INICIAR SESIÓNLangkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.
Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamkan mata, seolah mencoba menahan sesuatu yang akhirnya runtuh di dalam dirinya.
Selama ini, ia percaya bahwa bertahan adalah kekuatan.
Bahwa selama ia menolak perceraian itu, ia masih memiliki kendali atas hidup dan pernikahannya. Ia pikir gelarnya sebagai ratu dan perasaannya yang tulus akan cukup untuk menjaga semuanya tetap utuh.
Namun kenyataannya, semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan Carsein. Lelaki itu tidak hanya menyingkirkannya, tetapi menghancurkan segala yang ia miliki, orang tuanya, keluarganya, bahkan harga dirinya.
Bayangan kecelakaan kereta kuda itu kembali muncul di benaknya. Kabar kematian yang datang tiba-tiba, duka yang bahkan belum sempat ia cerna sepenuhnya.
Dan kini, ia tahu kebenarannya. Itu bukan kecelakaan. Sejak awal, ia sudah mencurigainya, hanya saja ia menolak mempercayainya.
Jari-jari Laticia mengerat di atas pahanya, mencengkeram kain gaun hitam yang masih ia kenakan sebagai tanda berkabung.
Anehnya, tidak ada air mata yang jatuh. Seolah ia telah melewati titik di mana tangisan tidak lagi berarti apa pun. Jika Carsein menolak menceraikannya, maka ia tidak punya pilihan selain tetap tinggal.
Namun kali ini, bukan sebagai wanita yang bertahan karena cinta.
“Yang Mulia…” suara Melisa terdengar hati-hati,.
Laticia membuka matanya dan menoleh.
Asistennya berdiri tidak jauh darinya, wajahnya menyimpan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
“Grand Duke sudah datang lebih awal. Beliau menunggu Anda di ruang tamu.”
Laticia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Bahkan di masa berkabung seperti ini, ia tidak diberi ruang untuk berhenti. Ia tetap harus berdiri sebagai ratu, seolah tidak ada yang terjadi. Dengan gerakan tenang, ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang makan itu.
Namun langkahnya terhenti begitu ia memasuki lorong.
ia melihat mereka.
Carsein berdiri begitu dekat dengan Pricilla Seymour hingga nyaris tidak ada jarak di antara keduanya. Tangan pria itu bertumpu santai di pinggang Pricilla, seolah sentuhan itu sudah menjadi kebiasaan yang terlalu sering dilakukan.
Pricilla mendongak sambil tersenyum lembut. Sorot matanya penuh rasa dimanja, sementara Carsein membalas tatapan itu dengan kehangatan yang asing bagi Laticia.
Lalu, tepat di depan matanya, Carsein menundukkan kepala dan mengecup kening Pricilla dengan lembut. Seolah keberadaan Laticia sama sekali tidak penting.
Setelah kecupan singkat itu, Pricilla tersenyum malu-malu. Tangannya perlahan terangkat mengusap perutnya yang membuncit dengan gerakan penuh kehati-hatian.
Gerakan sederhana itu membuat sesuatu di dalam dada Laticia terasa sesak.
Bukan karena iri, melainkan karena ironis. Karena saat ini ia juga sedang mengandung anak Carsein.
Hanya saja usia kandungannya bahkan belum mencapai tiga bulan. Perutnya masih rata, tubuhnya belum menunjukkan perubahan apa pun, dan belum ada seorang pun di istana yang mengetahui hal tersebut.
Termasuk Carsein sendiri.
Tanpa sadar, jemari Laticia bergerak pelan menyentuh bagian bawah perutnya di balik lipatan gaun.
“Yang Mulia Ratu.” Suara Pricilla memecah kesunyian.
Wanita itu membungkukkan tubuh sedikit, meskipun tidak benar-benar terlihat hormat.
“Saya jadi memperlihatkan sesuatu yang memalukan di depan Anda.”
Nada suaranya terdengar lembut dan manis seperti biasa. Namun di balik kelembutan itu, tersembunyi kemenangan kecil yang terlalu jelas untuk diabaikan.
Carsein akhirnya menoleh.
Tatapan pria itu jatuh pada Laticia dengan dingin dan datar. Tidak ada keterkejutan, tidak ada rasa bersalah, seolah ia sama sekali tidak merasa perlu menjelaskan apa pun.
“Tidak masalah,” jawab Laticia tenang.
Jawaban itu membuat Pricilla tampak sedikit terkejut.
Dulu, Laticia pasti akan tersenyum lembut lalu memuji hubungan baik antara kaisar dan selir kesayangannya. Ia akan menelan semua rasa sakitnya sendiri demi membuat Carsein merasa nyaman.
Namun sekarang ia terlalu lelah untuk berpura-pura.
“Yang Mulia Kaisar terlalu memanjakan saya,” lanjut Pricilla sambil mengusap perutnya lagi. “Hanya karena saya hamil, beliau sampai melupakan etika di depan Anda.”
Laticia menatap wanita itu lurus.
“Apakah sekarang kau mencoba menghormatiku?”
Suasana di lorong mendadak berubah sunyi.
Para pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam. Bahkan Melisa yang berdiri di belakang Laticia ikut menahan napas.
Pricilla tampak terdiam sesaat sebelum terkekeh pelan.
“Yang Mulia,” katanya manis, “bukankah Anda sendiri yang dulu meminta saya bersikap santai di hadapan Anda?”
Laticia menghela napas perlahan.
“Setelah kupikir-pikir,” ucapnya lembut, “itu adalah keputusan yang salah.”
Ia melangkah maju.
“Bagaimanapun juga,” lanjut Laticia perlahan, “aku adalah ratu.”
“Cukup.” Suara dingin Carsein memotong di antara mereka.
Pria itu melangkah maju sedikit, berdiri samar-samar di depan Pricilla seperti melindunginya secara refleks. Gerakan kecil itu membuat dada Laticia terasa semakin dingin.
Tatapan tajam Carsein tertuju padanya.
“Kau datang hanya untuk mempermasalahkan hal sepele seperti ini?”
Laticia menatap pria itu beberapa saat.
Dulu, hanya dengan melihat Carsein membela wanita lain saja sudah cukup membuatnya menangis diam-diam sepanjang malam.
Sekarang yang ia rasakan hanyalah kelelahan yang mendalam.
“Aku sedang mengingatkan batasan,” jawabnya tenang. “Atau Yang Mulia Kaisar sudah lupa siapa ratunya?”
Tatapan Carsein mengeras.
“Pricilla sedang mengandung anakku,” katanya dingin. “Ia tidak perlu menerima tekanan darimu.”
Kalimat itu membuat jemari Laticia perlahan mengepal di balik lengan bajunya.
Anakku... betapa mudahnya Carsein mengucapkan itu dengan nada penuh perlindungan. Sementara anak lain miliknya bahkan belum pernah ia sadari keberadaannya.
Laticia tersenyum tipis.
“Tekanan?” ulangnya pelan. “Aku bahkan belum melakukan apa pun.”
Pricilla segera memegang lengan Carsein dengan lembut.
“Yang Mulia, jangan karena saya hubungan Anda dengan Ratu menjadi buruk.”
Carsein tidak menepis sentuhan itu. Tatapan matanya tetap dingin saat memandang Laticia.
“Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?”
Hening sesaat.
Laticia menatap pria yang telah menjadi suaminya selama bertahun-tahun itu dalam diam.
“Aku hanya lewat namun selir anda menyapa saya,” jawabnya akhirnya.
Suaranya tetap lembut dan tenang.
“Tapi karena Yang Mulia bertanya… aku lebih baik mengatakanya lagi.”
Carsein mengernyit tipis.
Laticia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap pria itu lurus tanpa sedikit pun keraguan.
“Berikan surat perjanjian cerai itu. Aku akan menandatanganinya.”
Laticia terdiam. Tatapannya tetap tertuju pada Xander yang duduk di hadapannya. Wajah pria itu masih tampak tenang, seolah pembicaraan tentang kematian dan perebutan takhta hanyalah perkara biasa. Namun, Laticia tahu Xander bukan tipe orang yang akan memanggilnya ke tengah malam tanpa alasan yang benar-benar penting.Xander menyandarkan punggungnya ke kursi sebelum melanjutkan, “Adikku menginginkan takhta. Jika kondisiku terus memburuk, bukan tidak mungkin aku benar-benar mati dan dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya.”Ia berhenti sejenak, lalu mengembuskan napas pelan.“Awalnya, aku mengira semua ini hanya akibat terjatuh dari kuda. Aku tidak menyangka ada sesuatu yang salah dengan tubuhku sampai Lereg memberitahuku bahwa aku terkena racun darah beku.”Laticia langsung menoleh kepada Lereg. Kerutan muncul di antara kedua alisnya.“Dari mana kau tahu?”Lereg tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Xander yang masih duduk di hadapan mereka.“Itu
Xander yang sejak tadi menikmati reaksi Lereg akhirnya mengalihkan perhatiannya kembali kepada Laticia. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit dibaca. Ia menatap wanita itu cukup lama sebelum akhirnya membuka mulut.“Laticia, aku tidak memiliki banyak waktu lagi.”Laticia mengangkat alis. Ia menatap Xander sejenak, lalu menjawab dengan nada datar,“Memangnya kau akan mati?”Alih-alih tersinggung, Xander justru menarik sudut bibirnya. Ia sudah terbiasa dengan cara Laticia berbicara kepadanya. Wanita itu tidak pernah berusaha memperhalus perkataannya hanya karena lawan bicaranya adalah seorang kaisar.“Bisa saja.” Xander menyandarkan tubuhnya, lalu menatap Laticia dengan senyum tipis. “Kalau aku benar-benar mati, apakah kau akan merasa sedih?”“Jangan bercanda.”“Aku serius.”“Kalau begitu, berhentilah tersenyum seperti orang yang sedang menceritakan lelucon.”Xander terkekeh pelan. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi sebelum sempat melakuka
Sang kaisar berbalik menuju meja dan memberi isyarat agar mereka duduk. Di atas meja itu terdapat beberapa dokumen yang telah disusun dengan rapi, sebagian di antaranya memperlihatkan lambang resmi Kekaisaran Barat. Laticia sempat meliriknya, tetapi tidak langsung bertanya. Ia memilih duduk terlebih dahulu, sementara Lereg mengambil tempat di sebelahnya.Baru setelah mereka semua duduk, Kaisar Kekaisaran Barat kembali menatap Laticia. Senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi yang jauh lebih serius.“Ada alasan mengapa aku ingin bertemu denganmu secara langsung,” katanya. “Dan kurasa, setelah mendengar apa yang akan kusampaikan, kau akan memahami mengapa aku tidak ingin menunggu sampai besok.”Laticia membalas tatapannya tanpa berkedip.“Kalau begitu, katakanlah.”Sang kaisar menyandarkan tubuhnya dengan tenang, seolah hendak memulai percakapan biasa. Namun, sorot matanya menunjukkan bahwa pembicaraan malam itu jauh lebih penting daripada sekadar kunjungan
Laticia mengamati wajahnya, lalu mengusap punggung tangannya sekali lagi."Terima kasih.”Lereg tidak membalas senyuman Laticia. Ia akan menjaga rahasia kehamilan itu dan melindungi wanita tersebut, tetapi ia masih takut suatu hari nanti Laticia tidak lagi membutuhkannya.Sementara Laticia menggenggam tangannya tanpa menyadari keraguan yang dipendam pria itu. Baginya, kehamilan ini hanyalah persoalan lain yang harus diselesaikan dengan hati-hati. Namun, bagi Lereg, anak itu adalah harapan bahwa suatu hari nanti Laticia akan memilih untuk tetap berada di sisinya, bukan karena keadaan, melainkan karena wanita itu benar-benar menginginkannya.“Ngomong-ngomong, Kaisar Kekaisaran Barat ingin bertemu denganmu. Kau bisa pergi sekarang?”Laticia menatapnya. “Aku pergi.”Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Lereg sempat tertegun. Ia bahkan belum sempat menjelaskan lebih lanjut mengenai pertemuan tersebut, tetapi Laticia sudah menyetujuinya tanpa bertanya apa pun.“Kau mau pergi sekarang?” ta
Lereg terdiam.“Tolong pikirkan keadaan kita sekarang.” Laticia menatapnya dengan tenang, tidak menunjukkan kemarahan ataupun berusaha menghindari persoalan yang sedang mereka bicarakan. “Aku masih menjadi istri Carsein. Aku masih Ratu Ascham, dan sampai saat ini, ada banyak hal yang belum kuselesaikan. Jika kehamilan ini diketahui orang lain, menurutmu apa yang akan terjadi?”Lereg tidak menjawab.Ia tentu mengetahui risikonya. Apabila kabar tersebut tersebar, kedudukan Laticia akan berada dalam bahaya. Orang-orang di istana tidak akan tinggal diam begitu mengetahui bahwa Ratu mereka mengandung anak dari pria lain.Bahkan sebelum mereka sempat memikirkan cara menghadapi persoalan itu, musuh-musuh Laticia bisa memanfaatkan kehamilannya untuk menghancurkan semua yang telah dibangunnya.Dan bukan hanya Laticia yang akan terkena dampaknya. Anak mereka pun akan menjadi sasaran berbagai kepentingan politik yang tidak pernah dimintanya.“Aku baru saja mengetahui kehamilan ini. Aku sendiri m
Laticia tertegun mendengar pertanyaan itu, ia hanya menatap Lereg tanpa mengatakan apa pun, seolah sedang memastikan bahwa pria di hadapannya benar-benar baru saja menanyakan hal tersebut. Genggaman tangannya perlahan mengendur, sementara senyum yang sebelumnya menghiasi bibirnya menghilang sepenuhnya.“Kau menguping?”Lereg tidak menjawab pertanyaan itu. Wajahnya masih terlihat muram, dan tatapan birunya tertuju lurus kepada Laticia, seakan ia tidak ingin membiarkan wanita itu mengalihkan pembicaraan dengan hal lain.“Tidak penting apakah aku menguping atau tidak.” Suaranya terdengar lebih keras daripada yang ia maksudkan, tetapi ia tidak berusaha memperbaikinya. “Jawab saja pertanyaanku.”Laticia terdiam.Ia bisa melihat ada sesuatu yang berbeda pada diri Lereg. Pria itu tampak gelisah, bahkan jauh lebih gelisah daripada ketika mereka menghadapi persoalan politik yang mengancam kedudukan mereka. Ada ketegangan di rahangnya, dan jemari yang tadi digenggam Laticia kini mengepal seolah
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka







