Share

Tembakan Kematian

Author: Raden Arya
last update publish date: 2026-06-09 14:53:36

Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.

Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.

Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir.

"Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"

Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telapak tangan kanannya.

"Ssttt...! Jangan berisik dan berteriak sembarangan," bisik Raga dengan wajah tegas namun suara rendah, matanya melirik ke kiri dan kanan waspada.

Jaka hanya mengangguk-angguk cepat dengan mata melotot, memberikan kode bahwa ia mengerti dan akan diam.

Barulah setelah itu Raga melepaskan tangannya dari mulut sahabatnya itu.

"Ada apa sebenarnya, Ra? Kenapa kau datang sepagi ini?" tanya Jaka dengan suara berbisik.

"Tolong antar aku ke warung internet di dekat pusat kota," pinta Raga dengan nada serius dan tegas, tak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.

Jaka mengerutkan kening, menatap heran sahabatnya itu. "Warung internet? Untuk apa kau ke sana? Itu kan tempatnya orang-orang kaya atau anak sekolah, bukan tempat kita pemulung."

"Aku ada keperluan penting di sana. Sudah, ayo cepat bersiap, jangan banyak tanya lagi," jawab Raga singkat dan langsung berjalan menuju sepeda motor tua milik Jaka.

"Iya, iya... tunggu sebentar, aku ganti baju dan ambil kunci motor dulu," sahut Jaka pasrah, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa.

Tak lama kemudian, mereka pun berangkat menuju wilayah pusat kota yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka.

Di perjalanan, angin pagi menerpa wajah mereka. Jaka yang menyetir tak kuasa menahan rasa penasaran di dalam hatinya.

"Ra, sebenarnya kamu mau melakukan apa sampai harus pergi ke warung internet segala? Apa kau bisa menggunakan komputer?" tanya Jaka sambil sesekali menoleh ke belakang.

"Sedikit tahu," jawab Raga pendek, matanya menatap lurus ke jalanan yang ramai.

Pagi itu, Raga hanya mengenakan kaos kutang berwarna hitam legam dan celana panjang sederhana. Tubuh atletisnya yang kekar dan berotot jelas terlihat, seolah tubuhnya dibentuk melalui latihan keras seperti seorang petinju profesional.

"Ngomong-ngomong Ra, jurus atau ilmu apa yang kau gunakan kemarin malam? Bagaimana caramu mengalahkan Draxen Varga dengan begitu mudahnya? Ceritakan padaku," Jaka tak henti bertanya, rasa ingin tahunya meledak-ledak.

"Aku tidak punya jurus khusus apa pun. Aku hanya melawan sekuat tenaga dan berusaha melindungi diri serta orang-orang yang aku sayangi," jawab Raga tetap singkat dan misterius.

"Wah, hebat sekali... ayo dong ajari aku juga! Aku juga ingin punya kemampuan bela diri sehebat kamu, biar tidak selalu takut kalau bertemu preman jalanan," pinta Jaka penuh harap.

"Kalau ingin belajar ilmu bela diri, lebih baik kau minta ajaran pada Ibu Ratmi saja," jawab Raga santai.

Jaka langsung tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya. "Hahaha... masa sih? Aku jadi malu rasanya kalau harus diajarin bela diri sama Ibu Ratmi, dia kan wanita tua."

Jaka baru menyadari satu hal penting. Ternyata keahlian bertarung yang dimiliki Raga didapatkan dari ibunya angkatnya itu. Tidak heran jika Bu Ratmi mampu bersikap sangat tenang dan berani saat berhadapan langsung dengan Draxen Varga kemarin malam. Ternyata di balik wajah lembut dan tubuh tuanya, ia adalah seorang wanita yang memiliki ilmu bela diri yang luar biasa.

"Ya sudah, nanti kalau ada waktu luang, akan aku ajarkan beberapa gerakan dasar untuk membela diri saat terdesak saja," ucap Raga akhirnya melembut.

"Wah, serius kau bicara begitu, Ra?" wajah Jaka langsung berubah cerah bersinar penuh kegembiraan.

"Iya, tapi ingat ya... gunakan itu hanya untuk melindungi diri atau orang yang lemah saat diserang. Bukan untuk menyombongkan diri atau mencari gara-gara sama orang lain," tegas Raga mengingatkan dengan nada serius.

"Oke! Tenang saja, aku paham betul kok!" jawab Jaka dengan semangat berkobar.

Perjalanan memakan waktu sekitar lima belas menit dengan sepeda motor, hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan berukuran sedang di pinggir jalan raya utama.

"Waduh Ra... sepertinya kita datang terlalu pagi sekali ya?" ucap Jaka sambil menunjuk ke arah ruko di depannya.

Ternyata warung internet yang mereka tuju masih tertutup rapat, pintu besinya masih turun sepenuhnya dan belum ada tanda-tanda akan dibuka.

"Kita tunggu saja sebentar di sini. Pasti sebentar lagi penjaganya datang dan membukanya," sahut Raga santai, lalu duduk di trotoar beton yang agak tinggi.

Jaka ikut duduk di sebelah sahabatnya itu, matanya menatap ke arah jalan raya yang mulai ramai oleh lalu lintas kendaraan.

"Ra, enak sekali ya rasanya jadi orang kaya... Kemana-mana bisa naik mobil mewah yang dingin dan nyaman, punya sopir pribadi, hidup serba kecukupan," gumam Jaka dengan nada iri saat melihat sebuah mobil sedan mewah melintas di depan mereka.

Raga menoleh sedikit, lalu berkata tenang, "Kalau kau ingin menjadi orang sukses dan kaya, maka bekerjalah lebih keras lagi dan lebih cerdas dari orang lain."

Jaka menghela napas panjang sambil menggeleng. "Haaah... kerja lebih keras lagi katanya? Bukankah kita ini sudah bekerja sekeras apa pun? Dari pagi buta sampai sore hari, bahkan kadang sampai malam kita mengais rezeki di tumpukan sampah yang bau dan kotor itu. Tapi nyatanya, nasib kita tetap begini-begini saja, Ra. Tetap miskin dan serba kekurangan."

Raga tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.

"Bukan hanya sekedar mengandalkan tenaga dan kerja keras semata, Ka. Kau juga harus mengandalkan ini..." ucap Raga sambil menunjuk jari telunjuknya tepat ke arah kepalanya sendiri.

"Menggunakan kepala? Maksudmu bagaimana?" Jaka mengerutkan dahinya bingung, belum mengerti arah pembicaraan sahabatnya.

"Otak, kecerdasan, dan strategi," jawab Raga tegas dan singkat.

Belum sempat Jaka menjawab atau bertanya lebih lanjut...

WUSSHHH...!

BRAAAKKK!!!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Jangan Meremehkan Pemuda Yang Terlihat Biasa Dari Luar

    Orang-orang yang menyaksikan Alex terpental karena tinjunya Raga langsung merasa syok. Seorang pemuda biasa yang diremehkan oleh Alex justru bisa membuatnya terjatuh hanya dengan sekali pukulan. "Kurang ajar, kuat sekali pukulan pemuda itu, kedua lenganku sampai terasa linu." Ucap Alex sambil bangkit kembali. Lengan Alex yang terkena tinjunya Raga nampak memerah. "Sekarang kita sudah impas," Raga melebarkan kembali telapak tangannya. "Jangan bercanda, kau sudah berani memukulku itu artinya kau menantangku." Sahut Alex merasa tidak terima. "Baiklah kalau begitu aku akan melayanimu sampai kau puas," Raga membuka helmnya dan meletakkannya di atas jok motor. Setelah melihat wajah Raga seutuhnya, Alex merasa sangat terkejut. "Bukankah dia adalah seorang pemuda yang ada di dalam video itu?" Ternyata Alex juga melihat videonya Raga membuat gempar Kota Valora. "Rupanya perkiraanku salah kau bukanlah pemuda miskin, bukankah kau adalah seorang pemuda yang baru saja mendirikan

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Memulai Kebangkitan Keluarga Wicaksono

    Di sebuah ruangan yang berada di lantai tiga, Raga dan semua orang yang berada di bawah kendalinya melakukan rapat pada meja bundar.Raga berdiri dengan gagah, pandangannya sangat-sangat berwibawa."Terimakasih sudah melakukan ini semua demi kebangkitan keluarga Wicaksono dan demi kebangkitan kelompok kita.""Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan dari kalian, pengetahuanku tentang bisnis tentu sangat tidak bisa diharapkan.""Tapi dengan adanya kalian, aku sangat yakin bisnis kita akan berjalan dengan sangat pesat dalam waktu yang cepat.""Kita akan membangun sebuah kekuatan yang tidak bisa terkalahkan, bukan karena aku haus kekuasaan, tapi karena ada tembok besar yang harus kita robohkan."Raga sedikit memberikan sambutan untuk menyemangati orang-orang yang berjuang bersamanya."Kita pasti bisa melakukannya, bendera dengan lambang Sembilan Matahari akan berkibar di setiap sudut Kota Valora." Sahut salah satu orang yang tergabung dalam lima puluh anggota pasukan khusu

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Max Lion Ketua Kelompok Mafia Singa Mas

    Melihat Raga dan Harry yang sedang berjalan mendekat, Elsa menjadi sedikit gugup takut ketahuan, dia lantas memutuskan untuk pergi."Paman Harry, sepertinya aku pernah melihat mobil itu sewaktu aku masih bekerja di kafe." Ucap Raga menatap mobil sport merah yang melaju dengan sedikit kencang sehingga membuat dedaunan yang dilewatinya berkibar."Apakah tuan muda juga pernah bertemu dengan pemilik mobil itu?" Tanya Harry."Kalau pemiliknya seorang perempuan berpenampilan tomboy, aku pernah bertemu dengannya." Jawab Raga."Jadi tuan muda pernah bertemu dengan nyonya muda Elsa, apakah jangan-jangan mereka memang mempunyai sebuah hubungan?" Harry bertanya di dalam hati.Harry teringat akan kejadian pada saat Elsa menghajar Albert karena sudah menyekap Raga.Albert dihajar habis-habisan oleh Elsa sampai wajahnya babak belur, bahkan lehernya hampir saja patah."Kenapa paman Harry malah terdiam? Apakah paman Harry tahu siapa sosok perempuan itu?" Tanya Raga yang sudah berada di dalam mobil, b

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Komplek Pemakaman Keluarga Wicaksono

    Pada keesokan harinya, di sebuah kamar apartemen yang berada di lantai atas, Elsa sedang duduk melamun sambil memegangi sebuah luka pada lengan kirinya.Lalu Elsa terbayang akan sosok pemuda tampan yang dulu pernah menolongnya dari kejaran sekelompok gengster walaupun akhirnya dia harus tertembak, namun masih tetap bisa kabur dan selamat."Kalau saja pemuda itu tidak ada di dalam gang sempit itu, mungkin aku sudah tertembak lebih dari ini." Ucap Elsa melihat ke arah bekas luka pada lengan kirinya.Entah siapa sosok pemuda yang sudah menyelamatkan Elsa sampai membuatnya selalu memikirkan pemuda tersebut.Elsa berdiri, dia mengambil seikat bunga yang berada di atas mejanya, lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya dan masuk ke dalam sebuah lift untuk turun ke lantai bawah.Sesampainya di lantai satu, Elsa langsung berjalan keluar apartemen menuju ke mobilnya yang berada di parkiran."Nyonya muda Elsa......" Sapa kedua penjaga yang berdiri di depan pintu apartemen sambil menundukkan kepa

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Amarah Yang Mendidih

    Harry mulai kehilangan kesadarannya dan akhirnya pingsan di tengah laut.Flashback selesai.Walaupun Harry seorang mantan tentara pasukan khusus yang sangat disegani, namun dia tidak kuasa untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh disaat bercerita.Panasnya api pada perapian semakin menambah panas dada Raga yang dibakar oleh amarah sesudah mendengarkan cerita Harry.Tatapan Raga sangat tajam, otot pada wajahnya nampak menonjol, kedua tangannya mencengkram erat sofa yang ia duduki, aura binatang buas keluar dari dalam diri Raga."Ternyata mereka sangat kejam, lebih kejam dari para bandit yang berada di kota ini, pantas saja ayah ingin memerangi mereka.""Seharusnya mereka berterimakasih atas jasa paman Harry dan sembilan belas anggota pasukan khusus lainnya yang sudah membela negara ini, bukan malah sebaliknya.""Kaisar takut akan adanya pengkhianatan dari kami yang akan menggulingkan tahtanya." Ucap Harry."Justru merekalah yang sudah berkhianat kepada paman dan kawan-kawan paman y

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Sabotase Pasukan Khusus

    Lanjut Flasback...Harry merasa curiga, dia langsung berlari ke ruang kemudi, ternyata nahkoda sudah tidak ada di ruang kemudi kapal.Kebahagiaan berubah menjadi petaka, kapal yang mereka tumpangi mulai tenggelam, tidak ada satupun pelampung di dalam kapal, semuanya seperti sudah direncanakan.Dua puluh anggota pasukan khusus Big Bang bisa saja menyelamatkan diri mereka sendiri, berenang di tengah lautan walaupun tanpa alat bantu, namun di dalam kapal tersebut ada keluarga mereka yang juga harus diselamatkan.Daratan sudah tidak terlihat, mustahil rasanya bagi mereka berenang ke daratan sambil membawa anak dan istri mereka secara bersamaan."Dasar Kaisar brengs*k! Ternyata dia sudah sengaja menjebak kami supaya tenggelam di tengah lautan bersama dengan keluarga dan juga kapal yang sering kami gunakan untuk berperang."Harry sudah menyadarinya kalau pihak kerajaan dengan sengaja menjebak mereka supaya musnah di telan lautan yang gelap dan dingin.Teriakan tangis dari keluarga pasukan a

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Gelang Hitam Misterius

    Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa ya

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Kekuatan Raja Serigala

    Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?"

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Membangunkan Serigala Yang Tertidur

    Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisa

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Mencari Angin Segar

    Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status