Share

🖤 Episode 4

last update publish date: 2025-07-05 14:09:39

Malam itu hangat dan lembap, udara dipenuhi aroma bunga yang bermekaran dan klorin dari kolam renang. Rani melangkah keluar ke teras, mencari ketenangan dan udara segar setelah seharian melayani setiap keinginan Tasya.

Kolam renang berkilauan mengundang di bawah cahaya bulan, permukaannya tenang dan mulus. Rani berjalan perlahan ke arahnya, kaki telanjangnya menjejak rumput yang sejuk. Saat mencapai tepi kolam, ia duduk di kursi santai terdekat, menghela napas pelan sambil bersandar pada bantal.

Keheningan hanya dipecah oleh dengung lembut suara jangkrik dan suara mobil yang lewat di jalan yang jauh. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya rileks sejenak, ketika tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki mendekat.

Matanya langsung terbuka, dan ia menoleh untuk melihat Dimas muncul dari kegelapan, handuk melingkar rendah di pinggulnya. Dadanya telanjang, berkilauan dengan tetesan air yang menangkap cahaya bulan. Napas Rani tercekat saat melihat penampakan fisik tubuh Dimas yang kekar.

"Rani," kata Dimas lembut, suaranya hampir berbisik. "Aku tidak menyangka akan menemukanmu di sini."

Rani segera berdiri, tiba-tiba menyadari betapa tidak pantasnya ia berada di sini sendirian bersamanya dalam keadaan setengah telanjang seperti ini. "Ma-maaf," gagap Rani, "Aku hanya sedang beristirahat. Aku bisa pergi jika Kak Dimas ingin privasi."

Dimas menggelengkan kepalanya sedikit, melangkah mendekati Rani. "Tidak, tetaplah di sini," bisiknya. "Malam ini damai," tatapannya intens saat menatap Rani. "Dan aku butuh teman."

Jantung Rani berpacu saat Dimas memperpendek jarak di antara mereka, panas dari kulit telanjangnya terpancar ke arah Rani. Ia bisa mencium aroma sabun yang samar dan sesuatu yang unik maskulin, kombinasi yang membuat kepalanya pusing.

"Kak," bisik Rani, mencoba mempertahankan kesan profesional meskipun suasananya intim. "Apakah kamu yakin ini pantas?" Suaranya sedikit bergetar, mengkhianati kegugupannya.

Seringai kecil muncul di sudut bibir Dimas. "Pantas?" gema suara Dimas lembut. "Siapa bilang ini pantas?" Ia mengulurkan tangan, ujung jarinya dengan ringan menyentuh lengan Rani, mengirimkan getaran listrik ke seluruh tubuhnya. Rani tahu ia harus menjauh, tetapi ia lumpuh oleh sentuhan Dimas dan intensitas tatapannya.

"Kak Dimas," Rani menghembuskan napas pelan, nama itu keluar dari bibirnya seperti doa. "Apa yang kamu lakukan? seharusnya kamu tidak melakukan ini"

"Ssst," bisik Dimas, menempelkan jari ke bibir Rani. "Jangan berpikir, Rani. Rasakan saja." Tangannya yang lain melingkari pinggang Rani, menariknya hingga menempel di dada Dimas. Rani bisa merasakan detak jantung Dimas di bawah telapak tangannya, menyamai irama denyut nadinya yang berpacu.

Bibir Dimas menyentuh bibir Rani dengan sentuhan ringan seperti bulu yang mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh tubuh Rani. Itu adalah pertanyaan, undangan, tantangan dan Rani menanggapi dengan menekan dirinya lebih dekat pada Dimas, memperdalam ciuman dengan urgensi yang putus asa.

Handuk di pinggang Dimas jatuh saat ciuman mereka menjadi lebih bersemangat, lebih menuntut. Tangan Dimas menjelajahi tubuh Rani, menarik-narik kain gaunnya dengan tidak sabar. Rani membantu Dimas, melepaskan gaun itu dari bahunya dan membiarkannya jatuh ke kaki, hingga ia berdiri di hadapan Dimas hanya dengan pakaian dalamnya.

Momen intim itu hancur oleh suara pintu yang terbanting menutup di suatu tempat di rumah. Mereka membeku, tubuh mereka masih terjalin dan jantung mereka berdebar kencang. Gangguan itu berfungsi sebagai pengingat yang keras tentang di mana mereka berada dan betapa berbahayanya situasi mereka.

Dimas sedikit menarik diri, matanya mencari mata Rani dengan campuran hasrat dan kekhawatiran. "Seseorang bangun," bisik Dimas mendesak. "Kita tidak bisa ketahuan seperti ini." Tatapannya beralih ke rumah, mendengarkan dengan seksama tanda-tanda gerakan apa pun.

Rani mengangguk dalam diam, pikirannya dipenuhi kepanikan. Memikirkan akan ketahuan dalam posisi yang begitu membahayakan mengirimkan rasa dingin ke tulang punggungnya. Ia dengan cepat meraih gaunnya, menariknya kembali dengan tangan gemetar.

Dimas mengawasi Rani sejenak sebelum membungkuk untuk mengambil handuknya. Ia melilitkannya di pinggangnya sekali lagi, menutupi ketelanjangannya tepat saat langkah kaki mulai bergema di lorong di dalam.

"Rani," bisik Dimas lembut, suaranya rendah dan mendesak. Matanya menembus mata Rani, dipenuhi dengan intensitas yang ganas. "Kita akan menyelesaikan apa yang sudah kita mulai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 108

    Kejadian di taman hari itu menjadi katalisator yang mengubah dinamika di dalam penthouse tersebut secara drastis. Bagi Dimas, kehadiran Atharrazka bukan sekadar gangguan sosial, melainkan ancaman keamanan yang nyata sebuah anomali yang harus segera dieliminasi dari kehidupan Rani.Kecemburuan yang membakar di dadanya kini ia kemas dengan rapi dalam bungkus kepedulian yang manipulatif. Dimas mulai membangun dinding dinding tak kasat mata di sekeliling Rani.Pengawasan yang tadinya hanya bersifat administratif kini berubah menjadi kontrol total. Jika sebelumnya Dimas hanya memastikan Rani makan tepat waktu atau memiliki jam istirahat yang cukup, kini ia mulai mengatur setiap detail kecil dalam kehidupan gadis itu."Rani, aku tidak ingin kamu keluar rumah sendirian tanpa pengawal. Dunia di luar sana tidak seaman yang kamu bayangkan," ucap Dimas suatu sore, suaranya terdengar sangat tenang dan penuh wibawa saat ia memberikan daftar aturan baru.Perubahan itu merayap perlahan namun pasti.

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 107

    Di taman bawah yang disinari matahari, Atharrazka sepertinya tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai dari lantai atas. Ia justru semakin berani, memanfaatkan momen kedekatan itu untuk memperkuat pesonanya.Saat Rani masih menunduk malu sambil memeluk buket bunga itu, Atharrazka mengulurkan tangannya. Dengan gerakan yang sangat halus dan penuh maksud, ia menyentuh lengan Rani sebentar sebuah sentuhan ringan namun cukup untuk membuat Rani tersentak kaget dan menarik napas pendek."Jangan terlalu sungkan padaku, Rani. Aku akan kembali lagi nanti," bisik Atharrazka dengan senyum miring yang provokatif.Belum sempat Rani menjawab atau menarik lengannya, sebuah bayangan besar dan dominan tiba tiba membelah cahaya matahari di antara mereka.*Tap. Tap. Tap.*Langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat dengan kecepatan yang tidak wajar. Sebelum Atharrazka sempat bereaksi lebih jauh, sebuah tubuh tegap sudah berdiri tegak di tenga

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 106

    Siang itu, matahari bersinar cukup terik di area taman penthouse. Rani sedang berdiri di dekat deretan pot tanaman hias, memegang selang air dengan gerakan yang lambat dan lemas. Tubuhnya terasa sangat berat, dan keringat dingin sesekali muncul di pelipisnya akibat kelelahan yang terus menerus ia paksakan. Ia hanya mencoba mencari sedikit udara segar di sela sela tugas berat yang diberikan Tasya.Tiba tiba, suara deru mesin mobil yang halus namun bertenaga memecah keheningan. Sebuah mobil mewah mengkilap berhenti tepat di depan gerbang utama yang terbuka sedikit.Rani tersentak, refleks mematikan kran air dan menyeka tangannya yang basah ke celemeknya yang kusam. Dari balik kemudi, sosok pria dengan penampilan yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya muncul.Atharrazka turun dari mobil dengan gerakan yang penuh percaya diri. Rambut hitam tebalnya yang disisir rapi ke belakang tampak berkilau di bawah sinar matahari, dan jam tangan mewahnya memantulkan cahaya yang menyilaukan.

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 105

    Melihat Rani yang mulai terhuyung dan mencengkeram meja dengan wajah pucat pasi, Tasya tidak menunjukkan keterkejutan yang nyata. Ia tidak panik, tidak juga memanggil bantuan. Sebaliknya, ia dengan sangat cepat memasang topeng kekhawatiran yang paling meyakinkan di dunia.Tasya segera berdiri dan menghampiri Rani, tangannya bergerak seolah ingin menolong, namun ia hanya menyentuh bahu Rani dengan sangat ringan sebuah sentuhan yang terasa dingin di tengah rasa panas yang menyiksa tubuh gadis itu."Ya ampun, Rani! Kenapa ya?" seru Tasya dengan nada suara yang bergetar, seolah ia pun ikut cemas melihat kondisi adiknya. Wajahnya menunjukkan gurat keprihatinan yang dalam, matanya melebar seolah terkejut.Rani mencoba mengatur napasnya yang tersengal, "Kak... perutku... sakit sekali... kepalaku juga..." suaranya nyaris tak terdengar, terputus oleh rintihan nyeri yang terus menghujam.Tasya mendekatkan wajahnya ke telinga Rani, seolah ingin membisikkan kata kata penenang, namun matanya tetap

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 104

    Pagi itu, penthouse terasa begitu tenang dan damai. Sinar matahari yang lembut menembus tirai sutra di ruang makan, menciptakan suasana hangat yang seolah olah telah menghapus semua ketegangan di malam malam sebelumnya. Tasya tampil memukau dengan gaun rumahan berbahan satin yang elegan, rambutnya tertata rapi tanpa cela, memancarkan aura seorang kakak yang sangat penyayang.Tidak ada lagi kegelapan di wajahnya. Yang ada hanyalah kelembutan yang begitu tulus hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa terharu.Rani sedang duduk di meja makan kecil di area dapur, tampak sedikit pucat namun mencoba untuk tersenyum. Kehadiran Tasya yang tiba tiba mendekat dengan nampan perak membuat Rani sedikit terkejut."Rani, Sayang..." suara Tasya terdengar sangat merdu dan penuh kasih. "Kakak perhatikan belakangan ini kamu terlihat sedikit lemas. Kamu pasti sedang lelah karena perubahan hormon itu, kan?"Tasya meletakkan nampan itu di depan Rani. Di atasnya terdapat sebuah mangkuk sup keramik yang

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 103

    Tasya berdiri mematung sejenak di tengah kekacauan pecahan vas yang berserakan. Napasnya yang memburu perlahan mulai teratur, seolah ia sedang melakukan transisi yang sangat sadar dari seorang wanita yang murka menjadi seorang aktris yang ulung. Ia menarik napas dalam dalam, memaksakan detak jantungnya kembali ke ritme normal. Dengan gerakan yang sangat tenang hampir terlalu tenang ia merogoh saku jubahnya. Ia mengambil kembali alat tes kehamilan itu, menatap dua garis merah yang seolah mengejeknya untuk terakhir kali. Tanpa ragu, ia menyembunyikan benda kecil itu jauh ke dalam saku tersembunyi di tas mewahnya, memastikan tak ada satu pun mata yang bisa menemukannya. Ia kemudian melangkah di antara pecahan keramik, gerakannya anggun seolah ia sedang berjalan di atas panggung catwalk, bukan di tengah reruntuhan vas yang ia hancurkan sendiri. Ia mengambil sapu tangan sutra dari meja, menyeka sedikit noda air di tangannya dengan gerakan yang sangat presisi. Wajahnya kembali terpasan

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 46

    Afqlah mengangkat bahu, bersandar di pagar di sebelahnya. “Biasa saja,” jawabnya. “Tapi, Tante... bolehkah aku bertanya sesuatu?” Rani mengangguk hati-hati, bertanya-tanya apa yang ingin diketahui gadis kecil itu. “Tentu s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 47

    Cahaya lembut dari lampu meja menerangi wajah Dimas saat ia menatap layar komputer dengan intens, rahangnya mengeras. Rani masuk dengan tenang, meletakkan secangkir teh di atas meja dengan bunyi pelan.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 48

    Ruang makan pagi itu dipenuhi suasana tenang yang aneh, meski meja penuh dengan suara sendok dan piring. Afqlah sibuk dengan ponselnya, tertawa kecil melihat meme yang lewat di layar. Tasya duduk di ujung meja, menyeruput kopi sambil membolak-balik majalah mode, seolah tidak meny

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 49

    Matahari Senin sore menyapa Rani saat ia berjalan melewati gerbang sekolah swasta bergengsi tempat Afqlah bersekolah. “Afqlah,” panggil Rani lembut, menunggu gadis kecil itu mendongak. Begitu Afqlah melirik ke arahnya, senyum cerah langsung merekah di wajah mungil itu.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status