LOGINDraxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan.
"Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisan!" suara Draxen menggelegar, terdengar jelas oleh semua orang. "Kalian semua pasti tahu siapa yang melakukannya! Ingatlah baik-baik, aku adalah Draxen Varga, pemimpin Kelompok Kepala Ular! Siapa saja yang berani menginjak-injak harga diri kelompokku, aku pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini!" Suasana menjadi hening total. Warga hanya bisa menunduk gemetar, keringat dingin bercucuran dari kepala hingga kaki. Beberapa perempuan ada yang mulai menangis tertahan ketakutan. Di antara kerumunan itu, ada Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia juga menunduk, namun tubuhnya tidak gemetar sedikit pun. Justru di dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sudah kuduga... Leo dan Soni pasti mengadu pada ketua mereka. Mereka datang untuk membalas dendam pada Raga karena sudah melukai anak buah Kepala Ular, batin Bu Ratmi dengan tenang. Draxen kembali berseru lantang, suaranya mengancam dan penuh kemarahan. "Aku minta! Siapa pun di antara kalian yang telah melukai anak buahku, segera berdiri dan maju ke depan! Aku akan menghitung sampai empat. Jika tidak ada yang berani mengaku dalam hitungan itu... aku akan membakar habis seluruh pemukiman ini sampai rata dengan tanah!" Ketakutan warga semakin memuncak. Isak tangis semakin terdengar jelas. "Satu!!!" Draxen mulai menghitung. "Dua!!!" Belum sampai hitungan ketiga, seseorang memberanikan diri untuk berdiri dan melangkah maju ke depan sendirian. Semua mata tertuju pada sosok itu. Itu adalah Bu Ratmi. Draxen tertawa keras melihat sosok wanita tua kurus itu berani maju. "Hahaha! Mana mungkin kau yang melukai kedua anak buahku? Jangan mengada-ada, nenek tua!" Anak buah Draxen pun ikut tertawa mengejek. Namun Bu Ratmi tetap tenang, wajahnya datar dan berani menatap langsung ke arah Draxen. "Memang bukan aku yang memukul mereka," jawab Bu Ratmi tegas, suaranya terdengar jelas di tengah keramaian. "Tapi aku datang kemari untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh anakku terhadap dua orang itu." Walaupun hanya ibu angkat, kasih sayang Bu Ratmi kepada Raga sangatlah tulus, melebihi kasih sayang ibu kandung sekalipun. Ia rela melakukan apa saja demi keselamatan anak angkatnya itu. "Ooh... jadi anakmulah pelakunya?" Draxen menyeringai jahat. "Pasti anakmu itu sangat hebat ya, sampai bisa membuat anak buahku babak belur. Bagus! Kalau begitu, katakan sekarang... di mana anakmu itu bersembunyi? Aku ingin berhadapan langsung dengannya!" Raga, Jaka, dan Citra semakin mendekati pemukiman warga, namun langkah mereka terhenti oleh rasa heran yang berubah menjadi kekhawatiran. Jalanan utama menuju rumah mereka kini tertutup rapat oleh puluhan bahkan ratusan sepeda motor besar yang diparkir sembarangan. Suara mesin dan kegaduhan terdengar sangat jelas dari kejauhan, membuat suasana malam itu terasa mencekam. "Ra! Gawat, Ra! Lihatlah lambang yang tertera di bodi motor-motor ini..." seru Jaka dengan nada cemas, jarinya menunjuk ke arah gambar tengkorak yang dililit ular—logo khas kelompok Kepala Ular. "Ini pasti milik anak buah Draxen! Jangan-jangan mereka datang untuk membalas dendam gara-gara kamu menghajar dua orang anak buahnya tadi siang!" Jaka sangat hafal dengan tanda itu, karena di wilayah kumuh ini, lambang itu adalah simbol teror bagi seluruh warga. Raga turun dari motor tua itu, pandangannya menatap tajam ke arah pemukiman mereka. Biasanya kawasan itu gelap dan sepi, namun malam ini tempat itu terang benderang, seolah diterangi api besar. Hati Raga berdebar kencang, firasat buruk mulai merayap di benaknya. "Kalian berdua segera cari tempat aman dan bersembunyi di sini saja," perintah Raga tegas kepada Jaka dan Citra. Matanya tidak lepas dari kerumunan orang di kejauhan. "Ada sesuatu yang buruk sedang terjadi di sana." "Benar juga dugaanmu... Draxen Varga dan pasukannya memang berkuasa penuh di wilayah ini. Mereka pasti datang untuk membalas perbuatanmu," ujar Citra pelan sambil menatap ngeri ke arah lautan motor besar di hadapannya. Tanpa menunggu lama, Raga mengambil ancang-ancang. WUSSHHH!!! Dengan gerakan yang sangat lincah dan melompat tinggi, Raga menapakkan kakinya di atas bodi motor-motor besar itu satu per satu. Ia menjadikan kendaraan-kendaraan mahal milik preman-preman itu seolah hanya batu loncatan biasa, bergerak cepat menyeberangi jalan yang tertutup rapat itu. "RAGAAA! TUNGGU DULU!" teriak Jaka memanggil sahabatnya, namun Raga sudah terlalu jauh. Jaka berniat mengejar, namun ia sadar diri. Ia tidak memiliki kemampuan fisik atau kelincahan seperti Raga. Ia hanya bisa berdiri diam sambil menggigit bibir, merasa frustrasi karena tak bisa berbuat apa-apa. "Aduh, bagaimana ini? Kita tak bisa lewat karena motor-motor ini terlalu rapat menghalangi jalan... aku sangat khawatir dengan Bu Ratmi dan warga lainnya," keluh Jaka dengan wajah pucat. "Kamu saja? Aku juga sama khawatirnya! Ayahku ada di sana juga!" sahut Citra, matanya berkaca-kaca menahan takut. TAP... TAP... TAP...! Raga terus berlari dan melompat di atas atap-atap motor dan kendaraan milik pasukan Kepala Ular, hingga akhirnya ia mendarat dengan gagah di atas kap mobil hitam besar yang terparkir di posisi paling depan—mobil milik pemimpin mereka sendiri, Draxen Varga. Berdiri di atas mobil mewah itu, pandangan Raga tertuju tepat ke tengah kerumunan. Darah di tubuhnya seketika mendidih meluap. Di sana, ia melihat Bu Ratmi, ibu angkatnya, sedang dicengkeram lehernya dengan kasar oleh Draxen Varga sendiri. "LEPASKAN IBUKU!" Suara teriakan Raga menggelegar membelah suasana mencekam malam itu, terdengar jelas oleh setiap orang yang ada di sana.Sosok tuan muda tampan dan berkarisma memasuki gedung pencakar langit bersama dengan dua orang kepercayaannya."Paman Dave, kita menjamu mereka di lantai berapa?" Tanya Raga."Di lantai tiga, tempat kita melakukan rapat beberapa hari yang lalu." Jawab Dave.Raga melihat ke arah sekitarnya, ternyata gedung miliknya sudah cukup ramai."Apakah mereka para pegawai baru?" Tanya Raga yang baru melihat wajah orang-orang di gedungnya."Mereka semua memang para pegawai baru, selain menjadi pusat kantor dari tiga perusahaan milik Tuan Muda, gedung ini tentunya menjadi apartemen mewah bagi orang-orang kaya di Kota Valora, sudah banyak kamar yang terjual." Jelas Dave.Melihat kedatangan bos mereka, para pegawai di gedung tersebut bergegas mendekati Raga, Harry, dan Dave."Selamat datang Tuan Muda," Ucap mereka sambil menundukkan kepalanya."Terimakasih....... sekarang kembalilah ke pekerjaan kalian." Raga menjawab dengan ramah, tersenyum tulus ke arah para pegawainya.Benar-benar tidak disangka,
Setelah selesai memakan bakmi buatan Paman Mak yang begitu lezat, Raga lantas menanyakan sesuatu kepada Paman Mak."Maaf Paman, apakah pada saat Paman membereskan baju dan pakaian milik Raga, Paman menemukan sebuah kartu nama di dalam kantong celananya Raga?"Paman mencoba untuk mengingat-ngingat terlebih dahulu. "Hmmm,,, kartu nama? Sepertinya Paman tidak menemukan apapun selain pakaianmu.""Jadi... Paman Mak tidak melihat kartu nama itu." Raut wajah Raga nampak sedikit kecewa."Memangnya kartu nama siapa yang sedang kau cari?" Tanya balik Paman Mak."Kartu nama milik seseorang yang bernama Bayu Pratama," Jawab Raga."Sepertinya Paman pernah mendengar nama seseorang yang baru saja kau sebutkan! Bayu Pratama?" Kata Paman Mak."Paman tentu mengenalnya, Bayu Pratama merupakan salah satu pimpinan dari kelompok mafia Naga Langit, tangan kanannya Jack Draco." Tutur Raga."Iyaa..... Paman baru ingat, Bayu Pratama dan Jack Draco yang pernah menguasai wilayah barat Kota Valora."Awalnya Raga
"Raga, apakah itu kamu?" Tanya seorang wanita yang baru saja turun dari mobil, memanggil Raga dengan suara pelan.Secara spontan Raga langsung melihat ke arah belakang."Tante Tania!" Raga cukup terkejut dengan kemunculan sosok Tante Tania yang pernah menjadi bosnya."Raga! Ternyata benar kamu!" Tante Tania merasa sangat girang karena dugaannya benar.Tante Tania langsung memeluk Raga dengan sangat erat sampai membuat Raga sulit untuk bernapas."Tante sangat senang sekali bisa bertemu denganmu kembali, selama kamu tidak ada tante merasa sangat rindu sekali kepadamu.""Tante juga sangat mengkhawatirkan kondisimu ketika dibawa oleh para bajingan itu, sampai tante tidak bisa tidur."Tante Tania justru mencurahkan isi hatinya selama ditinggal oleh Raga."Uhuk..... Tante Tania, tolong lepaskan pelukannya, Tante....." Pinta Raga dengan nada lirih.Tante Tania langsung melepaskan pelukannya."Huuuup..... Haaaaah!!!" Raga langsung menarik napas dalam-dalam untuk melebarkan paru-parunya kembal
"Apakah kau mengenal pemuda yang barusan?" Tanya Raga menatap datar Elsa."Alex, namanya adalah Alex Tunder, ketua kelompok gengster Red Tunder, dia juga merupakan anak dari salah satu pengusaha terkaya di Kota Valora." Jawab Elsa langsung merasa salah tingkah ketika ditatap oleh Raga."Pantas saja sikapnya amat begitu sombong..... Tapi pemuda itu sepertinya sangat patuh dengan perkataanmu,""Hehe....." Elsa menundukkan kepalanya ke arah bawah, bertanya di dalam hatinya. "Huh..... kenapa aku malah jadi grogi seperti ini apabila bertatapan langsung dengannya?"Sementara itu Raga mengalihkan pandangannya ke arah mobilnya Elsa. "Mobil yang sama dengan yang aku lihat pada saat berada di pemakaman, jangan-jangan perempuan ini adalah........"Raga menyadari sesuatu kalau perempuan yang sedang berada di hadapannya adalah Elsa Lion yang sudah diceritakan oleh Harry."Sekali lagi terimakasih sudah membantuku mengusir berandalan itu dan menemukan kunci motorku, aku pergi dulu...." Ucap Raga ter
Orang-orang yang menyaksikan Alex terpental karena tinjunya Raga langsung merasa syok. Seorang pemuda biasa yang diremehkan oleh Alex justru bisa membuatnya terjatuh hanya dengan sekali pukulan. "Kurang ajar, kuat sekali pukulan pemuda itu, kedua lenganku sampai terasa linu." Ucap Alex sambil bangkit kembali. Lengan Alex yang terkena tinjunya Raga nampak memerah. "Sekarang kita sudah impas," Raga melebarkan kembali telapak tangannya. "Jangan bercanda, kau sudah berani memukulku itu artinya kau menantangku." Sahut Alex merasa tidak terima. "Baiklah kalau begitu aku akan melayanimu sampai kau puas," Raga membuka helmnya dan meletakkannya di atas jok motor. Setelah melihat wajah Raga seutuhnya, Alex merasa sangat terkejut. "Bukankah dia adalah seorang pemuda yang ada di dalam video itu?" Ternyata Alex juga melihat videonya Raga membuat gempar Kota Valora. "Rupanya perkiraanku salah kau bukanlah pemuda miskin, bukankah kau adalah seorang pemuda yang baru saja mendirikan
Di sebuah ruangan yang berada di lantai tiga, Raga dan semua orang yang berada di bawah kendalinya melakukan rapat pada meja bundar.Raga berdiri dengan gagah, pandangannya sangat-sangat berwibawa."Terimakasih sudah melakukan ini semua demi kebangkitan keluarga Wicaksono dan demi kebangkitan kelompok kita.""Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan dari kalian, pengetahuanku tentang bisnis tentu sangat tidak bisa diharapkan.""Tapi dengan adanya kalian, aku sangat yakin bisnis kita akan berjalan dengan sangat pesat dalam waktu yang cepat.""Kita akan membangun sebuah kekuatan yang tidak bisa terkalahkan, bukan karena aku haus kekuasaan, tapi karena ada tembok besar yang harus kita robohkan."Raga sedikit memberikan sambutan untuk menyemangati orang-orang yang berjuang bersamanya."Kita pasti bisa melakukannya, bendera dengan lambang Sembilan Matahari akan berkibar di setiap sudut Kota Valora." Sahut salah satu orang yang tergabung dalam lima puluh anggota pasukan khusu
Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.S
Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa ya
Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?"
Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai







