LOGINHujan turun perlahan di luar jendela. Tetesannya menari di atas atap seng, menciptakan irama yang dulu bisa membuat Nayla tertidur pulas. Tapi malam ini berbeda. Hujan bukan lagi lagu nina bobo, melainkan denting-denting kesepian yang memantul di dinding hatinya.
Di atas ranjang tipis itu, Nayla duduk bersandar pada dinding yang dingin. Tubuhnya lelah luar biasa. Tulang punggungnya nyeri karena duduk terlalu lama menjahit seragam pesanan pelanggan. Tangan kanannya masih terasa panas akibat setrika rusak yang menyemburkan uap tak teratur. Dan di matanya, kelelahan itu tak hanya berasal dari tubuh—tapi dari hati yang mulai retak, perlahan.
Ponselnya tergeletak di samping dompet tipis berisi uang kertas lima puluh ribu yang terlipat rapi. Uang itu adalah sisa dari pengiriman paket tadi sore. Nayla ingat betul ekspresi remeh dari ibu-ibu pelanggan yang berkata, “Masa ongkir segini mahal banget, padahal bajunya biasa aja.” Nayla hanya tersenyum, menunduk, dan mengangguk seperti biasa.
Lalu ia membaca pesan terakhir dari Galan:
"Malam ini aku pulang telat. Jangan tungguin ya."
Begitu singkat. Dingin. Seperti pesan dari rekan kerja, bukan dari seseorang yang dulu pernah menangis dalam pelukannya, berjanji ingin sukses bersama, dan bilang, “Kita akan melewati semuanya bareng.”
Tapi benarkah mereka masih ‘kita’?
Nayla memeluk lututnya, membiarkan kepala bersandar di antara kedua lengannya. Di luar, suara kendaraan lewat sesekali terdengar samar. Sementara dalam pikirannya, satu suara terus menggaung:
"Masih adakah aku… dalam hidupnya?"
**
Waktu bergerak pelan malam itu.
Jam berdetak pelan di dinding, seperti menertawai kesepiannya. Pukul sepuluh lewat. Lalu sebelas. Kemudian setengah satu.
Nayla tak tidur. Ia hanya duduk, sesekali berjalan ke dapur dan minum air putih untuk menahan lapar. Uang lima puluh ribu itu ia simpan rapat-rapat—itu harus cukup untuk bertahan dua hari ke depan, hingga honor les privat berikutnya cair.
Ia membuka ponsel dan mengetik pesan:
“Kamu sudah makan?”
Tapi tak jadi ia kirim. Ia hapus, lalu mengetik lagi:
“Kapan pulang?”
Tapi jari-jarinya berhenti di atas tombol kirim.
Ia tak ingin terdengar seperti pengganggu. Tidak ingin seperti wanita posesif yang tak mengerti dunia profesional. Bukankah itu yang sering Galan sampaikan akhir-akhir ini?
"Aku butuh ruang, Nay. Kamu harus ngerti. Ini bukan soal kamu—ini soal masa depan."
Masa depan.
Dulu kata itu begitu indah diucapkan bersama. Tapi sekarang, Nayla tak yakin apakah ia masih termasuk di dalamnya.
**
Pukul dua dini hari, suara motor terdengar mendekat. Nayla bangkit dan menyibak tirai jendela. Benar. Itu Galan.
Ia buru-buru membuka pintu sebelum Galan mengetuk, takut suara ketukan mengganggu tetangga kos lain.
Galan terlihat lelah, tapi senyumnya tipis. Ia mencium pipi Nayla sekilas—tanpa pelukan, tanpa tatapan hangat seperti dulu.
“Aku lapar,” katanya sambil melepas sepatu.
“Belum makan?” Nayla bertanya pelan.
“Baru sempat ngopi doang. Tadi diskusinya sampai panjang banget. Alya bawa temannya yang anak VC (Venture Capital). Jadi ya... aku harus stay terus. Ngerti, kan?”
Nayla mengangguk. Ia masuk ke dapur dan memanaskan nasi sisa tadi siang, menggoreng telur, dan menambahkan sambal botolan. Di meja, ia menyiapkan piring dan segelas air.
Galan makan lahap, sementara Nayla duduk di seberang, menatapnya dalam diam.
“Kayaknya pitch-ku bakal didengar sama orang penting minggu depan. Kalau deal ini jadi, bisa dapet funding awal 100 juta, Nay,” ucap Galan antusias di sela suapan.
Nayla tersenyum kecil. “Aku senang dengarnya.”
Tapi Galan tidak menatapnya.
Ia sibuk membuka ponsel, membalas pesan, mungkin dari Alya atau tim startup-nya. Mungkin soal ide baru, kemasan produk, atau pertemuan lanjutan. Nayla tak tahu pasti. Dan entah kenapa, ia tak ingin tahu.
Karena malam ini, ia terlalu letih untuk berharap.
**
Setelah Galan tidur, Nayla berdiri di depan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri—kulit kusam, mata sembab, bibir pucat. Dulu Galan sering bilang, “Kamu cantik meski pakai daster.” Tapi sudah lama kalimat itu tak terdengar lagi.
Ia membuka dompetnya. Lima puluh ribu rupiah. Itu harga yang ia bayarkan hari ini: untuk kesetiaan, kelelahan, dan rasa sunyi yang menyesakkan.
Kemudian matanya tertuju pada selembar kertas kecil yang terselip di antara uang receh. Sebuah catatan tua, tulisan tangan Galan di awal perjuangan mereka:
“Suatu hari nanti, aku akan sukses dan memperkenalkan kamu ke dunia sebagai wanita yang berdiri di sampingku sejak awal.”
Tangannya gemetar memegang kertas itu.
Karena hari yang dijanjikan itu... terasa semakin jauh.
Dan ia pun bertanya pada dirinya sendiri:
"Apakah aku masih cukup berharga di matanya? Atau hanya bayangan dari masa lalu yang ia toleransi karena rasa kasihan?"
**
Pagi datang, tapi kehangatan tak ikut serta.
Nayla menyiapkan kopi untuk Galan, lalu mencuci pakaian sebelum pergi mengajar. Di halte, ia duduk menunggu angkot dengan tubuh lunglai, tapi kepala penuh pertanyaan.
Di seberang jalan, ia melihat pasangan muda berjalan sambil tertawa. Pria itu membawakan tas sang wanita, sesekali menatapnya lembut. Wajah mereka berseri, seperti tak pernah merasakan lelah.
Nayla menunduk.
Bukan karena iri, tapi karena ia lupa kapan terakhir kali ia merasa seperti itu.
**
Hari itu, usai mengajar, Nayla duduk sendirian di taman kecil dekat tempat les. Di pangkuannya, ia membuka buku tulis tempat ia mencatat target pengeluaran harian. Ia menghitung, mencoret, lalu menghitung lagi.
Jika les minggu depan dibayar tepat waktu, dan tak ada pengeluaran mendadak, mungkin ia bisa beli vitamin. Atau sekadar masker wajah murah. Mungkin dengan itu, ia bisa terlihat lebih segar di mata Galan. Mungkin...
Tapi pikirannya tertahan.
“Kenapa aku harus berubah agar tetap dipandang orang yang dulu bilang mencintaiku apa adanya?” gumamnya lirih.
Pertanyaan itu datang tanpa ia undang. Tapi pertanyaan itu juga yang menuntut jawaban, malam itu, di atas ranjang tipis, di kamar kos yang sunyi.
Ia memegang dadanya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Nayla mengakui:
Cinta ini sedang tertatih. Bukan karena ia menyerah. Tapi karena terlalu lama berjalan sendirian.
Surat itu datang di pagi yang cerah, dibawa oleh kurir bersetelan rapi. Nayla baru saja selesai menyiram tanaman ketika amplop putih bersegel kementerian itu disodorkan padanya.“Untuk Ibu Nayla Pradipta,” ujar kurir itu sopan.Nayla menerimanya dengan kening sedikit mengernyit. Jarang sekali ia mendapat surat fisik. Hampir semuanya kini digital. Tapi amplop ini—bersegel emas, dengan logo kementerian yang tidak asing—jelas berbeda.Ia membuka perlahan. Harra yang sedang makan roti di meja ruang makan memperhatikan dengan rasa ingin tahu.“Apa itu, Ma?”Nayla tidak langsung menjawab. Matanya membaca isi surat dengan hati yang tiba-tiba terasa berat.Program Nasional Pemberdayaan Perempuan Muda.Mentor utama.Kisah inspiratif.Percontohan ketahanan perempuan di sektor bisnis dan sosial.Kalimat-kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada tampak di kertas.Harra bangkit, berjalan menghampiri, lalu membaca dari samping. Bibirnya terangkat membentuk senyum yang ia coba tahan—tapi gagal.“
Hujan semalam telah berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan udara yang tenang. Kota masih dalam fase bangun—lampu jalan mulai padam satu per satu, dan suara kendaraan mulai terdengar perlahan di kejauhan. Di ruang kerjanya yang masih setengah gelap, Nayla duduk dengan secangkir kopi yang belum tersentuh.Ponselnya bergetar.Satu pesan masuk. Dari Alya.“Kamu akan melihat… dunia tidak selalu adil.”Tidak adaemoji, tidak ada tanda tanya, tidak ada jeda. Hanya kalimat dingin yang terasa seperti ujung dari sesuatu yang panjang.Nayla menatap layar itu lama. Dulu, pesan seperti ini bisa membuat hatinya bergetar—antara amarah, rasa bersalah, dan luka lama yang belum sembuh. Tapi kali ini, ia hanya membaca. Tanpa reaksi.Tangannya bergerak tenang, menekan tombol hapus pesan.Tidak dengan dendam. Tidak dengan kepuasan. Hanya… selesai.Ia menghela napas, menatap jendela besar yang memperlihatkan matahari pelan-pelan naik di balik gedung-gedung tinggi.“Dunia memang nggak selalu adil,” gumam
Hujan turun tanpa jeda sore itu. Langit Jakarta gelap, seperti menyesuaikan diri dengan kabar yang memenuhi headline: “Alya Wijaya Diduga Menyebar Fitnah terhadap Tokoh Bisnis Muda, Nayla Rachman.”Di layar-layar televisi kafe, di portal berita, bahkan di grup-grup bisnis, nama Alya kembali menjadi bahan pembicaraan—bukan karena prestasi, melainkan karena kebohongan.Ia pikir, satu rumor kecil bisa mengguncang reputasi Nayla. Ia pikir dunia masih sama seperti dulu, ketika satu bisikan saja bisa mengubah arah opini publik. Tapi dunia telah berubah. Dan Nayla bukan lagi perempuan yang bisa dijatuhkan dengan gosip murahan.Alya duduk di halte kosong di pinggir jalan, menatap langit yang meneteskan air seperti mengolok-oloknya. Mantelnya sudah basah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan ponselnya berkali-kali bergetar—bukan panggilan bantuan, tapi notifikasi berita baru yang menulis ulang kebohongannya.Ia membuka satu per satu.“Alya Wijaya kembali gagal membersihkan nama.”“Nayla Rachm
Angin sore membawa aroma tanah basah dari halaman rumah sakit. Langit baru saja berhenti menangis, tapi tanah masih menyimpan jejak hujan yang deras. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil rumah sakit itu, Nayla duduk dengan jaket abu-abu, menatap ke arah danau buatan yang permukaannya bergetar lembut diterpa angin.Langkah cepat terdengar dari arah belakang. Alya datang, mantel lusuhnya kini tampak lebih kusam karena air hujan, rambutnya berantakan, wajahnya letih. Tapi yang paling mencolok bukan penampilannya — melainkan matanya. Ada sesuatu yang baru di sana: bukan lagi amarah, melainkan kepanikan.“Aku butuh bantuanmu, Nayla,” katanya terburu-buru, tanpa basa-basi.Nayla menoleh pelan. “Bantuan apa?”Alya menelan ludah. “Perusahaanku… sudah di ujung. Investor mundur semua. Rekening dibekukan. Aku… aku nggak punya siapa-siapa lagi.”Suara itu nyaris pecah. “Kau tahu rasanya, kan? Ketika semua orang menjauh begitu saja.”Nayla menatap lurus, ekspresinya sulit ditebak. “Aku t
Hujan turun pelan malam itu, membasahi halaman depan gedung rumah sakit. Lampu-lampu parkir memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah. Di bawah atap kecil dekat lobi, dua perempuan berdiri berhadapan—bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.Alya masih mengenakan mantel lusuhnya. Rambutnya basah, bibirnya pucat, tapi matanya menyala—bukan oleh kehidupan, melainkan oleh amarah yang terlalu lama dipendam.Nayla berdiri tegak di depannya, tenang, dengan payung kecil di tangan kanan dan tatapan lembut yang tidak menghindar.Beberapa jam sebelumnya, keduanya sama-sama menerima kabar: Galan Prasetya, lelaki yang pernah mengikat dan menghancurkan keduanya, dirawat dalam keadaan kritis setelah kecelakaan di jalan tol. Dunia yang dulu mengikat mereka dalam lingkaran ambisi dan luka kini menarik keduanya kembali ke tempat yang sama.Dan di situlah, di depan pintu rumah sakit, semua yang tak pernah diucapkan akhirnya meledak.“Kenapa kamu datang?” suara Alya pecah di antara
Langit sore itu memantulkan warna oranye lembut ketika acara kewirausahaan tahunan diadakan di aula besar Hotel Arya. Spanduk besar bertuliskan “Empowering Women in Business” terpasang di depan panggung. Musik lembut mengalun dari pengeras suara, sementara para tamu—pebisnis muda, investor, dan mahasiswa—berkumpul, menunggu pembicara terakhir naik ke panggung: Nayla Arindya, CEO perempuan yang belakangan ini menjadi simbol kebangkitan bisnis etis dan kepemimpinan empatik di tengah dunia korporat yang keras.Namun di luar gedung yang megah itu, di parkiran yang sudah mulai gelap, seorang perempuan berdiri terpaku di balik tiang beton. Mantelnya lusuh, rambutnya acak-acakan, dan kacamata hitam menutupi mata yang sembab. Di genggamannya, sebuah ponsel dengan layar penuh notifikasi—semuanya tentang dirinya.ALYA PRAMESWARI: BISNISNYA RESMI BANGKRUT, TERLIBAT SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN.INVESTOR MENARIK DANA, PROYEK BESAR GAGAL.Ia membaca judul-judul itu berulang kali, seperti in







