Home / Romansa / Benih Mantan Pacar / Bab 4. Putus Komunikasi

Share

Bab 4. Putus Komunikasi

Author: Michaella Kim
last update publish date: 2026-01-19 15:59:12

Elara menggigil kedinginan. Pakaian yang basah kuyup menempel erat di kulitnya, membuat tubuhnya semakin terasa berat dan lemah. Hujan yang deras membasahi jalan, seolah ikut memperberat langkah kakinya yang semakin lunglai. Setiap tetes hujan yang jatuh mengenai tubuhnya membuatnya menggertakkan gigi, berusaha menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi meski tubuhnya bergetar dan terasa lemah, Elara memaksa dirinya untuk terus berjalan.

Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat tiba-tiba muncul di kepalanya—sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa menampungnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menapaki langkah, meski kakinya sudah terasa kaku dan nyaris lumpuh oleh dingin. Malam semakin pekat, dan jalanan semakin sepi, hanya terdengar suara hujan yang menderu, bersaing dengan suara langkah kaki Elara yang terseret di atas aspal basah. Sinar lampu jalan yang redup sesekali menerangi wajahnya yang pucat, mengungkapkan betapa lelahnya ia setelah melalui hari yang begitu berat.

Sekitar satu jam berlalu, Elara akhirnya tiba di tempat yang ia tuju. Sebuah rumah yang lebih sederhana dibanding rumahnya sendiri. Dinding rumah itu masih terbuat dari kayu, tetapi terlihat masih terawat dengan baik. Lampu di bagian depan rumah dibiarkan menyala, memberikan sedikit penerangan yang hangat di tengah malam yang gelap. Di depan rumah, ada taman kecil yang dipenuhi bunga-bunga segar. Elara tahu siapa pemilik rumah ini, seseorang yang dulu sering ia kunjungi, dan ia berharap rumah ini bisa menjadi tempatnya berlindung sementara.

Namun, begitu Elara mendekati pintu rumah, ia menyadari kenyataan pahit yang tak terhindarkan. Rumah itu dikunci rapat. Tak ada siapa pun di dalamnya. Pintu kayu itu seolah menjadi penghalang terakhir antara dirinya dan harapan yang hampir punah. Napas Elara terengah-engah, rasa letih melanda seluruh tubuhnya, dan ia tahu bahwa ia tidak memiliki tenaga lagi untuk melanjutkan perjalanan.

“Tentu saja rumahnya dikunci,” ucapnya pelan dan terdengar putus asa.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Elara menyeret tubuhnya menuju bangku kayu yang terletak di teras rumah itu. Bangku itu terlihat kokoh, meski usang, dan sejenak Elara merasa sedikit lega ketika bisa duduk di atasnya. Namun rasa lega itu hanya sementara. Tubuhnya semakin menggigil, bibirnya membiru, dan rasa pusing mulai menyerang kepalanya. Elara merasakan perutnya melilit, rasa mual yang begitu kuat datang tiba-tiba, membuatnya terpaksa menundukkan kepala dan memejamkan mata. Pandangannya mulai kabur.

“Hanya sebentar,” gumam Elara pelan, meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap dengan duduk di situ sebentar, semuanya akan terasa lebih baik. Ia hanya perlu istirahat sebentar, lalu semuanya akan baik-baik saja. Namun kenyataan berkata lain. Rasa dingin yang terus menyelubungi tubuhnya mulai menggerogoti kesadarannya. Napasnya semakin berat, dan rasa pusing di kepalanya semakin menguat. Suara gemuruh hujan di sekitar mulai terdengar seperti gumaman yang jauh, seolah-olah dunia di sekitarnya perlahan-lahan memudar.

Elara memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang sudah hampir beku. Namun, setiap gerakannya terasa sia-sia. Tubuhnya tak lagi merespons seperti seharusnya. Rasa sakit di perutnya semakin kuat, dan detak jantungnya mulai terdengar seperti pukulan palu yang lambat namun berat. Sekali lagi, Elara memejamkan mata, mencoba mengusir rasa sakit dan dingin yang terus menyerangnya.

Namun tiba-tiba, semuanya terasa gelap.

Elara jatuh pingsan di bangku kayu itu, tubuhnya terkulai lemas. Hujan yang masih turun deras membuat suara riuh air yang memercik di atas daun dan atap rumah terdengar seperti nyanyian muram. Udara dingin malam semakin menambah kekejaman suasana. Tubuh Elara yang kini terkulai lemas di bangku itu terlihat begitu rapuh. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyerahkan dirinya pada gelapnya malam.

Sementara itu, tak jauh dari rumah, lampu sebuah mobil menyala samar-samar, perlahan mendekati rumah tersebut. Di dalam mobil, Cairo duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. Sejak meninggalkan Elara tadi, pikirannya terus dihantui oleh bayangan gadis itu yang berada sendirian di tengah hujan deras. Perasaan khawatirnya tak pernah benar-benar hilang, bahkan setelah ia berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak ikut campur lebih jauh.

Namun kini, di tengah hujan yang semakin deras dan petir yang menyambar di kejauhan, Cairo tahu bahwa ia tak bisa tinggal diam. Ia tidak bisa meninggalkan Elara begitu saja. Meski ia tahu Elara meminta untuk tidak dibantu, tetapi nuraninya tidak bisa membiarkan gadis itu berada dalam bahaya. Dengan secepat mungkin, ia bergegas kembali ke tempat terakhir ia meninggalkan Elara, berharap bisa menemukan gadis itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Hingga Cairo melihatnya, sesosok tubuh yang meringkuk di bangku teras rumah tua itu. Begitu melihat kondisi Elara yang terkulai lemah, tanpa berpikir panjang Cairo langsung keluar dari mobil, berlari menembus hujan menuju gadis yang sudah tak sadarkan diri itu.

“Elara!” serunya panik, berusaha membangunkannya, tapi tak ada respon. Tubuh Elara sudah begitu dingin, wajahnya pucat, bibirnya kebiruan. Cairo tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia menggendong tubuh Elara yang lemah dan segera membawanya ke mobil, bergegas menuju rumah sakit terdekat, berharap ia masih sempat menyelamatkannya.

Sementara itu, Axel tiba di Tokyo yang penuh dengan kesibukan, jantungnya berdebar kencang. Ini adalah kesempatan besar yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Kesempatan untuk mengejar mimpinya menjadi penyanyi profesional. Begitu tiba di depan gedung agensi besar tempat ia akan meniti karir, ia tak bisa menahan perasaan campur aduk antara semangat dan kekhawatiran. Di balik rasa senangnya, ada juga bayang-bayang Elara yang ia tinggalkan di kota kecil mereka. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa semua ini demi masa depan mereka berdua—Axel harus sukses, agar bisa membawa Elara keluar dari kehidupan yang penuh tekanan bersama keluarganya.

Setibanya di kantor, Axel langsung diantarkan menuju ruangan Tuan Fabian, pemilik agensi. Tuan Fabian adalah pria paruh baya yang berwibawa, dengan sorot mata tajam dan senyum tipis. Dia orang Indonesia asli tetapi memiliki agensi di Jepang dan cukup terkenal. Tanpa basa-basi, ia menyodorkan kontrak di hadapan Axel. Kontrak itu tebal, penuh dengan berbagai syarat dan ketentuan, tapi Axel tak punya banyak waktu untuk membacanya dengan teliti. Tuan Fabian mendesaknya agar segera menandatangani.

“Kami tidak punya banyak waktu. Jika kamu ingin karirmu segera dimulai, tanda tanganlah, dan kita bisa langsung mulai latihan intensif,” ujar Tuan Fabian tegas, senyum tipis tak hilang dari wajahnya.

Axel tahu ini adalah kesempatan besar, jadi meski hatinya sedikit ragu, ia akhirnya menandatangani kontrak itu. Namun, ada satu syarat yang tak ia sadari betul: ponselnya akan disita sementara selama empat bulan penuh, demi memastikan ia bisa fokus sepenuhnya pada latihan dan proses pembelajaran. Axel kaget ketika Tuan Fabian meminta ponselnya segera setelah kontrak ditandatangani.

“Apa? Ponselku? Mengapa?” tanya Axel, bingung.

“Ini sudah tertulis di kontrak yang kamu tandatangani. Kami tidak ingin ada distraksi. Empat bulan ke depan kamu harus fokus pada dirimu sendiri dan karirmu. Setelah itu, barulah kamu bisa mengakses ponselmu kembali,” jawab Tuan Fabian dengan nada tak terbantahkan.

Axel mau tak mau menyerahkan ponselnya. Hatinya sebenarnya berat. Ia ingin menghubungi Elara, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Namun, kontrak sudah ditandatangani, dan ia tak punya pilihan. Dalam hati, ia berjanji bahwa setelah empat bulan berlalu, hal pertama yang akan ia lakukan adalah menghubungi Elara dan sahabatnya, Cairo.

Waktu berlalu dengan cepat. Axel terlibat dalam latihan keras, belajar menyanyi, menari, dan menjalani berbagai pelatihan lainnya. Namun, dalam benaknya, ia terus merindukan Elara. Hari demi hari, bayangan wajahnya semakin jelas, dan perasaan rindunya semakin kuat. Ia menunggu dengan sabar empat bulan itu berlalu, dengan harapan besar untuk bisa segera mendengar suara Elara lagi.

Ketika akhirnya empat bulan berlalu, Axel tak bisa menahan kegembiraannya. Ia mengambil kembali ponselnya dari manajer agensi dan segera bergegas ingin menghubungi Elara dan Cairo. Namun, saat ia tengah bergegas menuju kamarnya, ponselnya tak sengaja tersenggol dari meja dan jatuh ke lantai dengan keras. Hati Axel langsung mencelos melihat layar ponselnya pecah.

Dengan panik, ia mencoba menyalakannya, tapi layar ponsel itu hanya berkedip sesaat sebelum mati total. Axel merasa putus asa. Ponsel yang selama ini menjadi satu-satunya cara untuk terhubung dengan Elara dan Cairo kini rusak. Semua usahanya untuk menghubungi mereka terhambat lagi. Axel merasa frustrasi, ia mencoba mencari cara untuk memperbaikinya, tapi tidak ada layanan perbaikan yang bisa cepat. Perasaan cemas dan bersalah semakin menumpuk dalam hatinya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Axel putus asa, duduk dengan kepala tertunduk di kamarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Benih Mantan Pacar   Bab 68. Happy Ending

    Axel berlari dengan napas tercekat, sementara mobil yang melaju kencang itu berhenti tepat di depan anak itu, hanya beberapa sentimeter dari tubuh kecilnya. Anak itu terpaku sejenak sebelum mundur beberapa langkah, wajahnya pucat tetapi tidak terluka. Axel segera menghampirinya, berlutut untuk memastikan semuanya baik-baik saja."Kamu nggak apa-apa?" tanya Axel, suaranya terdengar khawatir.Anak itu mengangguk cepat, meski masih sedikit gemetar. "Gak apa-apa, Om. Makasih ya," ucapnya dengan suara kecil, mencoba tersenyum.Axel menghela napas lega, mengacak rambut anak itu dengan lembut. “Lain kali hati-hati kalau nyebrang, ya. Gak usah buru-buru.""Iya, Om. Aku janji." Anak itu kembali tersenyum, tampak lebih tenang. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya ke apotek dengan langkah lebih berhati-hati.Axel berdiri, kembali ke Elara dan anak-anaknya yang menunggu di taman. Elara langsung bertanya dengan nada cemas, "Anak itu nggak apa

  • Benih Mantan Pacar   Bab 67. Extra Part Lima

    Cairo dan Mila berdiri di depan pintu, bersiap untuk pamit. Elara memegang tangan kecil Arcella, sementara Arxel berdiri di samping Axel dengan wajah sedikit murung. “Beneran kalian mau pulang sekarang? Masih sore lho,” tanya Axel, matanya menatap Cairo dengan sedikit keraguan.“Iya, aku masih banyak urusan,” jawab Cairo sambil melirik Mila di sebelahnya. “Termasuk urusan sama cewek yang satu ini,” tambahnya dengan nada bercanda, membuat Mila mendengus kesal.“Huh, urusan apa sih? Sok sibuk banget,” Mila melontarkan komentar singkat sambil melipat tangan di dadanya.Axel tertawa kecil dan menggeleng. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Gak usah ngebut, apalagi kamu, Cairo. Aku tahu kebiasaanmu kalau nyetir,” ucapnya setengah serius, setengah bercanda.Cairo menepuk bahu Axel dengan ringan. “Tenang aja, aku gak bakal bikin masalah. Aku makasih banget, ya, udah diizinin mampir.” Ucapannya tu

  • Benih Mantan Pacar   Bab 66. Extra Part Empat

    Cairo nyaris menjatuhkan cangkir tehnya saat mendengar suara keras dari arah depan rumah. Semua orang di ruang tamu spontan menoleh. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk dengan langkah tegas, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.“Berani-beraninya kamu pulang nggak kasih kabar dulu?” Suara tajam itu milik Mila. Ia berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap, matanya menatap Cairo garang.Cairo terlihat terkejut sekaligus tidak percaya. “Mila? Kok kamu bisa ke sini?”“Mila, masuk dulu. Jangan marah-marah di depan pintu, gak baik,” ucap Axel mengingatkan.“Gimana aku gak marah?” Mila mendekati Cairo dengan langkah penuh emosi. “Dia itu tiba-tiba hilang berbulan-bulan, nggak ngabarin, nggak apa-apa. Sekarang pulang diam-diam tanpa bilang ke aku. Emang aku ini apa? Teman cuma di saat butuh doang?”Cairo mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Mila, aku baru mendarat tadi pagi. Belum

  • Benih Mantan Pacar   Bab 65. Extra Part Tiga

    Elara masih menatapnya penuh curiga. Ia tahu istrinya tidak akan membiarkan pembicaraan tadi selesai begitu saja. Duduk di samping Elara, Axel meletakkan ponselnya di meja dan meraih tangan Elara. Namun, Elara tidak bergerak.“Dari siapa, Xel? Kok mukanya tadi serius banget?” tanyanya dengan nada yang tidak bisa ditawar.Axel mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Oh, tadi… tadi Cairo. Dia bilang pengen balik ke Indo. Katanya udah bosen di luar.”“Terus?”“Terus apa?” tanya Axel bingung.Elara menyipitkan mata, merasa jawaban itu terlalu sederhana. “Gitu doang?” tanyanya, jelas belum puas.Axel menahan senyumnya, mencoba untuk tetap terlihat serius. “Iya. Emang kenapa?” jawabnya polos, tapi matanya berkilat nakal.Elara mulai membuka mulut untuk protes, tapi sebelum kata-kata itu keluar, Axel meledak dalam tawa. Ia terhuyung ke belakang sambil menutupi

  • Benih Mantan Pacar   Bab 64. Extra Part Dua

    Elara masih menatap Axel dengan rasa penasaran yang begitu kuat, meski pria itu sudah mengalihkan pembicaraan dengan mencium keningnya. Ia tahu Axel selalu punya caranya sendiri untuk menghindari pertanyaan yang terlalu mendalam, tapi kali ini, Elara tak ingin menyerah begitu saja.“Xel,” panggilnya pelan, menyandarkan dagunya di bahu suaminya. “Kamu nggak adil, tahu. Aku selalu cerita semuanya sama kamu, tapi kamu selalu nyimpan rahasia sendirian.”Axel tersenyum samar, meraih tangan Elara dan menggenggamnya erat. “Bukan rahasia, Ra. Cuma sesuatu yang belum waktunya kamu tahu.”Elara mengerutkan dahi, mencoba mencerna kata-kata Axel. “Belum waktunya? Memangnya ini tentang apa sih? Kamu takut aku nggak bisa terima atau apa?” tanyanya, setengah bercanda tapi juga serius.Axel memandangnya dengan tatapan lembut tapi penuh misteri. “Bukan soal kamu bisa terima atau nggak, tapi aku nggak mau kamu khawatir,

  • Benih Mantan Pacar   Bab 63. Extra Part Satu

    Di sudut sebuah ruangan dengan pencahayaan redup, seorang penyanyi bertopeng sedang duduk di depan kamera. Ia memainkan gitar akustik dengan nada-nada yang menenangkan, suaranya yang lembut, penuh emosi menyihir ribuan penonton yang menyaksikan live streaming-nya. Topeng putih yang menutupi sebagian wajahnya, dengan desain minimalis tapi terlihat indah, menjadi ciri khas yang membuat semua orang penasaran.Suara petikan gitarnya mengalun lembut, membentuk irama yang merasuk ke hati. Ia mulai bernyanyi, suaranya seolah membawa pendengarnya ke dunia lain. Lirik-lirik yang ia ciptakan sendiri menceritakan kisah-kisah penuh perasaan, tentang cinta yang tidak terucap, tentang kerinduan, dan tentang mimpi-mimpi yang tertunda. Setiap kata terasa hidup, menggambarkan sosok yang penuh misteri dan juga memikat.Di layar, kolom komentar tak pernah berhenti bergerak. Para penonton, mayoritas gadis-gadis muda, berlomba-lomba mengungkapkan kekaguman mereka.“Suara k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status