LOGIN“Laticia, kau—”
Suara Carsein hampir meledak. Namun lelaki itu langsung menahan dirinya sebelum emosinya benar-benar lepas di depan Lereg. Rahangnya mengeras kuat, sementara tatapan mata birunya berubah semakin gelap.
Ia sadar Lereg masih berada di sana.
Dan sebagai seorang kaisar, harga dirinya tidak mungkin membiarkan dirinya kehilangan kendali di depan lelaki yang selama ini selalu dibandingkan dengannya.
Terlebih lagi Lereg hanya berdiri diam memperhatikan semuanya tanpa ikut bicara sedikit pun. Sikap tenang itu justru membuat Carsein semakin tidak nyaman.
“Apa kau sadar apa yang sedang kau katakan padaku?” Suara rendah itu terdengar penuh tekanan.
Namun Laticia tidak menghindari tatapannya. Wanita itu justru menarik sudut bibirnya pelan membentuk senyum kecil yang terlihat lelah.
“Yang Mulia,” ucapnya tenang, “saya hanya menyetujui keputusan Anda.”
Kalimat itu membuat tangan Carsein mengepal semakin kuat.
Ia sangat tahu apa maksud ucapan Laticia.
Selama ini dirinya yang terus meminta perceraian. Dirinya yang membawa Pricilla masuk ke dalam istana tanpa memedulikan perasaan Laticia sedikit pun.
Dan dirinya juga yang perlahan menghancurkan pernikahan mereka sampai tidak tersisa apa-apa lagi.
Namun sekarang, saat Laticia benar-benar setuju melepaskannya, entah kenapa hal itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Tatapan Carsein perlahan turun menatap wajah wanita di depannya. Laticia terlihat begitu tenang. Tidak menangis, tidak marah, dan tidak lagi menatapnya dengan harapan seperti dulu.
Perubahan itu terasa asing dan sangat mengganggu.
“Aku menunggumu di ruanganku.”
Nada suara Carsein kembali dingin dan keras. Itu bukan permintaan, melainkan perintah mutlak dari seorang kaisar.
Laticia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Carsein diam-diam selama beberapa detik.
Sementara Carsein terus memandangnya tajam sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Langkahnya terdengar berat di lantai marmer.
Brak.
Pintu tertutup keras setelah kepergiannya.
Suasana langsung berubah sunyi.
Laticia perlahan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Bahunya terasa sedikit melemas sekarang.
Berhadapan dengan Carsein selalu terasa melelahkan. Bahkan setelah mati satu kali dan kembali hidup, lelaki itu tetap menjadi orang yang paling sulit ia hadapi.
Laticia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya membuka kembali pandangannya ke arah Lereg yang masih berdiri tidak jauh darinya.
“Maafkan saya,” ucapnya pelan. “Seharusnya Anda tidak perlu melihat apa yang terjadi antara saya dan kaisar.”
Lereg diam menatapnya beberapa saat. Lalu perlahan sudut bibir lelaki itu terangkat samar.
Laticia sedikit terdiam melihatnya. Karena selama ini Lereg selalu terlihat seperti tembok es yang tidak memiliki emosi. Wajahnya hampir tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun.
“Apakah kita masih bisa melanjutkan pembicaraan kita?” tanya Lereg tenang.
Mata biru lelaki itu menatap lurus ke arah Laticia tanpa berpindah sedikit pun.
Laticia perlahan menggeleng.
“Kembalilah dulu.”
Tatapan Lereg masih tertahan padanya.
“Sekarang aku harus menghadapi kaisar,” lanjut Laticia sambil menghela napas pelan. “Dan itu membutuhkan tenaga yang sangat besar.”
Lereg mengatupkan bibirnya. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya memilih diam.
Sementara Laticia berbalik perlahan lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Laticia berdiri cukup lama di depan pintu ruang kerja kaisar sebelum akhirnya masuk.
Tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan beberapa kali menarik napas panjang. Bahkan setelah kembali hidup, menghadapi Carsein tetap menjadi hal yang paling melelahkan untuknya.
Perlahan wanita itu menghembuskan napas terakhir sebelum mendorong pintu besar di hadapannya.
Ceklek.
Pintu terbuka pelan.
Ruangan luas bernuansa gelap itu langsung menyambut pandangannya. Cahaya matahari sore masuk samar melalui jendela tinggi, membuat suasana di dalam terlihat dingin dan sunyi.
Namun yang membuat langkah Laticia sedikit terhenti adalah sosok Carsein.
Biasanya lelaki itu akan duduk di kursi kebesarannya sambil menunggu dirinya datang. Namun kali ini sang kaisar justru berdiri di dekat jendela dengan punggung menghadap pintu.
Rambut peraknya terlihat sedikit berantakan terkena cahaya matahari sore, sementara satu tangannya berada di belakang punggung.
Suasana pria itu terasa jauh lebih buruk dibanding biasanya.
Pintu tertutup pelan di belakang Laticia dan suara kecil itu akhirnya membuat Carsein bergerak.
Lelaki itu berbalik perlahan lalu langsung berjalan menghampiri Laticia tanpa mengatakan apa pun terlebih dahulu.
Tatapan mata birunya begitu tajam hingga membuat udara di dalam ruangan terasa semakin berat.
“Kau sengaja bersikap seperti itu di depan Lereg?” Suara rendah itu terdengar dingin.
Laticia menghela napas pelan. Ia sudah menduga lelaki ini akan langsung membahas hal tadi.
“Kau sengaja mempermalukanku seperti itu.”
Tatapan Carsein semakin tajam saat berdiri tepat di depan Laticia.
“Kau sengaja menarik perhatian Lereg.” Kalimat itu membuat alis Laticia sedikit bergerak.
Untuk sesaat ia hampir tertawa karena merasa ucapan itu terdengar lucu.
Menarik perhatian?
Bukankah selama ini Carsein sendiri yang tidak pernah memedulikannya?
Laticia perlahan mengangkat wajahnya lebih tinggi.
“Apakah Anda tidak sadar,” ucapnya pelan, “bahwa Anda yang lebih dulu mempermalukan saya?”
Carsein terkekeh kecil, terdengar sinis dan dingin.
“Jadi sekarang kau ingin membalasku?” Tatapan mata biru itu terus menekan lurus ke arah Laticia, seolah mencoba membaca isi pikirannya.
Namun Laticia tetap terlihat tenang.
“Saya tidak punya hak untuk membalas Anda, Yang Mulia.” Jawaban datar itu justru membuat rahang Carsein semakin mengeras.
“Lagipula,” lanjut Laticia pelan, “saya hanya mengingatkan Anda.”
“Aku tidak butuh diingatkan olehmu.” Suara Carsein terdengar lebih tajam kali ini.
Laticia diam menatapnya dan ia bisa melihat jelas emosi yang mulai sulit ditahan oleh lelaki di hadapannya itu.
“Kau tahu bagaimana hubunganku dengan Lereg,” lanjut Carsein dingin. “Namun kau tetap mempermalukanku di depannya.”
Laticia menatapnya cukup lama sebelum akhirnya membuka bibirnya lagi.
“Anda datang sendiri ketika saya dan Grand Duke sedang berbicara.”
Carsein langsung membalas cepat.
“Itu karena kau berani menemuinya diam-diam.”
Laticia menghela napas kecil. Rasa lelah perlahan memenuhi dadanya.
“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “semua orang melihat saya dan Grand Duke berbicara.”
Tatapannya tetap lurus ke arah Carsein tanpa sedikit pun goyah.
“Tidak ada yang saya sembunyikan.” Wanita itu berhenti sesaat sebelum kembali melanjutkan. “Terlebih lagi sejak Anda melimpahkan seluruh urusan utara kepada saya.”
“Laticia, kau—”Suara Carsein hampir meledak. Namun lelaki itu langsung menahan dirinya sebelum emosinya benar-benar lepas di depan Lereg. Rahangnya mengeras kuat, sementara tatapan mata birunya berubah semakin gelap.Ia sadar Lereg masih berada di sana.Dan sebagai seorang kaisar, harga dirinya tidak mungkin membiarkan dirinya kehilangan kendali di depan lelaki yang selama ini selalu dibandingkan dengannya.Terlebih lagi Lereg hanya berdiri diam memperhatikan semuanya tanpa ikut bicara sedikit pun. Sikap tenang itu justru membuat Carsein semakin tidak nyaman.“Apa kau sadar apa yang sedang kau katakan padaku?” Suara rendah itu terdengar penuh tekanan.Namun Laticia tidak menghindari tatapannya. Wanita itu justru menarik sudut bibirnya pelan membentuk senyum kecil yang terlihat lelah.“Yang Mulia,” ucapnya tenang, “saya hanya menyetujui keputusan Anda.”Kalimat itu membuat tangan Carsein mengepal semakin kuat.Ia sangat tahu apa maksud ucapan Laticia.Selama ini dirinya yang terus mem
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam-diam bertemu dengan Grand Duke?”Tatapan Laticia sempat beralih ke arah Lereg yang berdiri tidak jauh dari mereka.Berbeda dengan beberapa saat lalu, lelaki itu kini sudah kembali tenang. Wajahnya kembali datar dan dingin seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hanya tatapan birunya saja yang terlihat lebih gelap dari biasanya.Laticia lalu kembali menatap Carsein.Sementara sang kaisar masih berdiri diam di depannya dengan aura dingin yang memenuhi seluruh ruangan.“Semua orang membicarakan ini.” Suara Carsein terdengar rendah dan tajam.Laticia perlahan bangkit dari duduknya.Gaun panjangnya jatuh rapi saat ia berdiri hingga kini dirinya berhadapan langsung dengan sang kaisar tanpa jarak
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang di kursinya sambil memegang cangkir teh yang mulai mendingin.“Saya hanya memberitahu situasi yang sedang terjadi saat ini, Grand Duke.”Lereg diam dan tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah sang ratu.Sementara Laticia terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya. Tidak ada lagi ekspresi lembut yang dulu selalu menghiasi wajahnya. Wanita itu sekarang terlihat dingin dan sulit ditebak.“Anda tahu sendiri,” lanjut Laticia pelan, “semua keputusan berada di tangan kaisar.”Laticia perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelum kembali bicara.“Pajak wilayah utara terus dinaikkan.”“Bantuan pangan dihentikan.”“Dan para bangsawan pusat mulai menekan wilayah Anda.”Tatapan Laticia perl
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di depan sang ratu.“Apa sekarang kau ingin membuatku terlihat seperti kaisar yang tidak berperasaan?” tanyanya dingin.Laticia mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya bertemu dengan mata biru milik lelaki itu yang dulu selalu ia kejar ke mana pun.“Bukankah sejak awal Anda memang ingin menceraikan saya?” balasnya tenang.Carsein mengernyit samar. Untuk sesaat wajahnya terlihat tidak senang mendengar jawaban itu.“Kau bahkan bicara seperti ini tanpa memikirkan anak di dalam perutmu.”Deg.Tubuh Laticia langsung menegang. Matanya perlahan membesar sebelum ia menatap Carsein dengan tatapan sulit dipercaya.“Anda tahu saya hamil?”Carsein terlihat kesal sesaat lalu menoleh ke arah Bill yang berdi
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamkan mata, seolah mencoba menahan sesuatu yang akhirnya runtuh di dalam dirinya.Selama ini, ia percaya bahwa bertahan adalah kekuatan. Bahwa selama ia menolak perceraian itu, ia masih memiliki kendali atas hidup dan pernikahannya. Ia pikir gelarnya sebagai ratu dan perasaannya yang tulus akan cukup untuk menjaga semuanya tetap utuh.Namun kenyataannya, semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan Carsein. Lelaki itu tidak hanya menyingkirkannya, tetapi menghancurkan segala yang ia miliki, orang tuanya, keluarganya, bahkan harga dirinya.Bayangan kecelakaan kereta kuda itu kembali muncul di benaknya. Kabar kematian yang datang tiba-tiba, duka yang bahkan belum sempat ia cerna sepenuhnya.Dan ki
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Kaisar Carsein Rass de Ascham.Carsein menatapnya balik, tajam, dingin, seolah berusaha menembus isi kepalanya.“Setan apa yang merasukimu kali ini, Ratu?” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun sarat ejekan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.Laticia tidak goyah. “Saya serius, Yang Mulia.”Jawabannya tenang, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin menegang.“Sungguh?” Carsein terkekeh pelan, lalu tiba-tiba suaranya meninggi. “Sudah kuduga!”Para pelayan refleks mundur beberapa langkah. Tak seorang pun berani menatap langsung ke arah mereka.Carsein menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya dengan sorot penuh kecurigaa