Share

Bab 53

Penulis: Author Receh
last update Tanggal publikasi: 2024-10-10 07:55:41

Di sisi lain, suasana di pemakaman terasa muram. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan pohon di sekitar makam Nadine, membuat suasana semakin hening. Maya berdiri di samping pusara yang masih basah dengan tanah yang baru saja dipadatkan. Di sebelahnya, keponakan kecilnya, Lily, menggenggam erat tangan bibinya, matanya merah dan bengkak karena menangis.

Lily menatap nisan di depannya, tak bisa menahan tangis yang kembali pecah. “Bibi Maya... kenapa Mama harus pergi? Aku pengen Mama balik...”

M
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 86 Ingatan Kembali

    Seminggu kemudian kondisi Daffi semakin membaik. Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya, langkahnya juga jauh lebih stabil meskipun dokter masih melarangnya melakukan aktivitas berat. Kehangatan perlahan kembali memenuhi mansion keluarga Galen. Suara tawa yang sempat menghilang kini terdengar lagi hampir setiap hari. Pagi itu ruang makan dipenuhi aroma sarapan yang baru selesai disiapkan. Mama Sera tampak sibuk mengatur piring, sementara papa Galen membaca koran di ujung meja. Aira sesekali melontarkan candaan yang membuat suasana semakin hidup. Daffi turun dari tangga dengan langkah pelan. Begitu melihatnya, mama Sera langsung tersenyum lebar. "Nah, pangeran tidur sudah bangun." Daffi menggeleng sambil tertawa kecil. "Mama masih menganggap aku anak kecil?" "Di mata Mama, kamu akan selalu jadi anak kecil." "Aduh." "Jangan protes." Semua orang tertawa. Tak lama kemudian Giska muncul dari dapur membawa segelas jus buah. "Ini harus diminum." Daffi menatap gelas itu lalu meng

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 85

    Malam pertama di rumah terasa aneh sekaligus menenangkan buat Daffi, suara jangkrik dari taman belakang, aroma masakan mama Sera yang masih samar di dapur, dan langkah kaki orang-orang yang ia sayangi terdengar begitu nyata sampai dadanya terasa penuh, seperti ada ruang kosong yang perlahan terisi lagi tanpa ia sadar. Ia berbaring menatap langit-langit kamar, lampu tidur temaram, kepalanya masih sesekali nyut-nyutan, tapi yang lebih mengganggu justru potongan-potongan bayangan aneh yang muncul tiba-tiba—suara rem mendecit, kaca pecah, teriakan seseorang. “Ah…” ia meringis pelan sambil memegang pelipis. Tok tok. Pintu diketuk pelan. “Mas, aku masuk ya?” suara Giska lembut dari luar. “Iya… masuk,” jawab Daffi. Giska masuk bawa segelas susu hangat, duduk di tepi ranjang, “Dokter bilang minum ini biar tidurnya nyenyak.” Daffi menerimanya, lalu menatap Giska lama banget. “Ada apa?” tanya Giska kikuk. Daffi menghela napas pelan. “Aku ngerasa bersalah.” “Loh, kenapa?” “Aku nggak

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 84 Kepulangan Daffi dari RS

    Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh lebih ringan, sinar matahari masuk lembut ke kamar rawat, Daffi terbangun perlahan dan mendapati Giska tertidur di kursi dengan kepala bersandar di sisi ranjangnya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi tenang, membuat Daffi menatap lama tanpa sadar bibirnya terangkat tipis.“Giska…” panggilnya pelan.Giska tersentak bangun, langsung berdiri panik, “Mas? Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya cepat-cepat.Daffi menggeleng pelan, “Nggak, aku cuma… kamu semalaman di sini ya?”“Iya,” jawab Giska sambil tersenyum kecil, “aku bilang juga apa, aku nggak ke mana-mana.”Daffi terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Aku nggak inget banyak hal, tapi tiap bangun dan lihat kamu, rasanya kayak pulang.”Kalimat itu membuat mata Giska berkaca-kaca, “Mas jangan ngomong gitu pagi-pagi,” katanya sambil tertawa kecil yang bergetar, “aku bisa nangis lagi.”Tak lama kemudian mama Sera dan papa Galen masuk membawa sarapan, mama Sera langsung mendeka

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 83 Ketegaran Gisha

    Pagi merambat masuk lewat celah jendela ICU, cahaya tipis menyentuh wajah Daffi yang kini terlihat sedikit lebih hidup meski tubuhnya masih dipenuhi selang, mama Sera duduk di samping ranjang sejak subuh dengan tangan tak lepas menggenggam jemari putranya, sementara papa Galen berdiri menyandarkan bahu ke dinding, matanya terus mengawasi setiap gerak kecil yang terjadi.Daffi mengerjap pelan, napasnya terdengar lebih teratur, “Ma…” panggilnya lirih lagi, kali ini lebih jelas.Mama Sera langsung condong, suaranya bergetar tapi hangat, “Iya, Nak… Mama di sini, kamu jangan banyak ngomong dulu ya.”Daffi mengangguk tipis, lalu matanya bergeser mencari, berhenti pada sosok Giska yang duduk tak jauh darinya, “Kamu… capek?” tanyanya polos, seolah tak tahu sudah berapa lama gadis itu menangis demi dirinya.Giska tersenyum sambil menyeka air mata, “Nggak, aku malah lega kamu bangun,” jawabnya cepat, takut suaranya pecah lagi.Dokter masuk dengan map di tangan, memeriksa kondisi sambil berkata

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 82 Daffi bangun?

    Pagi menjelang dengan langkah pelan, bau kopi pahit bercampur aroma antiseptik menyelimuti lorong rumah sakit, mama Sera masih di kursi yang sama, tak tidur semalaman, matanya merah tapi sorotnya tetap bertahan, “Dokter bilang apa lagi?” tanyanya begitu dokter jaga keluar dari ICU.Dokter menghela napas singkat, “Kondisinya stabil, tapi belum ada tanda sadar. Kita tunggu respons otaknya,” ucapnya hati-hati.Giska menunduk, jarinya saling mengait, “Mas Daffi kuat, Dok… dia pasti bangun,” katanya seperti meyakinkan diri sendiri.Tak lama, suara langkah tergesa terdengar, Aira datang dengan wajah pucat, “Mama… Papa…” suaranya pecah saat melihat kondisi sekitar, “Kak Daffi gimana?”Mama Sera langsung berdiri dan memeluk putrinya, “Doain kakakmu ya, Sayang… dia lagi berjuang.”Di sisi lain lorong, dua polisi mendekat ke papa Galen, suara mereka rendah namun tegas, “Pak, kami sudah mengamankan Lily. Beberapa bukti baru menguatkan keterlibatannya.”Papa Galen mengangguk dingin, “Lanjutkan. J

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 81 Kesedihan semua orang

    Koridor rumah sakit yang dingin itu kembali riuh ketika mama Sera dan papa Galen datang dengan langkah tergesa, wajah keduanya pucat dan napas tersengal karena panik setelah menerima telepon Giska yang suaranya gemetar, mama Sera langsung menghampiri Giska begitu melihatnya duduk lemas di bangku tunggu dengan tangan berlumur darah kering, “Giska… anakku… Daffi gimana keadaannya?” suaranya bergetar sambil memegang bahu menantunya itu, sementara papa Galen berdiri di samping mereka dengan rahang mengeras, matanya tajam menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Giska menelan ludah, air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan, “Masih di dalam, Ma… dokter bilang lukanya parah, kepalanya kena benturan keras, tangannya patah… aku takut…” ucapnya terbata, dan seketika mama Sera memeluk Giska erat, menepuk punggungnya pelan seolah mencoba menyalurkan kekuatan, “Sst… kamu harus kuat, Daffi anak kuat, dia darah Galen, dia nggak bakal gampang kalah,” ucapnya meski suaranya sendiri ber

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 56 Season 2 Part 3

    Pagi itu, Daffi sedang duduk di kafe kecil dekat kampus bersama Giska, pacarnya. Suasana tampak ceria, keduanya sedang membahas rencana liburan. Giska, yang selalu penuh energi, tertawa saat menceritakan rencana perjalanan ke pantai. “Daffi, kamu harus coba surfing! Seru banget!” Giska menepuk pund

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 31

    Setelah tiba di pulau eksotis yang dipenuhi dengan pemandangan alam yang menakjubkan, Galen dan Sera merasa seperti memasuki dunia yang berbeda—tempat di mana beban kehidupan seakan lenyap dan hanya ada kedamaian. Angin laut yang sepoi-sepoi, aroma garam yang menyegarkan, dan suara ombak yang lembut

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 20

    Setelah situasi di luar mansion mulai reda, Galen kembali ke ruang tamu di mana Sera masih duduk di sofa dengan tatapan kosong. Dia duduk di sampingnya, menyentuh tangan Sera dengan lembut, mencoba memberikan kenyamanan di tengah kekacauan yang mereka hadapi. “Sera,” Galen mulai dengan suara lembut,

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 19

    Beberapa hari kemudian, Annisa duduk di ruang tamunya, menatap ponselnya dengan penuh ketegangan. Dia menunggu kabar dari Fikri tentang langkah berikutnya dalam rencananya mencelakai Sera. Rani, yang duduk di sebelahnya, tampak gelisah.“An, kamu yakin mau lanjut dengan rencana ini? Ini bisa berbahay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status