MasukPukul 21.00 malam.
Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai pengemudi, sementara Raga duduk di belakang, menikmati semilir angin malam. "Ka... perutmu masih terasa sakit?" tanya Raga memecah keheningan, nada suaranya sedikit khawatir. Jaka tertawa kecil sambil tetap menyetir santai. "Hahaha, tendangan lemah seperti itu mana mungkin bikin aku sakit lama, Ra! Aku ini kan Jaka yang tangguh, ingat itu!" Namun kemudian nada bicaranya berubah menjadi antusias. "Tapi ngomong-ngomong... kamu hebat juga ya! Selama kita berteman akrab dari kecil, baru kali ini aku lihat kamu bertarung. Dua orang preman yang sok jago itu sampai babak belur di tanganmu saja. Luar biasa!" Raga hanya tersenyum tipis di kegelapan malam. "Mungkin karena saat itu aku sedang sangat lapar, jadi amarahku ikut memuncak dan tidak terkontrol," jawabnya santai, berusaha menutupi keanehan kekuatan yang dimilikinya. Malam itu, Raga kembali hanya mengenakan kaos dalam berwarna hitam, memperlihatkan lengan kekarnya yang terpahat alami akibat pekerjaan berat sehari-hari. "Hahaha, alasan klasik!" seru Jaka sambil terkikik. "Tapi aku tahu, kamu marah besar karena mereka menendang aku, kan? Aku dengar jelas kok ucapanmu saat itu." Raga mengangguk pelan. "Itu juga salah satu alasannya, tentu saja." Tiba-tiba, suara deru mesin motor lain terdengar mendekat. Sebuah motor matic mengkilap melaju sejajar dengan motor butut mereka. "Hai, Raga!" sapa seorang wanita muda yang duduk di atas motor itu dengan senyum lebar. Wanita itu cantik, berambut panjang terurai, mengenakan celana pendek dan kemeja panjang yang dibuka sedikit di bagian atas, terlihat berani dan percaya diri. Ia mengendarai motornya sendirian dengan lincah. Namanya adalah Citra. "Hai..." jawab Raga singkat sambil tersenyum sopan. Jaka langsung tersenyum lebar dari telinga ke telinga saat melihat siapa yang menyapa mereka. Matanya berbinar-binar. "Kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Citra lagi. "Kami mau mencari makan, Neng Citra!" sahut Jaka cepat, bahkan sebelum Raga sempat membuka mulut. Raga langsung mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah Jaka dari belakang. Padahal tujuan mereka keluar malam ini hanya sekadar mencari angin dan menghilangkan penat, sama sekali tidak berniat makan. Namun Jaka memang selalu saja mencari alasan agar bisa mengobrol lebih lama dengan Citra. "Kebetulan sekali! Aku juga sedang mencari tempat makan. Kalau begitu, ayo kita cari makan bareng saja ya?" ajak Citra dengan ramah dan antusias. "Setuju! Ide bagus sekali!" jawab Jaka bersemangat, langsung menyetujui ajakan itu. Sementara itu, Raga hanya bisa tersenyum canggung dan menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya itu. Citra adalah anak satu-satunya dari pengepul barang bekas terbesar di wilayah ini, tepatnya di kawasan Tepi Kali. Sosoknya dikenal cantik, kaya, dan cerdas. Citra sendiri sudah lama tertarik pada Raga, bukan hanya karena ketampanannya yang alami dan karakternya yang tenang, tapi juga karena kesederhanaannya. Setiap kali Raga datang untuk menjual barang rongsokan, Citra pasti akan menyambutnya dengan senyum paling ramah, bahkan sering kali ia meminta ayahnya untuk melebihkan timbangan barang Raga agar pemuda itu mendapat uang lebih banyak. Ayah Citra sangat menyayangi putri semata wayangnya itu, apalagi sejak ibunya meninggal dunia, sehingga apa pun yang diminta Citra pasti akan ia turuti. "Ngomong-ngomong," Citra kembali berbicara sambil tetap mengendarai motornya sejajar dengan mereka. "Aku dengar kabar dari Bu Mira ya... katanya tadi siang kalian berkelahi dengan Leo dan Soni? Dua orang dari kelompok yang suka bikin onar itu?" "Iya, benar! Dan Raga berhasil mengalahkan mereka berdua sendirian lho! Hebat sekali bukan?" sahut Jaka dengan bangga, seolah dialah yang memenangkan pertarungan itu. "Itu hanya kebetulan saja, mereka terlalu meremehkan kami," jawab Raga merendah. Namun mendengar hal itu, rasa kagum Citra terhadap Raga semakin bertambah berkali-kali lipat. Ternyata selain tampan dan sopan, Raga juga jago berkelahi... hebat sekali dia, batin Citra dalam hati, menatap punggung Raga dengan pandangan yang semakin memuja. Mereka bertiga pun akhirnya berhenti di sebuah pedagang nasi goreng pinggir jalan yang masih buka larut malam. Tiga piring nasi goreng hangat pun tersaji di meja kayu sederhana itu. Jaka makan dengan sangat lahapnya seolah belum makan tiga hari lamanya. Sebaliknya, Raga justru terlihat melamun, memutar-mutar sendok di atas tumpukan nasi yang beraroma sedap itu tanpa menyentuhnya. "Hhh... astaga, gantengnya bukan main... kalau saja dia tahu aku suka sama dia..." gumam Citra pelan dalam hatinya, tersenyum sendiri sambil terus menatap wajah Raga tanpa sadar. "Eh, kalian berdua kok diam saja? Kenapa tidak dimakan nasinya?" tanya Jaka dengan mulut penuh nasi goreng, bergantian menatap Citra dan Raga. Citra pun hanya terkekeh malu sambil menundukkan wajahnya. Sementara mereka bertiga sedang menikmati waktu santai, suasana di pemukiman pinggiran kota, dekat tempat pembuangan sampah, berubah menjadi neraka dalam sekejap. Sekelompok besar preman berdatangan dengan kendaraan besar, mengacak-ngacak gubuk-gubuk warga, bahkan beberapa rumah sudah mulai terbakar oleh obor yang mereka bawa. Teriakan ketakutan warga terdengar bersahutan. Di tengah keributan itu, berdiri seorang laki-laki bertubuh kekar, kulitnya tertutup berbagai gambar tato yang menakutkan. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang, tatapannya sangat sangar dan berwibawa di hadapan anak buahnya. Ia adalah Draxen Varga, ketua geng Kepala Ular. Kelompoknya adalah penguasa wilayah itu, bahkan memiliki kendali di beberapa daerah lain di Kota Valora. Dan tentu saja, Leo serta Soni adalah anak buah kepercayaannya yang bertugas mengawasi wilayah kumuh ini. "Cepat! Kumpulkan semua penghuni tempat ini di lapangan tengah! Jangan ada yang bersembunyi!" perintah Draxen dengan suara menggelegar. Anak buahnya bergerak cepat, mengerahkan seluruh warga—laki-laki, perempuan, tua, dan muda—dikumpulkan di satu tempat terbuka. Kota Valora memang dikenal sebagai kota besar yang indah namun berbahaya, di mana kelompok gengster dan mafia berkuasa penuh. Dahulu, sebelum ayah kandung Raga tewas dibantai, dialah penguasa mutlak Kota Valora. Semua kelompok kriminal, mulai dari geng kecil hingga organisasi besar, semuanya tunduk dan patuh di bawah kekuasaan ayah Raga. Namun, sejak kematian tragis itu, kekuasaan yang kosong itu memicu perang besar. Berbagai kelompok saling berebut kekuasaan, dan Draxen Varga adalah salah satu yang kini mulai berani memperluas wilayah kekuasaannya.Sosok tuan muda tampan dan berkarisma memasuki gedung pencakar langit bersama dengan dua orang kepercayaannya."Paman Dave, kita menjamu mereka di lantai berapa?" Tanya Raga."Di lantai tiga, tempat kita melakukan rapat beberapa hari yang lalu." Jawab Dave.Raga melihat ke arah sekitarnya, ternyata gedung miliknya sudah cukup ramai."Apakah mereka para pegawai baru?" Tanya Raga yang baru melihat wajah orang-orang di gedungnya."Mereka semua memang para pegawai baru, selain menjadi pusat kantor dari tiga perusahaan milik Tuan Muda, gedung ini tentunya menjadi apartemen mewah bagi orang-orang kaya di Kota Valora, sudah banyak kamar yang terjual." Jelas Dave.Melihat kedatangan bos mereka, para pegawai di gedung tersebut bergegas mendekati Raga, Harry, dan Dave."Selamat datang Tuan Muda," Ucap mereka sambil menundukkan kepalanya."Terimakasih....... sekarang kembalilah ke pekerjaan kalian." Raga menjawab dengan ramah, tersenyum tulus ke arah para pegawainya.Benar-benar tidak disangka,
Setelah selesai memakan bakmi buatan Paman Mak yang begitu lezat, Raga lantas menanyakan sesuatu kepada Paman Mak."Maaf Paman, apakah pada saat Paman membereskan baju dan pakaian milik Raga, Paman menemukan sebuah kartu nama di dalam kantong celananya Raga?"Paman mencoba untuk mengingat-ngingat terlebih dahulu. "Hmmm,,, kartu nama? Sepertinya Paman tidak menemukan apapun selain pakaianmu.""Jadi... Paman Mak tidak melihat kartu nama itu." Raut wajah Raga nampak sedikit kecewa."Memangnya kartu nama siapa yang sedang kau cari?" Tanya balik Paman Mak."Kartu nama milik seseorang yang bernama Bayu Pratama," Jawab Raga."Sepertinya Paman pernah mendengar nama seseorang yang baru saja kau sebutkan! Bayu Pratama?" Kata Paman Mak."Paman tentu mengenalnya, Bayu Pratama merupakan salah satu pimpinan dari kelompok mafia Naga Langit, tangan kanannya Jack Draco." Tutur Raga."Iyaa..... Paman baru ingat, Bayu Pratama dan Jack Draco yang pernah menguasai wilayah barat Kota Valora."Awalnya Raga
"Raga, apakah itu kamu?" Tanya seorang wanita yang baru saja turun dari mobil, memanggil Raga dengan suara pelan.Secara spontan Raga langsung melihat ke arah belakang."Tante Tania!" Raga cukup terkejut dengan kemunculan sosok Tante Tania yang pernah menjadi bosnya."Raga! Ternyata benar kamu!" Tante Tania merasa sangat girang karena dugaannya benar.Tante Tania langsung memeluk Raga dengan sangat erat sampai membuat Raga sulit untuk bernapas."Tante sangat senang sekali bisa bertemu denganmu kembali, selama kamu tidak ada tante merasa sangat rindu sekali kepadamu.""Tante juga sangat mengkhawatirkan kondisimu ketika dibawa oleh para bajingan itu, sampai tante tidak bisa tidur."Tante Tania justru mencurahkan isi hatinya selama ditinggal oleh Raga."Uhuk..... Tante Tania, tolong lepaskan pelukannya, Tante....." Pinta Raga dengan nada lirih.Tante Tania langsung melepaskan pelukannya."Huuuup..... Haaaaah!!!" Raga langsung menarik napas dalam-dalam untuk melebarkan paru-parunya kembal
"Apakah kau mengenal pemuda yang barusan?" Tanya Raga menatap datar Elsa."Alex, namanya adalah Alex Tunder, ketua kelompok gengster Red Tunder, dia juga merupakan anak dari salah satu pengusaha terkaya di Kota Valora." Jawab Elsa langsung merasa salah tingkah ketika ditatap oleh Raga."Pantas saja sikapnya amat begitu sombong..... Tapi pemuda itu sepertinya sangat patuh dengan perkataanmu,""Hehe....." Elsa menundukkan kepalanya ke arah bawah, bertanya di dalam hatinya. "Huh..... kenapa aku malah jadi grogi seperti ini apabila bertatapan langsung dengannya?"Sementara itu Raga mengalihkan pandangannya ke arah mobilnya Elsa. "Mobil yang sama dengan yang aku lihat pada saat berada di pemakaman, jangan-jangan perempuan ini adalah........"Raga menyadari sesuatu kalau perempuan yang sedang berada di hadapannya adalah Elsa Lion yang sudah diceritakan oleh Harry."Sekali lagi terimakasih sudah membantuku mengusir berandalan itu dan menemukan kunci motorku, aku pergi dulu...." Ucap Raga ter
Orang-orang yang menyaksikan Alex terpental karena tinjunya Raga langsung merasa syok. Seorang pemuda biasa yang diremehkan oleh Alex justru bisa membuatnya terjatuh hanya dengan sekali pukulan. "Kurang ajar, kuat sekali pukulan pemuda itu, kedua lenganku sampai terasa linu." Ucap Alex sambil bangkit kembali. Lengan Alex yang terkena tinjunya Raga nampak memerah. "Sekarang kita sudah impas," Raga melebarkan kembali telapak tangannya. "Jangan bercanda, kau sudah berani memukulku itu artinya kau menantangku." Sahut Alex merasa tidak terima. "Baiklah kalau begitu aku akan melayanimu sampai kau puas," Raga membuka helmnya dan meletakkannya di atas jok motor. Setelah melihat wajah Raga seutuhnya, Alex merasa sangat terkejut. "Bukankah dia adalah seorang pemuda yang ada di dalam video itu?" Ternyata Alex juga melihat videonya Raga membuat gempar Kota Valora. "Rupanya perkiraanku salah kau bukanlah pemuda miskin, bukankah kau adalah seorang pemuda yang baru saja mendirikan
Di sebuah ruangan yang berada di lantai tiga, Raga dan semua orang yang berada di bawah kendalinya melakukan rapat pada meja bundar.Raga berdiri dengan gagah, pandangannya sangat-sangat berwibawa."Terimakasih sudah melakukan ini semua demi kebangkitan keluarga Wicaksono dan demi kebangkitan kelompok kita.""Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan dari kalian, pengetahuanku tentang bisnis tentu sangat tidak bisa diharapkan.""Tapi dengan adanya kalian, aku sangat yakin bisnis kita akan berjalan dengan sangat pesat dalam waktu yang cepat.""Kita akan membangun sebuah kekuatan yang tidak bisa terkalahkan, bukan karena aku haus kekuasaan, tapi karena ada tembok besar yang harus kita robohkan."Raga sedikit memberikan sambutan untuk menyemangati orang-orang yang berjuang bersamanya."Kita pasti bisa melakukannya, bendera dengan lambang Sembilan Matahari akan berkibar di setiap sudut Kota Valora." Sahut salah satu orang yang tergabung dalam lima puluh anggota pasukan khusu
Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.S
Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa ya
Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?"
Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisa






