Share

Gelang Hitam Misterius

Penulis: Raden Arya
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 14:45:46

Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?

Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal.

"Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan.

Raga tersenyum tulus, lalu menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Ibu. Tidak ada satu pun luka di tubuhku, percayalah."

"Syukurlah... syukurlah sekali kalau kamu selamat dan tidak terluka," napas Bu Ratmi terhembus panjang, rasa takut yang menyesakkan dadanya sejak tadi akhirnya perlahan menghilang berganti rasa syukur yang mendalam.

Warga yang tadinya hanya bisa berdiri kaku dan diam ketakutan, kini mulai bergerak mendekat. Mereka mengerumuni Raga dengan wajah penuh kekaguman dan rasa hormat yang tak pernah mereka berikan pada siapa pun sebelumnya.

"Raga! Kamu sungguh luar biasa! Kamu berhasil membuat ketua geng Kepala Ular yang sangat kejam itu tunduk dan kabur!" seru seorang bapak dengan mata berbinar-binar.

"Benar sekali! Kamu hebat sekali, Nak! Siapa sangka pemuda yang selama ini pendiam dan ramah, ternyata menyimpan kekuatan sehebat ini!" sambung yang lain sambil menepuk-nepuk bahu Raga dengan bangga.

Semua orang kini memandang Raga dengan pandangan yang berbeda. Di mata mereka, pemuda yang sehari-hari bekerja memungut sampah itu kini berubah menjadi pahlawan yang melindungi mereka. Mereka sadar, di balik wajah tenang dan sifat santunnya, tersembunyi jiwa yang sekuat baja dan aura binatang buas yang sangat mengerikan jika sudah marah.

Raga hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum canggung mendengar pujian bertubi-tubi itu. "Ah, kalian melebih-lebihkan sekali... aku hanya berusaha membela diri dan melindungi kalian saja," jawabnya dengan nada rendah hati.

Sementara itu, Jaka dan Citra masih berdiri di pinggir jalan, menepikan kendaraan mereka dengan jantung yang masih berdebar kencang. Saat melihat rombongan geng itu berbalik arah dan pergi, keringat dingin langsung mengucur deras dari tubuh mereka berdua. Mereka menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajah mereka agar tidak ada yang memperhatikan, tubuh mereka masih gemetar hebat karena sisa ketakutan.

Cepatlah pergi... cepatlah pergi dari sini... teriak hati Jaka dalam diam, matanya terpejam rapat berdoa agar mereka selamat.

Suara deru knalpot motor yang memekakkan telinga seolah menjadi musik yang paling menakutkan bagi telinga mereka saat itu. Namun perlahan, suara itu menjauh dan menghilang.

Angin malam bertiup sejuk, menyapu bersih ketakutan yang melanda pemukiman itu. Awan gelap yang menutupi langit pun bergeser, membiarkan sinar bulan dan bintang bersinar terang seolah ikut tersenyum merayakan kemenangan pemuda yang memiliki nasib kelam itu.

Sejak malam itu, nama Raga semakin dikenal dan disayangi oleh seluruh warga di wilayah itu, terutama oleh para gadis dan wanita muda yang memang sejak lama sudah mengagumi ketampanan dan sifat sopan santunnya.

Malam semakin larut. Di dalam rumah kecil berdinding papan, beratap seng yang sudah berkarat, dan beralaskan terpal usang, Raga duduk bersila di lantai berhadapan dengan Bu Ratmi.

"Ibu..." Raga memecah keheningan, matanya menatap lekat-lekat ke arah lengan kirinya, tepat di mana sebuah gelang hitam yang melilit di sana. "Apakah Ibu mengetahui sesuatu tentang gelang yang aku pakai ini? Seperti asal-usulnya atau maknanya?"

Bu Ratmi tersenyum lembut, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk mengelus kepala Raga dengan penuh kasih sayang. Matanya menatap anak angkatnya itu dengan tatapan sendu namun hangat.

"Maafkan Ibu, Nak... sejujurnya Ibu tidak tahu menahu tentang asal-usul benda ini," jawab Bu Ratmi dengan suara pelan. "Tapi yang pasti, gelang ini sangatlah berharga. Dulu saat Ibu menemukanku di tumpukan sampah, gelang ini sudah ada di lenganmu, bersih dan berkilau indah meski di tempat yang kotor. Jadi, Ibu simpan baik-baik dan tidak pernah melepaskannya darimu."

Raga mengangguk pelan, lalu kembali menatap gelang itu dengan pandangan yang dalam dan penuh tanya. Ia terus memutar-mutar gelang itu di pergelangan tangannya, seolah berusaha mencari jawaban dari benda mati tersebut.

Bu Ratmi memperhatikan perubahan ekspresi wajah anaknya. Ia bisa merasakan Raga sedang memikirkan sesuatu yang berat dan penting.

"Ada apa, Sayang? Apa yang sedang melintas di pikiranmu?" tanya Bu Ratmi lembut, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinga Raga.

Raga mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata ibunya.

"Saya menyadarinya, Bu..." ucap Raga perlahan dengan nada serius. "Ketua geng Kepala Ular itu, Draxen... dia tidak mundur karena dia kalah atau takut pada kekuatan fisikku. Dia langsung ketakutan, gemetar, dan mengalah begitu saja tepat setelah dia melihat gelang yang aku pakai ini."

Bu Ratmi tertegun sejenak, matanya sedikit membelalak mendengar penuturan itu.

"Mana mungkin itu bisa terjadi, Raga?" Bu Ratmi menggelengkan kepalanya seolah tak percaya. "Bagaimana mungkin seorang pemimpin geng yang terkenal kejam, berdarah dingin, dan sangat ditakuti di seantero Kota Valora bisa gentar hanya karena melihat sepotong gelang hitam biasa?"

Raga tidak menjawab, ia hanya kembali menunduk dan memandangi gelang itu dengan pandangan yang semakin misterius.

"Sudah, lupakan saja hal itu untuk malam ini. Lebih baik kamu segera istirahat dan tidur, Nak. Kamu pasti sangat lelah setelah kejadian hebat dan melelahkan ini," ucap Bu Ratmi berusaha mengalihkan pikiran anaknya, lalu bangkit untuk menyiapkan tempat tidur.

Raga pun mengangguk patuh, namun di dalam hatinya, satu pertanyaan besar baru saja tertanam kuat: Siapakah aku sebenarnya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Tembakan Kematian

    Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir."Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telap

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Gelang Hitam Misterius

    Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal."Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Kekuatan Raja Serigala

    Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani m

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Membangunkan Serigala Yang Tertidur

    Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisan!" suara Draxen menggelegar, terdengar jelas oleh semua orang. "Kalian semua pasti tahu siapa yang melakukannya! Ingatlah baik-baik, aku adalah Draxen Varga, pemimpin Kelompok Kepala Ular! Siapa saja yang berani menginjak-injak harga diri kelompokku, aku pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini!" Suasana menjadi hening total. Warga hanya bisa menunduk gemetar, keringat dingin bercucuran dari kepala hingga kaki. Beberapa perempuan ada yang mulai menangis tertahan ketakutan. Di antara kerumunan itu, ada Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia juga menunduk, namun tubuhnya tidak gemetar sedikit pun. Justru di dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sudah kuduga...

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Mencari Angin Segar

    Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai pengemudi, sementara Raga duduk di belakang, menikmati semilir angin malam."Ka... perutmu masih terasa sakit?" tanya Raga memecah keheningan, nada suaranya sedikit khawatir.Jaka tertawa kecil sambil tetap menyetir santai. "Hahaha, tendangan lemah seperti itu mana mungkin bikin aku sakit lama, Ra! Aku ini kan Jaka yang tangguh, ingat itu!"Namun kemudian nada bicaranya berubah menjadi antusias. "Tapi ngomong-ngomong... kamu hebat juga ya! Selama kita berteman akrab dari kecil, baru kali ini aku lihat kamu bertarung. Dua orang preman yang sok jago itu sampai babak belur di tanganmu saja. Luar biasa!"Raga hanya tersenyum tipis di kegelapan malam. "Mungkin karena saat itu aku sedang sangat la

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Amarah Yang Meledak

    Leo melangkah maju, menatap keduanya dengan pandangan yang seolah ingin membunuh. "Diam saja kalau tidak mau celaka. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kami patahkan leher kalian satu per satu!" Namun, Raga sama sekali tidak bergeming. Seolah tak mendengar ancaman mengerikan itu, ia berjalan santai melewati kedua preman yang berbadan besar itu, lalu duduk tenang di bangku kayu yang kosong. "Bu Mira, saya merasa sangat lapar. Tolong buatkan makanan seperti pesanan saya yang biasa ya," ucap Raga dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah, seolah tak ada orang lain yang berbahaya di ruangan itu selain dirinya dan pemilik warung. Bu Mira yang sedari tadi diam ketakutan hanya bisa mengangguk gugup. "Ba... baik, Nak Raga. Sebentar ya, akan Ibu siapkan." BRAKKK!!! Leo menggebrak meja tepat di depan wajah Raga. Ia membungkukkan badannya, wajahnya mendekat hingga jaraknya hanya satu senti dari wajah Raga. Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat keluar dari napasnya sangat men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status