Share

Belenggu Hati
Belenggu Hati
Author: pinkcamelia

Chapter 1

Author: pinkcamelia
last update publish date: 2022-05-19 08:58:18

"Ku rasa kau cukup banyak minum malam ini, Ender." Seorang pria mendekat ke pria yang sedang menumpu kedua tangannya di pembatas dek kapal. Dengan satu gelas cairan berwarna bening di tangannya.

"Kamu sangat tahu Re? Aku nggak suka berada di sana lama lama dan bisa bisa membuat kepalaku sakit," Ujar Ender malas.

Sepintas senyuman tipis tersampir di wajah tampan pria bernama Asli Refat Anggara tersebut. Namun, Ender sering memanggilnya dengan Re. Sejak dari dulu mereka di sekolah TK. Itu artinya mereka sudah bersahabat dari dulu.

"Kamu pemeran utama malam ini Ender! Kamu harus ada di sana, kedua orang tuamu mencarimu," Refat ikut menumpu kedua tangannya menyamai Ender.

Ender menoleh melihat Refat sebelum kemudian dia sendiri terkekeh geli.

"Aku kira kamu duluan yang bakalan menikah," Ender kembali melihat ke depan.

Ke hamparan laut lepas di hadapan keduanya. Dengan ombak ringan, tidak membuat siapapun merasa ketakutan.

Refat ikut terkekeh.

"Lalu siapa sangka! Si pria yang katanya belum ada niatan untuk ke sana tapi sudah akan lebih dulu ke sana," timpal Refat tanpa melihat Ender. Karna kedua manik matanya menikmati ke indahan laut malam.

Jarang jarang ia bisa menikmati pemandangan indah tersebut. Karna kesibukannya selalu kerja dan kerja.

Dan di saat ini. Ia bisa menikmati serta beristirahat sebentar. Di karenakan, perjamuan mewah yang di adakan di kapal pesiar dan di tengah laut. Selama satu hari satu malam.

Benar. Berada di dalam sana, berlama lama bukanlah tipikal seorang Ender. Dia akan merasa bosan dan jenuh seketika. Dan dengan kebisingan. Akan membuat kepalanya sakit. Karna itu, Ender memilih keluar mencari angin segar sebentar sekaligus menenangkan otak dan pikirannya. Sebelum kembali ke ball room.

Ender tidak menjawab. Dia hanya membalas dengan tersenyum penuh maknanya.

Kemunculan satu pasangan di lantai dek kapal di bawah mereka. Mencuri perhatian Ender dan Refat untuk melihat. Tanpa bisa mereka dengar pembicaraan satu pasangan tersebut.

"Kara?" Panggil Ezra entah yang kesekian kalinya untuk menghentikan rencana jahat Kara.

Tapi Kara yang tidak mendengar kan dan mempedulikan panggilan Ezra. Memilih naik ke dek kapal dan Ezra dengan setia mengikuti langkah cepat Kara.

Keduanya berada di lantai 2 dek kapal. Di pinggiran pembatas. Dengan Kara menatap Ezra jenuh. Keduanya saling berpandangan dengan pikiran berbeda.

"Ini belum terlambat," sambung Ezra memohon untuk menghentikan rencana Kara.

Sinar di kedua manik mata Kara. Membuat Ezra tahu akan jawaban Kara. Kara tidak akan mengubah pikirannya.

"Apa itu pertengkaran pasangan?" Tanya Refat ke Ender yang masih memperhatikan melihat satu pasangan di bawah mereka.

Mengalihkan pandangannya ke laut. Ender merasa itu hal bodoh yang tidak sengaja dia lihat.

"Mana ku tahu? Jika kamu ingin tahu, turunlah dan tanyakan pada mereka." Jawab Ender ketus dan acuh.

Refat menghela nafas menatap sinis Ender. Sebelum menggeleng frustasi.

"Aku jadi bertanya tanya. Apa yang membuatmu menerima pernikahan yang di atur ini. Mengingat begitu setianya kamu, dengan kesendirian selama ini Ender! Jangan katakan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama pada calon istri mu. Aku sangat mengenalimu,"

Ender mengacuhkan ucapan Refat, yang nyaris seperti interogasi itu.

Jika Ender memilih melihat ke depan ke laut. Namun berbeda dari Refat, yang memilih melanjutkan melihat pasangan di bawah mereka.

"Kamu tahu? Apapun akan aku lakukan untukmu! Meski kamu menyuruhku terjun ke laut di saat ini juga. Tapi Kara!" Ezra memegang kedua pundak Kara dengan perasaan sayangnya. Sebelum kembali berucap.

"Tidak dengan menyakitimu. Hal ini akan membuat mu..."

"Lebih baik." Potong Kara cepat dengan menatap Ezra tegas.

Ezra mematung dan tidak tahu harus mengatakan apalagi untuk meyakinkan Kara. Tubuhnya seketika lemas semua bahkan hingga ujung kakinya. Saat melihat sinaran mata Kara yang tegas dan dingin tidak terbantahkan.

Kara menaikkan kedua tangannya melepaskan kedua tangan Ezra yang memegang pundaknya. Sedang kedua matanya masih menatap Ezra.

"Jika kamu tidak bisa membantuku maka katakan saja. Aku akan cari orang lain yang bisa membantuku. Aku sudah peringatkan dari awal Ezra! Jika kamu tidak mau membantu. Maka jangan jadikan dirimu penghalang rencanaku." Ujar Kara tajam dan dingin.

Kara berbalik membelakangi Ezra. Menatap laut lepas di hadapannya sedang pikirannya di tempat lain.

"Aku akan merasa lebih buruk dari ini jika tidak melakukan ini Ezra? Aku tidak bisa membiarkan dia tertawa senang dan bahagia. Aku tidak bisa," Kara mengepal kedua buku tangannya. Sedang di pelupuk kedua matanya. Air matanya sudah mengenang.

Bagaimana bisa seseorang tertawa bahagia. Setelah apa yang mereka lakukan dan tanpa merasa bersalah. Dan bagaimana bisa keburuntungan demi keburuntungan tertimpa padanya.

Dan kali ini. Pria kaya, anak konglomerat ternama di negara ini. Yang jadi calon suaminya.

Ezra menatap punggung Kara setelah melihat kepalan kedua tangan Kara.

"Aku bisa membawamu pergi dari negara ini dan tidak perlu lagi melihat Zara, Kara? Kita bisa pergi dari sini," Ezra masih memohon dengan nada lemasnya.

Entah yang keberapa kali sudah Ezra meminta memohon ke Kara untuk menghentikan rencana gilanya Kara. Dari perjodohan Zara dan pria bernama Ender itu di tentukan.

Bagi Kara. Dia sama sekali tidak mengenali calon suami Zara. Dalam pikirannya sekarang adalah menyakiti dan membuat rencana keluarga Zara batal. Tapi tidak baginya. Ia sangat mengenali pria ini. Calon suami Zara.

Dia akan sangat bengis dan kejam jika hal tentang dirinya di ganggu atau diusik.

Dan Kara. Akan melakukan itu.

Dengan tersenyum penuh makna. Kara berbalik menatap Ezra di hadapannya.

"Aku rasa kamu tidak ada niatan untuk membantuku Ezra! Berhentilah membujukku, karna aku akan tetap melanjutkan ini. Aku tidak peduli diriku jatuh ke lubang apa. Asal semua rencanaku berjalan lancar. Jadi berhentilah, Ezra."

Saat Kara berjalan mau melewati Ezra dan berniat mau masuk ke dalam kapal lagi.

Ezr memegang tangan Kara. Menghentikan langkah Kara.

"Aku hanya perlu melakukan itu bukan?"

Kara menaikkan pandangannya melihat Ezra.

"Jangan memaksakan dirimu, Ezra!"

Ezra tersenyum pilu.

"Sayangnya aku sedang memaksakan diriku untuk setuju, Kara!" Tatap Ezra ke Kara.

Kara melepaskan tangan Ezra dari dirinya.

"Kalau begitu jangan lakukan. Dan jangan halangi aku." Setelah mengatakan kalimat kejam begitu.

Kara berlalu pergi dari sana meninggalkan Ezra yang terdiam dan hanya bisa menatap punggung Kara berlalu di hadapannya.

Namun, itu hanya sebentar. Sebelum Ezra di kejutkan oleh suatu hal dan seketika Ezra berlari cepat ke arah Kara yang mau masuk ke dalam kapal kembali. Setelah dia berteriak keras memanggil Kara panik.

"KARA!"

Kara yang saat itu belum tahu apa apa.

Melihat menolah ke Ezra yang memanggilnya.

Dan, belum sempat Kara berpikir dan mencerna apa yang terjadi pada Ezra.

Kenapa Erza berlari dan juga berteriak memanggil namanya. Di tambah raut wajahnya yang panik.

Namun, ia sudah lebih dulu di kejutkan dengan sikap Ezra yang tiba tiba.

Yaitu memeluk tubuhnya erat. Seperti melindungi dari sesuatu yang bisa melukainya.

Dalam pelukan Ezra yang sangat kuat. Kara mencerna apa yang sedang terjadi dan kenapa Ezra bersikap tiba tiba begini.

Namun, pertanyaan itu kembali di telan Kara. Saat melihat di bawah kaki keduanya ada pecahan gelas. Yang seperti nya jatuh dari ketinggian.

Kara berniat mau melihat ke atas. Namun, pelukan Ezra yang sangat kuat. Di tambah mendengar deruan jantung Ezra yang begitu kuat. Kara mengurungkan niatnya.

Kepala Kara terbenam sepenuhnya di dada bidang Ezra. Ezra memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan tubuh Kara yang hilang di balik tubuh Ezra.

Keduanya sekarang berada di dek kapal.

Sebuah kapal pesiar yang di sewa oleh papa Zara. Untuk merayakan hari pertunangan sekaligus melepas masa single keduanya. Zara dan pria bernama Ender itu. Pria yang sangat di idam idamkan oleh setiap wanita dan di perebutkan oleh setiap klien bisnisnya untuk di jadikan menantu.

Namun, Ender menjatuhkan pilihannya pada putri satu satunya. Hendrik Jamal. Ayah Zara, yang merupakan seorang pengusaha Minimart sukses.

Cukup banyak tamu yang datang bahkan dari kalangan pejabat ikut mendapat undangan.

Acara pertama akan di mulai tepat jam 00:00, merupakan acara pelepasan masa single keduanya.

Namun sekarang, masih jam 21:09.

Tamu masih bisa bersantai sejenak sembari menikmati pemandangan laut malam yang indah.

Begitu juga dengan dirinya. Bisa mengatur rencananya hingga menjadi sukses.

Semua tamu undangan serta kerabat. Terlihat menanti dengan tidak sabar untuk acara puncak nanti.

Tapi tidak untuk Kara. Batinnya menjerit tidak terima. Jika hal itu berjalan lancar, sesuai keinginan Zara dan mamanya.

Ia tidak bisa. Ia tidak akan membiarkan itu. Ia akan mengobrak abrik semua nya, setelahnya_ia akan tertawa bahagia.

Kepalan kedua tangan Kara terkepal kuat saat dirinya mengingat wajah kara yang tertawa bahagia tanpa merasa bersalah.

'Lihat saja Zara? Aku akan mengacaukan semua ini,'

Tekat bulat Kara tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya sendiri. Dengan tindakannya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Belenggu Hati   Chapter 18

    "Hentikan Zara, sampai kapan kamu akan mengamuk begini?" Seru mama Zara begitu masuk ke kamar Zara dan melihat semua furnitur kamar sudah berantakan tidak berbentuk dan serapi tadi lagi, saat pertama mereka tempati. Zara menghentikan dirinya dan diam. Nafasnya terlihat naik turun karna kemarahannya kepada Kara, sepupunya sialan nya. "Lalu apa yang bisa Zara lakukan selain ini? Dan bisakah mama dan papa lakukan sesuatu juga? untuk pernikahan ku dan Ender tidak batal. Tidak bisakan? Iya kan?" Teriak Zara sembari berjalan mendekat dan berdiri di hadapan papa dan mamanya. Terlihat papa Zara yang menarik nafas. Namun terlihat jelas di wajahnya akan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Lagian, seperti Mr. Yildiz katakan. Kerja sama mereka tetap terjalin. Dari awal niat dan rencana mereka adalah menjalin kerja sama. Di mana banyak perusahaan pemasok makanan sulit bekerja sama dengan mereka. Dan ia beruntung mendapatkan kesempatan ini. "Hentikan Zara! Apa kamu sudah gila?!... L

  • Belenggu Hati   Chapter 17

    Di kamar yang luasnya hampir tiga kali lipat dari kamar Kara di lantai bawah, suasana terasa kontras. Di satu sisi, ketenangan. Terlihat Kara, yang tertidur lelap di atas ranjang besar yang diselimuti pencahayaan redup. Napasnya perlahan dan teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Di sisi lain, sesuatu yang tak pernah benar-benar diam. Ender berdiri di balkon suatu kamar yang menghadap langsung ke lautan gelap. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai tipis di belakangnya. Di sampingnya, ada Refat yang berdiri dengan sikap tenang, namun tatapannya serius. Menandakan percakapan mereka bukan hal sepele. "Semua sudah berjalan sesuai rencana mu," ujar Refat pelan menoleh melihat Ender, yang berdiri di sisi kanannya. Ender kini berada di balkon kamar Refat. Kepalanya sedikit mendongak, menatap ke lantai atas, ke arah kamarnya sendiri. Di sana, seseorang tengah terlelap dalam dunianya. Setelah aktivitas panjangnya bersama Kara. Ia keluar kamar, set

  • Belenggu Hati   Chapter 16

    "Aah… aah… aaah…" desahan Kara terlepas, seiring tubuhnya yang naik turun di atas Ender."Ugh… Kara… hhh…" balas Ender dengan napas memburu, menikmati setiap gerakan yang diberikan Kara.Keduanya sudah terhanyut dalam permainan itu sejak beberapa jam lalu. Ronde demi ronde berlalu tanpa benar-benar memberi rasa puas, terutama bagi Ender, yang seakan tak pernah cukup menginginkan Kara.Ender bangkit duduk. Kedua tangannya bergerak masuk ke balik lingerie hitam yang dikenakan Kara, meremas dua benda kenyal dengan penuh hasrat. Sentuhan itu memancing lebih banyak desahan, bahkan pekikan kecil yang lolos dari bibir Kara.Gerakan Kara teratur, berirama, dan penuh kendali, membuat Ender semakin kehilangan akal sehatnya.Bibir Ender tak tinggal diam. Ia mencium, bahkan menjilat tengkuk dan leher Kara, menikmati setiap sensasi yang datang bertubi-tubi menghantam dirinya.Sebenarnya, Ender ingin membalik keadaan. Menurunkan Kara dan menindihnya, mengambil alih kendali, lalu melampiaskan hasrat

  • Belenggu Hati   Chapter 15

    Kara sudah menyelesaikan beberapa hidangan, termasuk salad. Terlihat dari dia sudah menghidangkan nya dengan rapi, di meja makan khusus chef di dapur itu. Ender berdiri di belakang Kara, bersandar di wastafel. Kedua matanya melihat setiap gerakan Kara. Ia mendekat, berdiri di samping Kara. Saat melihat Kara kembali membuat hidangan yang baru. "Kamu sudah membuat banyak," suara Ender pelan dan lembut saat bertanya. Kara sekilas melihat Ender sembari mengaduk masakannya. "Aku lapar dan aku akan menghabiskan semuanya." Jawab Kara dengan senyum bahagia di wajahnya. Melihat wajah Kara yang bahagia, seperti nya bukan untuk nya. Melainkan untuk makanan. Ia segera memeluk Kara dari belakang dan berujar sensual. "Kelelahan tadi membuat mu lapar hm?" Godanya sembari menambah jejak nya di ceruk leher Kara. Kara sama sekali tidak terganggu, dia hanya bergerak sedikit karna geli. "Aku melewatkan sarapan ku, dan ya... Seseorang semakin menambahkannya. Jadi bagaimana aku tidak lapar?"

  • Belenggu Hati   Chapter 14

    Aku ada di lantai bawah, di dapur... Jika kamu mencari ku. Tanpa Ender sadari. Sedikit ujung bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. Entah kenapa, ia senang dan bahagia hanya karna secarik kertas ini.. Tanpa mengulur waktu. Ender meremas kertas di tangannya, melempar asal dan berjalan keluar dari kamar. Ia tidak lupa mengunci kembali pintu kamar. Sekarang kamar itu sudah menjadi kamarnya dan Kara. Sampai di lantai bawah, dapur. Terlihat banyak orang di sana, baik pria maupun wanita dan umur wanita di sana sekitar 40 an ke atas. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing. Ada yang sedang menyiapkan bahan, ada yang sedang menyimpan barang dengan saling oper dan ada yang sedang menurunkan barang dari lift barang. Ender mengitari pandangan nya. Mencari sosok yang meninggalkan secarik kertas untuk nya. Langkahnya berhenti karna terhalangi oleh beberapa pria yang sedang meng oper barang. Saat Ender mau berbalik, mau mengambil jalan lain. Seorang wanita bersuara m

  • Belenggu Hati   Chapter 13

    Tempat yang Ender datangin, berada di bagian bawah kapal. Jauh dari area penumpang. Sempit. Dingin dan minim cahaya. Beberapa pria berjas hitam, anak buah Ender segera menyapa Ender dan membungkuk hormat. Pintu terbuka. Tiga orang pria terlihat duduk terpisah, masing-masing dalam kondisi tertekan. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketakutan yang berusaha disembunyikan, tapi gagal. Ender masuk bersama Refat dan satu pria lain, yang sedari tadi menginterogasi mereka. Langkah Ender tenang, tapi kehadirannya langsung mengubah udara di ruangan itu. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia ada di sana. Tidak ada yang berani berbicara. Ender berhenti di tengah ruangan, menyapu keempat orang itu dengan tatapan tajam. Ia tidak terburu-buru. Justru menikmati detik-detik di mana tekanan mulai bekerja tanpa perlu kata-kata. Satu per satu. Ender menatap mereka. Tatapannya berhenti pada wanita, yang di maksud Refat_Waitress. Wanita itu duduk tegak, kedua tangan terikat di

  • Belenggu Hati   Bukan Urusanku

    "Ah, mommy?!" Panggil Ender ke Ayse yang menerobos masuk ke dalam kamar. Ia kembali melihat Refat dan berucap. "Tunggu di sini,"Blam,Dan pintu tertutup.Dan ya, Refat menunggu dengah patuh. Ia tadinya mau membuka mulut dan bertanya serta mendengar langsung dari mulut Ender. Tapi belum juga suaranya k

  • Belenggu Hati   Amukan Zara

    Brakh,Brakh,Brakh,Ender dan Kara serempak melihat ke arah pintu yang tertutupi dinding pembatas ranjang. Ender yang baru melempar tubuhnya ke samping Kara. Dan Kara yang posisinya membelakangi Ender. Keduanya sontak setengah bangun melihat ke pintu. Kara melihat ke Ender begitu juga sebaliknya. Lela

  • Belenggu Hati   Kacau Sudah

    Suara high heels dan juga beberapa sepatu beradu dengan lantai marmer. Saat suara langkah kaki bergema di setiap lantai dan koridor yang mereka lewati. Javier, Ayse dan beberapa pengawal nya. Javier mendapatkan berita dari bawahan nya. Kalau mereka sudah menemukan keberadaan Ender. Dan lebih mengeju

  • Belenggu Hati   Chapter 6

    "Tuan… Tuan Muda Ender…" Napas pengawal itu terengah, jelas dia berlari tanpa henti. "Tuan muda ditemukan." "Di mana dia?" suara Yildiz terdengar lebih rendah, namun jauh lebih berbahaya. "Di lantai dua, Tuan." Yildiz mengernyit. Tanpa menunggu lebih lama, Yildiz langsung melangkah cepa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status