登入Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.
Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet. Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir. "Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!" Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telapak tangan kanannya. "Ssttt...! Jangan berisik dan berteriak sembarangan," bisik Raga dengan wajah tegas namun suara rendah, matanya melirik ke kiri dan kanan waspada. Jaka hanya mengangguk-angguk cepat dengan mata melotot, memberikan kode bahwa ia mengerti dan akan diam. Barulah setelah itu Raga melepaskan tangannya dari mulut sahabatnya itu. "Ada apa sebenarnya, Ra? Kenapa kau datang sepagi ini?" tanya Jaka dengan suara berbisik. "Tolong antar aku ke warung internet di dekat pusat kota," pinta Raga dengan nada serius dan tegas, tak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Jaka mengerutkan kening, menatap heran sahabatnya itu. "Warung internet? Untuk apa kau ke sana? Itu kan tempatnya orang-orang kaya atau anak sekolah, bukan tempat kita pemulung." "Aku ada keperluan penting di sana. Sudah, ayo cepat bersiap, jangan banyak tanya lagi," jawab Raga singkat dan langsung berjalan menuju sepeda motor tua milik Jaka. "Iya, iya... tunggu sebentar, aku ganti baju dan ambil kunci motor dulu," sahut Jaka pasrah, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa. Tak lama kemudian, mereka pun berangkat menuju wilayah pusat kota yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Di perjalanan, angin pagi menerpa wajah mereka. Jaka yang menyetir tak kuasa menahan rasa penasaran di dalam hatinya. "Ra, sebenarnya kamu mau melakukan apa sampai harus pergi ke warung internet segala? Apa kau bisa menggunakan komputer?" tanya Jaka sambil sesekali menoleh ke belakang. "Sedikit tahu," jawab Raga pendek, matanya menatap lurus ke jalanan yang ramai. Pagi itu, Raga hanya mengenakan kaos kutang berwarna hitam legam dan celana panjang sederhana. Tubuh atletisnya yang kekar dan berotot jelas terlihat, seolah tubuhnya dibentuk melalui latihan keras seperti seorang petinju profesional. "Ngomong-ngomong Ra, jurus atau ilmu apa yang kau gunakan kemarin malam? Bagaimana caramu mengalahkan Draxen Varga dengan begitu mudahnya? Ceritakan padaku," Jaka tak henti bertanya, rasa ingin tahunya meledak-ledak. "Aku tidak punya jurus khusus apa pun. Aku hanya melawan sekuat tenaga dan berusaha melindungi diri serta orang-orang yang aku sayangi," jawab Raga tetap singkat dan misterius. "Wah, hebat sekali... ayo dong ajari aku juga! Aku juga ingin punya kemampuan bela diri sehebat kamu, biar tidak selalu takut kalau bertemu preman jalanan," pinta Jaka penuh harap. "Kalau ingin belajar ilmu bela diri, lebih baik kau minta ajaran pada Ibu Ratmi saja," jawab Raga santai. Jaka langsung tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya. "Hahaha... masa sih? Aku jadi malu rasanya kalau harus diajarin bela diri sama Ibu Ratmi, dia kan wanita tua." Jaka baru menyadari satu hal penting. Ternyata keahlian bertarung yang dimiliki Raga didapatkan dari ibunya angkatnya itu. Tidak heran jika Bu Ratmi mampu bersikap sangat tenang dan berani saat berhadapan langsung dengan Draxen Varga kemarin malam. Ternyata di balik wajah lembut dan tubuh tuanya, ia adalah seorang wanita yang memiliki ilmu bela diri yang luar biasa. "Ya sudah, nanti kalau ada waktu luang, akan aku ajarkan beberapa gerakan dasar untuk membela diri saat terdesak saja," ucap Raga akhirnya melembut. "Wah, serius kau bicara begitu, Ra?" wajah Jaka langsung berubah cerah bersinar penuh kegembiraan. "Iya, tapi ingat ya... gunakan itu hanya untuk melindungi diri atau orang yang lemah saat diserang. Bukan untuk menyombongkan diri atau mencari gara-gara sama orang lain," tegas Raga mengingatkan dengan nada serius. "Oke! Tenang saja, aku paham betul kok!" jawab Jaka dengan semangat berkobar. Perjalanan memakan waktu sekitar lima belas menit dengan sepeda motor, hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan berukuran sedang di pinggir jalan raya utama. "Waduh Ra... sepertinya kita datang terlalu pagi sekali ya?" ucap Jaka sambil menunjuk ke arah ruko di depannya. Ternyata warung internet yang mereka tuju masih tertutup rapat, pintu besinya masih turun sepenuhnya dan belum ada tanda-tanda akan dibuka. "Kita tunggu saja sebentar di sini. Pasti sebentar lagi penjaganya datang dan membukanya," sahut Raga santai, lalu duduk di trotoar beton yang agak tinggi. Jaka ikut duduk di sebelah sahabatnya itu, matanya menatap ke arah jalan raya yang mulai ramai oleh lalu lintas kendaraan. "Ra, enak sekali ya rasanya jadi orang kaya... Kemana-mana bisa naik mobil mewah yang dingin dan nyaman, punya sopir pribadi, hidup serba kecukupan," gumam Jaka dengan nada iri saat melihat sebuah mobil sedan mewah melintas di depan mereka. Raga menoleh sedikit, lalu berkata tenang, "Kalau kau ingin menjadi orang sukses dan kaya, maka bekerjalah lebih keras lagi dan lebih cerdas dari orang lain." Jaka menghela napas panjang sambil menggeleng. "Haaah... kerja lebih keras lagi katanya? Bukankah kita ini sudah bekerja sekeras apa pun? Dari pagi buta sampai sore hari, bahkan kadang sampai malam kita mengais rezeki di tumpukan sampah yang bau dan kotor itu. Tapi nyatanya, nasib kita tetap begini-begini saja, Ra. Tetap miskin dan serba kekurangan." Raga tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Bukan hanya sekedar mengandalkan tenaga dan kerja keras semata, Ka. Kau juga harus mengandalkan ini..." ucap Raga sambil menunjuk jari telunjuknya tepat ke arah kepalanya sendiri. "Menggunakan kepala? Maksudmu bagaimana?" Jaka mengerutkan dahinya bingung, belum mengerti arah pembicaraan sahabatnya. "Otak, kecerdasan, dan strategi," jawab Raga tegas dan singkat. Belum sempat Jaka menjawab atau bertanya lebih lanjut... WUSSHHH...! BRAAAKKK!!!Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir."Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telap
Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal."Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan
Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani m
Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisan!" suara Draxen menggelegar, terdengar jelas oleh semua orang. "Kalian semua pasti tahu siapa yang melakukannya! Ingatlah baik-baik, aku adalah Draxen Varga, pemimpin Kelompok Kepala Ular! Siapa saja yang berani menginjak-injak harga diri kelompokku, aku pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini!" Suasana menjadi hening total. Warga hanya bisa menunduk gemetar, keringat dingin bercucuran dari kepala hingga kaki. Beberapa perempuan ada yang mulai menangis tertahan ketakutan. Di antara kerumunan itu, ada Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia juga menunduk, namun tubuhnya tidak gemetar sedikit pun. Justru di dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sudah kuduga...
Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai pengemudi, sementara Raga duduk di belakang, menikmati semilir angin malam."Ka... perutmu masih terasa sakit?" tanya Raga memecah keheningan, nada suaranya sedikit khawatir.Jaka tertawa kecil sambil tetap menyetir santai. "Hahaha, tendangan lemah seperti itu mana mungkin bikin aku sakit lama, Ra! Aku ini kan Jaka yang tangguh, ingat itu!"Namun kemudian nada bicaranya berubah menjadi antusias. "Tapi ngomong-ngomong... kamu hebat juga ya! Selama kita berteman akrab dari kecil, baru kali ini aku lihat kamu bertarung. Dua orang preman yang sok jago itu sampai babak belur di tanganmu saja. Luar biasa!"Raga hanya tersenyum tipis di kegelapan malam. "Mungkin karena saat itu aku sedang sangat la
Leo melangkah maju, menatap keduanya dengan pandangan yang seolah ingin membunuh. "Diam saja kalau tidak mau celaka. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kami patahkan leher kalian satu per satu!" Namun, Raga sama sekali tidak bergeming. Seolah tak mendengar ancaman mengerikan itu, ia berjalan santai melewati kedua preman yang berbadan besar itu, lalu duduk tenang di bangku kayu yang kosong. "Bu Mira, saya merasa sangat lapar. Tolong buatkan makanan seperti pesanan saya yang biasa ya," ucap Raga dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah, seolah tak ada orang lain yang berbahaya di ruangan itu selain dirinya dan pemilik warung. Bu Mira yang sedari tadi diam ketakutan hanya bisa mengangguk gugup. "Ba... baik, Nak Raga. Sebentar ya, akan Ibu siapkan." BRAKKK!!! Leo menggebrak meja tepat di depan wajah Raga. Ia membungkukkan badannya, wajahnya mendekat hingga jaraknya hanya satu senti dari wajah Raga. Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat keluar dari napasnya sangat men







