로그인Keesokan harinya Rahma membangunkan Kanaya yang masih tertidur. Tubuhnya masih menggunakan baju yang kemarin ia gunakan. Semalaman ia hanya menangis dan tertidur tanpa membersihkan dirinya.
“Non, ayo bangun. Nona harus membersihkan diri dan turun ke bawah. Sebentar lagi Tuan Devano dan Nyonya akan sarapan. Nona harus bersiap dahulu,” ucapnya pelan.
Kanaya membuka matanya perlahan. Matanya terasa bengkak. Ia mengangguk dan perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Rahma membantunya berdiri. Kepala Kanaya sangat berat. Ia tak sanggup untuk berjalan. Melihat Kanaya yang tampak kesakitan, Rahma membantunya untuk berjalan menuju kamar mandi.
Kanaya masuk ke dalam sendirian. Ditatapnya wajahnya yang bengkak dan rambutnya yang acak-acakan di cermin. Ia menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya agar ia cepat tersadar. Kemudian ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan cepat.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, tampak Rahma masih berdiri menunggunya di sana. Sepotong dress berlengan pendek sudah berada di atas tempat tidur.
“Nona, ini bajunya sudah saya siapkan. Silakan dipakai, dan jika sudah selesai panggil saya ya, Non. Saya tunggu Nona di luar. Nanti saya bantu Nona untuk merapikan rambut,” ucap Rahma sambil berjalan keluar kamar dan menutup pintunya.
Kanaya mengambil baju itu. Dress dengan panjang selutut. Sangat cantik sekali. Ia kemudian bersiap, dan setelah selesai, ia memanggil Rahma. Lalu ia duduk di depan nakas sambil menatap dirinya di cermin.
Rahma masuk dan berjalan menghampirinya. Tangannya cekatan menyisir rambut Kanaya, kemudian membuat sanggulan kecil yang cantik. Kemudian Rahma membantu Kanaya mengoles wajahnya. Sederhana, namun bisa mengubah wajah Kanaya menjadi tampak sangat cantik dan anggun.
“Nona, silakan ikut saya ke ruang makan,” ucap Rahma.
Kanaya mengikutinya menuju tangga dan turun ke lantai bawah. Ruang makannya sangat mewah, berbentuk persegi panjang dengan tiga kursi di kanan dan kirinya. Ada sebuah pot dengan bunga-bunga segar berwarna putih dan ungu. Beberapa lukisan terpajang di dinding sekitar ruang makan.
Kanaya duduk di kursi yang ditunjuk oleh Rahma. Tidak ada siapa-siapa di sana. Kanaya menatap meja makan yang sudah terisi banyak makanan. Ada nasi goreng, aneka buah, roti, telur, dan kue-kue. Ia melihat ke depannya. Di depannya ada jendela besar yang dihiasi tirai ungu yang menjuntai ke bawah. Di luar tampak sebuah taman, dan di sebelah taman terdapat sebuah kolam renang yang tak terlalu besar.
“Sudah lama?” suara Devano menyadarkan Kanaya.
Ia menatap Devano yang mengambil tempat di sebelahnya. Tak lama kemudian Melinda, Davina, seorang pria, dan anak kecil berusia 4 tahun duduk di kursi mereka masing-masing. Davina, sang pria, dan anak kecil itu duduk di hadapan Kanaya dan Devano, sedangkan Melinda duduk di ujung meja, di antara Devano dan Davina.
“Kanaya, bagaimana tidurmu? Apakah baik?” tanya Melinda.
“B-baik, Bu... eh, Mami,” jawab Kanaya.
Dijawab oleh senyuman Melinda.
“Kenalkan, ini Satya, suami Davina, dan ini cucuku, Aliandro.”
Kanaya menatap mereka satu per satu, disambut dengan senyuman oleh Satya. Aliandro hanya melirik Kanaya sekilas. Ia sibuk bermain game di iPad miliknya.
“Ayo kita mulai makan,” perintah Melinda.
Semua orang hanya diam menikmati makanannya. Kanaya merasa canggung dengan situasi ini. Di rumahnya dulu, saat sarapan ia akan makan sambil mengobrol dengan bapak dan ibu. Kanaya merasakan hawa dingin menusuk hatinya saat itu.
Setelah makan, Devano bangkit dan berjalan ke ruang tengah. Dengan buru-buru Kanaya mengikutinya. Ada hal yang ingin ia tanyakan kepada Devano saat itu juga.
“Mas... Mas...” panggil Kanaya.
Devano menghentikan langkahnya. Ia mengamati Kanaya.
“Mas, ada yang mau aku bicarakan.”
Kanaya berhenti dan menatap Devano dengan waswas.
“Ikut aku,” perintah Devano.
Devano berjalan ke atas dan Kanaya mengikutinya dari belakang. Kemudian Devano masuk ke dalam kamarnya. Tetapi Kanaya berhenti di ambang pintu. Pandangannya menyapu seluruh isi kamar Devano. Dominasi warna cokelat, krem, putih, dan unsur kayu ada di mana-mana.
“Kenapa? Masuklah,” ucap Devano.
Kanaya mengangguk dan berjalan pelan ke dalam.
“Duduklah di sana,” perintah Devano sambil menunjuk sofa kulit panjang berwarna cokelat tua yang berada di depan tempat tidurnya.
Devano berjalan ke arah duvet dan mengambil sesuatu dari sana, kemudian menyusul Kanaya dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
Devano menatap mata Kanaya hingga membuat Kanaya salah tingkah.
“Aa... M-mas,” Kanaya terbata-bata mengucapkan sebuah kata. Jantungnya berdegup sangat kencang di saat berada di sekitar Devano.
“Ya, sayang?” jawab Devano sambil tersenyum nakal.
“K-ke... ke... kena... pa ki... ta ti... dur ter... pisah?” tanya Kanaya ragu.
Devano tertawa. Sepertinya ia sudah tahu pertanyaan yang akan diajukan Kanaya.
“Aku tidak ingin kau terganggu, Sayang. Kau tahu, aku sering bergerak saat tidur. Aku takut mengganggumu. Lebih baik kita tidur terpisah, sayangku,” jawab Devano santai sambil mengisap pod-nya.
“Oh begitu. Baiklah, Mas.”
Kanaya mengangguk.
“Kenapa? Apakah kau tidak suka jika aku tidak tenang saat tidur?” tanya Devano.
“Aa... ku... tiidak masalah. Hanya saja... ya mungkin itu memang menurutmu yang terbaik untukku...” jawab Kanaya.
Devano menatap wajah Kanaya. Gadis desa ini ternyata sangat cantik jika dirias seperti ini. Ia juga memiliki tubuh yang proporsional dan seksi. Tetapi Kanaya tetaplah gadis desa yang bodoh yang bisa percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Devano. Devano mengerti sekarang apa yang ada di pikiran ibunya.
Kemudian Devano menarik tubuh Kanaya ke pelukannya. Ia menginginkan gadis itu saat ini. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya. Gadis itu terkejut dengan apa yang Devano lakukan.
“Kanaya... kau istriku. Layani aku sekarang,” perintah Devano sambil mengecup bibir Kanaya.
Kanaya hanya mengangguk pasrah. Ia tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Ibu sudah memberitahukannya dan mengajarinya bagaimana ia harus bersikap sebagai seorang istri. Kanaya harus menerima takdirnya karena ia sudah menjadi istri Devano.
Pagi itu Kanaya menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk Devano. Tanpa cinta, ia menjalankan takdir yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Ia memejamkan mata berharap semuanya segera berakhir.
Wajah Kanaya memerah karena malu."Tapi...""Dia asisten saya," tiba-tiba jessica datang menghampirinya.Petugas itu segera mengangguk dan mempersilakan Kanaya masuk."Ikut aku. Kalau nggak, nanti kamu diusir karena dikira pencuri."Kanaya hanya mengangguk pelan. Ia mengikuti Jessica ke mana pun wanita itu berjalan.Ia benar-benar tidak memahami bagaimana kehidupan orang-orang kaya.Sementara itu, Devano duduk santai di sofa mewah di tengah butik, sibuk memainkan ponselnya tanpa sedikit pun memedulikan keadaan sekitar."Pegang."Jessica menyerahkan beberapa potong pakaian kepada Kanaya. Kanaya menerimanya tanpa membantah."Biar saya bantu, Nona," ujar seorang pramuniaga."No. Biar dia yang kerja." Jessica tersenyum sinis.Selama hampir setengah jam mereka berkeliling butik. Kini kedua tangan Kanaya sudah penuh oleh baju, tas, sepatu, dan berbagai aksesori hingga ia kesulitan membawanya."Bawa ke kasir." Kanaya kembali menurut.Setelah semua selesai dibayar, Jessica dan Devano duduk sa
Devano, Jessica, dan Richard adalah teman kuliah. Ketiganya berasal dari keluarga pengusaha sukses di Indonesia. Richard merupakan putra pemilik perusahaan tambang besar di Kalimantan, sedangkan Jessica adalah anak tunggal pengusaha tekstil terbesar di Indonesia. Ibunya pernah menjadi model ternama pada masanya, dan kini Jessica mewarisi kecantikan sekaligus bakat sang ibu. Di usianya yang masih muda, ia telah menjadi salah satu model papan atas Indonesia.Jessica memiliki paras yang sangat menawan. Tubuhnya tinggi semampai dan ramping, rambut panjang berwarna hazelnut tergerai indah, serta wajah blasteran Indonesia-Korea yang membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.Sejak dulu, Jessica menyukai Devano. Namun, pria itu terasa begitu sulit untuk diraih. Devano tidak pernah menjalin hubungan yang serius. Semasa kuliah, ia dikenal sebagai player yang selalu dikelilingi banyak wanita.Ketika mengetahui Devano menikah, Jessica sempat mengurung diri di kamar karena kecewa. Namun, setelah
Kanaya sedang duduk melamun di taman siang itu. Ia memainkan kakinya di atas rumput. Tak lama kemudian Davina datang menghampirinya dengan wajah kesal.“Enak banget kerjaan lo cuma duduk-duduk,” ucapnya kasar.Kanaya menundukkan kepalanya. Selama sebulan ia tinggal di rumah ini, Davina-lah orang yang paling tidak bersahabat dengannya. Seperti sengaja menunjukkan ketidaksukaannya kepada Kanaya secara terang-terangan.“Ada yang bisa saya bantu, Davina?”Kanaya mengangkat kepalanya, menatap ke arah Davina yang sedang bertolak pinggang di hadapannya.“Jemput Ali ke sekolahnya.”“Baiklah.”Kanaya mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ia lalu berpakaian rapi menggunakan dress bunga kecil berwarna putih dan cardigan berwarna butter yellow.Ketika ia turun ke bawah dan berjalan ke arah luar, ia mendengar tawa Davina yang sedang bertelepon.“Gue ke café sekarang. Tunggu gue, Ali udah diurus sama ipar kampungan gue itu.”Ia tertawa santai.Kanaya tahu Davina sengaja menghinanya sa
Keesokan harinya Rahma membangunkan Kanaya yang masih tertidur. Tubuhnya masih menggunakan baju yang kemarin ia gunakan. Semalaman ia hanya menangis dan tertidur tanpa membersihkan dirinya.“Non, ayo bangun. Nona harus membersihkan diri dan turun ke bawah. Sebentar lagi Tuan Devano dan Nyonya akan sarapan. Nona harus bersiap dahulu,” ucapnya pelan.Kanaya membuka matanya perlahan. Matanya terasa bengkak. Ia mengangguk dan perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Rahma membantunya berdiri. Kepala Kanaya sangat berat. Ia tak sanggup untuk berjalan. Melihat Kanaya yang tampak kesakitan, Rahma membantunya untuk berjalan menuju kamar mandi.Kanaya masuk ke dalam sendirian. Ditatapnya wajahnya yang bengkak dan rambutnya yang acak-acakan di cermin. Ia menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya agar ia cepat tersadar. Kemudian ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan cepat.Ketika ia keluar dari kamar mandi, tampak Rahma masih berdiri menunggunya di sana. Sepotong dress berlengan pen
Kanaya mengambil koper kecilnya yang sudah ia isi dengan baju-bajunya. Ia menatap kamarnya, menangis membayangkan ia tidak akan tinggal di sini lagi. Dengan enggan, ia keluar dari kamar karena ibu sudah berulang kali memanggil namanya dari luar.“Kenapa lama sekali, Nak? Suamimu sudah menunggumu,” ucap ibu tak sabaran.Acara pernikahannya tidak berlangsung lama. Sehabis maghrib, Devano dan keluarganya membawa Kanaya untuk kembali ke kota. Kediaman keluarga Atmaja terletak di Kota C, jaraknya sekitar 3 jam dari rumah Kanaya. Mereka mengatakan akan langsung pulang saat itu juga karena ada kesibukan besok harinya. Tapi Kanaya tahu, mana mungkin keluarga ningrat seperti mereka mau menginap di rumahnya yang reot ini. Percuma saja ibu membersihkan seluruh isi rumah ini sampai lupa makan. Kanaya tertawa dalam hati.“Ayo, Nak, kita segera berangkat,” ucap Bu Melinda yang sekarang sudah menjadi mertuanya.Ia menatap Devano yang sudah berganti pakaian dengan t-shirt berkerah yang santai. Ia tam
Sinar mentari pagi mulai menyelinap ke dalam kamar Kanaya melalui celah-celah jendela kayu yang telah memudar dimakan usia. Perlahan, ia membuka matanya. Dari luar kamar terdengar suara orang-orang yang lalu lalang.Ternyata hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kanaya meregangkan tubuhnya. Pandangannya terpaku pada dinding kamar yang tampak kosong."Ibu... Bapak... tolong jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya sedang terjadi...."Suaranya melemah seiring air mata yang kembali mengalir di pipinya.Ibu memeluknya erat sambil mengusap lembut rambut putrinya."Kanaya, usiamu sudah cukup untuk menikah. Ayah harap kamu mengerti keputusan ayah dan ibu. Semua ini demi masa depanmu," jelas ayah sambil menyalakan sebatang rokok."Tapi kenapa aku dijodohkan dengan orang yang bahkan wajahnya pun belum pernah kulihat? Kenapa Ayah dan Ibu tidak bertanya dulu kepadaku? Apa alasan semua ini, Ayah?" tanya Kanaya sambil terus menangis."Ayah mengenal keluarga Atmaja. Mereka orang terpandang, Nak. Me







