로그인Laticia terdiam sejenak. Ia langsung memahami apa yang sedang membuat Lereg kehilangan kendali.Percakapan dengan Carsein tadi. Entah dari mana Lereg mendengarnya, tetapi jelas pria itu sudah mengetahui keputusan yang baru saja ia ucapkan kepada Kaisar.Laticia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Kau datang ke kamarku hanya untuk menanyakan itu?”Lereg tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak terdengar seperti tawa yang biasa Laticia dengar darinya.“Kau benar-benar masih bisa bertanya seperti itu?”Tatapannya tidak pernah lepas dari Laticia.“Setelah semua yang terjadi hari ini, kau masih bisa mengatakan bahwa kau ingin memiliki selir?”Laticia menghela napas pelan. “Itu urusanku.”“Urusanmu?”Lereg melangkah maju.Laticia tidak mundur, tetapi matanya menjadi lebih tajam.“Ya. Urusanku.”Lereg berhenti beberapa langkah di depannya. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.“Aku mendengar apa yang kau katakan.”“Kalau begitu kau seharusnya juga men
“Jadi kau benar-benar akan terus mendesakku seperti ini, Laticia?”Suara Carsein terdengar berat dan penuh tekanan. Ia masih berdiri di hadapan Laticia dengan rahang mengeras, seolah belum mampu menerima semua perkataan yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu.Permintaan Laticia untuk memiliki selir bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan akan didengarnya, terlebih setelah selama ini ia terbiasa menganggap Laticia sebagai seseorang yang akan selalu menunggunya.Laticia justru menatapnya dengan tenang.“Aku tidak mengerti maksudmu. Bukankah kau sendiri yang menginginkan selir? Jika kau merasa tidak ada masalah dengan dirimu memiliki perempuan lain, mengapa kau menganggapnya berbeda ketika aku menginginkan hal yang sama?”Carsein tertegun. Untuk beberapa saat, ia tidak mampu menjawab.Laticia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah taman.“Bertahun-tahun aku tidur sendirian di ranjang yang dingin,” katanya pelan. “Sementara kau bersenang-senang dengan perempuan lain dan membi
Carsein menatap Laticia dengan kening sedikit berkerut. Ada ketidakpercayaan yang jelas terlihat di matanya, seolah jawaban perempuan itu masih menyisakan terlalu banyak hal yang belum ia pahami.“Apa maksudmu dengan dia membayarmu sangat mahal?”Laticia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil kembali cangkir tehnya, lalu mengangkatnya perlahan. Namun sebelum sempat menyesapnya, ia berkata dengan nada tenang,“Aku rasa kau bukan orang bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi di dalam istana selama kau pergi.”Tatapan Carsein langsung berubah. Ia menatap Laticia lebih tajam, mencoba mencari sesuatu dari ekspresi tenangnya.“Jadi kau akan mengatakannya kepadaku dengan su
Carsein membeku. Satu kata sederhana itu terasa menghantam dadanya jauh lebih keras daripada apa pun yang pernah ia terima. Ia menatap Laticia dalam diam, seolah-olah sedang memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.“Sekarang...?”Suaranya terdengar rendah, hampir seperti bisikan. Namun Laticia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di hadapannya dengan wajah tenang, sementara Carsein perlahan menyadari bahwa ketenangan itulah yang justru membuat dadanya terasa semakin sesak.Selama ini, ia selalu mengenal Laticia sebagai seseorang yang mudah dibaca ketika berhadapan dengannya. Ketika terluka, perempuan itu akan diam terlalu lama. Ketika cemburu, matanya akan menunjukkan sesuatu yang tidak mampu disembunyikan. Ketika Carsein menjauh, Laticia akan tetap menunggunya meskipun harus
Jenoch hanya memandangi lorong tempat Carsein menghilang. Ia mulai menyadari bahwa Laticia sudah jauh berbeda dari yang selama ini dipikirkan Kaisar.Laticia baru saja menolak keputusan Carsein, mengambil kembali aset Valcren, lalu meninggalkan aula dengan tenang. Bahkan dalam perjalanan pulang, ia masih sempat bersenandung.Sementara itu, Laticia telah kembali ke Istana Ratu tanpa sedikit pun kesedihan atau penyesalan. Bagi dirinya, kejadian di aula tadi hanyalah bagian dari rencana yang lebih besar. Mungkin itulah yang paling sulit diterima Carsein. Ia masih melihat Laticia yang dulu, padahal perempuan itu sudah tidak lagi sama.Carsein akhirnya tiba di Istana Ratu setelah melewati lorong-lorong Istana Utama. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dikatakannya kepada Laticia. Terlalu banyak pertanyaan dan kemarahan yang bercampur dengan kegelisahan."Dimana Ratu?" Tanya Carsein saat melihat Ema.Ema membungkuk dan mengantar Carsein.Setelah melewati beberapa pelayan, Carsein tiba di b
Suaranya rendah dan tegas. Ia menyerahkan dokumen yang sudah kusut kepada asistennya.“Bawa Pricilla ke ruang hukuman. Jangan biarkan siapa pun menghalangi.”“Baik, Yang Mulia.”Asisten itu segera membungkuk dan pergi menjalankan perintah. Sementara Carsein tetap berdiri di lorong, tangannya mengepal di sisi tubuh.Selama ini ia mengira Laticia hanya sedang menjaga jarak karena luka masa lalu. Namun kini ia sadar, Laticia bukan hanya berani menolak keputusannya di depan seluruh istana, tetapi juga telah mengambil kembali aset Valcren tanpa sepengetahuannya.Yang paling mengganggunya adalah satu pertanyaan: mengapa Pricilla menyerahkan semua aset itu kepada Zion?Carsein melangkah meninggalkan aula dengan pikiran yang semakin tidak tenang. Suara para bangsawan yang tadi memenuhi ruangan masih terngiang di kepalanya, begitu pula wajah Pricilla ketika ia mengatakan bahwa perempuan itu belum memiliki kedudukan khusus di dalam istana. Namun semua itu hanya bertahan beberapa saat dalam piki
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk







