تسجيل الدخولStevia menghela nafas lega. “Bagus, kamu tidak perlu bantuin dia lagi.”
Saat melihat ke arah wajah Stevia, Bayu melihat bekas tanda merah di dada dan lehernya. Tapi ia tidak bereaksi apapun toh hubungan mereka tidak memiliki status apapun.Bayu juga selama ini hanya mengikuti permainan Stevia yang selalu menggodanya. Awalnya memang ia ingin. Menolak tapi mengingat kekuatan dalam dirinya yang membutuhkan energi dari hubungan badan. Jadi Bayu tidak mempermasalahkan dirinya tid“Baik. Dengan adanya pengakuan terdakwa serta bukti yang diajukan oleh pihak penuntut, pengadilan memutuskan bahwa penyelidikan terhadap Susan Atmaja harus dilanjutkan secara resmi.”Tok!Palu sidang kembali diketukkan.“Pengadilan memerintahkan aparat penegak hukum untuk menghadirkan Susan Wijaya sebagai tersangka tambahan dalam perkara ini.”Ia menatap seluruh ruangan dengan serius.“Sidang untuk terdakwa Arji akan ditunda sementara hingga proses penangkapan dan pemeriksaan terhadap Susan Wijaya selesai dilakukan.”Beberapa wartawan langsung berdiri, mencoba menangkap setiap kata yang diucapkan hakim.Hakim mengangkat palunya sekali lagi.“Sidang ditunda dan akan dilanjutkan dalam beberapa hari ke depan setelah Susan Atmaja berhasil dihadirkan di pengadilan.”Tok!“Sidang ditutup.”Suasana ruang sidang langsung dipenuhi suara riuh.Di tengah semua itu, Bayu memandang Stevia dari tempa
Bayu mengaduknya dengan sendok dan garpu hingga bumbu mie instan itu tercampur merata. Aroma dari mie instan rasa rendang mulai tercium di udara bahkan Stevia ikut mencium aromanya juga.Karena penasaran Stevia mendekati meja dapur. Iya sempat menelan ludah, tidak menyangka ternyata aromanya tidak seburuk yang ia pikirkan. “Ayo ini sudah jadi, Nona bisa memakannya sekarang.” Bayu membawakan semangkuk mie itu ke atas meja tempat biasanya Stevia makan.“Beneran, masaknya cepat banget! Ternyata se praktis ini ya bikinnya.” Stevia mulai menyuap mi ke dalam mulutnya, rasa kenyal dan kaya akan bumbu micin terasa di lidahnya meskipun harga mie sangat murah tapi ternyata rasanya cukup autentik. Di hadapan Stevia ada Bayu yang sedang duduk juga memperhatikannya makan. Ia terlihat penasaran akan bagaimana pendapat stevia mengenai mie instan itu. “Jadi, gimana enak kan?” tanyanya dengan antusias.“Eum, enhak!” Stevia mengangguk
Selvi semakin merasakan jantungnya berdebar keras karena takut jika sampai-sampai Stevia mengetahui kalau dirinya berada di sana. Karena jika sampai itu terjadi maka ia masih belum siap untuk memberikan jawaban apa yang akan diberikan kepada tantenya itu. Dengan terpaksa Selvi pun akhirnya mengangguk. Mulai masuk ke dalam lemari dan saat itu juga tangan Bayu menutup pintu lemari seperti semula. Selvi duduk memeluk lututnya, meringkuk lebih erat agar kakinya tidak menendang pintu lemari. Tangannya mulai menutupi bagian mulut untuk berjaga-jaga agar suaranya tidak keluar. Meski begitu ia bisa melihat sedikit celah dari dalam lemari ketika lampu kamar dinyalakan. Di saat itulah Selvi bisa melihat sedikit pergerakan dari luar melalui celah tersebut. Kunci yang menancap di pintu diputar untuk membuka. Tangan Bayu menekan pelan gagang pintu hingga akhirnya terbuka. Di luar terlihat Stevia yang sedang berdiri melihat ke arah dalam kamarnya.
“Hum! Ah, kamu gimana sih. Kok bisa tahu ini aku, padahal kan lampunya dimatiin terus kamu nggak bisa lihat apa-apa kalau gelap. Tadinya aku mau ngagetin kamu.” Dalam gelap itu Selvi ikut naik ke ranjang dan menarik selimut kakinya menyentuh lagi Bayu. Tangannya juga melingkar di pinggang Bayu. Wangi dari aroma sabun yang dipakai mandi tadi oleh Bayu tercium. Hidung Selvi mengendus wangi itu di punggung Bayu saat dia masih berbaring secara menyamping sehingga membelakangi Selvi yang berada di belakang punggungnya. Tangan halusnya menyentuh otot kekar yang disukainya. Bahkan mulai merayap ke beberapa bagian titik berbahaya yang dapat membuat Bayu merasakan kenikmatan. Tangan Selvi yang satu ini masuk melalui ujung bawah baju menuju bawah perut Bayu. “Ke mana arah tanganmu itu?” Bayu mulai berbalik ke arah Selvi. Mereka saling berhadapan di bawah satu selimut yang sama. Nafas mereka sama-sama menyentuh kulit masing-masing yang terasa mulai panas. “Tapi kamu suka kan?” Selvi t
Di sana Sri sudah tidak seorang diri bekerja di sana sebagai pembantu. Ada Rini yang membantunya baru saja bekerja di sana sudah beberapa Minggu.“Mba,” bisik Rini saat melihat Bayu yang baru saja menyapa mereka dengan senyuman ramah.“Apa lagi, Rin?” Sri tampak malas meladeni Rini.Bukan tanpa alasan, Rini yang tidak bisa membaca suasana malah membuatnya kesal. Padahal Sri sudah memperingatinya sebelumnya jika ada majikan di hadapan mereka maka jangan banyak bicara. Namun, Rini tidak juga mengikuti arahannya.“Mas Bayu ganteng juga ya,” lanjut Rini. “Shuut … tutup mulutmu!” Ujung mata Sri melirik ke arah Selvi yang sedang makan. Ia bermaksud untuk menunjukkan kalau majikan mereka ada di sana maka harus berhati-hati saat berbicara. Namun, Rini hanya kembali terkekeh kecil seolah ia menganggap remeh apa yang diperingatkan oleh Sri padanya.Selvi yang sedang makan tentu mendengar bisikan kedua pembantu di rumahnya. Terut
Tapi posisi Bayu saat ini bukan simpanan Stevia melainkan supir pribadinya sekaligus pengawalnya.“Bukan!” bentak Selvi.Ia sejak tadi berusaha untuk diam dan bersabar tapi teman-temannya sangat berisik dan tidak henti-hentinya membicarakan Bayu dan Stevia. Kini emosi Selvi memuncak.Semua teman-temannya kini terdiam dan melihat ke arahnya.“Tapi kan emang beneran? Dia sim—”Selvi langsung memotong, “Aku bilang bukan, ya bukan!” Tangan Selvi mengepal tanpa sadar. “Dia adalah pengawal pribadi Tanteku. Asal kalian tahu, Tanteku akan segera menikah dengan Keluarga Pratama. Jadi dia sudah tidak memiliki hubungan seperti itu.”“Hah jadi mau nikah ternyata! Ah, kita salah paham,” ucap Arni langsung meredakan bantahan dari yang lainnya.“Apa pengawalnya tidak boleh ikut nonton juga?” Selvi sengaja memperjelas kata pengawal.“Iya, tau tuh! Yuni, ini kamu yang buat kita salah paham duluan. Gimana sih.”“Tapi bisa dong, nanti kenalin dia sama kita,” balas Arni.“Dia bukan pengawalku, aku gak a
Bab ini mengandung 🔞🔞 harap bijak saat berpuasa!“Biarkan aku masuk,” ucapnya dengan terus terang menatap Bayu. Tangan Rara bahkan menahan ujung pintu agar Bayu mau membiarkannya masuk.“Tapi ….” Bayu menoleh ke arah Mila yang sudah kelelahan di atas kasur. “Bagaiman
Mobil mulai bergerak mulus meninggalkan halaman gedung. Suara mesin yang halus berpadu dengan desiran ban di atas aspal malam. Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan samar di wajah wanita itu yang masih menoleh ke arahnya tatapannya tenang, tapi terasa menekan.
Tapi Mila yang tahu persis wajah Bayu karena sudah melihatnya sebelumnya. Hanya dia yang mengenalinya, dalam hati Mila tampak lega karena akhirnya Bayu menepati ucapannya di malam itu. Tapi Tarji mendekati Bayu, ia melihatnya lebih dekat karena wajahnya terasa familiar. “Hei, anak muda apa kamu
“Ayo ikut aku. Bayu,” katanya pelan. Tangan Mila yang terasa dingin kini menggenggam tangan Bayu yang besar. Bayu yang sempat membeku saat melihat kecantikan Mila. Kini kembali tersadar saat gadis polos itu memegang tangannya. Dari genggaman itu Bayu tahu kalau Mila sangat gugup karena tangannya







