LOGINSinar mentari pagi mulai menyelinap ke dalam kamar Kanaya melalui celah-celah jendela kayu yang telah memudar dimakan usia. Perlahan, ia membuka matanya. Dari luar kamar terdengar suara orang-orang yang lalu lalang.
Ternyata hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kanaya meregangkan tubuhnya. Pandangannya terpaku pada dinding kamar yang tampak kosong.
"Ibu... Bapak... tolong jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya sedang terjadi...."
Suaranya melemah seiring air mata yang kembali mengalir di pipinya.
Ibu memeluknya erat sambil mengusap lembut rambut putrinya.
"Kanaya, usiamu sudah cukup untuk menikah. Ayah harap kamu mengerti keputusan ayah dan ibu. Semua ini demi masa depanmu," jelas ayah sambil menyalakan sebatang rokok.
"Tapi kenapa aku dijodohkan dengan orang yang bahkan wajahnya pun belum pernah kulihat? Kenapa Ayah dan Ibu tidak bertanya dulu kepadaku? Apa alasan semua ini, Ayah?" tanya Kanaya sambil terus menangis.
"Ayah mengenal keluarga Atmaja. Mereka orang terpandang, Nak. Mereka memiliki beberapa perkebunan kopi di sekitar sini."
"Tapi aku tidak tahu apakah mereka keluarga yang baik atau tidak! Ayah, tolong mengertilah. Aku belum siap menikah. Aku ingin bekerja seperti teman-temanku," isak Kanaya.
"Untuk apa kamu bekerja kalau kamu bisa menjadi nyonya di rumah mereka, Nak?" Ibu mencoba menjelaskan.
"Aku... aku ingin membantu Ibu dan Ayah. Aku juga ingin mandiri seperti teman-temanku. Bekerja di pabrik saja sudah cukup untuk menghidupi diri sendiri," bantah Kanaya.
"Kanaya, mengertilah. Keputusan ini adalah yang terbaik untukmu, Nak," ucap Ibu.
"Tidak! Ibu sama bapak tidak paham! Kalian egois!"
"KANAYA!" bentak Ayah. Wajahnya menegang, sementara matanya membulat menatap Kanaya.
Kanaya langsung terdiam. Baru kali ini ayahnya membentaknya. Ia sangat terkejut.
"Kalau kamu benar-benar ingin membantu Ayah dan Ibu, menikahlah dengan putra Bu Melinda," perintah Ayah.
Kanaya hendak membalas ucapan ayahnya, tetapi tiba-tiba ibunya menangis.
"Nak, ayahmu sakit. Kita butuh biaya, Nak.... Keluarga Bu Melinda berjanji akan membantu semua biaya pengobatan ayahmu," isak Ibu semakin keras.
Kanaya terperangah mendengar pengakuan itu. Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui kondisi ayahnya selama ini?
"Sakit? Maksud Ibu apa?" tanya Kanaya.
Ayah hanya terdiam. Ia berdiri, lalu berjalan menuju kamar dan menutup pintu.
"Bapakmu mengidap kanker paru-paru, Nak. Ibu dan Bapak sudah menjual beberapa bidang tanah, bahkan menggadaikan rumah ini demi biaya pengobatan. Tapi semua itu masih belum cukup.... Tolong, Nak... tolong selamatkan bapakmu."
Ibu menangis sambil memohon kepada Kanaya.
Lamunannya terhenti ketika terdengar seseorang memanggil namanya.
Tak ingin terus larut dalam kesedihan, Kanaya bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
Di ruang tengah tampak beberapa tetangga sedang duduk di lantai sambil menyusun aneka kue tradisional di atas piring-piring sederhana.
"Kanaya, ayo mandi. Sebentar lagi Mbak Dina akan meriasmu," ucap seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun yang sejak tadi memanggil namanya.
Mbak Dina adalah tetangga mereka yang memiliki salon kecil di desa. Hampir seluruh warga menggunakan jasanya untuk merias pengantin.
"Ibu di mana, Mbak?" tanya Kanaya.
"Di depan," jawab Mbak Dina.
Wanita itu kemudian masuk ke kamar Kanaya sambil membawa peralatan rias dan sebuah kebaya putih yang tampak begitu indah.
Kanaya menarik napas panjang, lalu berjalan menuju ruang depan dengan langkah yang terasa semakin berat.
Ia melihat halaman rumahnya telah disulap menjadi tempat pernikahan sederhana. Tenda-tenda sudah berdiri dengan dekorasi seadanya berwarna kuning dan putih. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap sebuah meja akad.
Pandangan Kanaya tertuju pada meja itu.
Di sanalah akad nikahnya akan berlangsung.
Tanpa terasa, air matanya kembali mengalir.
"Kanaya, ayo cepat. Sudah kesiangan, Nak," ujar Ibu sambil menepuk pelan bahu putrinya.
Kanaya hanya mengangguk. Ia kembali masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi untuk bersiap.
Tepat pukul dua siang, sebuah mobil Alphard putih memasuki halaman rumah, diikuti sebuah mobil lain di belakangnya.
Seorang pria bertubuh tegap turun dari mobil. Ia mengenakan busana pengantin pria berwarna putih. Rambut hitamnya tertata rapi, membuat penampilannya tampak semakin berwibawa.
Di belakangnya menyusul Bu Melinda bersama seorang wanita muda yang cantik. Keduanya mengenakan gaun yang anggun dan tampak mahal.
Mereka bertiga berjalan menuju meja akad, sementara beberapa orang sibuk mempersiapkan acara yang sebentar lagi dimulai.
Mbak Dina memanggil Kanaya dan mengisyaratkannya untuk keluar.
Dengan langkah yang terasa begitu berat, Kanaya berjalan menuju meja akad. Semua mata tertuju kepadanya.
Kanaya tampak sangat cantik.
Tubuh rampingnya dibalut kebaya putih longgar berbahan brokat yang dihiasi payet-payet sederhana. Kebaya itu dipadukan dengan kain songket berwarna champagne yang semakin menonjolkan pesona anggunnya.
Kesederhanaan, keanggunan, dan kecantikan berpadu sempurna dalam dirinya.
Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan kepala adat Melayu.
Pandangan seorang pria tak pernah lepas darinya hingga Kanaya duduk di sampingnya.
"Bisa kita mulai?" ujar Pak Penghulu.
Pria itu mengangguk, lalu menjabat tangan ayah Kanaya.
"Saudara Devano Atmaja bin Santoso Ilma Atmaja, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Kanaya Hanania binti Sukirman, dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan emas seberat dua puluh lima gram, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Hanania binti Sukirman dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."
"Bagaimana, sah?" tanya Pak Penghulu kepada kedua saksi.
"Sah... sah!" jawab mereka serempak.
Wajah ayah Kanaya dipenuhi haru saat menatap putrinya, sementara Kanaya hanya menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang kembali jatuh.
"Kanaya."
Suara pria bernama Devano membuat Kanaya perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
"Sekarang kamu istriku..." ucap Devano tegas. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "dan kamu adalah milikku."
Ucapan itu membuat Kanaya seolah-olah ditelan bumi saat itu juga.
Devano, Jessica, dan Richard adalah teman kuliah. Ketiganya berasal dari keluarga pengusaha sukses di Indonesia. Richard merupakan putra pemilik perusahaan tambang besar di Kalimantan, sedangkan Jessica adalah anak tunggal pengusaha tekstil terbesar di Indonesia. Ibunya pernah menjadi model ternama pada masanya, dan kini Jessica mewarisi kecantikan sekaligus bakat sang ibu. Di usianya yang masih muda, ia telah menjadi salah satu model papan atas Indonesia.Jessica memiliki paras yang sangat menawan. Tubuhnya tinggi semampai dan ramping, rambut panjang berwarna hazelnut tergerai indah, serta wajah blasteran Indonesia-Korea yang membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.Sejak dulu, Jessica menyukai Devano. Namun, pria itu terasa begitu sulit untuk diraih. Devano tidak pernah menjalin hubungan yang serius. Semasa kuliah, ia dikenal sebagai player yang selalu dikelilingi banyak wanita.Ketika mengetahui Devano menikah, Jessica sempat mengurung diri di kamar karena kecewa. Namun, setelah
Kanaya sedang duduk melamun di taman siang itu. Ia memainkan kakinya di atas rumput. Tak lama kemudian Davina datang menghampirinya dengan wajah kesal.“Enak banget kerjaan lo cuma duduk-duduk,” ucapnya kasar.Kanaya menundukkan kepalanya. Selama sebulan ia tinggal di rumah ini, Davina-lah orang yang paling tidak bersahabat dengannya. Seperti sengaja menunjukkan ketidaksukaannya kepada Kanaya secara terang-terangan.“Ada yang bisa saya bantu, Davina?”Kanaya mengangkat kepalanya, menatap ke arah Davina yang sedang bertolak pinggang di hadapannya.“Jemput Ali ke sekolahnya.”“Baiklah.”Kanaya mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ia lalu berpakaian rapi menggunakan dress bunga kecil berwarna putih dan cardigan berwarna butter yellow.Ketika ia turun ke bawah dan berjalan ke arah luar, ia mendengar tawa Davina yang sedang bertelepon.“Gue ke café sekarang. Tunggu gue, Ali udah diurus sama ipar kampungan gue itu.”Ia tertawa santai.Kanaya tahu Davina sengaja menghinanya sa
Keesokan harinya Rahma membangunkan Kanaya yang masih tertidur. Tubuhnya masih menggunakan baju yang kemarin ia gunakan. Semalaman ia hanya menangis dan tertidur tanpa membersihkan dirinya.“Non, ayo bangun. Nona harus membersihkan diri dan turun ke bawah. Sebentar lagi Tuan Devano dan Nyonya akan sarapan. Nona harus bersiap dahulu,” ucapnya pelan.Kanaya membuka matanya perlahan. Matanya terasa bengkak. Ia mengangguk dan perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Rahma membantunya berdiri. Kepala Kanaya sangat berat. Ia tak sanggup untuk berjalan. Melihat Kanaya yang tampak kesakitan, Rahma membantunya untuk berjalan menuju kamar mandi.Kanaya masuk ke dalam sendirian. Ditatapnya wajahnya yang bengkak dan rambutnya yang acak-acakan di cermin. Ia menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya agar ia cepat tersadar. Kemudian ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan cepat.Ketika ia keluar dari kamar mandi, tampak Rahma masih berdiri menunggunya di sana. Sepotong dress berlengan pen
Kanaya mengambil koper kecilnya yang sudah ia isi dengan baju-bajunya. Ia menatap kamarnya, menangis membayangkan ia tidak akan tinggal di sini lagi. Dengan enggan, ia keluar dari kamar karena ibu sudah berulang kali memanggil namanya dari luar.“Kenapa lama sekali, Nak? Suamimu sudah menunggumu,” ucap ibu tak sabaran.Acara pernikahannya tidak berlangsung lama. Sehabis maghrib, Devano dan keluarganya membawa Kanaya untuk kembali ke kota. Kediaman keluarga Atmaja terletak di Kota C, jaraknya sekitar 3 jam dari rumah Kanaya. Mereka mengatakan akan langsung pulang saat itu juga karena ada kesibukan besok harinya. Tapi Kanaya tahu, mana mungkin keluarga ningrat seperti mereka mau menginap di rumahnya yang reot ini. Percuma saja ibu membersihkan seluruh isi rumah ini sampai lupa makan. Kanaya tertawa dalam hati.“Ayo, Nak, kita segera berangkat,” ucap Bu Melinda yang sekarang sudah menjadi mertuanya.Ia menatap Devano yang sudah berganti pakaian dengan t-shirt berkerah yang santai. Ia tam
Sinar mentari pagi mulai menyelinap ke dalam kamar Kanaya melalui celah-celah jendela kayu yang telah memudar dimakan usia. Perlahan, ia membuka matanya. Dari luar kamar terdengar suara orang-orang yang lalu lalang.Ternyata hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kanaya meregangkan tubuhnya. Pandangannya terpaku pada dinding kamar yang tampak kosong."Ibu... Bapak... tolong jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya sedang terjadi...."Suaranya melemah seiring air mata yang kembali mengalir di pipinya.Ibu memeluknya erat sambil mengusap lembut rambut putrinya."Kanaya, usiamu sudah cukup untuk menikah. Ayah harap kamu mengerti keputusan ayah dan ibu. Semua ini demi masa depanmu," jelas ayah sambil menyalakan sebatang rokok."Tapi kenapa aku dijodohkan dengan orang yang bahkan wajahnya pun belum pernah kulihat? Kenapa Ayah dan Ibu tidak bertanya dulu kepadaku? Apa alasan semua ini, Ayah?" tanya Kanaya sambil terus menangis."Ayah mengenal keluarga Atmaja. Mereka orang terpandang, Nak. Me
Kanaya Hanania adalah seorang gadis desa yang hidup sederhana bersama kedua orang tuanya. Parasnya manis dengan kulit kuning langsat yang bersih. Wajahnya tirus, dihiasi sepasang mata almond yang sendu. Senyumnya mampu membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum.Kanaya hanyalah lulusan SMA. Beberapa bulan yang lalu, ia menyelesaikan pendidikannya. Kini, ia membantu kedua orang tuanya mengurus kebun jagung milik keluarga.Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Kanaya sedang memetik beberapa tongkol jagung untuk dijadikan menu makan siang. Dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melaju perlahan menuju rumahnya. Jalan itu hanya mengarah ke satu rumah, yaitu rumah keluarga mereka.Dengan tergesa-gesa, Kanaya berlari masuk ke dalam rumah."Ibu... Ibu..." panggilnya dari depan kamar.Ibunya keluar sambil membawa selembar pakaian yang sedang dilipat."Ada apa, Nak?" tanyanya lembut.Belum sempat Kanaya menjawab, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Keduanya saling ber







