LOGINCairo memegang setir dengan erat, tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik ke arah Elara yang duduk di sampingnya. Wajah Elara tampak tenang, tapi dari sorot matanya, jelas ada badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Sejak tadi, Cairo ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, tak ingin menyakiti Elara yang sudah terlihat begitu rapuh. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
“Elara, apa kamu yakin ingin mengatakan ini pada orang tuamu sekarang?” tanyanya hati-hati, suaranya sedikit serak.
Elara menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu. Untuk sejenak, ada keheningan yang mencekam di dalam mobil, hanya suara hujan yang mulai turun pelan-pelan di luar sana.
"Aku harus, Cairo," jawab Elara dengan suara pelan tetapi tegas. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusimpan lebih lama. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan ini.”
“Tapi kamu tahu bagaimana mereka,” Cairo berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu khawatir. “Mereka bukan orang yang mudah menerima sesuatu seperti ini. Bagaimana kalau—”
“Bagaimana kalau mereka berubah?” potong Elara, wajahnya tetap tenang, meskipun ada getaran di dalam suaranya. “Mungkin, kalau mereka tahu aku hamil, mereka akan berubah menjadi lebih baik. Mungkin, kehamilan ini akan mengubah mereka. Tapi kalau tidak, setidaknya aku tidak harus tinggal di rumah itu lagi.”
Cairo hanya bisa terdiam mendengar jawabannya. Ada kekuatan dalam kata-kata Elara, tapi juga keputusasaan yang tersembunyi di baliknya. Dia tahu betul bagaimana orang tua Elara, tahu betapa kejam dan dinginnya mereka terhadap putri mereka. Sudah berkali-kali dia melihat Elara diperlakukan dengan kasar oleh orang tuanya, dan kini, mengingat Elara harus menghadapi mereka sendirian dengan berita kehamilan ini, membuat hatinya sesak. Tapi dia tak bisa memaksa Elara untuk mengubah keputusannya. Ini adalah hidupnya.
Mobil itu berhenti di depan rumah sederhana milik keluarga Elara. Rumah itu tampak kecil dan sunyi di bawah hujan, seakan memancarkan dingin yang sama seperti penghuninya. Elara menghela napas dalam-dalam sebelum membuka pintu mobil. Sebelum keluar, ia berbalik menatap Cairo lagi.
“Kau boleh pulang, Cairo. Aku bisa urus ini sendiri,” katanya, berusaha tersenyum meskipun ada kilatan ketidakpastian di matanya.
Cairo memegang kemudi dengan erat, ragu melepaskan Elara untuk menghadapi keluarganya sendirian. Ia menoleh ke arahnya, menahan napas sebelum akhirnya berkata, "Elara, aku gak yakin ini keputusan yang tepat. Biar aku yang bicara sama mereka dulu."
Elara menggeleng tegas, meski matanya terlihat sedikit lelah. "Cairo, ini urusanku. Aku yang harus menghadapinya," jawabnya, suaranya penuh keyakinan, meski terdengar goyah.
Cairo mendesah, masih enggan menyerah. "Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian di sini. Kamu tahu mereka bisa seburuk apa?"
Elara menatap Cairo, ada rasa terima kasih di matanya, tapi juga tekad yang kuat. "Justru karena itu, aku harus menghadapinya sendiri. Kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Jadi, pergilah. Kamu sudah cukup membantu, Cai."
Cairo menatapnya tajam, seperti ingin membantah lagi, tapi melihat keteguhan hati Elara, ia menyerah. "Baiklah," katanya meski jelas tak rela.
Elara tersenyum lemah. "Terima kasih, Cairo."
Dengan berat hati, Cairo mengalah dan menyalakan mesin, ia pergi sesaat setelah Elara keluar dari mobilnya. Tapi ternyata ia masih khawatir, berharap Elara baik-baik saja setelah masuk ke rumahnya.
**
Beberapa saat kemudian, hujan deras masih mengguyur ketika pintu rumah Elara terbuka dengan kasar. Ayahnya mendorongnya keluar dengan paksa, wajahnya merah padam karena amarah. “Dasar anak tak tahu malu! Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!” suaranya menggelegar, seakan petir yang menyambar di langit malam. Elara tersandung, jatuh berlutut di atas tanah yang basah, tubuhnya bergetar karena dingin dan rasa sakit.
Tak lama, ibunya muncul di ambang pintu, melemparkan baju-baju Elara begitu saja ke tanah yang penuh lumpur. “Ini yang kamu mau, kan?! Kehidupanmu yang kotor dan memalukan! Dasar anak tak tau diuntung!” jerit ibunya dengan penuh kebencian. Satu per satu pakaian Elara berjatuhan, bercampur dengan air hujan, kotor dan tak lagi berharga.
Elara memandang barang-barangnya yang berserakan, sementara makian terus terlontar. "Kamu menghancurkan keluarga ini! Pergi, jangan pernah kembali!" kata-kata ibunya terasa seperti pisau yang mengiris hati Elara. Tapi ia hanya bisa menangis dalam diam, menerima semuanya.
“Kami tidak butuh anak perempuan yang memalukan seperti kamu!” teriak ibunya lagi dengan nada penuh kebencian.
Pakaian Elara berceceran di tanah basah. Membuat Elara berjongkok di tengah hujan, memunguti pakaiannya satu per satu. Tangannya gemetar saat ia meraih bajunya yang tercecer di tanah, basah oleh hujan yang turun semakin deras. Di depan pintu, kedua orang tuanya terus melontarkan kata-kata pedas, penuh hinaan dan makian.
“Kamu pikir, kami akan peduli dengan bayi haram itu! Tidak! Tidak akan pernah! Kamu benar-benar telah mempermalukan keluarga ini!” seru ayahnya dengan nada dingin.
Elara tak menjawab, hanya menunduk sambil mencari sisa pakaiannya yang bisa ia bawa. Ia mengigit bibirnya, menahan air mata yang terus mengalir. Setiap kata yang keluar dari mulut kedua orang tuanya bagaikan pisau yang menusuk hati Elara berulang kali, tetapi ia tetap diam. Tidak ada gunanya membalas. Dalam hatinya, ia sudah tahu ini yang akan terjadi. Tapi tetap saja, rasa sakitnya jauh lebih parah dari yang ia duga.
"Kamu itu benar-benar anak yang tidak tahu diri! Kami membesarkanmu hanya untuk mempermalukan keluarga ini?!" seru ibunya dengan suara penuh amarah, matanya menyala penuh kebencian. "Dasar anak tidak berguna! Hamil di luar nikah, memalukan! Kamu pikir siapa yang akan menerima anak seperti kamu? Hidupmu sudah hancur!"
Ayahnya menimpali dengan nada yang lebih dingin tapi sama kejamnya, "Anak bodoh! Kamu pikir bisa hidup tanpa kami? Lihat dirimu sekarang, hanya sampah yang tidak berharga. Mau jadi apa kamu sekarang? Siapa yang mau bertanggung jawab atas anak haram itu, hah?!"
"Pergi dari rumah ini sekarang juga! Kami tidak mau lagi melihat wajahmu!" Ibunya mendekat, menendang salah satu pakaian yang ada di dekat Elara. "Kamu ini kutukan! Tidak pantas jadi bagian dari keluarga ini! Jangan pernah kembali lagi! Kami tidak ingin punya anak perempuan yang seburuk kamu!"
Tak lama, Elara selesai memunguti barang-barangnya. Ia berdiri, pakaiannya basah oleh hujan dan tanah, wajahnya penuh kesedihan yang begitu dalam. Ia berbalik tanpa berkata sepatah kata pun kepada orang tuanya. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. Dengan langkah lemah, ia berjalan menjauh dari rumah, dari kehidupan yang selama ini mengekangnya. Di belakangnya, pintu rumah ditutup dengan keras, seakan memutuskan semua hubungan yang tersisa antara dirinya dan orang tuanya.
Hujan semakin deras, membasahi tubuh Elara, tapi dia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Malam itu terasa begitu panjang. Jalanan sepi, hanya ada Elara yang terus melangkah.
Ketika Elara berjalan di trotoar, tiba-tiba tubuhnya limbung, ia terjatuh karena lelah fisik dan juga batinnya. Lutut putih itu menyentuh kerasnya beton. Menggores kulitnya hingga berdarah. Tubuh gadis berambut panjang itu terlihat lelah dan bergetar karena dingin, dan saat itulah tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang, menyemburkan genangan air kotor yang langsung mengenai tubuhnya. Air dingin dan berlumpur membasahi pakaiannya, membuatnya merasa semakin hancur dan tak berdaya. Kepalanya tertunduk, isaknya teredam oleh hujan.
Elara sendirian di bawah hujan, menggigil, dengan pakaian yang masih basah. Hatinya terasa semakin hampa. Dalam gemuruh hujan, ia memejamkan mata, merasakan rindu yang menghantamnya. “Axel...” bisiknya pelan, suaranya serak. Belum satu hari berlalu, tapi rasanya ia sudah kehilangan segalanya.
Dua tahun kemudian. Seseorang turun dari pesawat dengan langkah mantap. Axel kembali ke negaranya. Penampilannya jauh berbeda dari dua tahun lalu saat ia meninggalkan Indonesia. Kini, ia adalah pria yang sudah memiliki segalanya, seorang CEO muda di sebuah perusahaan hiburan besar. Mengenakan setelan formal, lengkap dengan jas mahal dan jam tangan eksklusif, setiap gerakannya memancarkan aura kesuksesan dan kekuasaan. Matanya yang tajam menyorot penuh percaya diri, tapi ada sedikit kekosongan di sana—rindu akan sesuatu yang tak bisa ia gapai, atau mungkin seseorang.Begitu Axel menjejakkan kaki di tanah Indonesia, ia langsung disambut oleh bawahannya yang telah menunggu di depan pintu keluar bandara. Tanpa banyak bicara, Axel menaiki mobil yang telah dipersiapkan dan langsung menuju kantor perusahaan yang baru saja diresmikan. Meski hari ini adalah hari yang penting, hatinya diliputi kekesalan yang tak jelas asalnya. Mungkin karena rasa lelah atau karena ada hal-hal yang mengganjal di
Elara menggigil kedinginan. Pakaian yang basah kuyup menempel erat di kulitnya, membuat tubuhnya semakin terasa berat dan lemah. Hujan yang deras membasahi jalan, seolah ikut memperberat langkah kakinya yang semakin lunglai. Setiap tetes hujan yang jatuh mengenai tubuhnya membuatnya menggertakkan gigi, berusaha menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi meski tubuhnya bergetar dan terasa lemah, Elara memaksa dirinya untuk terus berjalan.Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat tiba-tiba muncul di kepalanya—sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa menampungnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menapaki langkah, meski kakinya sudah terasa kaku dan nyaris lumpuh oleh dingin. Malam semakin pekat, dan jalanan semakin sepi, hanya terdengar suara hujan yang menderu, bersaing dengan suara langkah kaki Elara yang terseret di atas aspal basah. Sinar lampu jalan yang redup sesekali menerangi wajahnya yang pucat, mengungkapkan betapa lelahnya ia setelah melalui hari yang
Cairo memegang setir dengan erat, tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik ke arah Elara yang duduk di sampingnya. Wajah Elara tampak tenang, tapi dari sorot matanya, jelas ada badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Sejak tadi, Cairo ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, tak ingin menyakiti Elara yang sudah terlihat begitu rapuh. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.“Elara, apa kamu yakin ingin mengatakan ini pada orang tuamu sekarang?” tanyanya hati-hati, suaranya sedikit serak.Elara menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu. Untuk sejenak, ada keheningan yang mencekam di dalam mobil, hanya suara hujan yang mulai turun pelan-pelan di luar sana."Aku harus, Cairo," jawab Elara dengan suara pelan tetapi tegas. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusimpan lebih lama. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan ini.”“Tapi kamu tahu bagaimana mereka,” Cairo berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu khawatir.
Elara berdiri di depan cermin kecil di dalam toilet, menggenggam erat tes kehamilan yang baru saja ia beli. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, dan napasnya tak beraturan. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari alat kecil di tangannya itu. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, seolah waktu berhenti di saat kecemasan merayap semakin dalam ke hatinya.Pikirannya dipenuhi ketakutan—sebuah kekhawatiran yang selama ini coba ia hindari. Apa yang akan terjadi jika hasilnya positif? Bagaimana masa depannya? Bagaimana dengan Axel, yang sekarang sudah jauh dari kehidupannya? Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti di kepalanya.Tak lama, hasilnya muncul. Dua garis merah. Elara terdiam, kedua matanya terbelalak. Syok menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Lututnya melemas, dan tanpa ia sadari, tubuhnya jatuh terduduk di lantai marmer dingin. Suara benturan lembut itu bergema di ruangan yang sepi, tetapi di kepalanya, bunyi itu seperti ledakan. Tes kehamilan tergeletak di lantai, ta
Bandara sore itu dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang hendak pergi, suara pengumuman keberangkatan dan derap langkah kaki memenuhi setiap sudut. Di tengah keramaian, Elara dan Axel duduk berdua di salah satu sudut yang lebih sepi, seperti terpisah dari dunia di sekitar mereka. Momen ini terasa begitu berat bagi keduanya, karena mereka tahu ini bukan perpisahan biasa. Axel, dengan tiket pesawat di tangan, siap meninggalkan kota kecil tempat mereka tumbuh untuk mengejar impiannya ke luar negeri, lebih tepatnya ke Tokyo. Namun, hatinya tersayat saat menatap wajah Elara, perempuan yang selalu ada di sisinya selama ini.Elara menunduk, menatap lantai dengan tatapan kosong. Di dalam dirinya, perasaan takut dan cemas menyatu menjadi satu. Kepergian Axel bukanlah kepergian singkat, melainkan perjalanan panjang untuk meraih cita-cita sebagai penyanyi. "Aku harus melakukan ini, El," Axel berkata dengan nada pelan namun tegas, memecah keheningan di antara mereka. "Aku nggak akan bisa hidup dengan







