangguk gugup. "Ba... baik, Nak Raga. Sebentar ya, akan Ibu siapkan." BRAKKK!!! Leo menggebrak meja tepat di depan wajah Raga. Ia membungkukkan badannya, wajahnya mendekat hingga jaraknya hanya satu senti dari wajah Raga. Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat keluar dari napasnya sangat men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status