Share

Mencari Angin Segar

Author: Raden Arya
last update publish date: 2026-05-19 18:03:51

Pukul 21.00 malam.

Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai pengemudi, sementara Raga duduk di belakang, menikmati semilir angin malam.

"Ka... perutmu masih terasa sakit?" tanya Raga memecah keheningan, nada suaranya sedikit khawatir.

Jaka tertawa kecil sambil tetap menyetir santai. "Hahaha, tendangan lemah seperti itu mana mungkin bikin aku sakit lama, Ra! Aku ini kan Jaka yang tangguh, ingat itu!"

Namun kemudian nada bicaranya berubah menjadi antusias. "Tapi ngomong-ngomong... kamu hebat juga ya! Selama kita berteman akrab dari kecil, baru kali ini aku lihat kamu bertarung. Dua orang preman yang sok jago itu sampai babak belur di tanganmu saja. Luar biasa!"

Raga hanya tersenyum tipis di kegelapan malam. "Mungkin karena saat itu aku sedang sangat lapar, jadi amarahku ikut memuncak dan tidak terkontrol," jawabnya santai, berusaha menutupi keanehan kekuatan yang dimilikinya.

Malam itu, Raga kembali hanya mengenakan kaos dalam berwarna hitam, memperlihatkan lengan kekarnya yang terpahat alami akibat pekerjaan berat sehari-hari.

"Hahaha, alasan klasik!" seru Jaka sambil terkikik. "Tapi aku tahu, kamu marah besar karena mereka menendang aku, kan? Aku dengar jelas kok ucapanmu saat itu."

Raga mengangguk pelan. "Itu juga salah satu alasannya, tentu saja."

Tiba-tiba, suara deru mesin motor lain terdengar mendekat. Sebuah motor matic mengkilap melaju sejajar dengan motor butut mereka.

"Hai, Raga!" sapa seorang wanita muda yang duduk di atas motor itu dengan senyum lebar.

Wanita itu cantik, berambut panjang terurai, mengenakan celana pendek dan kemeja panjang yang dibuka sedikit di bagian atas, terlihat berani dan percaya diri. Ia mengendarai motornya sendirian dengan lincah. Namanya adalah Citra.

"Hai..." jawab Raga singkat sambil tersenyum sopan.

Jaka langsung tersenyum lebar dari telinga ke telinga saat melihat siapa yang menyapa mereka. Matanya berbinar-binar.

"Kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Citra lagi.

"Kami mau mencari makan, Neng Citra!" sahut Jaka cepat, bahkan sebelum Raga sempat membuka mulut.

Raga langsung mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah Jaka dari belakang. Padahal tujuan mereka keluar malam ini hanya sekadar mencari angin dan menghilangkan penat, sama sekali tidak berniat makan. Namun Jaka memang selalu saja mencari alasan agar bisa mengobrol lebih lama dengan Citra.

"Kebetulan sekali! Aku juga sedang mencari tempat makan. Kalau begitu, ayo kita cari makan bareng saja ya?" ajak Citra dengan ramah dan antusias.

"Setuju! Ide bagus sekali!" jawab Jaka bersemangat, langsung menyetujui ajakan itu.

Sementara itu, Raga hanya bisa tersenyum canggung dan menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya itu.

Citra adalah anak satu-satunya dari pengepul barang bekas terbesar di wilayah ini, tepatnya di kawasan Tepi Kali. Sosoknya dikenal cantik, kaya, dan cerdas. Citra sendiri sudah lama tertarik pada Raga, bukan hanya karena ketampanannya yang alami dan karakternya yang tenang, tapi juga karena kesederhanaannya. Setiap kali Raga datang untuk menjual barang rongsokan, Citra pasti akan menyambutnya dengan senyum paling ramah, bahkan sering kali ia meminta ayahnya untuk melebihkan timbangan barang Raga agar pemuda itu mendapat uang lebih banyak.

Ayah Citra sangat menyayangi putri semata wayangnya itu, apalagi sejak ibunya meninggal dunia, sehingga apa pun yang diminta Citra pasti akan ia turuti.

"Ngomong-ngomong," Citra kembali berbicara sambil tetap mengendarai motornya sejajar dengan mereka. "Aku dengar kabar dari Bu Mira ya... katanya tadi siang kalian berkelahi dengan Leo dan Soni? Dua orang dari kelompok yang suka bikin onar itu?"

"Iya, benar! Dan Raga berhasil mengalahkan mereka berdua sendirian lho! Hebat sekali bukan?" sahut Jaka dengan bangga, seolah dialah yang memenangkan pertarungan itu.

"Itu hanya kebetulan saja, mereka terlalu meremehkan kami," jawab Raga merendah.

Namun mendengar hal itu, rasa kagum Citra terhadap Raga semakin bertambah berkali-kali lipat.

Ternyata selain tampan dan sopan, Raga juga jago berkelahi... hebat sekali dia, batin Citra dalam hati, menatap punggung Raga dengan pandangan yang semakin memuja.

Mereka bertiga pun akhirnya berhenti di sebuah pedagang nasi goreng pinggir jalan yang masih buka larut malam. Tiga piring nasi goreng hangat pun tersaji di meja kayu sederhana itu. Jaka makan dengan sangat lahapnya seolah belum makan tiga hari lamanya. Sebaliknya, Raga justru terlihat melamun, memutar-mutar sendok di atas tumpukan nasi yang beraroma sedap itu tanpa menyentuhnya.

"Hhh... astaga, gantengnya bukan main... kalau saja dia tahu aku suka sama dia..." gumam Citra pelan dalam hatinya, tersenyum sendiri sambil terus menatap wajah Raga tanpa sadar.

"Eh, kalian berdua kok diam saja? Kenapa tidak dimakan nasinya?" tanya Jaka dengan mulut penuh nasi goreng, bergantian menatap Citra dan Raga.

Citra pun hanya terkekeh malu sambil menundukkan wajahnya.

 

Sementara mereka bertiga sedang menikmati waktu santai, suasana di pemukiman pinggiran kota, dekat tempat pembuangan sampah, berubah menjadi neraka dalam sekejap.

Sekelompok besar preman berdatangan dengan kendaraan besar, mengacak-ngacak gubuk-gubuk warga, bahkan beberapa rumah sudah mulai terbakar oleh obor yang mereka bawa. Teriakan ketakutan warga terdengar bersahutan.

Di tengah keributan itu, berdiri seorang laki-laki bertubuh kekar, kulitnya tertutup berbagai gambar tato yang menakutkan. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang, tatapannya sangat sangar dan berwibawa di hadapan anak buahnya.

Ia adalah Draxen Varga, ketua geng Kepala Ular. Kelompoknya adalah penguasa wilayah itu, bahkan memiliki kendali di beberapa daerah lain di Kota Valora. Dan tentu saja, Leo serta Soni adalah anak buah kepercayaannya yang bertugas mengawasi wilayah kumuh ini.

"Cepat! Kumpulkan semua penghuni tempat ini di lapangan tengah! Jangan ada yang bersembunyi!" perintah Draxen dengan suara menggelegar.

Anak buahnya bergerak cepat, mengerahkan seluruh warga—laki-laki, perempuan, tua, dan muda—dikumpulkan di satu tempat terbuka. Kota Valora memang dikenal sebagai kota besar yang indah namun berbahaya, di mana kelompok gengster dan mafia berkuasa penuh.

Dahulu, sebelum ayah kandung Raga tewas dibantai, dialah penguasa mutlak Kota Valora. Semua kelompok kriminal, mulai dari geng kecil hingga organisasi besar, semuanya tunduk dan patuh di bawah kekuasaan ayah Raga. Namun, sejak kematian tragis itu, kekuasaan yang kosong itu memicu perang besar. Berbagai kelompok saling berebut kekuasaan, dan Draxen Varga adalah salah satu yang kini mulai berani memperluas wilayah kekuasaannya.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Tembakan Kematian

    Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir."Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telap

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Gelang Hitam Misterius

    Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal."Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Kekuatan Raja Serigala

    Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani m

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Membangunkan Serigala Yang Tertidur

    Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisan!" suara Draxen menggelegar, terdengar jelas oleh semua orang. "Kalian semua pasti tahu siapa yang melakukannya! Ingatlah baik-baik, aku adalah Draxen Varga, pemimpin Kelompok Kepala Ular! Siapa saja yang berani menginjak-injak harga diri kelompokku, aku pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini!" Suasana menjadi hening total. Warga hanya bisa menunduk gemetar, keringat dingin bercucuran dari kepala hingga kaki. Beberapa perempuan ada yang mulai menangis tertahan ketakutan. Di antara kerumunan itu, ada Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia juga menunduk, namun tubuhnya tidak gemetar sedikit pun. Justru di dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sudah kuduga...

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Mencari Angin Segar

    Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai pengemudi, sementara Raga duduk di belakang, menikmati semilir angin malam."Ka... perutmu masih terasa sakit?" tanya Raga memecah keheningan, nada suaranya sedikit khawatir.Jaka tertawa kecil sambil tetap menyetir santai. "Hahaha, tendangan lemah seperti itu mana mungkin bikin aku sakit lama, Ra! Aku ini kan Jaka yang tangguh, ingat itu!"Namun kemudian nada bicaranya berubah menjadi antusias. "Tapi ngomong-ngomong... kamu hebat juga ya! Selama kita berteman akrab dari kecil, baru kali ini aku lihat kamu bertarung. Dua orang preman yang sok jago itu sampai babak belur di tanganmu saja. Luar biasa!"Raga hanya tersenyum tipis di kegelapan malam. "Mungkin karena saat itu aku sedang sangat la

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Amarah Yang Meledak

    Leo melangkah maju, menatap keduanya dengan pandangan yang seolah ingin membunuh. "Diam saja kalau tidak mau celaka. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kami patahkan leher kalian satu per satu!" Namun, Raga sama sekali tidak bergeming. Seolah tak mendengar ancaman mengerikan itu, ia berjalan santai melewati kedua preman yang berbadan besar itu, lalu duduk tenang di bangku kayu yang kosong. "Bu Mira, saya merasa sangat lapar. Tolong buatkan makanan seperti pesanan saya yang biasa ya," ucap Raga dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah, seolah tak ada orang lain yang berbahaya di ruangan itu selain dirinya dan pemilik warung. Bu Mira yang sedari tadi diam ketakutan hanya bisa mengangguk gugup. "Ba... baik, Nak Raga. Sebentar ya, akan Ibu siapkan." BRAKKK!!! Leo menggebrak meja tepat di depan wajah Raga. Ia membungkukkan badannya, wajahnya mendekat hingga jaraknya hanya satu senti dari wajah Raga. Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat keluar dari napasnya sangat men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status