แชร์

Bab 47 Tertangkap?

ผู้เขียน: _PenaKaisar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-05 08:20:30

Dari celah sempit di antara pintu lemari, Lao Chen menyaksikan Xiao Ren bergerak di dalam kamarnya.

‎Xio Ren berjalan mendekat ke arah lemari.

‎Seketika itu, jantung Lao Chen nyaris melompat keluar dari dadanya. Tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan napas yang ingin keluar. Keringat dingin mengucur dari dahinya, membasahi kerah jubahnya yang sudah lusuh. 'Dia tahu! Dia pasti tahu! Jika dia akan membuka lemari ini dan menemukanku, semuanya akan berakhir!' Jeritnya dalam hati.

‎Xiao R
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 178

    ‎Tepat saat Kaisar Xiyuan terjatuh dan kontrak gelapnya melemahkannya, langit di atas lembah berubah. Tekanan berwarna keemasan yang berputar seperti matahari begitu kuat hingga semua orang yang hadir langsung merasakan kehadiran seorang kultivator yang berada di puncak dunia fana.‎‎Kaisar Tianyu turun dari langit. Jubah emasnya berkibar-kibar diterpa angin. Di sekelilingnya, aura Setengah Langkah Dao Transformation yang murni memancar dengan kekuatan yang membuat tanah di bawahnya retak dan udara di sekitarnya bergetar. Semua prajurit langsung jatuh berlutut, tidak mampu menahan tekanan itu. Bahkan Wei Zheng menundukkan kepalanya dalam-dalam.‎‎"Yang Mulia..." bisiknya.‎‎Kaisar Tianyu mendarat di hadapan Kaisar Xiyuan. Ekspresinya lebih dingin dari es, lebih tajam dari pedang. Ia menatap kaisar itu yang sedang berlutut dan merintih, dengan mata yang menunjukkan campuran antara kekecewaan dan kemarahan yang tertahan.‎‎"Kaisar Xiyuan," suaranya menggema di seluruh lembah. "Kau t

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 177

    Xuan'er jatuh berlutut. Darah hitam mengalir dari bahunya. Tapi Xiao Fan tidak bisa langsung menolongnya, terlalu banyak musuh di sekelilingnya. Ia menghantam pembunuh yang mencoba menusuknya dari samping, lalu melesat ke arah Xuan'er sambil berteriak pada Lei.‎‎"LEI! JAGA XUAN'ER!"‎‎"TAPI TUAN! MUSUH MASIH—"‎‎"SEKARANG!"‎‎Lei mendarat di samping Xuan'er, tubuhnya membesar hingga seukuran kuda. Petir menyambar-nyambar di sekelilingnya, menciptakan dinding listrik yang membuat para pembunuh tidak bisa mendekat. "Nona Xuan'er! Bertahanlah! Aku akan melindungimu! Jangan mati di sini!"‎‎Xuan'er tersenyum lemah. "Lei... kau benar-benar... tidak pernah berubah..."‎‎---‎‎Kaisar Xiyuan menyaksikan penyergapannya mulai gagal. Para pembunuh Kultus yang ia kirim jatuh satu per satu. Wei Zheng menebas mereka seperti ilalang. Xiao Fan membakar dan melahap mereka dengan dua apinya. Dan Lei menggagalkan setiap serangan dari atas.‎‎"MATI KALIAN!" teriak Kaisar Xiyuan, berdiri dari kur

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 176

    ‎Di tengah perundingan, Xiao Fan terus mengamati Kaisar Xiyuan dengan Mata Yin-Yang-nya. Perdana Menteri Zhao sedang membacakan syarat-syarat damai dengan suara monoton, tapi Xiao Fan tidak mendengarkannya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada aura Kaisar Xiyuan yang semakin lama semakin jelas terlihat tidak stabil.‎‎Di permukaan, aura Kaisar Xiyuan tampak seperti aura kultivator Spirit Severing Puncak—kuat, mengintimidasi, dan penuh wibawa. Tapi di bawahnya, ada lapisan energi gelap yang berdenyut seperti jantung makhluk hidup.‎‎'Dia seharusnya berada di Setengah Langkah Dao Transformation,' pikir Xiao Fan. 'Setara dengan Kaisar Tianyu. Tapi kekuatannya sekarang hanya sekitar Spirit Severing Puncak. Sebagian besar energinya terkuras oleh sesuatu....'‎‎Matanya bergerak ke leher Kaisar Xiyuan. Di balik kerah jubahnya yang tinggi, tersembunyi sebuah tato hitam. Tato itu berbentuk mata dengan tiga pupil. Sama seperti simbol Kultus Mata Tiga.‎‎'Kontrak gelap,' Xiao Fan menyimpulka

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 175

    Di istana Kekaisaran Xiyuan yang megah, Kaisar Xiyuan duduk di singgasananya dengan wajah yang semakin gelap. Di hadapannya, Jenderal Besar Shang berdiri dengan tubuh penuh luka dan baju zirah yang hancur. Laporan kekalahan telah disampaikan. Benteng Pasir Hitam telah jatuh. Lebih dari setengah total pasukan Xiyuan telah musnah.‎‎"Setengah pasukanku..." Suara Kaisar Xiyuan dingin seperti es. "Kau bilang benteng itu tidak akan jatuh. Kau bilang pasukanmu tidak akan kalah. Dan sekarang... SETENGAH PASUKANKU MUSNAH!"‎‎Shang menundukkan kepalanya lebih dalam. "Yang Mulia, aku sudah melakukan yang terbaik. Tapi Xiao Fan... bocah itu berbeda. Dia memiliki kekuatan yang tidak berasal dari dunia ini. Dia—"‎‎"CUKUP!" Kaisar Xiyuan menghantamkan tinjunya ke sandaran singgasana. "Aku tidak mau mendengar alasan! Yang kumau adalah solusi!"‎‎Perdana Menteri Zhao melangkah maju. "Yang Mulia, sisa pasukan kita tidak akan mampu bertahan jika perang berlanjut. Kita sudah kehilangan terlalu bany

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 174

    Sementara Wei Zheng dan Shang Wei bertarung seri di halaman utama, pertempuran di seluruh benteng telah dimenangkan oleh Tianyu.‎‎Xiao Fan dan Lei bergerak bersama menuju menara meriam. Satu per satu, meriam spiritual di atas tembok dihancurkan. Xiao Fan dengan Lengan Qilin-nya yang menghantam keras, Lei dengan petirnya yang menyambar dari langit. Dalam hitungan menit, seluruh meriam spiritual Xiyuan telah menjadi puing-puing yang tidak bisa digunakan lagi.‎‎"Meriam terakhir sudah hancur, Tuan!" teriak Lei dari atas.‎‎"Bagus. Sekarang kita bersihkan sisa-sisa pasukan mereka." Xiao Fan melompat turun dari tembok dan mendarat di tengah-tengah kelompok prajurit Xiyuan yang masih bertahan. Lengan Qilin-nya bersinar, dan dalam sekejap, lima prajurit terpental ke berbagai arah.‎‎Di bagian lain benteng, Xuan'er menciptakan ilusi-ilusi yang membuat pasukan Xiyuan bingung dan saling menyerang. Mo Cheng menghancurkan pos-pos penjagaan satu per satu. Wei Lian membekukan jalur-jalur kabur

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 173

    ‎"SIAPA PUN YANG INGIN MEMBUNUH SHANG WEI, MAJULAH! AKU AKAN MEMBAWA KALIAN BERSAMAKU KE NERAKA!"‎‎Suara itu menggema di seluruh benteng. Dan dari antara kerumunan prajurit yang sedang bertarung mati-matian, sesosok pria melangkah maju. Jubah birunya yang berkibar diterpa angin perang. Pedang panjangnya bersinar biru tua seperti pusaran samudra yang dalam. Wei Zheng.‎‎"Aku akan menerima tantanganmu, Shang Wei," katanya, suaranya tenang tapi penuh otoritas. "Sudah terlalu lama kita saling mendengar reputasi masing-masing. Sekarang saatnya membuktikannya.."‎‎Jenderal Besar Shang menoleh. Ia menatap Wei Zheng dengan ekspresi yang sulit diartikan..‎‎"Wei Zheng." Suara Shang berat dan dalam, seperti gemuruh guntur di kejauhan. "Aku sudah mendengar tentangmu sejak tiga puluh tahun lalu. Dan akhirnya kita bertemu juga."‎‎"Kita bertemu di medan perang, Shang Wei. Seperti yang selalu kita duga."‎‎"Seperti yang selalu kita duga." Shang mengangkat tombak hitamnya. "Kalau begitu, biar

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 4: Tarian Pedang di Bawah Bulan

    Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 3: Secangkir Teh Beracun

    Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 2: Bunga Es di Taman Plum

    Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 1 Jenius Seribu Tahun

    Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status