เข้าสู่ระบบKrieeet—Pintu aula rapat terbuka perlahan dan dalam sekejap, seluruh percakapan di dalam ruangan langsung terhenti. Semua mata tertuju pada sosok wanita yang melangkah masuk dengan tenang ke dalam aula besar itu.Laticia.Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya, namun justru ketenangan itulah yang membuat kehadirannya terasa semakin menekan.Satu per satu para bangsawan dan pejabat langsung berdiri dari kursi mereka. Kursi-kursi bergeser pelan memenuhi ruangan sebelum akhirnya semua orang membungkukkan tubuh hormat kepada sang ratu.Karena bagaimanapun juga meski posisinya terus digoyahkan, Laticia tetaplah ratu kekaisaran. Tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal hal itu di depan umum.Namun di antara semua orang yang berdiri ada dua orang yang tetap duduk di tempat mereka.Carsein dan Pricilla. Tatapan mata Laticia bergerak perlahan ke arah kursi utama di ujung aula.Carsein duduk santai di sana dengan satu tangan bertumpu di sandaran kursinya. Tatapan mata biru lelaki itu lang
Laticia melangkah masuk ke dalam istana utama tanpa memperlambat langkahnya sedikit pun.Gaun panjang berwarna gelap yang dikenakannya bergerak pelan menyapu lantai marmer sementara suara langkah sepatu para pengawal terdengar samar di sepanjang lorong besar istana.Di belakangnya, Jenoh mengikuti dengan tenang sambil membawa beberapa dokumen tipis di tangannya.Suasana di sekitar mereka terasa berbeda pagi itu.Para pelayan yang berpapasan langsung menundukkan kepala dengan gugup. Beberapa pejabat istana bahkan buru-buru minggir dari jalur langkah sang ratu begitu melihat ekspresi wajahnya yang terlalu tenang.Karena semua orang tahu Laticia jarang sekali datang langsung ke istana utama tanpa alasan. Dan lebih jarang lagi dirinya terlihat seperti sekarang.Tenang, justru terasa menekan. Langkah wanita itu akhirnya berhenti di depan ruang keuangan kekaisaran.Pintu besar ruangan tersebut terbuka lebar memperlihatkan suasana sibuk di dalamnya. Para pegawai keuangan tampak mondar-mandir
Semua orang di ruangan itu perlahan berlutut hampir bersamaan.“Kami tidak akan menyesalinya, Yang Mulia Ratu.” Suara mereka terdengar rendah namun tegas memenuhi ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Laticia terdiam menatap mereka satu per satu.Tatapan matanya perlahan berhenti pada Ema yang masih terlihat pucat sejak kejadian kemarin. Gadis itu memang penakut dan sering panik untuk hal-hal kecil, tetapi sampai sekarang dirinya tetap bertahan di sisi Laticia tanpa pernah meminta pergi.Lalu ada Isabel dan Liana.Dua dayang yang selama ini paling sering berada di dekatnya.Isabel masih muda dan cenderung pendiam, sementara Liana jauh lebih dewasa dan tenang dibanding yang lain. Wanita itu sebenarnya adalah seorang countess dari keluarga Ernest, meski gelarnya hampir tidak pernah dibicarakan di lingkungan bangsawan ibu kota.Bukan karena keluarganya lemah.Namun karena dirinya hidup terlalu sederhana dibanding para wanita bangsawan lain.Suaminya hanyalah seorang pejabat istana
Suara tenangnya terdengar memenuhi ruangan yang sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab.Para pelayan hanya saling berpandangan ragu sementara beberapa pengawal tetap menundukkan kepala.Hingga akhirnya Jenoh melangkah maju sedikit sebelum berkata hati-hati, “Karena penyerangan kemarin, Yang Mulia?”Laticia tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang lelaki itu beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas pelan.“Benar,” jawabnya tenang. “Namun bukan hanya karena itu.”Suasana kembali hening dan tatapan mata Laticia perlahan berubah lebih dingin sekarang.“Kalian semua pasti sudah mendengar bagaimana kabar itu menyebar pagi ini.”Beberapa pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam. Karena mereka memang mendengarnya. Dan sebagian dari mereka bahkan mendengar sendiri bagaimana orang-orang di luar mengejek sang ratu.Laticia tersenyum kecil terlihat sangat tipis dan lelah.“Menarik sekali,” ucapnya pelan. “Aku hampir mati, tetapi yang dipikirkan orang-orang justru apakah kematianku
Jack membungkuk lebih dalam. “Saya akan menyampaikannya, Yang Mulia.”Tidak ada lagi yang berbicara setelah itu. Angin malam berembus pelan melewati pelataran istana yang luas, membuat ujung mantel hitam Carsein bergerak samar. Entah kenapa, ucapan Carsein tadi tidak terdengar seperti rasa terima kasih.Melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam dari itu.Laticia menatap lelaki tersebut beberapa saat. Mata biru sang kaisar kini kembali tenang seperti biasa, sulit ditebak dan sulit dibaca. Seolah sejak tadi dirinya tidak menunjukkan emosi apa pun.Dan justru itulah yang membuat hati Laticia terasa semakin tidak nyaman.Perlahan ia mengalihkan pandangannya lalu berbalik meninggalkan tempat itu bersama Ema yang masih terlihat gemetar ketakutan sejak penyerangan tadi.Sepanjang perjalanan menuju istana ratu, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Lorong-lorong istana terasa begitu sunyi malam itu. Cahaya lampu dinding menerangi langkah mereka yang perlahan sementara suara gaun panja
Suasana di pelataran istana langsung berubah menegangkan setelah ucapan Jack terdengar.Bahkan Bill yang sejak tadi berdiri diam di belakang Carsein terlihat sedikit terkejut mendengarnya. Sementara Carsein sendiri membeku sesaat.Tatapan mata birunya langsung kembali jatuh pada Laticia, dan untuk pertama kalinya malam itu raut wajah lelaki tersebut berubah.“Apa?” Suara itu terdengar jauh lebih rendah sekarang. Bukan nada dingin penuh sindiran seperti sebelumnya, melainkan suara berat yang keluar spontan karena keterkejutan.Jack masih menundukkan kepalanya ketika kembali melanjutkan penjelasannya.“Bandit gunung menyerang kereta Yang Mulia Ratu di jalan utama dekat distrik barat. Salah satu dayang terluka terkena panah.”Rahang Carsein langsung mengeras.Aura dingin yang sejak tadi menyelimuti dirinya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat. Tatapan mata biru lelaki itu perlahan menajam seiring pikirannya mulai memproses ucapan Jack.Bandit gunung.Kelompok itu berasal dari wi







