LOGINKanaya mengambil koper kecilnya yang sudah ia isi dengan baju-bajunya. Ia menatap kamarnya, menangis membayangkan ia tidak akan tinggal di sini lagi. Dengan enggan, ia keluar dari kamar karena ibu sudah berulang kali memanggil namanya dari luar.
“Kenapa lama sekali, Nak? Suamimu sudah menunggumu,” ucap ibu tak sabaran.
Acara pernikahannya tidak berlangsung lama. Sehabis maghrib, Devano dan keluarganya membawa Kanaya untuk kembali ke kota. Kediaman keluarga Atmaja terletak di Kota C, jaraknya sekitar 3 jam dari rumah Kanaya. Mereka mengatakan akan langsung pulang saat itu juga karena ada kesibukan besok harinya. Tapi Kanaya tahu, mana mungkin keluarga ningrat seperti mereka mau menginap di rumahnya yang reot ini. Percuma saja ibu membersihkan seluruh isi rumah ini sampai lupa makan. Kanaya tertawa dalam hati.
“Ayo, Nak, kita segera berangkat,” ucap Bu Melinda yang sekarang sudah menjadi mertuanya.
Ia menatap Devano yang sudah berganti pakaian dengan t-shirt berkerah yang santai. Ia tampak sedang memainkan handphone-nya. Di sebelahnya duduk wanita muda yang cantik, tetapi wajahnya tampak tak sabar dan ketus melihat Kanaya.
“Ibu, Bapak, Kanaya pamit ya,” ucap Kanaya sambil memeluk kedua orang tuanya.
Air mata membanjiri wajah ketiganya. Kemudian Bapak melepaskan pelukan Kanaya.
“Pergilah, Nak,” ucap Bapak.
“Bapak, jaga kesehatan ya. Kanaya akan selalu mendoakan kesembuhan Bapak,” kata Kanaya sambil menangis. Tubuhnya tiba-tiba dipegang oleh tangan besar seorang pria.
“Sudah, Kanaya, jangan sedih. Kasihan ibu dan bapak,” ucap Devano sambil memeluk pinggang Kanaya. Ia menggiring Kanaya untuk berjalan keluar dari rumah.
Kanaya menuruti langkah Devano sambil melihat ke belakang, menatap sosok ibu dan bapak yang berhenti di depan pintu. Seorang sopir sudah meletakkan koper kecil milik Kanaya. Ibu dan wanita muda itu masuk ke dalam sebuah Alphard hitam, sedangkan Devano dan Kanaya masuk ke dalam sebuah Alphard putih. Perlahan mobil itu berjalan meninggalkan rumah Kanaya. Kanaya melihat sosok ibu dan bapak yang lama-kelamaan mengecil sambil terus menangis.
Devano mengambil sebuah tisu, kemudian menghapus air mata Kanaya.
“Sudah, Kanaya, jangan menangis terus. Jika kamu rindu orang tuamu, aku akan mengantarmu untuk pulang,” ucap Devano lembut.
Kanaya mengangguk. Devano menarik tubuh Kanaya ke pangkuannya, kemudian memeluk Kanaya. Kanaya kaget dengan apa yang dilakukan Devano, tetapi ia hanya bisa diam dan menurut. Ia kemudian memeluk Devano, dan tak lama kemudian ia tertidur di pelukan Devano.
Kanaya terbangun dari tidurnya. Ia melihat Devano sedang memeluknya dan menutup matanya. Sepertinya ia juga kelelahan dan tertidur. Kanaya sangat canggung dengan situasi ini. Ia tahu pria ini sekarang sudah menjadi suaminya, tetapi tetap saja rasanya aneh karena Kanaya belum pernah berpacaran sebelumnya.
Dengan perlahan-lahan ia bangkit dan kembali ke tempat duduknya. Ia takut membangunkan Devano yang masih tertidur pulas. Ia menatap wajah Devano dengan malu-malu. Pria itu tampan. Rahangnya terukir tegas, bibirnya tipis, kulitnya halus seperti porselen, alisnya tebal mengukir indah di atas matanya yang berbentuk almond sempurna. Kanaya merasa wajah Devano mirip artis-artis yang ia lihat di televisi.
Perlahan mata itu bergerak. Sepertinya Devano akan terbangun. Dengan cepat Kanaya memalingkan wajahnya ke luar jendela. Ia takut ketahuan sedang memperhatikan wajah Devano.
“Wahhh, indah sekali!” serunya.
Pemandangan malam hari yang gemerlap terdampar nyata di hadapannya. Sebelumnya ia tidak pernah ke kota di saat malam hari. Lampu hias menggantung di atasnya, taman-taman kota dengan patung dan hiasan lampu modern, gedung-gedung pencakar langit berlomba memanjakan mata Kanaya. Ia sibuk menikmati pemandangan hiruk-pikuk kota yang gemerlap.
“Kamu belum pernah ke kota?” tanya Devano tiba-tiba.
Kanaya kaget dan menatap Devano yang ternyata sudah bangun.
“Aku beberapa kali ke kota, tetapi di siang hari. Aku tidak pernah melihat kota di saat malam hari,” ucap Kanaya malu-malu.
Devano tersenyum. Ia merasa gadis di depannya ini sangat lucu dan lugu.
“Baiklah, aku akan sering-sering mengajakmu keluar di malam hari kalau begitu,” ucap Devano sambil tertawa penuh arti.
Kanaya hanya mengangguk senang. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Devano saat itu.
Beberapa saat kemudian mereka sampai ke kediaman Atmaja. Rumah mewah yang berada di dalam sebuah kompleks elite di tengah kota. Tampak dua buah pilar besar menopang bangunan bergaya Eropa itu. Semua tampak seperti sebuah dongeng yang tak nyata di mata Kanaya. Bagaimana bisa ia menjadi bagian dari rumah ini? Beberapa saat ia merasa kecil di antara semuanya.
Devano turun dari mobil diikuti oleh Kanaya. Ketika Kanaya menanyakan kopernya, Devano segera menyuruh sopirnya untuk mengambil dan langsung meletakkannya di dalam. Devano mengulurkan tangannya ke arah Kanaya. Kanaya menyambutnya dengan malu-malu. Mereka bergenggaman tangan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Ibu Melinda dan wanita itu sedang duduk sambil mengangkat kakinya ke atas sofa.
“Kanaya, sini, Nak,” ucap Melinda, memerintahkan Kanaya untuk duduk di hadapannya.
Devano duduk lebih dulu di sebelahnya. Ia mengeluarkan handphone-nya dan mulai sibuk dengan dunianya.
“Ini Davina. Dia adalah adik Devano,” ucap Melinda.
Kanaya mengulurkan tangannya ke arah Davina. Namun gadis itu terkekeh.
“Udah, lo enggak usah formal-formal banget lah,” ucap Davina sambil memainkan handphone-nya.
Kanaya menarik kembali tangannya. Ia merasa kikuk di hadapan mereka semua.
“Kamu pasti lelah, Kanaya. Silakan ke kamarmu dan beristirahatlah,” perintah Melinda.
“Baik, Bu.”
“Panggil Mami. Mulai saat ini saya mertua kamu,” ucap Melinda.
“Baik, Mami.”
Kanaya mematuhi perintah Melinda. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya datang dan menghampiri Kanaya.
“Mari, Nona, saya antar ke kamar Anda,” ucapnya.
Kanaya melihat ke arah Devano, tetapi Devano masih sibuk dengan handphone-nya.
“Istirahatlah, Kanaya. Kamu akan diantar Rahma ke kamar,” ucap Melinda lagi.
Kanaya mengangguk dan mengikuti wanita bernama Rahma itu.
Ia menaiki sebuah tangga menuju lantai atas. Ia melihat sekitarnya. Seisi rumah ini terlihat mewah dengan dominasi warna ungu. Pasti Bu Melinda menyukai warna ungu, pikir Kanaya.
Ia memasuki kamar yang sangat besar, dominasi warna pink muda yang anggun. Terlihat koper usangnya sudah berada di sana. Ia melihat sekitar. Semuanya sangat rapi, tetapi ia merasa ada yang janggal dengan kamar ini.
“Nona, ini kamar Nona. Semua kebutuhan Nona sudah disiapkan. Jika Nona butuh sesuatu, panggil saja saya lewat telepon di sebelah kasur. Tekan nomor 031. Saya akan segera datang,” ucap Bu Rahma. Sesuai namanya, ia memang sangat ramah kepada Kanaya.
“Terima kasih, Bu,” ucap Kanaya.
Rahma pun menutup pintu dan meninggalkan Kanaya di sana sendirian.
Kanaya menatap setiap sudut kamarnya. Ia tersenyum senang. Mungkin keputusan bapak dan ibu memang yang terbaik untuknya. Selain itu, ia senang bisa membantu bapak untuk sembuh.
“Ah sudahlah, aku akan mandi dan tidur... tapi... apakah Devano akan melakukan itu padaku malam ini?”
Kanaya tersipu malu. Dengan cepat ia membuka isi kopernya dan hendak menyusun beberapa bajunya yang tak banyak ke dalam lemari.
“Loh, kenapa ada banyak baju wanita? Apakah ini semua milikku? Sepertinya ini baru.”
Kanaya melihat-lihat semua isi lemarinya. Terasa sesuatu yang janggal di hadapannya. Dengan bergegas ia menuju tempat tidurnya dan duduk di sana. Tangannya meraih telepon putih itu dan menekan angka 031. Terdengar sahutan suara Rahma dari ujung sana.
“Bu Rahma, kenapa ada banyak baju perempuan di lemari?” tanya Kanaya.
“Itu semua baju Nona Kanaya yang baru. Semuanya sudah dipersiapkan untuk Nona. Seisi kamar milik Nona Kanaya, silakan dipakai, Non,” ucap Rahma.
Kanaya mengangguk senang.
“Tapi, Bu... kenapa aku tidak melihat selembar pun baju Devano?” tanya Kanaya.
“Tuan Devano tidur di kamar ujung, Non.”
Ucapan Rahma barusan menghentakkan hati Kanaya. Apa maksud ucapan Rahma barusan? Kenapa Devano tidur terpisah dengannya?
“Kenapa Devano tidak sekamar denganku?” tanya Kanaya.
“Maaf, Non. Silakan bertanya kepada Tuan. Saya tidak tahu mengenai hal itu,” jawab Rahma pelan.
“Baiklah, terima kasih, Bu Rahma.”
Kanaya meletakkan gagang telepon itu kembali dan menatap kosong ke arah jendela. Air matanya perlahan turun dari pipinya. Apakah ia tak pantas tidur bersama Devano, suaminya?
“Mi, aku tidak mau dijodohkan,” ucap Devano tegas. Ia berdiri tegak di hadapan Melinda yang sedang merangkai bunga.
“Devano, keputusan Mami sudah bulat! Kamu harus menikahi gadis itu. Atau kepemilikan perusahaan akan jatuh ke tangan sepupumu,” ucap Melinda tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga sedap malam yang sedang ia rangkai.
“Aku bisa menikahi siapa saja. Banyak gadis kota yang tergila-gila kepadaku. Kenapa harus gadis desa itu?” protes Devano.
“Kau tahu! Gadis desa tidak akan bertingkah seperti gadis-gadis di kota. Lagian, gadis itu cukup cantik. Kau akan menyukainya.”
Melinda tersenyum tipis sambil melihat Devano yang masih menahan amarahnya.
“Aku tidak peduli, Mi. Apa tidak ada cara lain?”
“Pilih saja. Perusahaan itu jatuh ke tangan Kev, atau kau menikah dan kita masih bisa menikmati semua ini,” ancam Melinda.
Devano hanya menatap wajah licik ibunya dengan tak percaya. Bagaimana bisa seorang Devano Atmaja yang dipuja banyak gadis-gadis menikah dengan gadis desa yang kuno.
“Terserah saja lah. Yang jelas aku tidak mau tidur sekamar dengannya!” ucap Devano sambil pergi meninggalkan Melinda.
Melinda menatap kepergian Devano sambil berdecak kesal.
“Ayah dan anak sama saja,” ucapnya.
Kanaya sedang duduk melamun di taman siang itu. Ia memainkan kakinya di atas rumput. Tak lama kemudian Davina datang menghampirinya dengan wajah kesal.“Enak banget kerjaan lo cuma duduk-duduk,” ucapnya kasar.Kanaya menundukkan kepalanya. Selama sebulan ia tinggal di rumah ini, Davina-lah orang yang paling tidak bersahabat dengannya. Seperti sengaja menunjukkan ketidaksukaannya kepada Kanaya secara terang-terangan.“Ada yang bisa saya bantu, Davina?”Kanaya mengangkat kepalanya, menatap ke arah Davina yang sedang bertolak pinggang di hadapannya.“Jemput Ali ke sekolahnya.”“Baiklah.”Kanaya mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ia lalu berpakaian rapi menggunakan dress bunga kecil berwarna putih dan cardigan berwarna butter yellow.Ketika ia turun ke bawah dan berjalan ke arah luar, ia mendengar tawa Davina yang sedang bertelepon.“Gue ke café sekarang. Tunggu gue, Ali udah diurus sama ipar kampungan gue itu.”Ia tertawa santai.Kanaya tahu Davina sengaja menghinanya sa
Keesokan harinya Rahma membangunkan Kanaya yang masih tertidur. Tubuhnya masih menggunakan baju yang kemarin ia gunakan. Semalaman ia hanya menangis dan tertidur tanpa membersihkan dirinya.“Non, ayo bangun. Nona harus membersihkan diri dan turun ke bawah. Sebentar lagi Tuan Devano dan Nyonya akan sarapan. Nona harus bersiap dahulu,” ucapnya pelan.Kanaya membuka matanya perlahan. Matanya terasa bengkak. Ia mengangguk dan perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Rahma membantunya berdiri. Kepala Kanaya sangat berat. Ia tak sanggup untuk berjalan. Melihat Kanaya yang tampak kesakitan, Rahma membantunya untuk berjalan menuju kamar mandi.Kanaya masuk ke dalam sendirian. Ditatapnya wajahnya yang bengkak dan rambutnya yang acak-acakan di cermin. Ia menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya agar ia cepat tersadar. Kemudian ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan cepat.Ketika ia keluar dari kamar mandi, tampak Rahma masih berdiri menunggunya di sana. Sepotong dress berlengan pen
Kanaya mengambil koper kecilnya yang sudah ia isi dengan baju-bajunya. Ia menatap kamarnya, menangis membayangkan ia tidak akan tinggal di sini lagi. Dengan enggan, ia keluar dari kamar karena ibu sudah berulang kali memanggil namanya dari luar.“Kenapa lama sekali, Nak? Suamimu sudah menunggumu,” ucap ibu tak sabaran.Acara pernikahannya tidak berlangsung lama. Sehabis maghrib, Devano dan keluarganya membawa Kanaya untuk kembali ke kota. Kediaman keluarga Atmaja terletak di Kota C, jaraknya sekitar 3 jam dari rumah Kanaya. Mereka mengatakan akan langsung pulang saat itu juga karena ada kesibukan besok harinya. Tapi Kanaya tahu, mana mungkin keluarga ningrat seperti mereka mau menginap di rumahnya yang reot ini. Percuma saja ibu membersihkan seluruh isi rumah ini sampai lupa makan. Kanaya tertawa dalam hati.“Ayo, Nak, kita segera berangkat,” ucap Bu Melinda yang sekarang sudah menjadi mertuanya.Ia menatap Devano yang sudah berganti pakaian dengan t-shirt berkerah yang santai. Ia tam
Sinar mentari pagi mulai menyelinap ke dalam kamar Kanaya melalui celah-celah jendela kayu yang telah memudar dimakan usia. Perlahan, ia membuka matanya. Dari luar kamar terdengar suara orang-orang yang lalu lalang.Ternyata hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kanaya meregangkan tubuhnya. Pandangannya terpaku pada dinding kamar yang tampak kosong."Ibu... Bapak... tolong jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya sedang terjadi...."Suaranya melemah seiring air mata yang kembali mengalir di pipinya.Ibu memeluknya erat sambil mengusap lembut rambut putrinya."Kanaya, usiamu sudah cukup untuk menikah. Ayah harap kamu mengerti keputusan ayah dan ibu. Semua ini demi masa depanmu," jelas ayah sambil menyalakan sebatang rokok."Tapi kenapa aku dijodohkan dengan orang yang bahkan wajahnya pun belum pernah kulihat? Kenapa Ayah dan Ibu tidak bertanya dulu kepadaku? Apa alasan semua ini, Ayah?" tanya Kanaya sambil terus menangis."Ayah mengenal keluarga Atmaja. Mereka orang terpandang, Nak. Me
Kanaya Hanania adalah seorang gadis desa yang hidup sederhana bersama kedua orang tuanya. Parasnya manis dengan kulit kuning langsat yang bersih. Wajahnya tirus, dihiasi sepasang mata almond yang sendu. Senyumnya mampu membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum.Kanaya hanyalah lulusan SMA. Beberapa bulan yang lalu, ia menyelesaikan pendidikannya. Kini, ia membantu kedua orang tuanya mengurus kebun jagung milik keluarga.Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Kanaya sedang memetik beberapa tongkol jagung untuk dijadikan menu makan siang. Dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melaju perlahan menuju rumahnya. Jalan itu hanya mengarah ke satu rumah, yaitu rumah keluarga mereka.Dengan tergesa-gesa, Kanaya berlari masuk ke dalam rumah."Ibu... Ibu..." panggilnya dari depan kamar.Ibunya keluar sambil membawa selembar pakaian yang sedang dilipat."Ada apa, Nak?" tanyanya lembut.Belum sempat Kanaya menjawab, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Keduanya saling ber







