로그인Kanaya sedang duduk melamun di taman siang itu. Ia memainkan kakinya di atas rumput. Tak lama kemudian Davina datang menghampirinya dengan wajah kesal.
“Enak banget kerjaan lo cuma duduk-duduk,” ucapnya kasar.
Kanaya menundukkan kepalanya. Selama sebulan ia tinggal di rumah ini, Davina-lah orang yang paling tidak bersahabat dengannya. Seperti sengaja menunjukkan ketidaksukaannya kepada Kanaya secara terang-terangan.
“Ada yang bisa saya bantu, Davina?”
Kanaya mengangkat kepalanya, menatap ke arah Davina yang sedang bertolak pinggang di hadapannya.
“Jemput Ali ke sekolahnya.”
“Baiklah.”
Kanaya mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ia lalu berpakaian rapi menggunakan dress bunga kecil berwarna putih dan cardigan berwarna butter yellow.
Ketika ia turun ke bawah dan berjalan ke arah luar, ia mendengar tawa Davina yang sedang bertelepon.
“Gue ke café sekarang. Tunggu gue, Ali udah diurus sama ipar kampungan gue itu.”
Ia tertawa santai.
Kanaya tahu Davina sengaja menghinanya saat ia lewat. Kanaya hanya menahan diri dan bergegas keluar menuju mobil yang sudah berada di depan rumah.
“Jalan, Pak,” ucap Kanaya sambil mengusap air matanya yang tumpah sedikit.
Selama sebulan ia berada di rumah itu, ia jarang berbicara dengan semua orang, termasuk Devano. Devano hanya datang kepadanya saat ia membutuhkan Kanaya untuk melayaninya. Melinda sibuk dengan arisan-arisan sosialitanya, dan Davina yang pemalas sering pergi dengan teman-temannya.
Kanaya mengisi hari-harinya dengan membantu Rahma di dapur. Awalnya Rahma menolak, namun Melinda memerintahkan Rahma untuk mengikuti kemauanku untuk membantunya. Jadilah sehari-hari Kanaya membantu Rahma mengurus dapur, pergi berbelanja, atau merawat tanaman di kebun bunga Melinda.
Beberapa kali ia mencoba mendekatkan dirinya dengan Devano, tetapi pria itu seakan-akan membangun tembok yang sangat tinggi dengannya.
Mobil berhenti di parkiran sekolah Ali. Kanaya turun dan berjalan ke dalam. Sejak baby sitter Ali berhenti beberapa hari yang lalu, ia yang membantu Davina mengurus Ali.
Ali sedang duduk di pinggir lapangan sambil menatap pohon di depannya.
“Ali, ayo pulang,” ucap Kanaya lembut.
“Lama banget sih! Teman-temanku sudah tidak ada.”
Ali mendelik melihat Kanaya. Ia berdiri lalu melempar tasnya ke arah Kanaya dan berjalan melewati Kanaya menuju mobil.
Kanaya hanya diam. Ia harus tetap sabar menghadapi Ali. Sifat Ali dan Davina sama persis. Manja, kasar, dan manipulatif. Dalam hati kecilnya, ia kasihan dengan Ali yang kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Papanya sibuk bekerja di kantor dan selalu pulang malam. Davina juga tidak peduli dengan anaknya dan sibuk dengan dirinya sendiri.
Kanaya bertekad mengubah Ali menjadi anak yang baik. Dan ia yakin, Ali bisa berubah.
“Cepat, Kanaya,” perintah Ali.
Kanaya bergegas mengikutinya menuju mobil. Ketika mereka sudah di dalam mobil berdua, Kanaya bertanya dengan lembut kepada Ali.
“Bagaimana dengan sekolahmu hari ini?”
Ali mendengus menatap jendela.
“Biasa saja,” jawabnya ketus.
“Maafkan aku ya, Ali. Tadi macet banget deh. Aku jadi terlambat menjemput kamu.”
Kanaya tersenyum lembut kepada Ali. Ali melirik Kanaya.
“Ya kan, Pak Bambang? Tadi macet banget, kan?” ucap Kanaya.
Pak Bambang mengangguk sambil tersenyum kepada Ali. Anak itu hanya melirik sekilas lalu ia diam saja melihat jalanan.
Sabar, Kanaya... pelan-pelan menghadapi anak ini, ya...
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah. Ali segera turun dan masuk ke dalam. Aku mengikutinya, lalu aku membantunya membersihkan diri dan memberinya makanan. Ali hanya diam dan menurut dengan apa yang aku lakukan. Setelah selesai, ia mengambil gadget-nya dan mulai bermain.
“Ali, main gadget-nya jangan lama-lama ya,” ucapku.
Ali tidak peduli dan mengabaikanku. Aku keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamarku. Aku melihat Devano yang keluar dari kamar. Ia berpakaian rapi menggunakan setelan olahraganya. Di tangan kirinya ia menenteng tas tenisnya.
Aku berlari ke arahnya.
“Devano... izinkan aku ikut kali ini... aku mohon,” ucap Kanaya.
Ia ingin sekali pergi berdua dengan Devano.
Devano menatap Kanaya lalu tertawa.
“Kamu? Main tenis?” tanyanya dengan nada meremehkan.
“Aku hanya akan melihat saja. Aku janji tidak akan mengganggumu,” Kanaya memohon sekali lagi.
Devano tersenyum kecut. Ia lalu mengangguk pelan.
“Ganti bajumu dengan baju tenis. Sepertinya sudah disiapkan oleh Mami di lemari. Aku tunggu di bawah selama lima belas menit. Lebih dari itu aku akan meninggalkanmu,” ucapnya.
Lalu ia berjalan menuruni anak tangga.
Kanaya berlari ke kamarnya. Ia menelepon Rahma, mengatakan ia akan pergi dengan Devano dan menitipkan Ali kepadanya.
Kanaya mencari baju tenis yang disebutkan Devano. Beruntungnya ia dengan cepat menemukannya. Ia memakai atasan berupa kaus berkerah dengan potongan pas di badan berwarna pink muda, dipadukan dengan rok tenis model lipit pendek berwarna putih. Tak lupa ia memakai celana pendek ketat agar tetap nyaman menggunakan rok itu. Kemudian ia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda.
Setelah selesai, ia berlari turun ke bawah. Terlihat Devano berdiri di pintu menunggunya dengan tak sabar.
Devano menaiki mobil Alphard hitam itu, disusul Kanaya. Mereka berangkat menuju lapangan tenis tempat biasa Devano bermain tenis dengan teman-temannya.
Sesampainya di sana, Devano turun dan Kanaya mengikutinya dengan tergesa-gesa hingga hampir jatuh. Ia kesulitan mengikuti langkah Devano yang besar.
Dari jauh terlihat teman-temannya melambaikan tangan ke arah Devano. Devano dan Kanaya berjalan menuju ke sana.
“Sudah lama?” tanya Devano kepada seorang pria.
“Tidak, aku baru sampai.”
Pria itu tersenyum. Pandangannya beralih ke arahku lalu menatap Devano lagi.
“Ah, kenalin ini Kanaya,” ucap Devano.
Pria itu menjulurkan tangannya ke arah Kanaya, dan Kanaya membalasnya.
“Richard.”
“Kanaya.”
“Oh, jadi ini gadis itu?” ucapnya sambil melihatku dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.
“Sudahlah, ayo kita bermain,” ucap Devano.
“Di sini saja. Tunggu aku selesai bermain,” perintah Devano.
Richard mengedipkan sebelah matanya ke arahku lalu pergi mengikuti Devano.
“Tidak sopan,” ucap Kanaya pelan.
Ia menuruti perkataan Devano dan kemudian duduk. Ia melihat Devano yang mulai bermain dengan Richard. Kanaya terkesima melihat gerakan Devano. Devano sangat tampan dan berkarisma di mata Kanaya saat itu.
Ia menunggu sangat lama hingga Devano selesai bermain dan berjalan ke arahnya.
Devano menyerahkan sebotol air mineral ke depan wajah Kanaya, dan Kanaya menerimanya dengan senang hati.
“Perhatian sekali Tuan Devano,” sindir Richard.
Devano tidak memedulikan ucapan Richard. Ia meneguk air minumnya sendiri.
Tiba-tiba dua orang gadis datang ke arah mereka.
“Devano,” panggilnya.
Dengan anggun ia memeluk Devano. Kanaya tersedak dengan air yang sedang ia minum.
Wanita itu tidak memedulikan Kanaya. Ia sibuk berbicara dengan Devano.
“Kamu kok enggak bilang sih mau main tenis hari ini. Untung Vira tiba-tiba pengin main dan aku ikut. Kita jadi ketemu deh,” ucapnya centil.
Devano tersenyum ke arah gadis itu lalu mencubit hidungnya mesra.
“Surprise can be fun,” ucap Devano santai.
Ia duduk di kursi dan gadis itu duduk di sebelahnya berdempetan.
Mata Kanaya tak lepas dari gadis itu. Seribu pertanyaan muncul di kepalanya.
Tiba-tiba gadis itu melihat ke arah Kanaya.
“Siapa dia? Pacar baru lagi, Chard?” tanyanya kepada Richard.
Richard terkejut dan tertawa.
“Dia? Pacarku? Kau tahu tipeku, kan? Tidak mungkin aku dan dia,” ejek Richard.
“Dia istri Devano,” jawab Richard lagi sambil terus tertawa.
Gadis itu terkejut dan tanpa sadar ia berkata, “HAH? GADIS KAMPUNG ITU KE SINI? EWWW, DEVANO, YOU'RE NOT DRUNK, HUH?”
Wajah Kanaya memerah karena malu."Tapi...""Dia asisten saya," tiba-tiba jessica datang menghampirinya.Petugas itu segera mengangguk dan mempersilakan Kanaya masuk."Ikut aku. Kalau nggak, nanti kamu diusir karena dikira pencuri."Kanaya hanya mengangguk pelan. Ia mengikuti Jessica ke mana pun wanita itu berjalan.Ia benar-benar tidak memahami bagaimana kehidupan orang-orang kaya.Sementara itu, Devano duduk santai di sofa mewah di tengah butik, sibuk memainkan ponselnya tanpa sedikit pun memedulikan keadaan sekitar."Pegang."Jessica menyerahkan beberapa potong pakaian kepada Kanaya. Kanaya menerimanya tanpa membantah."Biar saya bantu, Nona," ujar seorang pramuniaga."No. Biar dia yang kerja." Jessica tersenyum sinis.Selama hampir setengah jam mereka berkeliling butik. Kini kedua tangan Kanaya sudah penuh oleh baju, tas, sepatu, dan berbagai aksesori hingga ia kesulitan membawanya."Bawa ke kasir." Kanaya kembali menurut.Setelah semua selesai dibayar, Jessica dan Devano duduk sa
Devano, Jessica, dan Richard adalah teman kuliah. Ketiganya berasal dari keluarga pengusaha sukses di Indonesia. Richard merupakan putra pemilik perusahaan tambang besar di Kalimantan, sedangkan Jessica adalah anak tunggal pengusaha tekstil terbesar di Indonesia. Ibunya pernah menjadi model ternama pada masanya, dan kini Jessica mewarisi kecantikan sekaligus bakat sang ibu. Di usianya yang masih muda, ia telah menjadi salah satu model papan atas Indonesia.Jessica memiliki paras yang sangat menawan. Tubuhnya tinggi semampai dan ramping, rambut panjang berwarna hazelnut tergerai indah, serta wajah blasteran Indonesia-Korea yang membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.Sejak dulu, Jessica menyukai Devano. Namun, pria itu terasa begitu sulit untuk diraih. Devano tidak pernah menjalin hubungan yang serius. Semasa kuliah, ia dikenal sebagai player yang selalu dikelilingi banyak wanita.Ketika mengetahui Devano menikah, Jessica sempat mengurung diri di kamar karena kecewa. Namun, setelah
Kanaya sedang duduk melamun di taman siang itu. Ia memainkan kakinya di atas rumput. Tak lama kemudian Davina datang menghampirinya dengan wajah kesal.“Enak banget kerjaan lo cuma duduk-duduk,” ucapnya kasar.Kanaya menundukkan kepalanya. Selama sebulan ia tinggal di rumah ini, Davina-lah orang yang paling tidak bersahabat dengannya. Seperti sengaja menunjukkan ketidaksukaannya kepada Kanaya secara terang-terangan.“Ada yang bisa saya bantu, Davina?”Kanaya mengangkat kepalanya, menatap ke arah Davina yang sedang bertolak pinggang di hadapannya.“Jemput Ali ke sekolahnya.”“Baiklah.”Kanaya mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ia lalu berpakaian rapi menggunakan dress bunga kecil berwarna putih dan cardigan berwarna butter yellow.Ketika ia turun ke bawah dan berjalan ke arah luar, ia mendengar tawa Davina yang sedang bertelepon.“Gue ke café sekarang. Tunggu gue, Ali udah diurus sama ipar kampungan gue itu.”Ia tertawa santai.Kanaya tahu Davina sengaja menghinanya sa
Keesokan harinya Rahma membangunkan Kanaya yang masih tertidur. Tubuhnya masih menggunakan baju yang kemarin ia gunakan. Semalaman ia hanya menangis dan tertidur tanpa membersihkan dirinya.“Non, ayo bangun. Nona harus membersihkan diri dan turun ke bawah. Sebentar lagi Tuan Devano dan Nyonya akan sarapan. Nona harus bersiap dahulu,” ucapnya pelan.Kanaya membuka matanya perlahan. Matanya terasa bengkak. Ia mengangguk dan perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Rahma membantunya berdiri. Kepala Kanaya sangat berat. Ia tak sanggup untuk berjalan. Melihat Kanaya yang tampak kesakitan, Rahma membantunya untuk berjalan menuju kamar mandi.Kanaya masuk ke dalam sendirian. Ditatapnya wajahnya yang bengkak dan rambutnya yang acak-acakan di cermin. Ia menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya agar ia cepat tersadar. Kemudian ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan cepat.Ketika ia keluar dari kamar mandi, tampak Rahma masih berdiri menunggunya di sana. Sepotong dress berlengan pen
Kanaya mengambil koper kecilnya yang sudah ia isi dengan baju-bajunya. Ia menatap kamarnya, menangis membayangkan ia tidak akan tinggal di sini lagi. Dengan enggan, ia keluar dari kamar karena ibu sudah berulang kali memanggil namanya dari luar.“Kenapa lama sekali, Nak? Suamimu sudah menunggumu,” ucap ibu tak sabaran.Acara pernikahannya tidak berlangsung lama. Sehabis maghrib, Devano dan keluarganya membawa Kanaya untuk kembali ke kota. Kediaman keluarga Atmaja terletak di Kota C, jaraknya sekitar 3 jam dari rumah Kanaya. Mereka mengatakan akan langsung pulang saat itu juga karena ada kesibukan besok harinya. Tapi Kanaya tahu, mana mungkin keluarga ningrat seperti mereka mau menginap di rumahnya yang reot ini. Percuma saja ibu membersihkan seluruh isi rumah ini sampai lupa makan. Kanaya tertawa dalam hati.“Ayo, Nak, kita segera berangkat,” ucap Bu Melinda yang sekarang sudah menjadi mertuanya.Ia menatap Devano yang sudah berganti pakaian dengan t-shirt berkerah yang santai. Ia tam
Sinar mentari pagi mulai menyelinap ke dalam kamar Kanaya melalui celah-celah jendela kayu yang telah memudar dimakan usia. Perlahan, ia membuka matanya. Dari luar kamar terdengar suara orang-orang yang lalu lalang.Ternyata hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kanaya meregangkan tubuhnya. Pandangannya terpaku pada dinding kamar yang tampak kosong."Ibu... Bapak... tolong jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya sedang terjadi...."Suaranya melemah seiring air mata yang kembali mengalir di pipinya.Ibu memeluknya erat sambil mengusap lembut rambut putrinya."Kanaya, usiamu sudah cukup untuk menikah. Ayah harap kamu mengerti keputusan ayah dan ibu. Semua ini demi masa depanmu," jelas ayah sambil menyalakan sebatang rokok."Tapi kenapa aku dijodohkan dengan orang yang bahkan wajahnya pun belum pernah kulihat? Kenapa Ayah dan Ibu tidak bertanya dulu kepadaku? Apa alasan semua ini, Ayah?" tanya Kanaya sambil terus menangis."Ayah mengenal keluarga Atmaja. Mereka orang terpandang, Nak. Me







