로그인Hutang itu lunas dalam satu transaksi.
Evelyn menarik napas lega, hutang sudah di bayar dan sekarang ia hanya perlu bersiap menerima tekanan baru yang akan datang. Ia keluar dari bank. Matahari Wales menyengat kulitnya, tapi ia tidak merasakannya. Sesampainya di rumah, Evelyn mendapati Peggy sedang duduk di kursi dekat jendela. Evelyn duduk di sampingnya.
"Bu, hutang sudah aku lunasi."
Peggy menoleh. Matanya membelalak, sayu tapi tajam. "Dari mana kau dapat uang sebanyak itu, Eve?"
Evelyn menelan ludahnya. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tidak bisa mengatakan bahwa ia baru saja menjual dirinya pada Dominic Harrington. Bahwa mulai hari ini, ia akan tinggal bersama pria itu, berpura-pura menjadi kekasihnya. Ia telah menukar kebebasannya dengan keselamatan ibunya.
"Aku meminjamnya dari Tuan Harrington. Sebagai imbalannya, aku harus bekerja untuk keluarganya di kota. Selama beberapa bulan."
Peggy menatapnya lama. Matanya mencari sesuatu di mata Evelyn. Sesuatu yang Evelyn coba sembunyikan di balik senyum yang ia paksakan.
"Kau yakin?"
"Aku yakin, Bu."
Evelyn mencium dahi ibunya, lalu ia bangkit. Tas kecilnya sudah disiapkan di dekat pintu. Hanya beberapa helai pakaian karena tidak ada waktu untuk menunda, anak buah Dominic sudah menunggu di depan gerbang.
"Aku harus pergi sekarang."
"Sekarang? Mendadak sekali."
"Aku sudah berjanji pada Tuan Harrington. Setelah uangnya dikirim, aku harus bekerja hari itu juga."
Peggy menatap putrinya. Ada penyesalan di sorot matanya, sesuatu yang tidak terucap. Bibirnya bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ia menahannya. Evelyn berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang. Jika ia menoleh, ia akan menangis. Dan ia tidak boleh menangis.
Mobil hitam itu melaju selama tiga jam.
Evelyn duduk di kursi belakang, menatap pemandangan yang perlahan berubah dari pedesaan hijau menjadi jalanan kota yang sibuk. Ladang-ladang domba berganti dengan gedung-gedung tinggi. Aroma rumput basah berganti dengan bau aspal dan knalpot. Ia tidak banyak bicara. Sopir itu juga tidak. Hanya suara mesin mobil yang memenuhi keheningan.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar. Bukan kediaman utama keluarga Harrington, melainkan rumah pribadi milik Dominic. Bangunan itu megah, dengan pilar-pilar marmer dan jendela tinggi yang memantulkan cahaya matahari sore. Di sekelilingnya, taman yang tertata rapi membentang, dengan air mancur kecil di tengahnya.
Seorang pelayan membuka pintu, membungkuk sopan. "Nona Morgan, selamat datang. Tuan Dominic sedang menunggu di ruang kerja."
Evelyn mengangguk. Ia melangkah masuk, melewati lorong-lorong panjang yang dihiasi lukisan mahal dan lampu gantung kristal. Setiap langkah terasa seperti berjalan menuju kandang singa. Udara di dalam rumah itu dingin, beraroma kayu dan parfum yang mahal, tidak seperti rumah kecilnya yang selalu berbau masakan ibunya.
Pelayan itu berhenti di depan pintu kayu besar. Ia mengetuk tiga kali, lalu membuka pintu.
Evelyn melangkah masuk.
Ruang kerja itu luas dan sunyi. Rak-rak buku tua memenuhi dinding, aroma kertas dan kayu bercampur dengan wangi parfum yang samar. Di ujung ruangan, jendela tinggi menghadap ke taman yang gelap, tirai berat tergantung di sisinya. Meja kayu besar berdiri di tengah, dan di belakangnya, Dominic duduk dengan pena di tangan.
Ia mengangkat kepala.
Mata gelap itu menatap Evelyn dengan tatapan yang dingin, tidak terbaca, seperti permukaan air yang dalam dan gelap. Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Hanya tatapan yang membuat Evelyn merasa seperti sedang berdiri di depan meja interogasi.
"Kau datang."
Evelyn berdiri tegak di depan meja, tasnya digenggam erat. "Aku selalu menepati janji."
Dominic meletakkan penanya. Ia bersandar di kursi, menatap Evelyn lama. Suasana di ruangan itu terasa menekan, seperti udara sebelum badai. Evelyn bisa merasakan beratnya tatapan itu di seluruh tubuhnya, seperti sedang ditimbang, diukur, dinilai.
"Mulai hari ini, kau tinggal di sini. Dan kau akan berpura-pura menjadi kekasihku di depan semua orang."
"Dan kau?" tanya Evelyn, suaranya tajam. "Apa aku masih bisa mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak aku setujui?"
Dominic menatapnya tanpa berkedip. "Kau punya hak untuk mengatakan tidak. Selama itu tidak merusak kesepakatan."
"Dan apa yang merusak kesepakatan?"
"Jika kau memberitahu siapa pun tentang ini. Jika kau mencoba melarikan diri." Ia berhenti, matanya mengeras. "Dan jika kau berhubungan dengan pria lain."
Evelyn mengerutkan kening. "Aku bisa mengerti kesepakatan yang kau berikan, aku tidak akan mengecewakan."
"Kau cukup pintar untuk memahaminya," ucap Dominic, "silahkan lakukan apa pun selama tidak melanggar perjanjian. Karena mulai hari ini di depan semua orang, kau adalah kekasihku." katanya.
Evelyn menggigit bibir bawahnya. Ia benci ini. Benci bahwa Dominic membuat segalanya terdengar seperti transaksi bisnis. Tapi uangnya sudah diterima, tidak ada jalan untuk mundur.
Dominic bangkit dari kursinya. Ia melangkah mengelilingi meja, mendekati Evelyn. Jarak mereka hanya beberapa inci. Evelyn bisa mencium aroma parfumnya, vetiver dan amber, hangat dan mengganggu. Jantungnya berdebar lebih cepat, dan ia benci bahwa tubuhnya merespons kehadiran pria ini.
"Ibuku akan datang minggu depan. Dia ingin bertemu dengan kekasihku."
Evelyn membelalak. "Minggu depan? Kau bilang aku punya waktu dua bulan."
"Pesta perjodohannya dua bulan dari sekarang. Tapi ibuku ingin bertemu denganmu lebih cepat. Dia ingin memastikan kau layak."
"Layak?"
"Layak untuk keluarga Harrington."
Evelyn mengepalkan tangannya. Layak. Seperti ia adalah barang yang harus diperiksa sebelum dibeli. Seperti ia adalah kuda yang harus dinilai sebelum dilelang.
"Dan bagaimana kalau ibumu tidak menganggapku layak?"
Dominic menatapnya. "Maka kau harus membuatnya menganggapmu layak."
Evelyn tertawa pahit, ia tau ibu Dominic adalah orang yang memiliki darah bangsawan, bagaimana cara membuat orang sepertinya mau menerima gadis dari keturunan pelayan sepertinya?
"Baiklah, aku mengerti." katanya, ia harus mencobanya dulu sebelum mengibarkan bendera menyerah. "Sekarang, di mana kamarku?"
"Pelayan akan mengantarmu."
Evelyn mengangguk. Ia membuka pintu, melangkah keluar, dan menutup pintu di belakangnya. Di lorong yang sunyi, ia bersandar di dinding. Napasnya berat. Langit-langit tinggi di atasnya terasa seperti langit-langit penjara.
Ia menutup matanya. "Tidak ada masalah yang tidak selesai sebelum dicoba." batinnya menguatkan diri sendiri.
Tapi, masalah itu datang terlalu cepat. Keesokan paginya ia terbangun oleh ketukan di pintu. Seorang pelayan masuk, membawa gaun yang dibungkus plastik. Gaun mahal. Gaun yang jelas bukan miliknya.
"Tuan Dominic meminta Nona memakai ini untuk makan malam nanti."
Evelyn menatap gaun itu. Sutra hitam. Renda halus di bagian lengan. Terlalu indah untuk seseorang seperti dirinya.
"Makan malam?"
"Ya, Nona. Tuan Dominic akan memperkenalkan Nona pada Tuan Damien dan Nyonya Gracia malam ini."
Evelyn membeku.
Malam ini?
Ia menelan ludahnya. Tangannya gemetar saat menyentuh gaun itu. Ia baru saja tiba kemarin, dan sekarang ia sudah harus bertemu dengan orang tua Dominic. Berpura-pura menjadi kekasih putra mereka.
Ia menutup matanya, mendadak nafasnya terasa berat.
"Aku belum siap," bisiknya.
Evelyn bisa merasakan ketegangan di antara Dominic dan Lucas.Udara di ruangan itu terasa berubah, lebih berat, lebih sesak, seperti sebelum badai datang. Cahaya matahari yang menembus jendela mendadak terasa terlalu terang, terlalu menusuk, tidak cocok dengan suasana yang terbentuk di antara kedua pria itu. Dominic dan Lucas memang kakak beradik, darah mereka sama, wajah mereka punya kemiripan yang tak bisa disangkal. Tapi di antara mereka, ada sesuatu yang retak. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar sembuh.Evelyn ingat cerita di balik retakan itu.Saat Damien masih menjadi suami Gracia, saat Gracia masih mengandung Dominic empat bulan, Damien pernah bersama dengan wanita lain. Evelyn tidak tahu detailnya. Ia hanya mendengar bisik-bisik pelayan di kediaman Harrington dulu, potongan-potongan cerita yang tidak pernah utuh. Tapi yang ia tahu, luka itu tidak pernah hilang. Ia hanya terkubur, tertutup oleh formalitas dan senyum yang dipaksakan.Dan kini, Evelyn tidak tahu bagaimana kond
Evelyn tidak pernah berpikir kalau Dominic sudah menyiapkan semuanya.Salah satunya adalah mengirim guru khusus untuk mengajarinya. Pagi itu, ketika Evelyn baru saja selesai berpakaian, seorang wanita masuk ke kamarnya tanpa ketukan. Usianya sekitar lima puluh tahun, dengan rambut pirang yang disanggul rapi dan gaun abu-abu sederhana tapi jelas mahal. Postur tubuhnya tegak, punggungnya lurus seperti penggaris, dan tatapan matanya tajam, menilai.Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Cahaya matahari yang menembus jendela jatuh di lantai marmer, tapi kehangatannya tidak sampai ke sudut tempat Evelyn berdiri."Saya Madame Fontaine. Tuan Dominic mengirim saya untuk mengajari Anda etiket."Evelyn tersenyum tipis. Tidak ada kehangatan di senyum itu. Hanya penerimaan. Karena ia tahu, tidak ada gunanya membantah.Madame Fontaine tidak membuang waktu.Ia memerintahkan Evelyn untuk berdiri di tengah ruangan, punggung menghadap jendela. Lalu ia berjalan mengelilingi Evelyn, matanya menyapu s
"Karena kau milikku."Kata-kata itu menggantung di udara, seperti gema yang tidak mau pergi. Evelyn menatap Dominic, matanya hijau yang tajam menelusuri wajah pria itu, mencari sesuatu, apa pun, yang bisa memberitahunya bahwa kata-kata itu berarti lebih dari sekadar klaim kepemilikan.Tapi yang ia temukan hanyalah dingin, Evelyn tau, seorang Dominic Harrington tidak mungkin mencintainya. Pria itu hanya ingin memanfaatkan keberadaannya untuk menghindari perjodohan."Aku milikmu, setidaknya sampai perjanjian diantara kita usai." ucap Evelyn.Dominic tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Evelyn lama, lalu berbalik, melangkah menuju pintu restoran. "Ayo. Mobil sudah menunggu."Evelyn mengikutinya. Langkahnya cepat, tapi tidak terlalu dekat. Ia menjaga jarak, menjaga tembok yang selama ini ia bangun ketika Dominic mengatakan bahwa Evelyn ada di bawah perlindungannya.Di dalam mobil, keheningan terasa menyesakkan. Evelyn menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berkelebat. Ia
Evelyn berdiri di depan cermin, detak jantungnya berdebar kencang. Gugup. Waspada. Bahkan ini lebih parah ketimbang saat ia dikejar domba yang sedang mengamuk di ladang.Gaun sutra hitam itu menempel di tubuhnya seperti kulit kedua. Renda halus di bagian lengan, potongan yang anggun, dan kain yang jatuh sempurna di setiap lekuk.Evelyn menatap pantulan dirinya. Rambut hitam keemasannya ditata rapi, disanggul rendah dengan beberapa helai jatuh di sisi wajah. Wajahnya bersih, tanpa riasan berlebihan. Ia terlihat seperti orang lain. Seperti wanita yang bukan dirinya."Nona Morgan, Tuan Dominic sudah menunggu di bawah."Evelyn menarik napas panjang. Ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong yang panjang, dan turun ke lantai dasar. Dominic berdiri di dekat pintu utama, mengenakan jas hitam yang dipotong sempurna. Ia menatap Evelyn sekilas, lalu mengangguk singkat."Ayo."Restoran itu bernama Lumière. Terletak di lantai atas salah satu gedung tertinggi di kota, dengan jendela kaca yang me
Hutang itu lunas dalam satu transaksi.Evelyn menarik napas lega, hutang sudah di bayar dan sekarang ia hanya perlu bersiap menerima tekanan baru yang akan datang. Ia keluar dari bank. Matahari Wales menyengat kulitnya, tapi ia tidak merasakannya. Sesampainya di rumah, Evelyn mendapati Peggy sedang duduk di kursi dekat jendela. Evelyn duduk di sampingnya."Bu, hutang sudah aku lunasi."Peggy menoleh. Matanya membelalak, sayu tapi tajam. "Dari mana kau dapat uang sebanyak itu, Eve?"Evelyn menelan ludahnya. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tidak bisa mengatakan bahwa ia baru saja menjual dirinya pada Dominic Harrington. Bahwa mulai hari ini, ia akan tinggal bersama pria itu, berpura-pura menjadi kekasihnya. Ia telah menukar kebebasannya dengan keselamatan ibunya."Aku meminjamnya dari Tuan Harrington. Sebagai imbalannya, aku harus bekerja untuk keluarganya di kota. Selama beberapa bulan."Peggy menatapnya lama. Matanya mencari sesuatu di mata Evelyn. Sesuatu yang Evelyn coba s
"Jika dalam tujuh hari hutang ini tidak dilunasi, kami akan mengambil jaminan. Nyawa ibumu."Evelyn meremas surat itu. Tangannya gemetar.Tiga ratus ribu dollar. Jumlah yang tidak akan pernah bisa Evelyn bayar, bahkan jika ia menjual seluruh peternakan dan seluruh isi rumahnya. Ayahnya yang meninggalkan hutang itu. Mendiang ayahnya, pria yang selama hidupnya kasar pada istri dan anaknya, ternyata juga penjudi. Dan sekarang, karena ayahnya sudah tiada, hutang itu jatuh ke tangan Evelyn.Ia sudah menjual semua barang berharganya, bahkan itu tak mampu menutupi sebagian kecil dari hutang yang begitu banyak itu.Evelyn menarik rambutnya frustasi, ia tidak bisa kehilangan ibunya. Tapi dimana ia mendapatkan uang tiga ratus ribu dollar dalam satu minggu?"Tuan Harrington." Nama itu mendadak muncul di kepalanya.Peternakan yang selama ini dikelola keluarganya adalah milik Damien Harrington. Jika ada satu orang yang bisa menolongnya, itu adalah Damien. Dialah satu-satunya tujuan Evelyn saat ini







