LOGIN“Tubuh mereka jauh lebih kuat daripada Ravener biasa.”Ia menunjuk salah satu bangkai.“Lihat otot-ototnya.”Beberapa prajurit memperhatikan lebih saksama.Benar saja.Meski kurus, tubuh Ravener itu tampak lebih padat dan kuat daripada yang biasa mereka temui.“Mereka mendapatkan banyak makanan.”“Padahal tidak ada berita orang hilang, kan?” tanya salah seorang prajurit.“Itulah masalahnya.”Kening Rowan berkerut.Menurut laporan yang ia baca sebelum berangkat, tidak ada kasus hilangnya warga Nochtaryn dalam jumlah besar.Setidaknya tidak sebanyak yang dibutuhkan untuk membuat ratusan Ravener sekuat ini.“Kalau bukan rakyat Nochtaryn...” gumam salah seorang ksatria.“Lalu siapa yang mereka makan?”Tak ada yang menjawab.Angin dingin berembus di antara mereka.Rowan kembali menatap ke arah hutan yang gelap.Perasaannya semakin buruk.Rowan terdiam.Pikirannya tiba-tiba kembali ke beberapa minggu lalu saat ia masih berada di Kerajaan Elarion.Saat itu memang sempat beredar beberapa lapo
Rowan berjongkok di dekat jejak-jejak tersebut.Ia mengamati ukuran telapak kaki monster yang tertinggal di salju.Lalu mengamati arah pergerakannya.Semakin lama, alisnya semakin berkerut.“Aneh.”“Kapten?” tanya salah seorang pengawal.Biasanya monster-monster Utara bergerak liar.Mereka menyerang apa saja yang mereka lihat.Namun jejak yang ada di hadapan Rowan sekarang justru menunjukkan pola yang hampir menyerupai formasi.Seolah mereka menuju tempat yang sama.Seolah ada sesuatu yang memanggil mereka.“Dirikan perkemahan sementara.”“Di sini?” tanya seorang ksatria.“Ya.”“Tetapi musuh berada di depan kita.”“Itulah alasannya.”Rowan berdiri.Tatapannya mengarah ke hutan gelap di kejauhan.Beberapa prajurit tampak terkejut.“Kapten?”“Kita akan berdiskusi terlebih dahulu.”Ia menunjuk jejak-jejak monster yang memenuhi tanah.“Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum kehilangan lebih banyak orang.”Tak ada yang membantah.Mereka semua tahu satu hal.Jika monster-m
Russle akhirnya berkutat di ruang kerja milik Rowan.Tumpukan dokumen memenuhi meja besar dari kayu hitam itu.Surat dari wilayah perbatasan.Laporan keuangan.Permohonan izin perdagangan.Dan berbagai hal lain yang menurut Russle jauh lebih menakutkan daripada monster Utara.Meski begitu, ia tetap menandatangani dokumen demi dokumen dengan wajah malas.Anehnya, tak seorang pun tampak curiga.Para sekretaris, akuntan, dan pejabat yang keluar masuk ruangan memperlakukannya seperti biasa.Tidak ada yang mempertanyakan sikapnya.Tidak ada yang menyadari bahwa orang yang duduk di kursi Duke saat ini sebenarnya adalah Russle.Setelah menandatangani sekitar setengah dari tumpukan dokumen, Russle akhirnya meletakkan pena bulunya.“James.”Seorang pria muda yang sedang menyusun buku keuangan menoleh.“Ya, Tuan Duke?”“Menurutmu aku aneh?”James berkedip.Pertanyaan itu terdengar cukup mendadak.Ia berpikir sejenak sebelum menjawab.“Tidak, Yang Mulia.”“Benarkah?”“Menurut saya, Anda tetap sa
Jika Duke Rowan sendiri yang menguji kemampuan pria itu, maka tak ada alasan untuk mempertanyakannya.Russle melanjutkan,“Pengawal pilihan akan berangkat sebelum fajar.”“Dan selama operasi berlangsung, seluruh wilayah perbatasan Utara berada dalam status siaga.”Perintah itu segera diterima.Para ksatria membungkuk hormat.Para pejabat mulai mencatat instruksi.Sementara Rowan yang berdiri di antara mereka hanya bisa membatin,"Dari sekian banyak nama yang ada..."Lalu ia melirik Russle yang sedang memerankan dirinya."Kenapa harus Eddy?"Dan dari kejauhan, Russle yang menyadari tatapan itu hanya membalas dengan senyum tipis yang sangat menyebalkan.Sebelum fajar menyingsing, halaman depan Kastel Blackwood sudah dipenuhi kesibukan.Puluhan ksatria dan pasukan terpilih memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kalinya.Kuda-kuda perang telah dipersiapkan.Bendera Blackwood berkibar pelan diterpa angin dingin dari Utara.Di tengah keramaian itu, Rowan yang masih menyamar sebagai Ed
Rowan menghela napas panjang.Kadang-kadang ia heran bagaimana saudara kembarnya itu bisa bertahan hidup sendirian selama bertahun-tahun.Russle sendiri menatap ke luar jendela.Hutan dan padang rumput terus berganti di hadapannya.Matahari perlahan mulai turun.Di kejauhan, awan-awan gelap berkumpul di arah utara.Entah mengapa pemandangan itu membuat firasat buruknya kembali muncul.Ia lalu melirik Rowan.Saudaranya itu masih tampak tenang seperti biasa.Terlalu tenang.Seolah monster-monster yang bangkit di Utara hanyalah masalah kecil yang bisa diselesaikan dalam beberapa hari.“Jangan mati.”Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Russle.Rowan menghentikan bacaannya.Lalu menatapnya.“Kenapa tiba-tiba mengatakan itu?”“Tidak ada alasan.”“Kau sedang memikirkan sesuatu.”“Aku hanya tidak ingin mengurus Nochtaryn sendirian.”Rowan mendengus pelan.Namun kali ini ia tidak membalas dengan sindiran.“Kalau begitu aku tidak akan mati.”Russle mengangguk kecil.Meski dalam hatinya, i
Namun entah mengapa, kalimat itu justru membuat Russle semakin tidak tenang.Untuk pertama kalinya sejak perjalanan mereka dimulai, ia berharap firasat buruknya salah.“Russle.”“Hm?”Rowan menatap lurus ke depan.Nada suaranya kali ini jauh lebih serius dari biasanya.“Kalau aku mati, gunakan identitasku.”Russle langsung mengernyit.“Apa?”“Jadilah Duke Rowan Blackwood.”Kereta yang semula terasa santai mendadak menjadi sunyi.Russle menatap saudara kembarnya seolah baru saja mendengar lelucon yang sangat buruk.“Tidak.”“Aku serius.”“Aku juga serius.”Rowan menghela napas pelan.“Russle, dengarkan aku.”“Tidak.”“Dengarkan dulu.”Russle menyilangkan tangan.Meski begitu, ia tetap mendengarkan.“Kalau aku mati, keluarga Blackwood tidak boleh kehilangan pemimpinnya.”“Masih ada para tetua.”“Mereka bukan aku.”“Masih ada para bangsawan.”“Mereka akan saling berebut kekuasaan.”Russle memalingkan wajahnya ke arah jendela.Jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.Namun Rowan tetap m
Di sebuah ruangan kerja yang berada jauh di dalam markas Holy Order, tumpukan buku, gulungan naskah, dan berbagai artefak kuno memenuhi hampir setiap sudut ruangan.Di tengah kekacauan itu, dua gadis berambut putih sedang duduk mengelilingi sebuah meja kayu besar.Di atas meja tergeletak sebuah buk
“Russle, aku akan kembali ke kamarku.”Rowan akhirnya menyerah mencoba mencari sesuatu dari buku kecil yang sejak tadi dibawa Russle.Ia sudah beberapa kali membalik halaman-halamannya.Namun tidak menemukan apa pun.Tidak ada tulisan.Tidak ada gambar.Tidak ada catatan.Hanya sebuah simbol seriga
“Russle?”Rowan kembali membuka suara saat melihat saudara kembarnya itu mulai membongkar tumpukan catatan kecil dari dalam saku mantel.Beberapa lembar kertas tua berpindah ke meja.Sementara Russle tampak sibuk mencari sesuatu.“Iya?”Jawabannya terdengar santai tanpa sedikit pun menoleh.“Kalau
Tak lama kemudian Rowan meninggalkan istana.Kereta hitam milik keluarga Blackwood sudah menunggunya di luar gerbang.Begitu pintu kereta dibuka, ia langsung menemukan Russle yang sedang bersandar santai sambil membaca buku."Kau lama sekali.""Kau menungguku?""Tidak.""Kau berbohong."Russle menu







