Mag-log inBu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku? Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal. "Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan. Raga tersenyum tulus, lalu menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Ibu. Tidak ada satu pun luka di tubuhku, percayalah." "Syukurlah... syukurlah sekali kalau kamu selamat dan tidak terluka," napas Bu Ratmi terhembus panjang, rasa takut yang menyesakkan dadanya sejak tadi akhirnya perlahan menghilang berganti rasa syukur yang mendalam. Warga yang tadinya hanya bisa berdiri kaku dan diam ketakutan, kini mulai bergerak mendekat. Mereka mengerumuni Raga dengan wajah penuh kekaguman dan rasa hormat yang tak pernah mereka berikan pada siapa pun sebelumnya. "Raga! Kamu sungguh luar biasa! Kamu berhasil membuat ketua geng Kepala Ular yang sangat kejam itu tunduk dan kabur!" seru seorang bapak dengan mata berbinar-binar. "Benar sekali! Kamu hebat sekali, Nak! Siapa sangka pemuda yang selama ini pendiam dan ramah, ternyata menyimpan kekuatan sehebat ini!" sambung yang lain sambil menepuk-nepuk bahu Raga dengan bangga. Semua orang kini memandang Raga dengan pandangan yang berbeda. Di mata mereka, pemuda yang sehari-hari bekerja memungut sampah itu kini berubah menjadi pahlawan yang melindungi mereka. Mereka sadar, di balik wajah tenang dan sifat santunnya, tersembunyi jiwa yang sekuat baja dan aura binatang buas yang sangat mengerikan jika sudah marah. Raga hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum canggung mendengar pujian bertubi-tubi itu. "Ah, kalian melebih-lebihkan sekali... aku hanya berusaha membela diri dan melindungi kalian saja," jawabnya dengan nada rendah hati. Sementara itu, Jaka dan Citra masih berdiri di pinggir jalan, menepikan kendaraan mereka dengan jantung yang masih berdebar kencang. Saat melihat rombongan geng itu berbalik arah dan pergi, keringat dingin langsung mengucur deras dari tubuh mereka berdua. Mereka menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajah mereka agar tidak ada yang memperhatikan, tubuh mereka masih gemetar hebat karena sisa ketakutan. Cepatlah pergi... cepatlah pergi dari sini... teriak hati Jaka dalam diam, matanya terpejam rapat berdoa agar mereka selamat. Suara deru knalpot motor yang memekakkan telinga seolah menjadi musik yang paling menakutkan bagi telinga mereka saat itu. Namun perlahan, suara itu menjauh dan menghilang. Angin malam bertiup sejuk, menyapu bersih ketakutan yang melanda pemukiman itu. Awan gelap yang menutupi langit pun bergeser, membiarkan sinar bulan dan bintang bersinar terang seolah ikut tersenyum merayakan kemenangan pemuda yang memiliki nasib kelam itu. Sejak malam itu, nama Raga semakin dikenal dan disayangi oleh seluruh warga di wilayah itu, terutama oleh para gadis dan wanita muda yang memang sejak lama sudah mengagumi ketampanan dan sifat sopan santunnya. Malam semakin larut. Di dalam rumah kecil berdinding papan, beratap seng yang sudah berkarat, dan beralaskan terpal usang, Raga duduk bersila di lantai berhadapan dengan Bu Ratmi. "Ibu..." Raga memecah keheningan, matanya menatap lekat-lekat ke arah lengan kirinya, tepat di mana sebuah gelang hitam yang melilit di sana. "Apakah Ibu mengetahui sesuatu tentang gelang yang aku pakai ini? Seperti asal-usulnya atau maknanya?" Bu Ratmi tersenyum lembut, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk mengelus kepala Raga dengan penuh kasih sayang. Matanya menatap anak angkatnya itu dengan tatapan sendu namun hangat. "Maafkan Ibu, Nak... sejujurnya Ibu tidak tahu menahu tentang asal-usul benda ini," jawab Bu Ratmi dengan suara pelan. "Tapi yang pasti, gelang ini sangatlah berharga. Dulu saat Ibu menemukanku di tumpukan sampah, gelang ini sudah ada di lenganmu, bersih dan berkilau indah meski di tempat yang kotor. Jadi, Ibu simpan baik-baik dan tidak pernah melepaskannya darimu." Raga mengangguk pelan, lalu kembali menatap gelang itu dengan pandangan yang dalam dan penuh tanya. Ia terus memutar-mutar gelang itu di pergelangan tangannya, seolah berusaha mencari jawaban dari benda mati tersebut. Bu Ratmi memperhatikan perubahan ekspresi wajah anaknya. Ia bisa merasakan Raga sedang memikirkan sesuatu yang berat dan penting. "Ada apa, Sayang? Apa yang sedang melintas di pikiranmu?" tanya Bu Ratmi lembut, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinga Raga. Raga mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata ibunya. "Saya menyadarinya, Bu..." ucap Raga perlahan dengan nada serius. "Ketua geng Kepala Ular itu, Draxen... dia tidak mundur karena dia kalah atau takut pada kekuatan fisikku. Dia langsung ketakutan, gemetar, dan mengalah begitu saja tepat setelah dia melihat gelang yang aku pakai ini." Bu Ratmi tertegun sejenak, matanya sedikit membelalak mendengar penuturan itu. "Mana mungkin itu bisa terjadi, Raga?" Bu Ratmi menggelengkan kepalanya seolah tak percaya. "Bagaimana mungkin seorang pemimpin geng yang terkenal kejam, berdarah dingin, dan sangat ditakuti di seantero Kota Valora bisa gentar hanya karena melihat sepotong gelang hitam biasa?" Raga tidak menjawab, ia hanya kembali menunduk dan memandangi gelang itu dengan pandangan yang semakin misterius. "Sudah, lupakan saja hal itu untuk malam ini. Lebih baik kamu segera istirahat dan tidur, Nak. Kamu pasti sangat lelah setelah kejadian hebat dan melelahkan ini," ucap Bu Ratmi berusaha mengalihkan pikiran anaknya, lalu bangkit untuk menyiapkan tempat tidur. Raga pun mengangguk patuh, namun di dalam hatinya, satu pertanyaan besar baru saja tertanam kuat: Siapakah aku sebenarnya?Sosok tuan muda tampan dan berkarisma memasuki gedung pencakar langit bersama dengan dua orang kepercayaannya."Paman Dave, kita menjamu mereka di lantai berapa?" Tanya Raga."Di lantai tiga, tempat kita melakukan rapat beberapa hari yang lalu." Jawab Dave.Raga melihat ke arah sekitarnya, ternyata gedung miliknya sudah cukup ramai."Apakah mereka para pegawai baru?" Tanya Raga yang baru melihat wajah orang-orang di gedungnya."Mereka semua memang para pegawai baru, selain menjadi pusat kantor dari tiga perusahaan milik Tuan Muda, gedung ini tentunya menjadi apartemen mewah bagi orang-orang kaya di Kota Valora, sudah banyak kamar yang terjual." Jelas Dave.Melihat kedatangan bos mereka, para pegawai di gedung tersebut bergegas mendekati Raga, Harry, dan Dave."Selamat datang Tuan Muda," Ucap mereka sambil menundukkan kepalanya."Terimakasih....... sekarang kembalilah ke pekerjaan kalian." Raga menjawab dengan ramah, tersenyum tulus ke arah para pegawainya.Benar-benar tidak disangka,
Setelah selesai memakan bakmi buatan Paman Mak yang begitu lezat, Raga lantas menanyakan sesuatu kepada Paman Mak."Maaf Paman, apakah pada saat Paman membereskan baju dan pakaian milik Raga, Paman menemukan sebuah kartu nama di dalam kantong celananya Raga?"Paman mencoba untuk mengingat-ngingat terlebih dahulu. "Hmmm,,, kartu nama? Sepertinya Paman tidak menemukan apapun selain pakaianmu.""Jadi... Paman Mak tidak melihat kartu nama itu." Raut wajah Raga nampak sedikit kecewa."Memangnya kartu nama siapa yang sedang kau cari?" Tanya balik Paman Mak."Kartu nama milik seseorang yang bernama Bayu Pratama," Jawab Raga."Sepertinya Paman pernah mendengar nama seseorang yang baru saja kau sebutkan! Bayu Pratama?" Kata Paman Mak."Paman tentu mengenalnya, Bayu Pratama merupakan salah satu pimpinan dari kelompok mafia Naga Langit, tangan kanannya Jack Draco." Tutur Raga."Iyaa..... Paman baru ingat, Bayu Pratama dan Jack Draco yang pernah menguasai wilayah barat Kota Valora."Awalnya Raga
"Raga, apakah itu kamu?" Tanya seorang wanita yang baru saja turun dari mobil, memanggil Raga dengan suara pelan.Secara spontan Raga langsung melihat ke arah belakang."Tante Tania!" Raga cukup terkejut dengan kemunculan sosok Tante Tania yang pernah menjadi bosnya."Raga! Ternyata benar kamu!" Tante Tania merasa sangat girang karena dugaannya benar.Tante Tania langsung memeluk Raga dengan sangat erat sampai membuat Raga sulit untuk bernapas."Tante sangat senang sekali bisa bertemu denganmu kembali, selama kamu tidak ada tante merasa sangat rindu sekali kepadamu.""Tante juga sangat mengkhawatirkan kondisimu ketika dibawa oleh para bajingan itu, sampai tante tidak bisa tidur."Tante Tania justru mencurahkan isi hatinya selama ditinggal oleh Raga."Uhuk..... Tante Tania, tolong lepaskan pelukannya, Tante....." Pinta Raga dengan nada lirih.Tante Tania langsung melepaskan pelukannya."Huuuup..... Haaaaah!!!" Raga langsung menarik napas dalam-dalam untuk melebarkan paru-parunya kembal
"Apakah kau mengenal pemuda yang barusan?" Tanya Raga menatap datar Elsa."Alex, namanya adalah Alex Tunder, ketua kelompok gengster Red Tunder, dia juga merupakan anak dari salah satu pengusaha terkaya di Kota Valora." Jawab Elsa langsung merasa salah tingkah ketika ditatap oleh Raga."Pantas saja sikapnya amat begitu sombong..... Tapi pemuda itu sepertinya sangat patuh dengan perkataanmu,""Hehe....." Elsa menundukkan kepalanya ke arah bawah, bertanya di dalam hatinya. "Huh..... kenapa aku malah jadi grogi seperti ini apabila bertatapan langsung dengannya?"Sementara itu Raga mengalihkan pandangannya ke arah mobilnya Elsa. "Mobil yang sama dengan yang aku lihat pada saat berada di pemakaman, jangan-jangan perempuan ini adalah........"Raga menyadari sesuatu kalau perempuan yang sedang berada di hadapannya adalah Elsa Lion yang sudah diceritakan oleh Harry."Sekali lagi terimakasih sudah membantuku mengusir berandalan itu dan menemukan kunci motorku, aku pergi dulu...." Ucap Raga ter
Orang-orang yang menyaksikan Alex terpental karena tinjunya Raga langsung merasa syok. Seorang pemuda biasa yang diremehkan oleh Alex justru bisa membuatnya terjatuh hanya dengan sekali pukulan. "Kurang ajar, kuat sekali pukulan pemuda itu, kedua lenganku sampai terasa linu." Ucap Alex sambil bangkit kembali. Lengan Alex yang terkena tinjunya Raga nampak memerah. "Sekarang kita sudah impas," Raga melebarkan kembali telapak tangannya. "Jangan bercanda, kau sudah berani memukulku itu artinya kau menantangku." Sahut Alex merasa tidak terima. "Baiklah kalau begitu aku akan melayanimu sampai kau puas," Raga membuka helmnya dan meletakkannya di atas jok motor. Setelah melihat wajah Raga seutuhnya, Alex merasa sangat terkejut. "Bukankah dia adalah seorang pemuda yang ada di dalam video itu?" Ternyata Alex juga melihat videonya Raga membuat gempar Kota Valora. "Rupanya perkiraanku salah kau bukanlah pemuda miskin, bukankah kau adalah seorang pemuda yang baru saja mendirikan
Di sebuah ruangan yang berada di lantai tiga, Raga dan semua orang yang berada di bawah kendalinya melakukan rapat pada meja bundar.Raga berdiri dengan gagah, pandangannya sangat-sangat berwibawa."Terimakasih sudah melakukan ini semua demi kebangkitan keluarga Wicaksono dan demi kebangkitan kelompok kita.""Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan dari kalian, pengetahuanku tentang bisnis tentu sangat tidak bisa diharapkan.""Tapi dengan adanya kalian, aku sangat yakin bisnis kita akan berjalan dengan sangat pesat dalam waktu yang cepat.""Kita akan membangun sebuah kekuatan yang tidak bisa terkalahkan, bukan karena aku haus kekuasaan, tapi karena ada tembok besar yang harus kita robohkan."Raga sedikit memberikan sambutan untuk menyemangati orang-orang yang berjuang bersamanya."Kita pasti bisa melakukannya, bendera dengan lambang Sembilan Matahari akan berkibar di setiap sudut Kota Valora." Sahut salah satu orang yang tergabung dalam lima puluh anggota pasukan khusu
Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.S
Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?"
Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisa
Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai






