MasukClarentine dan Felix hanya bisa menatap dengan mata terbuka lebar, napas mereka tertahan, jantung mereka berdegup tidak beraturan saat rasa tak percaya berubah menjadi keterkejutan yang sulit dijelaskan. Mereka tahu Harris kuat, namun yang barusan terjadi sudah melampaui logika mereka.Pemandangan di hadapan mereka terasa tidak masuk akal.Semuanya hanya bisa berdiri kaku, napas mereka tertahan saat menyaksikan puluhan pengawal yang tadi menyerbu kini tergeletak tanpa daya. Awalnya mereka yakin Harris akan berada di posisi yang mustahil untuk bertahan, tetapi hasil yang terjadi justru berbalik sepenuhnya, melampaui semua dugaan yang sempat terlintas.Dalam satu rangkaian gerakan yang bahkan tidak sempat mereka tangkap, lebih dari lima puluh orang tumbang bersamaan.Kekuatan itu terlalu jauh dari batas kewajaran.Felix menelan ludah, pandangannya masih terpaku pada sosok yang berdiri tenang di tengah arena. “Ini… tidak masuk akal,” gumamnya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya send
“Siapa pun yang bisa membunuhnya, aku beri satu miliar!”Kalimat itu jatuh seperti pemicu.Dalam sekejap, sorot mata para pengawal berubah. Keserakahan menggantikan kewaspadaan, napas mereka menegang, dan pandangan mereka mengunci Harris dengan intensitas yang nyaris liar.Satu miliar!Angka itu cukup untuk mengubah siapa pun.Bukan hanya para pengawal, bahkan para penonton di sekitar ikut terdiam, sebagian tanpa sadar menelan ludah, membayangkan nilai yang barusan disebutkan.Seandainya tatapan bisa melukai, Harris sudah terkoyak saat itu juga.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, lebih dari lima puluh pengawal bergerak bersamaan. Mereka menerjang seperti kawanan predator, langkah mereka berat dan cepat, sorot mata penuh ambisi, seolah Harris adalah satu-satunya target yang harus dihancurkan.Pemandangan itu membuat suasana semakin mencekam.Clarentine dan Felix membeku di tempat, wajah mereka pucat, tubuh mereka menegang tanpa berani bergerak.“Ini sudah berakhir…” bisik Clarentine, sua
Harris mendengarkan tanpa reaksi, lalu tersenyum tipis, bukan karena tertarik, melainkan karena merasa muak. “Aku justru ingin melihat bagaimana mereka mencobanya.”Ia melangkah maju, berhenti tepat di depan Hendra, jarak mereka begitu dekat hingga tekanan itu terasa jelas.“Kalau aku tidak salah ingat, kau juga terlibat,” lanjutnya, suaranya tetap rendah. “Motor itu rusak karena ulahmu, jadi kau yang harus bertanggung jawab lebih dulu.”Wajah Hendra berubah pucat, kepercayaan diri yang tadi muncul runtuh seketika, digantikan ketakutan yang sulit disembunyikan.“Aku…” Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Harris sudah bergerak.BRAKK! KRAKKK!Kakinya terangkat dan menghantam dada Hendra dengan keras, membuat tubuh pria itu terlempar ke belakang. Tulang rusuknya patah dalam satu benturan, sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah.Tubuhnya kejang beberapa saat, napasnya tersendat, lalu perlahan berhenti bergerak.Hendra mati di tempat.Seluruh arena mendadak sunyi.Tidak ada ya
Kaki Nicholas dihantam langsung oleh motor yang melayang itu. Darah langsung mengalir, wajahnya berubah pucat pasi dalam sekejap. Tubuhnya terpental, lalu jatuh bersamaan dengan motor yang menindihnya.Ia tidak bisa bergerak.“AAARGH! Kakiku—! Kakiku patah!”Jeritannya pecah, penuh rasa sakit.Dengan panik, ia memukul-mukul badan motor yang menekan kakinya, mencoba mendorongnya menjauh.Namun percuma.Bobot kendaraan itu terlalu besar untuk bisa digeser dengan kekuatannya.Sementara itu, Harris tetap berdiri di tempat. Wajahnya tanpa ekspresi.Siapa pun yang berniat membunuhnya, harus siap menerima konsekuensinya.Harris bukan orang yang akan menahan diri.Beberapa orang tanpa sadar menarik napas tajam saat melihat kondisi Nicholas yang terkapar mengenaskan. Wajah-wajah di sekitar dipenuhi keterkejutan dan kebingungan.Apa yang sebenarnya terjadi?Bagaimana mungkin seseorang berani menyerang putra keluarga Wijaksana secara terang-terangan, dan dengan cara sekejam itu?Apakah dia sudah
Sebelum melompat, Harris sudah mengarahkan lajunya menjauh dari kerumunan. Jika tidak, ledakan itu bisa menyeret banyak orang.Meski begitu, wajah para penonton tetap pucat.Bencana!Ini benar-benar bencana!Namun di tengah kekacauan itu, sosok yang seharusnya paling tidak mungkin selamat justru mendarat ringan.Harris menjejak tanah dengan stabil, napasnya tenang, tubuhnya sama sekali tidak terluka.Sunyi.Semua orang terpaku.Tatapan mereka tertuju pada satu titik, dipenuhi ketidakpercayaan.Apa yang baru saja terjadi?Dia… melompat dari motor?Di kecepatan lebih dari tiga ratus kilometer per jam?Dan masih bisa mendarat tanpa cedera?Nalar mereka menolak menerima kenyataan di depan mata.Bahkan lebih dari itu, Harris tampak santai, seolah semua barusan hanyalah gerakan biasa.Tak seorang pun mampu berkata apa-apa.Kirana akhirnya menghela napas panjang. Bahunya sedikit turun, ketegangan di wajahnya perlahan mereda. Ia tahu Harris kuat, namun tidak pernah menyangka sekuat ini.Di sa
NGOOOONG—-!Kawasaki Ninja H2R itu meraung lebih liar dan kembali berakselerasi, menebas lintasan dengan gelombang angin kencang.Tiga ratus sepuluh.Tiga ratus dua puluh.Lalu akhirnya—Tiga ratus dua puluh lima kilometer per jam.Setelah menyentuh angka tersebut, jarum kecepatan berhenti naik. Seluruh bodi motor mulai bergetar halus, mengeluarkan suara berat seolah mesin sedang dipaksa melampaui batas.Harris langsung memahami, inilah batas maksimum kendaraan ini. Ia pun berhenti memaksa laju motor dan mencoba menurunkan kecepatan.Namun… saat ia mengendurkan gas, tidak ada respons. Ia mengganti gigi, tetap tidak ada perubahan. Ia menekan rem namun tidak bereaksi.Motor itu menolak berhenti.Sorot mata Harris langsung menajam.Apakah ia merusak kendaraan ini? Pikiran itu muncul sesaat, namun segera ia singkirkan.Kerusakan mekanis tidak mungkin muncul dengan pola seaneh ini. Ini bukan kerusakan alami—sabotase.Dalam sekejap, satu wajah muncul di benaknya. Pria pendek, gemuk, berminy
Liora melangkah lebih dekat, hampir berhadapan. “Kau sedang mengorbankan prinsip.”Harris menatap Liora dengan tajam. “Aku hanya sedang memilih urutan.”“Apa maksud kata-katamu itu?”Harris menatapnya lebih tajam, suaranya rendah dan mantap. “Kalau aku tidak salah sekarang, kita mati nanti.”“Kau t
“Lihat makhluk itu, dia berubah!” Suara Liora terdengar tegang, nyaris tenggelam oleh dengungan medan yang kembali hidup. Cahaya biru berkedip tak stabil, seperti denyut nadi yang dipaksa bekerja di luar batas.Harris berdiri di tengah ruang rawat, matanya tajam. “Apakah dia sedang berusaha meniru?
“Dia bergerak!”Peringatan itu datang terlambat setengah detik.Lampu indikator di ruang penyegelan Heaven’s Pulse beralih dari kuning ke oranye. Garis-garis cahaya biru yang membentuk segel bergetar, lalu merapat kembali, seolah ruangan itu menahan napas.Harris sudah berdiri di sisi meja kristal
“Pisahkan saja.” Kalimat itu jatuh datar dari bibir Liora, tapi efeknya menghantam ruangan lebih keras dari alarm mana pun.Harris berhenti menulis di panel kristal. Tangannya diam di udara, jarum naga masih terjepit di antara dua jarinya. “Ulangi,” katanya tanpa menoleh.Liora berdiri di seberang







