Share

Bab 89 Terkuak?

Author: Author Receh
last update publish date: 2026-09-06 19:11:31

Jari Daffi terus bergerak di atas keyboard.

Satu demi satu karakter dimasukkan.

Layar berkedip.

ACCESS DENIED.

Daffi terdiam.

“Bukan ini...” gumamnya.

Hitungan mundur terus berjalan.

01:17.

Arga mulai panik.

“Pak Daffi, waktunya tinggal satu menit!”

Daffi memejamkan mata. Ia memaksa pikirannya kembali pada potongan ingatan yang muncul tadi. Ruang bawah tanah. Lampu redup. Papa Galen berdiri di sampingnya. Sebuah komputer lama. Lalu suara dirinya sendiri mengucapkan sesuatu.

Bukan pas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 89 Terkuak?

    Jari Daffi terus bergerak di atas keyboard. Satu demi satu karakter dimasukkan. Layar berkedip. ACCESS DENIED. Daffi terdiam. “Bukan ini...” gumamnya. Hitungan mundur terus berjalan. 01:17. Arga mulai panik. “Pak Daffi, waktunya tinggal satu menit!” Daffi memejamkan mata. Ia memaksa pikirannya kembali pada potongan ingatan yang muncul tadi. Ruang bawah tanah. Lampu redup. Papa Galen berdiri di sampingnya. Sebuah komputer lama. Lalu suara dirinya sendiri mengucapkan sesuatu. Bukan password. Sebuah kalimat. Daffi tiba-tiba membuka mata. “Orion bukan nama proyek.” Papa Galen langsung menatapnya. “Daffi?” “Ini kode.” Tangannya kembali mengetik. Kali ini ia memasukkan kombinasi yang berbeda. ACCESS GRANTED. Semua monitor mendadak menyala bersamaan. “Berhasil!” seru Arga. Namun bukannya sistem kembali normal, seluruh layar justru menampilkan satu folder. ORION—LEVEL BLACK. Papa Galen langsung pucat. “Jangan buka folder itu.” Daffi menoleh. “Kenapa, Pa?” “Karena

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 88 Hacker?

    Daffi berusaha mengabaikan firasat aneh itu. Mungkin memang hanya tamu perusahaan. Namun, saat ia melangkah menuju ruang direktur bersama papa Galen dan Giska, perasaannya justru semakin tidak tenang. Seolah ada sepasang mata yang terus mengikutinya. --- Di ruang kerja. Papa Galen mulai menjelaskan perkembangan perusahaan selama Daffi dirawat. Beberapa proyek besar berjalan lancar, tetapi ada satu hal yang membuat wajah beliau berubah serius. "Daffi." "Iya, Pa?" "Beberapa bulan terakhir, ada yang mencoba masuk ke sistem perusahaan." Daffi langsung fokus. "Diretas?" Papa Galen mengangguk. "Tim IT berhasil menggagalkannya. Tapi mereka datang berkali-kali." "Targetnya?" "Data proyek dan laporan keuangan." Daffi mengusap dagunya. "Kalau hanya ingin uang, seharusnya mereka sudah meminta tebusan." "Itu juga yang membuat Papa bingung." "Berarti mereka mencari sesuatu." Papa Galen mengangguk pelan. "Dan sampai sekarang kita belum tahu apa." Giska

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 87 Firasat Daffi

    Malam itu suasana mansion terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Hujan sudah berhenti. Udara yang masuk dari balkon membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di ruang keluarga, semua berkumpul sambil menikmati teh hangat dan camilan buatan mama Sera. Aira masih saja tidak berhenti memandangi wajah Daffi. Sampai akhirnya Daffi menghela napas panjang. "Aira." "Hm?" "Kenapa lihat aku begitu?" Aira menyipitkan mata. "Memastikan." "Memastikan apa?" "Ini abangku yang asli atau bukan." Daffi terkekeh. "Memangnya ada bedanya?" "Banyak." "Apa?" "Yang sekarang lebih romantis." Semua langsung tertawa. Giska yang sedang meminum teh sampai tersedak pelan. "Aira!" "Apa? Aku cuma jujur." Mama Sera ikut tertawa geli. "Benar juga." Daffi langsung menoleh. "Mama ikut-ikutan?" Mama Sera mengangguk mantap. "Dulu kamu romantis, tapi gengsi. Sekarang malah terang-terangan." Daffi mengusap tengkuknya yang mendadak terasa panas. "Memangnya jelek?"

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 86 Ingatan Kembali

    Seminggu kemudian kondisi Daffi semakin membaik. Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya, langkahnya juga jauh lebih stabil meskipun dokter masih melarangnya melakukan aktivitas berat. Kehangatan perlahan kembali memenuhi mansion keluarga Galen. Suara tawa yang sempat menghilang kini terdengar lagi hampir setiap hari. Pagi itu ruang makan dipenuhi aroma sarapan yang baru selesai disiapkan. Mama Sera tampak sibuk mengatur piring, sementara papa Galen membaca koran di ujung meja. Aira sesekali melontarkan candaan yang membuat suasana semakin hidup. Daffi turun dari tangga dengan langkah pelan. Begitu melihatnya, mama Sera langsung tersenyum lebar. "Nah, pangeran tidur sudah bangun." Daffi menggeleng sambil tertawa kecil. "Mama masih menganggap aku anak kecil?" "Di mata Mama, kamu akan selalu jadi anak kecil." "Aduh." "Jangan protes." Semua orang tertawa. Tak lama kemudian Giska muncul dari dapur membawa segelas jus buah. "Ini harus diminum." Daffi menatap gelas itu lalu meng

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 85

    Malam pertama di rumah terasa aneh sekaligus menenangkan buat Daffi, suara jangkrik dari taman belakang, aroma masakan mama Sera yang masih samar di dapur, dan langkah kaki orang-orang yang ia sayangi terdengar begitu nyata sampai dadanya terasa penuh, seperti ada ruang kosong yang perlahan terisi lagi tanpa ia sadar. Ia berbaring menatap langit-langit kamar, lampu tidur temaram, kepalanya masih sesekali nyut-nyutan, tapi yang lebih mengganggu justru potongan-potongan bayangan aneh yang muncul tiba-tiba—suara rem mendecit, kaca pecah, teriakan seseorang. “Ah…” ia meringis pelan sambil memegang pelipis. Tok tok. Pintu diketuk pelan. “Mas, aku masuk ya?” suara Giska lembut dari luar. “Iya… masuk,” jawab Daffi. Giska masuk bawa segelas susu hangat, duduk di tepi ranjang, “Dokter bilang minum ini biar tidurnya nyenyak.” Daffi menerimanya, lalu menatap Giska lama banget. “Ada apa?” tanya Giska kikuk. Daffi menghela napas pelan. “Aku ngerasa bersalah.” “Loh, kenapa?” “Aku nggak

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 84 Kepulangan Daffi dari RS

    Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh lebih ringan, sinar matahari masuk lembut ke kamar rawat, Daffi terbangun perlahan dan mendapati Giska tertidur di kursi dengan kepala bersandar di sisi ranjangnya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi tenang, membuat Daffi menatap lama tanpa sadar bibirnya terangkat tipis.“Giska…” panggilnya pelan.Giska tersentak bangun, langsung berdiri panik, “Mas? Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya cepat-cepat.Daffi menggeleng pelan, “Nggak, aku cuma… kamu semalaman di sini ya?”“Iya,” jawab Giska sambil tersenyum kecil, “aku bilang juga apa, aku nggak ke mana-mana.”Daffi terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Aku nggak inget banyak hal, tapi tiap bangun dan lihat kamu, rasanya kayak pulang.”Kalimat itu membuat mata Giska berkaca-kaca, “Mas jangan ngomong gitu pagi-pagi,” katanya sambil tertawa kecil yang bergetar, “aku bisa nangis lagi.”Tak lama kemudian mama Sera dan papa Galen masuk membawa sarapan, mama Sera langsung mendeka

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 4

    Hari yang dinantikan pun tiba. Sera datang lebih awal ke gedung perkantoran, dengan hati yang berdebar-debar. Pagi itu, suasana di gedung tampak lebih sibuk dari biasanya, namun Sera berusaha tetap tenang. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah dan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, ia merasa si

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 3

    Setelah memastikan Alana dan Alina tertidur, Sera menuju ke ruang tamu. Dia duduk di sofa dengan secangkir teh hangat di tangan, menyalakan lampu baca, dan membuka salah satu buku baru yang dibelinya tadi. Halaman demi halaman ia nikmati dengan tenang, merasa rileks setelah hari yang panjang.Beber

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 2

    Setelah makan siang, Sera dan anak-anak beristirahat sejenak di ruang tamu. Mereka menonton acara kartun favorit anak-anak sambil bersantai di sofa. Sera merasa nyaman, menikmati momen kebersamaan yang hangat ini.Tiba-tiba, ponsel Sera berdering. Dia melihat layar dan terkejut melihat nama temanny

  • Balas Dendam Wanita Yang Terhina   Bab 1

    Sera duduk di ruang tamu yang sepi, di rumah petakan kecil tempatnya tinggal setelah Arga meninggalkannya. Matahari bersinar terang di luar, namun ruangan itu terasa dingin dan sunyi baginya. Sudah beberapa bulan sejak Arga meninggalkannya, menyisakan Sera dengan anak-anak mereka dan tekanan hidup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status