แชร์

5 > Batas Yang Mulai Retak

ผู้เขียน: Li Pena
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-18 07:06:44

Pagi hari...

Pagi ini datang tanpa nembawa cahaya yang hangat. Langit di luar jendela kamar Livia abu-abu, seperti sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi. Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal, dan telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

Suara tembakan masih terngiang di kepalanya.

Dan wajah Raka yang dingin, tanpa ragu dan tanpa belas kasihan itu... tengah berdiri di antara dirinya dan maut.

“Brengsek…” gumamnya sambil mengusap wajah.

Lalu ia bangkit perlahan. Gadis itu merasa tubuhnya terasa pegal, tapi bukan itu yang mengganggunya. Melainkan ada rasa asing di dadanya.

Bukan rasa takut. Bukan rasa marah sepenuhnya. Melainkan sesuatu yang lebih menjengkelkan. Satu persatu pertanyaan muncul, yang ia sendiri pun tak tau jawabannya.

Kenapa aku nggak dorong dia waktu itu? Kenapa aku tak membalasnya saat itu? Dan kenapa aku nggak membiarkannya celaka? Padahal itu waktu yang tepat.

Dengan langkah kakinya yang lemas, Livia berjalan ke kamar mandi. Kini air dingin membasuh wajahnya, akan tetapi bayangan Raka tetap menempel di kepalanya.

Cara pria itu menariknya. Cara tubuh Raka menutupinya. Cara suaranya terdengar begitu tegas, mutlak.

“Pegang aku.” ucapan itu.. Seakan mimpi buruk yang terus menghantuinya setiap malam. Bahkan kata itu terus terngiang di telinganya.

Livia mencengkeram wastafel.

“Jangan menggangguku dengan masuk ke kepalaku. Karena kamu tidak pantas ,” desisnya sambil menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar,

membuyarkan lamunannya.

“Masuk,” ucapnya datar, tanpa ia tau siapa yang masuk ke kamarnya.

Kemudian, Livia keluar dari kamar mandi. Dan ternyata yang masuk kamarnya itu Mara. Wanita itu muncul dengan membawa makanannya, dan seperti biasa ekspresinya sulit dibaca.

“Makanlah, ini sarapanmu. Dan… setelah itu Tuan Raka mau bertemu.”

Livia mendengus. “Apa aku harus senang atau takut?”

“Itu tergantung kamu bikin dia marah atau nggak.”

“Berarti aku harus takut.” katanya datar

Mara menatapnya sejenak. “Sepertinya kamu berubah.”

Livia mengangkat alis. “Setiap orang bisa berubah kapanpun mereka mau?”

“Orang yang hampir mati biasanya begitu.” timpal Mara, pedas.

Livia tak menjawab. Ia memilih mengabaikan perkataan Mara sambil berjalan keluar kamar dengan langkah yang berat. Sedangkan Mara yang melihat itu, ia hanya menggeleng dan nggak lama kemudian ia pun mengikutinya dari belakang.

Sementara di sudut ruangan yang lain, lebih tepatnya di ruang kerja Raka. Ruangan yang terasa jauh lebih dingin dari pada ruang makan. Ruangan itu dilapisi dinding kaca, juga terdapat meja besar dari kayu gelap, dan rak senjata yang sama sekali tak disembunyikan. Seolah pria itu sengaja memperlihatkan dunia yang ia hidupi.

Kini Raka berdiri membelakangi pintu, menatap layar laptop. “Duduk,” katanya tanpa menoleh ketika Livia datang menemuinya.

“Aku nggak duduk, karena anjing tidak selalu duduk.”

“Kalau kamu mau berdiri, berdiri aja. Tapi dengerin.”

Meski ia berkata begitu, Livia tetap duduk dengan kasar. Ia menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya pada pria itu.

“Ada yang nyerang kita kemarin,” kata Raka tenang. “Dan itu bukan kejadian kebetulan.”

“Siapa?” tanya Livia cepat.

“Kamu nggak perlu tahu.”

“Aku hampir mati. Aku punya hak untuk tahu, siapa yang menyerangku.” omelnya dengan nada yang sedikit dinaikkan.

Raka akhirnya menoleh. Tatapannya begitu menusuk pada gadis itu. “Hak kamu sekarang cuma satu. Tetap hidup.” katanya tegas.

Mendengar itu, Livia tertawa hambar. “Dan aku nggak mau hidup dalam versimu.”

“Hanya dengan versiku, kamu masih hidup sampai sekarang.”

“Dan versimu juga yang membuat Papaku yang mati.” bantah Livia dengan mata merah, ia menunjukkan kemarannya seolah ia ingin menerkam pria di hadapannya.

Kalimat itu jatuh seperti pisau. Namun, Raka tak langsung menjawab. Rahangnya mengeras tipis.

“Jangan pakai dia hanya untuk menyerangku.”

“Kenapa? Kena?” ejeknya dengan nada ketus.

“Karena kamu belum tahu semuanya.”

“Kalau begitu jelasin!” bentak Livia. Ia berdiri di hadapan Raka dengan emosi yang memuncak.

Kemudian Raka melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah... hingga jarak mereka hanya tinggal napas.

“Kebenaran itu bukan sesuatu yang bisa bikin kamu tenang, Livia,” ucapnya rendah. “Dan itu cuma bisa bikin kamu makin terjebak di dalamnya.” lanjutnya dengan tatapan yang lembut, seolah ia sedang bicara dari hati ke hati.

“Di dunia kamu?” tanya Livia cepat.

“Di dunia yang ayahmu bangun sendiri.”

“Papa bukan penjahat!” bentak Livia.

“Kalau dia bukan penjahat, dia nggak akan mati dengan pistol di dadanya.” bantahnya dengan kata-kata yang menampar.

Raka kembali menatap mata gadis itu. Suara kulit beradu menggema di ruangan. Livia terengah disertai tangan yang gemetar setelah ia menampar wajah tampan musuhnya itu.

Raka tak bergerak beberapa detik. Ia juga tak marah. Namun matanya berubah.

“Kamu berani,” katanya pelan.

“Aku putrinya,” balas Livia, air matanya jatuh. “Dan kamu bunuh dia.” isaknya.

Raka menangkap pergelangan tangan gadis itu. Tidak keras, tapi cukup kuat untuk menghentikannya. “Jangan memancingku! Aku bisa bunuh kamu detik ini juga,” katanya dingin.

"Maka lakukanlah. Aku lebih baik mati bersama Papa dari pada hidup bersama pembunuh," timpal Livia, ia mencoba menatap mata Raka dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

“Tapi aku nggak lakuin itu.”

“Karena aku berguna.” Ia menyeka kasar air matanya itu.

“Karena kamu masih hidup.”

“Bedanya tipis.” jawabnya ketus.

Raka melepaskan tangannya. “Mulai sekarang, kamu nggak boleh keluar tanpa pengawalan.”

“Aku bukan tahan dan ini rumah bukan penjara.”

“Tapi ini kenyataan. Kamu harus sadar itu,”

“Dan kamu?”

“Aku orang yang nggak bikin kamu jadi mayat berikutnya.”

Livia menatapnya dengan mata basah dan penuh benci. “Aku berharap suatu hari nanti… aku bisa berdiri sejajar sama kamu. Agar aku bisa membunuhmu dengan mudah,”

Raka menyeringai tipis. “Hati-hati dengan harapanmu.”

***

Sore hari...

Sore itu, hujan turun deras. Livia berdiri di balkon tertutup, menatap halaman luas yang dijaga ketat. Dunia terasa begitu jauh, seolah ia sudah dikubur hidup-hidup.

Ia mendengar suara langkah kaki mendekat.

“Jika kamu lompat, kamu akan mati,” suara Raka terdengar datar.

“Aku nggak sebodoh itu.”

“Orang putus asa sering begitu.”

“Dan orang kayak kamu sering bikin orang putus asa.” timpalnya tanpa menoleh sedikitpun pada pria itu.

Raka berdiri di sampingnya. Jarak mereka cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuh satu sama lain, tapi tak cukup dekat untuk disebut intim.

“Kamu takut?” tanya Livia tiba-tiba.

Raka terdiam sejenak. “Takut itu kemewahan.”

“Kamu bohong.”

“Aku nggak punya waktu buat jujur.”

Livia menoleh. “Kenapa aku?”

“Karena kamu satu-satunya saksi yang masih bernapas.”

"Apa semua saksi, kamu perlakukan seperti ini?"

Raka menggeleng. "Tidak semua saksi seberani kamu,"

“Dan karena itu kamu lindungin aku?”

Raka menatap hujan. “Aku nggak suka kehilangan kendali.”

“Jadi aku cuma objek.”

“Awalnya... iya,”

Livia menahan napas. “Dan sekarang?”

Raka meliriknya lagi. Kini tatapan mereka bertemu satu sama lain. Tatapan itu cukup lekat.

“Sekarang kamu masalah.”

“Aku selalu jadi masalah.”

“Bukan.” Nada Raka berubah pelan. “Kamu jadi masalah buat aku.” sambungnya.

Jantung Livia berdetak lebih cepat dari biasanya. “Itu nggak terdengar aman.”

“Memang nggak.”

Kini... hening menyelimuti mereka. Hujan menutupi suara dunia. Livia menelan ludah, sebelum akhirnya ia mengatakan sesuatu.

“Kalau suatu hari nanti aku kabur…”

Raka mendekat setengah langkah. “Aku akan cari, ke manapun kamu pergi,” bisiknya di telinga Livia. Sehingga gadis itu bisa mendengar nafas pria itu.

“Kalau aku benci kamu selamanya?”

“Aku terbiasa dibenci.”

“Dan kalau aku… berhenti takut?”

Raka menunduk sedikit, suaranya rendah. “Itu yang paling berbahaya.”

Livia mengalihkan pandangan. “Kamu monster.” cibir Livia dengan mengalihkan pandangannya.

“Dan kamu hidup di sarang monster.”

“Sayangnya… monster itu nyelametin aku.”

Raka tak menjawab. Tangannya terangkat, lalu berhenti tepat sebelum menyentuh bahu Livia. Namun ia turunkan kembali.

Untuk pertama kalinya, ia ragu. Dan itu membuat Livia lebih takut daripada tembakan mana pun.

***

Di malam yang sama, Livia tengah berbaring menatap langit-langit kamar. Dadanya terasa sesak. Begitupun dengan isi kepalanya yang kacau.

Ia membenci Raka. Ia takut Raka. Dan entah sejak kapan, Ia mulai sadar… bahwa ia bergantung padanya.

Air matanya mengalir pelan. “Papa…” bisiknya.

“Aku masih hidup… tapi rasanya kayak dijebak sama iblis.” isaknya sambil memeluk selimut.

Sedangkan di luar kamar Livia, Raka berdiri lama dengan tangannya yang mengepal. Ia tidak masuk. Karena untuk pertama kalinya, ia sadar, bahwa gadis itu bukan lagi sekadar saksi. Dan itu adalah kesalahan paling berbahaya yang pernah ia buat.

Bersambung…

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    5 > Batas Yang Mulai Retak

    Pagi hari...Pagi ini datang tanpa nembawa cahaya yang hangat. Langit di luar jendela kamar Livia abu-abu, seperti sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi. Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal, dan telapak tangannya basah oleh keringat dingin.Suara tembakan masih terngiang di kepalanya.Dan wajah Raka yang dingin, tanpa ragu dan tanpa belas kasihan itu... tengah berdiri di antara dirinya dan maut.“Brengsek…” gumamnya sambil mengusap wajah.Lalu ia bangkit perlahan. Gadis itu merasa tubuhnya terasa pegal, tapi bukan itu yang mengganggunya. Melainkan ada rasa asing di dadanya. Bukan rasa takut. Bukan rasa marah sepenuhnya. Melainkan sesuatu yang lebih menjengkelkan. Satu persatu pertanyaan muncul, yang ia sendiri pun tak tau jawabannya. Kenapa aku nggak dorong dia waktu itu? Kenapa aku tak membalasnya saat itu? Dan kenapa aku nggak membiarkannya celaka? Padahal itu waktu yang tepat.Dengan langkah kakinya yang lemas, Livia berjalan ke kamar mandi. Kini air dingin membasuh

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    4 > Berada Dalam Pelukan Musuh

    “Brengsek!” seru Livia, kesal. Bagaimana ia tak kesal, ketika mengetahui bahwa pintu kamarnya kembali terkunci. Dan sesuai dugaannya bahwa posisinya di rumah itu tak jauh beda dengan seorang tawanan. Jemarinya meremas gagang pintu, menahan emosi yang menumpuk sejak semalam. Bukan cuma marah, tapi ia juga merasa terhina karena ia tak punya kendali atas hidupnya lagi. “Aku bukan tawanan, tapi kenapa kamu menahanku seperti ini,” lirih Livia, sembari menempelkan dahinya ke pintu. Ia menarik napas panjang. Sehingga tercium bau besi dingin dari gagang pintu yang terasa begitu nyata, seperti simbol dari semua yang merampas kebebasannya. Bahkan rumah ini pun terasa terlalu sunyi untuk disebut aman.Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Ia melangkah mundur dan berbalik membelakangi pintu. “Masuk,” ucapnya datar, tanpa menoleh.Setelah mendengar Livia mempersilakan masuk, Mara pun membuka pintu dengan wajah tenang. “Kamu diminta turun. Sekarang.” katanya pada Livia yang tengah berdi

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    3 > Ketika Kebebasan Dicabut

    Kamar Livia... Mesti pintu kamar itu tertutup dengan bunyi cukup pelan, namun efeknya seperti palu yang menghantam dada Livia. Kamar itu benar-benar sunyi, seolah dunia di luar berhenti bergerak. Dalam ruangan itu lampu temaram menyala redup, sehingga memantulkan bayangan tubuh gadis itu di lantai marmer hitam yang dingin.Livia menoleh ke sekeliling. Kamar itu besar, bersih, dan rapi. “Ini penjara,” gumamnya lirih. Meski kamar itu cukup besar, bersih dan rapi... Livia tak pernah merasa nyaman. Sebab posisinya di rumah itu hanyalah seorang tawanan yang berkedok saksi. Perlahan ia berjalan mendekati pintu dan mencoba memutar gagang pintu. Dan benar saja, pintu itu benar-benar terkunci. Mengetahui itu, tangan gadis itu mengepal, dengan rahangnya mengeras. Kini nafasnya mulai memburu, karena marah yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana. “Brengsek…” desisnya.Livia menyandarkan punggung ke pintu lalu tubuhnya meluncur turun hingga duduk di lantai. Lututnya ia tarik ke dada, disertai

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    2 > Dalam Genggaman Sang Pembunuh

    “Turunin aku sekarang!” teriaknya sambil memukul kaca mobil. “Aku tidak sudi ikut bersamamu!” Livia terus berontak meminta turun dari mobil.Namun, tak ada satupun dari mereka yang menanggapi tantrumnya Livia. Saat ini, Raka hanya duduk dengan tenang, satu tangan bersedekap, wajahnya dingin seperti patung. Tatapannya lurus ke depan, seolah Livia bukan manusia, hanya barang bawaan.“Kamu denger aku, kan?” suara Livia bergetar sembari menoleh ke arah Raka.Lagi dan lagi, dalam mobil itu hening tanpa jawaban. Raka sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi ocehan Livia. Dan hal itu membuat Livia semakin kesal.“Jawab aku, Brengsek!” bentaknya dengan penuh emosi.Akhirnya Raka melirik sekilas. “Teruslah berteriak, maka aku akan menyuruh mereka untuk mengikat serta membungkammu!" tegasnya sambil sedikit mengancam. Livia tercekat ketika mendengar ucapan itu membuat tenggorokan. Ia menelan ludah, dadanya naik turun menahan emosi yang menumpuk jadi satu antata takut, marah, dan duka.“Kam

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    1 > Belenggu Darah

    Papa!" Livia berteriak histeris, suara tembakan memekakkan telinga, mengudara di tengah senyapnya malam."Pa, jangan tinggalin Livia, Pa." Tubuhnya ambruk, dunianya runtuh dalam satu detik. Menyaksikan tubuh ayahnya terhuyung tak berdaya, di atas lantai marmer putih yang sekarang berubah warna dengan bau anyir menyengat. Mata Livia membelalak, napasnya tercekat, sementara kakinya tak lagi mampu menyangga tubuh. Ia buru-buru melangkah mundur, memilih bersembunyi di balik lemari besar. Tangannya yang tremor ia gunakan untuk membekap bibirnya sendiri agar tangisnya tak pecah dan mereka menyadari keberadaannya. "Bos, target sudah—" "Tutup mulutmu, sialan!" Pria itu mengumpat, memotong kalimat yang belum usai anak buahnya lontarkan. Livia mencoba mengintip dari celah kecil pintu lemari. Di sana, pria itu berdiri. Tubuhnya tinggi, dan tegap. Auranya mengerikan, tak peduli dengan mayat yang tergeletak di sisinya berdiri. Tanpa merasa bersalah, pria itu mengeluarkan sapu tangan hitam d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status