로그인Elara berdiri di depan cermin kecil di dalam toilet, menggenggam erat tes kehamilan yang baru saja ia beli. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, dan napasnya tak beraturan. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari alat kecil di tangannya itu. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, seolah waktu berhenti di saat kecemasan merayap semakin dalam ke hatinya.
Pikirannya dipenuhi ketakutan—sebuah kekhawatiran yang selama ini coba ia hindari. Apa yang akan terjadi jika hasilnya positif? Bagaimana masa depannya? Bagaimana dengan Axel, yang sekarang sudah jauh dari kehidupannya? Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti di kepalanya.
Tak lama, hasilnya muncul. Dua garis merah. Elara terdiam, kedua matanya terbelalak. Syok menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Lututnya melemas, dan tanpa ia sadari, tubuhnya jatuh terduduk di lantai marmer dingin. Suara benturan lembut itu bergema di ruangan yang sepi, tetapi di kepalanya, bunyi itu seperti ledakan. Tes kehamilan tergeletak di lantai, tak jauh dari tangannya yang gemetar.
Di luar, Cairo yang sedang menunggu, mendengar suara jatuh dan tanpa berpikir panjang, ia langsung bergegas membuka pintu toilet. Di dalam, ia melihat Elara yang terduduk di lantai dan tes kehamilan tergeletak di dekatnya.
Gadis itu menatap lurus ke depan dengan kosong, matanya membesar dan bibirnya sedikit bergetar, seolah dunia di sekelilingnya terhenti. Tubuhnya tak bergerak, hanya jemarinya yang gemetar di atas pangkuan. Ekspresi keterkejutan jelas terpancar dari wajahnya, di mana bayangan ketakutan, kebingungan, dan keterkejutan bercampur menjadi satu. Seolah-olah ia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Cairo berjongkok cepat di depannya, mengulurkan tangan untuk menyentuh bahunya dengan lembut, mencoba menarik perhatiannya dari keterpurukan. "Elara... kamu nggak apa-apa?" suaranya rendah, tetapi penuh kekhawatiran. Tapi Elara tetap membisu.
Saat itu, kesadaran mulai kembali pada wajah Elara. Mata yang semula kosong kini dipenuhi air mata yang berusaha ia tahan, bibirnya bergetar lebih kuat. "Cairo…," suaranya hampir tak terdengar, tercekat oleh perasaan syok yang begitu besar. Ia menelan ludah, mencoba merangkai kata-kata yang sulit terucap, tapi akhirnya, ia hanya bisa menggeleng pelan.
Cairo, masih berjongkok di depannya, mengencangkan genggamannya di bahu Elara. Hatinya semakin tenggelam dalam kecemasan, karena tanpa perlu berkata apa-apa, ia tahu bahwa hasilnya positif.
Dengan lembut pemuda yang baru menerima surat kelulusan itu membawa Elara ke ranjangnya yang besar. Menggendong di depan dengan hati-hati seolah takut menyakiti gadis itu lebih dari yang sudah ia rasakan. Wajah Elara masih tampak pucat, dan tubuhnya terasa lemah, menggigil pelan di bawah sentuhan Cairo. Setelah memastikan Elara berbaring dengan nyaman, Cairo menarik selimut tebal dan menyelimuti tubuhnya. Namun, bahkan kehangatan selimut itu seakan tidak mampu mengusir rasa dingin yang menyelimuti hati dan pikirannya.
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan wanita masuk dengan wajah penuh kecemasan, membawa secangkir teh hangat di atas nampan perak. Pelayan itu menatap Elara dengan pandangan penuh simpati, tapi sebelum ia bisa mengajukan pertanyaan apapun, Cairo memberi isyarat halus agar tidak terlalu memikirkan keadaan teman majikannya. "Terima kasih, aku akan mengurusnya, Bi," ujar Cairo tegas, mencoba mengendalikan situasi. Pelayan itu ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan.
Cairo menghela napas panjang begitu pintu tertutup. Ia mengambil cangkir teh dari meja dan menawarkannya pada Elara, tapi gadis itu hanya menggeleng lemah, pandangannya masih terpaku ke arah lain, seolah seluruh pikirannya tersesat dalam pusaran emosi yang sulit dimengerti. Cairo meletakkan cangkir itu kembali dan duduk di tepi ranjang, menatap Elara yang terbaring diam, terlihat begitu rapuh di antara selimut-selimut itu.
Setelah hening yang panjang, Cairo akhirnya membuka mulut, suaranya terdengar serak karena tekanan emosional yang ia coba tahan. "Apa itu… anaknya?" tanyanya pelan, meski ia tahu jawabannya dari tatapan kosong Elara sejak di toilet tadi. Tapi ia tetap perlu mendengar konfirmasi dari Elara sendiri, meski jawabannya bisa menghancurkan segalanya.
Elara tak segera merespon. Ia hanya menatap ke arah jendela, lalu akhirnya, dengan gerakan lambat dan berat, ia mengangguk. Anggukan itu kecil, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat jantung Cairo terasa diremas. Perasaan sakit yang tak terjelaskan merayapi tubuhnya. Sakit bukan hanya karena situasinya, tetapi karena melihat Elara, gadis yang begitu ia pedulikan, terjebak dalam keadaan yang begitu sulit dan menyakitkan.
Cairo menatap Elara yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya memucat dan kehilangan semangatnya. Di kepalanya, berbagai pikiran berputar, mencari solusi atau jalan keluar. Dalam hatinya, ia tak bisa membiarkan Elara menghadapi ini sendirian.
"Elara," panggil Cairo pelan, "aku bisa menghubungi dia. Biarkan aku berbicara dengannya."
Elara tiba-tiba menoleh ke arah Cairo. Dia segera memotong perkataan Cairo dengan suara yang serak dan penuh keputusasaan. "Jangan, Cairo!" suaranya terdengar memohon, dan tangan mungilnya mencengkeram lengan Cairo dengan kuat, seolah-olah dia takut keputusannya akan membawa bencana yang lebih besar. "Kita tidak bisa. Dia… dia bilang dia akan sangat sibuk mempersiapkan karirnya sebagai penyanyi."
Cairo mengerutkan kening, menatap Elara dengan penuh kebingungan dan rasa tak percaya. "Tapi ini bukan hal yang bisa kamu simpan sendirian, El. Dia harus tahu."
Elara menggeleng lemah, dan pandangannya jatuh ke lantai. “Aku tahu… aku tahu dia harus tahu,” bisiknya, suaranya penuh rasa sakit. "Tapi, dia sudah memberitahuku beberapa hari lalu. Jika dia akan benar-benar fokus untuk karirnya. Ini demi kami juga nantinya." Suaranya terhenti, sukar baginya melanjutkan kata-kata itu, seolah kenyataan itu terlalu berat untuk diungkapkan.
Cairo menghela napas panjang, menatap gadis yang terlihat begitu kecil dan rapuh di hadapannya. Ia bisa merasakan kepedihan yang begitu dalam di balik kata-kata Elara. Dia tahu Elara sedang mencoba bertahan, mencoba kuat di tengah ketidakpastian ini, tetapi Cairo merasa hancur melihatnya berusaha memikul semua beban itu sendirian.
"Kapan dia akan kembali?" Cairo bertanya, meski sudah bisa menebak jawabannya.
Elara tersenyum pahit, senyum yang tak mencapai matanya. "Aku… aku tidak tahu. Mungkin beberapa bulan. Mungkin bisa lebih lama." Suara Elara merendah saat ia berucap, seolah kepastian itu semakin jauh dari genggamannya. "Aku… aku akan menunggu sampai dia kembali. Aku akan menunggunya."
Cairo merasakan sesuatu menghantam dadanya, rasa sakit dan frustrasi yang sulit ia tahan. Ia ingin berteriak, ingin meyakinkan Elara bahwa dia tidak harus menunggu, bahwa ada jalan lain. Tapi, melihat ekspresi Elara yang penuh kepasrahan, dia tahu, Elara sudah mengambil keputusan. Elara memilih untuk menunggu, memilih untuk berharap, meskipun itu berarti harus menyimpan semuanya sendiri.
Dengan susah payah, Cairo menelan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Ia tahu ini bukan saatnya untuk memaksakan kehendak atau menyuarakan kemarahan. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah mendukung Elara, meskipun setiap detik hatinya meronta.
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka akan menerima?”
Dua tahun kemudian. Seseorang turun dari pesawat dengan langkah mantap. Axel kembali ke negaranya. Penampilannya jauh berbeda dari dua tahun lalu saat ia meninggalkan Indonesia. Kini, ia adalah pria yang sudah memiliki segalanya, seorang CEO muda di sebuah perusahaan hiburan besar. Mengenakan setelan formal, lengkap dengan jas mahal dan jam tangan eksklusif, setiap gerakannya memancarkan aura kesuksesan dan kekuasaan. Matanya yang tajam menyorot penuh percaya diri, tapi ada sedikit kekosongan di sana—rindu akan sesuatu yang tak bisa ia gapai, atau mungkin seseorang.Begitu Axel menjejakkan kaki di tanah Indonesia, ia langsung disambut oleh bawahannya yang telah menunggu di depan pintu keluar bandara. Tanpa banyak bicara, Axel menaiki mobil yang telah dipersiapkan dan langsung menuju kantor perusahaan yang baru saja diresmikan. Meski hari ini adalah hari yang penting, hatinya diliputi kekesalan yang tak jelas asalnya. Mungkin karena rasa lelah atau karena ada hal-hal yang mengganjal di
Elara menggigil kedinginan. Pakaian yang basah kuyup menempel erat di kulitnya, membuat tubuhnya semakin terasa berat dan lemah. Hujan yang deras membasahi jalan, seolah ikut memperberat langkah kakinya yang semakin lunglai. Setiap tetes hujan yang jatuh mengenai tubuhnya membuatnya menggertakkan gigi, berusaha menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi meski tubuhnya bergetar dan terasa lemah, Elara memaksa dirinya untuk terus berjalan.Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat tiba-tiba muncul di kepalanya—sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa menampungnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menapaki langkah, meski kakinya sudah terasa kaku dan nyaris lumpuh oleh dingin. Malam semakin pekat, dan jalanan semakin sepi, hanya terdengar suara hujan yang menderu, bersaing dengan suara langkah kaki Elara yang terseret di atas aspal basah. Sinar lampu jalan yang redup sesekali menerangi wajahnya yang pucat, mengungkapkan betapa lelahnya ia setelah melalui hari yang
Cairo memegang setir dengan erat, tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik ke arah Elara yang duduk di sampingnya. Wajah Elara tampak tenang, tapi dari sorot matanya, jelas ada badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Sejak tadi, Cairo ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, tak ingin menyakiti Elara yang sudah terlihat begitu rapuh. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.“Elara, apa kamu yakin ingin mengatakan ini pada orang tuamu sekarang?” tanyanya hati-hati, suaranya sedikit serak.Elara menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu. Untuk sejenak, ada keheningan yang mencekam di dalam mobil, hanya suara hujan yang mulai turun pelan-pelan di luar sana."Aku harus, Cairo," jawab Elara dengan suara pelan tetapi tegas. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusimpan lebih lama. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan ini.”“Tapi kamu tahu bagaimana mereka,” Cairo berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu khawatir.
Elara berdiri di depan cermin kecil di dalam toilet, menggenggam erat tes kehamilan yang baru saja ia beli. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, dan napasnya tak beraturan. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari alat kecil di tangannya itu. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, seolah waktu berhenti di saat kecemasan merayap semakin dalam ke hatinya.Pikirannya dipenuhi ketakutan—sebuah kekhawatiran yang selama ini coba ia hindari. Apa yang akan terjadi jika hasilnya positif? Bagaimana masa depannya? Bagaimana dengan Axel, yang sekarang sudah jauh dari kehidupannya? Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti di kepalanya.Tak lama, hasilnya muncul. Dua garis merah. Elara terdiam, kedua matanya terbelalak. Syok menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Lututnya melemas, dan tanpa ia sadari, tubuhnya jatuh terduduk di lantai marmer dingin. Suara benturan lembut itu bergema di ruangan yang sepi, tetapi di kepalanya, bunyi itu seperti ledakan. Tes kehamilan tergeletak di lantai, ta
Bandara sore itu dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang hendak pergi, suara pengumuman keberangkatan dan derap langkah kaki memenuhi setiap sudut. Di tengah keramaian, Elara dan Axel duduk berdua di salah satu sudut yang lebih sepi, seperti terpisah dari dunia di sekitar mereka. Momen ini terasa begitu berat bagi keduanya, karena mereka tahu ini bukan perpisahan biasa. Axel, dengan tiket pesawat di tangan, siap meninggalkan kota kecil tempat mereka tumbuh untuk mengejar impiannya ke luar negeri, lebih tepatnya ke Tokyo. Namun, hatinya tersayat saat menatap wajah Elara, perempuan yang selalu ada di sisinya selama ini.Elara menunduk, menatap lantai dengan tatapan kosong. Di dalam dirinya, perasaan takut dan cemas menyatu menjadi satu. Kepergian Axel bukanlah kepergian singkat, melainkan perjalanan panjang untuk meraih cita-cita sebagai penyanyi. "Aku harus melakukan ini, El," Axel berkata dengan nada pelan namun tegas, memecah keheningan di antara mereka. "Aku nggak akan bisa hidup dengan







