로그인Udara di sekitar mereka terasa semakin dingin setelah laporan itu. Bukan hanya karena angin dari perbatasan yang menusuk tulang, tetapi karena makna di balik kalimat singkat itu begitu jelas tidak ada yang tersisa.Tidak ada saksi dan tidak ada satu pun orang dari rombongan kekaisaran yang selamat.Hanya mereka.Ksatria yang baru datang itu berlutut di hadapan Lereg, lalu membuka telapak tangannya. Di sana tergeletak sebuah bros kecil, terbuat dari logam kusam dengan ukiran yang hampir tertutup darah.Lereg mengambilnya tanpa berkata apa-apa. Ia menatap benda itu lama, terlalu lama, seolah mencoba mengingat sesuatu dari lambang yang terukir di sana. Mata birunya menyipit, garis rahangnya mengeras.Lalu perlahan ia mengangkat wajah dan menatap Marquess Thorne.“Kau tahu ini?”Marquess Thorne yang sejak tadi berdiri sambil menahan sakit di bahunya melangkah maju. Darah masih menetes dari luka di lengannya, tetapi ia tetap memaksakan dirinya tegak. Begitu matanya jatuh pada bros itu, waj
Pertarungan itu berhenti, bukan karena para penyerang menyerah dan bukan pula karena pasukan kekaisaran berhasil membalikkan keadaan. Melainkan karena kehadiran satu orang yang membuat seluruh medan seolah kehilangan suara.Lereg berdiri di sana dengan pedang berlumuran darah, sementara tangan yang baru saja ia putuskan masih tergeletak di tanah di dekat kakinya. Darah mengalir deras dari bahu pria yang menjerit kesakitan, tetapi bahkan suara jeritannya terdengar seperti gema yang jauh dibanding tekanan yang memenuhi udara.Laticia masih berdiri kaku, napasnya belum stabil, lengannya terasa panas karena cengkeraman kasar tadi. Di hadapannya, Lereg tidak langsung bergerak.Ia hanya menatap.Tatapan itu dingin, tajam, dan dipenuhi kemarahan yang bahkan tak perlu diucapkan agar semua orang bisa merasakannya. Para penyerang yang tadi bergerak begitu ganas kini justru ragu.Beberapa mundur setengah langkah dan beberapa lainnya menggenggam pedang lebih erat. Namun tak ada yang cukup bodoh u
Laticia menatap Marquess Thorne tanpa berkedip. Di tengah kekacauan yang dipenuhi suara benturan pedang dan teriakan orang-orang yang sekarat, pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya, dingin dan tajam.“Marquess... apa semua ini sudah direncanakan?”Thorne baru saja menebas seorang penyerang di hadapannya. Darah memercik ke tanah beku, sementara napasnya terdengar berat. Namun ketika ia menoleh pada Laticia, tak ada sedikit pun kepanikan di wajahnya.“Saya tidak tahu pasti, Yang Mulia.”Ia bergerak lagi, menahan serangan lain sebelum mundur setengah langkah agar tetap berdiri di depan sang ratu.“Tapi satu hal jelas.” Suaranya merendah. “Target mereka adalah Anda.”Pedangnya beradu keras dengan lawan di depannya.“Dan siapa pun yang ikut bersama Anda... harus mati.”Kalimat itu jatuh begitu saja, tetapi cukup untuk membuat tubuh Laticia terasa lebih dingin daripada angin perbatasan.Ia menoleh pada Silas.Pria itu berdiri tak jauh darinya, wajahnya tetap tenang meski darah law
Malam itu berakhir tanpa banyak percakapan. Setelah ucapan Laticia di meja makan, suasana menjadi sunyi dengan sendirinya. Tidak ada lagi sindiran dari Count Greek ataupun Baron Harold, seolah keduanya memahami bahwa apa pun yang mereka katakan tidak akan mampu menggoyahkan wanita yang duduk di ujung meja itu. Namun di antara semua keheningan itu, ada sesuatu yang terus menarik perhatian Laticia.Cara lelaki tua itu diam-diam menuangkan sup ke mangkuk istrinya lebih dulu. Cara wanita tua itu menegur suaminya karena membawa kayu bakar terlalu banyak. Hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tak berarti, tetapi bagi Laticia terasa begitu nyata.Begitulah seharusnya kebersamaan, dan karena melihat itu, ia tidur tanpa memikirkan Carsein untuk pertama kalinya.Tetapi pagi datang terlalu cepat.Kabut masih menggantung tebal di sepanjang jalan ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Udara dingin menembus sela-sela tirai kereta, membuat Melisa beberapa kali menggosok kedua tangann
Carsein menatap Laticia tanpa berkata apa-apa. Ia melihat wanita itu berbalik dan dari belakang Carsein bisa melihat punggungnya.Selama ini Laticia tetap menjaga sikapnya. Ia tetap sopan, menjaga harga dirinya, dan tidak pernah membuat masalah, bahkan saat Pricilla berada di sisi Carsein. Carsein tahu itu karena Laticia masih peduli padanya. Tapi sekarang semuanya berubah.Saat sampai di depan kereta, Laticia menoleh sedikit ke arahnya lalu membungkuk singkat, seperti memberi hormat pada kaisarnya.Carsein tahu itu hanya formalitas. Tidak ada senyum atau kata-kata seperti dulu. Laticia langsung masuk ke kereta tanpa bicara. Saat pintu kereta tertutup, Carsein sadar bahwa Laticia benar-benar sudah menjauh darinya.Di belakangnya, Pricilla melangkah pelan. “Yang Mulia... mungkin karena kehilangan bayinya, hati Yang Mulia Ratu masih belum tenang.”Carsein tidak menjawab. Tatapan Carsein tetap tertuju pada pintu kereta yang tertutup rapat. Seolah ia berharap Laticia akan membuka tirai,
Pricilla datang dengan senyum yang terlalu lebar untuk sebuah pertemuan kebetulan.Bukan hanya Laticia yang sempat terdiam melihatnya. Zion di sampingnya pun mengangkat alis tipis, jelas tidak menyangka wanita itu akan muncul secepat ini, apalagi dengan wajah seolah baru saja memperoleh kemenangan besar.Lorong panjang itu terasa lebih hening.“Aku datang untuk berterima kasih, Yang Mulia.”Laticia hanya menatapnya dan tidak menjawab. Tatapan datarnya membuat senyum di wajah Pricilla sempat goyah sesaat, tetapi wanita itu cepat menutupinya dengan senyum yang lebih lembut.“Aku juga membawa hadiah. Untuk Yang Mulia Ratu... dan Yang Mulia Duke.”Dua pelayan di belakangnya maju bersamaan, masing-masing mengangkat kotak kecil berlapis beludru hitam.Zion melirik kotak itu, lalu menoleh pada Laticia. Ada sesuatu di matanya, campuran geli dan heran tetapi ia tetap mengambil hadiah itu lebih dulu.“Terima kasih,” ucapnya ringan. “Meski sebenarnya tidak perlu.”Pricilla tersenyum puas, sepert
Carsein berdiri membelakanginya beberapa saat sambil mengatur napasnya yang sedikit kasar. Bahunya naik turun pelan sebelum akhirnya lelaki itu berbalik perlahan. “Apa yang kau lakukan di aula tadi?” Suara itu terdengar rendah dan berat.Laticia mengernyit kecil. Pergelangan tangannya masih terasa
Carsein menatap Laticia tajam. Tatapan mata biru lelaki itu terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya, sampai membuat suasana aula perlahan berubah semakin menyesakkan.Tidak ada seorang pun yang berani mengangkat kepala sekarang. Para bangsawan hanya diam sambil menundukkan pandangan, berharap
Pricilla langsung menundukkan kepalanya lebih dalam. Jemarinya yang sejak tadi berada di atas perutnya perlahan mengepal, sementara suasana aula terasa semakin menyesakkan setelah ucapan Laticia barusan.“Maafkan saya, Yang Mulia.”Suaranya terdengar kecil dan hati-hati, jauh berbeda dibanding bebe
Suara tenangnya terdengar memenuhi ruangan yang sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab.Para pelayan hanya saling berpandangan ragu sementara beberapa pengawal tetap menundukkan kepala.Hingga akhirnya Jenoh melangkah maju sedikit sebelum berkata hati-hati, “Karena penyerangan kemarin, Yang Mulia?







