LOGINElara menggigil kedinginan. Pakaian yang basah kuyup menempel erat di kulitnya, membuat tubuhnya semakin terasa berat dan lemah. Hujan yang deras membasahi jalan, seolah ikut memperberat langkah kakinya yang semakin lunglai. Setiap tetes hujan yang jatuh mengenai tubuhnya membuatnya menggertakkan gigi, berusaha menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi meski tubuhnya bergetar dan terasa lemah, Elara memaksa dirinya untuk terus berjalan.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat tiba-tiba muncul di kepalanya—sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa menampungnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menapaki langkah, meski kakinya sudah terasa kaku dan nyaris lumpuh oleh dingin. Malam semakin pekat, dan jalanan semakin sepi, hanya terdengar suara hujan yang menderu, bersaing dengan suara langkah kaki Elara yang terseret di atas aspal basah. Sinar lampu jalan yang redup sesekali menerangi wajahnya yang pucat, mengungkapkan betapa lelahnya ia setelah melalui hari yang begitu berat.
Sekitar satu jam berlalu, Elara akhirnya tiba di tempat yang ia tuju. Sebuah rumah yang lebih sederhana dibanding rumahnya sendiri. Dinding rumah itu masih terbuat dari kayu, tetapi terlihat masih terawat dengan baik. Lampu di bagian depan rumah dibiarkan menyala, memberikan sedikit penerangan yang hangat di tengah malam yang gelap. Di depan rumah, ada taman kecil yang dipenuhi bunga-bunga segar. Elara tahu siapa pemilik rumah ini, seseorang yang dulu sering ia kunjungi, dan ia berharap rumah ini bisa menjadi tempatnya berlindung sementara.
Namun, begitu Elara mendekati pintu rumah, ia menyadari kenyataan pahit yang tak terhindarkan. Rumah itu dikunci rapat. Tak ada siapa pun di dalamnya. Pintu kayu itu seolah menjadi penghalang terakhir antara dirinya dan harapan yang hampir punah. Napas Elara terengah-engah, rasa letih melanda seluruh tubuhnya, dan ia tahu bahwa ia tidak memiliki tenaga lagi untuk melanjutkan perjalanan.
“Tentu saja rumahnya dikunci,” ucapnya pelan dan terdengar putus asa.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Elara menyeret tubuhnya menuju bangku kayu yang terletak di teras rumah itu. Bangku itu terlihat kokoh, meski usang, dan sejenak Elara merasa sedikit lega ketika bisa duduk di atasnya. Namun rasa lega itu hanya sementara. Tubuhnya semakin menggigil, bibirnya membiru, dan rasa pusing mulai menyerang kepalanya. Elara merasakan perutnya melilit, rasa mual yang begitu kuat datang tiba-tiba, membuatnya terpaksa menundukkan kepala dan memejamkan mata. Pandangannya mulai kabur.
“Hanya sebentar,” gumam Elara pelan, meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap dengan duduk di situ sebentar, semuanya akan terasa lebih baik. Ia hanya perlu istirahat sebentar, lalu semuanya akan baik-baik saja. Namun kenyataan berkata lain. Rasa dingin yang terus menyelubungi tubuhnya mulai menggerogoti kesadarannya. Napasnya semakin berat, dan rasa pusing di kepalanya semakin menguat. Suara gemuruh hujan di sekitar mulai terdengar seperti gumaman yang jauh, seolah-olah dunia di sekitarnya perlahan-lahan memudar.
Elara memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang sudah hampir beku. Namun, setiap gerakannya terasa sia-sia. Tubuhnya tak lagi merespons seperti seharusnya. Rasa sakit di perutnya semakin kuat, dan detak jantungnya mulai terdengar seperti pukulan palu yang lambat namun berat. Sekali lagi, Elara memejamkan mata, mencoba mengusir rasa sakit dan dingin yang terus menyerangnya.
Namun tiba-tiba, semuanya terasa gelap.
Elara jatuh pingsan di bangku kayu itu, tubuhnya terkulai lemas. Hujan yang masih turun deras membuat suara riuh air yang memercik di atas daun dan atap rumah terdengar seperti nyanyian muram. Udara dingin malam semakin menambah kekejaman suasana. Tubuh Elara yang kini terkulai lemas di bangku itu terlihat begitu rapuh. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyerahkan dirinya pada gelapnya malam.
Sementara itu, tak jauh dari rumah, lampu sebuah mobil menyala samar-samar, perlahan mendekati rumah tersebut. Di dalam mobil, Cairo duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. Sejak meninggalkan Elara tadi, pikirannya terus dihantui oleh bayangan gadis itu yang berada sendirian di tengah hujan deras. Perasaan khawatirnya tak pernah benar-benar hilang, bahkan setelah ia berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak ikut campur lebih jauh.
Namun kini, di tengah hujan yang semakin deras dan petir yang menyambar di kejauhan, Cairo tahu bahwa ia tak bisa tinggal diam. Ia tidak bisa meninggalkan Elara begitu saja. Meski ia tahu Elara meminta untuk tidak dibantu, tetapi nuraninya tidak bisa membiarkan gadis itu berada dalam bahaya. Dengan secepat mungkin, ia bergegas kembali ke tempat terakhir ia meninggalkan Elara, berharap bisa menemukan gadis itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Hingga Cairo melihatnya, sesosok tubuh yang meringkuk di bangku teras rumah tua itu. Begitu melihat kondisi Elara yang terkulai lemah, tanpa berpikir panjang Cairo langsung keluar dari mobil, berlari menembus hujan menuju gadis yang sudah tak sadarkan diri itu.
“Elara!” serunya panik, berusaha membangunkannya, tapi tak ada respon. Tubuh Elara sudah begitu dingin, wajahnya pucat, bibirnya kebiruan. Cairo tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia menggendong tubuh Elara yang lemah dan segera membawanya ke mobil, bergegas menuju rumah sakit terdekat, berharap ia masih sempat menyelamatkannya.
Sementara itu, Axel tiba di Tokyo yang penuh dengan kesibukan, jantungnya berdebar kencang. Ini adalah kesempatan besar yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Kesempatan untuk mengejar mimpinya menjadi penyanyi profesional. Begitu tiba di depan gedung agensi besar tempat ia akan meniti karir, ia tak bisa menahan perasaan campur aduk antara semangat dan kekhawatiran. Di balik rasa senangnya, ada juga bayang-bayang Elara yang ia tinggalkan di kota kecil mereka. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa semua ini demi masa depan mereka berdua—Axel harus sukses, agar bisa membawa Elara keluar dari kehidupan yang penuh tekanan bersama keluarganya.
Setibanya di kantor, Axel langsung diantarkan menuju ruangan Tuan Fabian, pemilik agensi. Tuan Fabian adalah pria paruh baya yang berwibawa, dengan sorot mata tajam dan senyum tipis. Dia orang Indonesia asli tetapi memiliki agensi di Jepang dan cukup terkenal. Tanpa basa-basi, ia menyodorkan kontrak di hadapan Axel. Kontrak itu tebal, penuh dengan berbagai syarat dan ketentuan, tapi Axel tak punya banyak waktu untuk membacanya dengan teliti. Tuan Fabian mendesaknya agar segera menandatangani.
“Kami tidak punya banyak waktu. Jika kamu ingin karirmu segera dimulai, tanda tanganlah, dan kita bisa langsung mulai latihan intensif,” ujar Tuan Fabian tegas, senyum tipis tak hilang dari wajahnya.
Axel tahu ini adalah kesempatan besar, jadi meski hatinya sedikit ragu, ia akhirnya menandatangani kontrak itu. Namun, ada satu syarat yang tak ia sadari betul: ponselnya akan disita sementara selama empat bulan penuh, demi memastikan ia bisa fokus sepenuhnya pada latihan dan proses pembelajaran. Axel kaget ketika Tuan Fabian meminta ponselnya segera setelah kontrak ditandatangani.
“Apa? Ponselku? Mengapa?” tanya Axel, bingung.
“Ini sudah tertulis di kontrak yang kamu tandatangani. Kami tidak ingin ada distraksi. Empat bulan ke depan kamu harus fokus pada dirimu sendiri dan karirmu. Setelah itu, barulah kamu bisa mengakses ponselmu kembali,” jawab Tuan Fabian dengan nada tak terbantahkan.
Axel mau tak mau menyerahkan ponselnya. Hatinya sebenarnya berat. Ia ingin menghubungi Elara, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Namun, kontrak sudah ditandatangani, dan ia tak punya pilihan. Dalam hati, ia berjanji bahwa setelah empat bulan berlalu, hal pertama yang akan ia lakukan adalah menghubungi Elara dan sahabatnya, Cairo.
Waktu berlalu dengan cepat. Axel terlibat dalam latihan keras, belajar menyanyi, menari, dan menjalani berbagai pelatihan lainnya. Namun, dalam benaknya, ia terus merindukan Elara. Hari demi hari, bayangan wajahnya semakin jelas, dan perasaan rindunya semakin kuat. Ia menunggu dengan sabar empat bulan itu berlalu, dengan harapan besar untuk bisa segera mendengar suara Elara lagi.
Ketika akhirnya empat bulan berlalu, Axel tak bisa menahan kegembiraannya. Ia mengambil kembali ponselnya dari manajer agensi dan segera bergegas ingin menghubungi Elara dan Cairo. Namun, saat ia tengah bergegas menuju kamarnya, ponselnya tak sengaja tersenggol dari meja dan jatuh ke lantai dengan keras. Hati Axel langsung mencelos melihat layar ponselnya pecah.
Dengan panik, ia mencoba menyalakannya, tapi layar ponsel itu hanya berkedip sesaat sebelum mati total. Axel merasa putus asa. Ponsel yang selama ini menjadi satu-satunya cara untuk terhubung dengan Elara dan Cairo kini rusak. Semua usahanya untuk menghubungi mereka terhambat lagi. Axel merasa frustrasi, ia mencoba mencari cara untuk memperbaikinya, tapi tidak ada layanan perbaikan yang bisa cepat. Perasaan cemas dan bersalah semakin menumpuk dalam hatinya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Axel putus asa, duduk dengan kepala tertunduk di kamarnya.
Dua tahun kemudian. Seseorang turun dari pesawat dengan langkah mantap. Axel kembali ke negaranya. Penampilannya jauh berbeda dari dua tahun lalu saat ia meninggalkan Indonesia. Kini, ia adalah pria yang sudah memiliki segalanya, seorang CEO muda di sebuah perusahaan hiburan besar. Mengenakan setelan formal, lengkap dengan jas mahal dan jam tangan eksklusif, setiap gerakannya memancarkan aura kesuksesan dan kekuasaan. Matanya yang tajam menyorot penuh percaya diri, tapi ada sedikit kekosongan di sana—rindu akan sesuatu yang tak bisa ia gapai, atau mungkin seseorang.Begitu Axel menjejakkan kaki di tanah Indonesia, ia langsung disambut oleh bawahannya yang telah menunggu di depan pintu keluar bandara. Tanpa banyak bicara, Axel menaiki mobil yang telah dipersiapkan dan langsung menuju kantor perusahaan yang baru saja diresmikan. Meski hari ini adalah hari yang penting, hatinya diliputi kekesalan yang tak jelas asalnya. Mungkin karena rasa lelah atau karena ada hal-hal yang mengganjal di
Elara menggigil kedinginan. Pakaian yang basah kuyup menempel erat di kulitnya, membuat tubuhnya semakin terasa berat dan lemah. Hujan yang deras membasahi jalan, seolah ikut memperberat langkah kakinya yang semakin lunglai. Setiap tetes hujan yang jatuh mengenai tubuhnya membuatnya menggertakkan gigi, berusaha menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi meski tubuhnya bergetar dan terasa lemah, Elara memaksa dirinya untuk terus berjalan.Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat tiba-tiba muncul di kepalanya—sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa menampungnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menapaki langkah, meski kakinya sudah terasa kaku dan nyaris lumpuh oleh dingin. Malam semakin pekat, dan jalanan semakin sepi, hanya terdengar suara hujan yang menderu, bersaing dengan suara langkah kaki Elara yang terseret di atas aspal basah. Sinar lampu jalan yang redup sesekali menerangi wajahnya yang pucat, mengungkapkan betapa lelahnya ia setelah melalui hari yang
Cairo memegang setir dengan erat, tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik ke arah Elara yang duduk di sampingnya. Wajah Elara tampak tenang, tapi dari sorot matanya, jelas ada badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Sejak tadi, Cairo ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, tak ingin menyakiti Elara yang sudah terlihat begitu rapuh. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.“Elara, apa kamu yakin ingin mengatakan ini pada orang tuamu sekarang?” tanyanya hati-hati, suaranya sedikit serak.Elara menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu. Untuk sejenak, ada keheningan yang mencekam di dalam mobil, hanya suara hujan yang mulai turun pelan-pelan di luar sana."Aku harus, Cairo," jawab Elara dengan suara pelan tetapi tegas. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusimpan lebih lama. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan ini.”“Tapi kamu tahu bagaimana mereka,” Cairo berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu khawatir.
Elara berdiri di depan cermin kecil di dalam toilet, menggenggam erat tes kehamilan yang baru saja ia beli. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, dan napasnya tak beraturan. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari alat kecil di tangannya itu. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, seolah waktu berhenti di saat kecemasan merayap semakin dalam ke hatinya.Pikirannya dipenuhi ketakutan—sebuah kekhawatiran yang selama ini coba ia hindari. Apa yang akan terjadi jika hasilnya positif? Bagaimana masa depannya? Bagaimana dengan Axel, yang sekarang sudah jauh dari kehidupannya? Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti di kepalanya.Tak lama, hasilnya muncul. Dua garis merah. Elara terdiam, kedua matanya terbelalak. Syok menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Lututnya melemas, dan tanpa ia sadari, tubuhnya jatuh terduduk di lantai marmer dingin. Suara benturan lembut itu bergema di ruangan yang sepi, tetapi di kepalanya, bunyi itu seperti ledakan. Tes kehamilan tergeletak di lantai, ta
Bandara sore itu dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang hendak pergi, suara pengumuman keberangkatan dan derap langkah kaki memenuhi setiap sudut. Di tengah keramaian, Elara dan Axel duduk berdua di salah satu sudut yang lebih sepi, seperti terpisah dari dunia di sekitar mereka. Momen ini terasa begitu berat bagi keduanya, karena mereka tahu ini bukan perpisahan biasa. Axel, dengan tiket pesawat di tangan, siap meninggalkan kota kecil tempat mereka tumbuh untuk mengejar impiannya ke luar negeri, lebih tepatnya ke Tokyo. Namun, hatinya tersayat saat menatap wajah Elara, perempuan yang selalu ada di sisinya selama ini.Elara menunduk, menatap lantai dengan tatapan kosong. Di dalam dirinya, perasaan takut dan cemas menyatu menjadi satu. Kepergian Axel bukanlah kepergian singkat, melainkan perjalanan panjang untuk meraih cita-cita sebagai penyanyi. "Aku harus melakukan ini, El," Axel berkata dengan nada pelan namun tegas, memecah keheningan di antara mereka. "Aku nggak akan bisa hidup dengan







