Home / Male Adult / Bermain Api Dengan Nyonya / Bab 125 : Rudapaksa Siska

Share

Bab 125 : Rudapaksa Siska

last update publish date: 2026-08-03 14:18:03

Bau antiseptik bercampur dengan aroma embun pagi yang menyusup dari celah ventilasi fasilitas bawah tanah Jenderal Yudha.

Kelopak mata Mery perlahan bergetar, terbuka menampakkan manik matanya yang jernih namun kosong.

Tidak ada kilatan memori atau sisa-sisa penderitaan masa lalu di sana ; yang ada hanya kehampaan yang asing.

Ketika aku menggenggam jemarinya, dia menarik tangannya pelan, menatapku seperti menatap orang asing di jalanan.

"Siapa... kamu ?" bisiknya lirih, suaranya serak.

Amnesi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 130 : Kabar Dari Abah Usman

    Aroma dupa kayu gaharu yang terbakar tipis menguar di udara, bercampur dengan bau dingin beton fasilitas bawah tanah markas Jenderal Yudha. Di tengah ruangan komando yang sunyi, pintu baja bergeser terbuka. Sesosok pria tua berbadan tegap dengan balutan pangsi hitam sederhana melangkah masuk. Abah Usman. Langkah kakinya begitu ringan, nyaris tanpa suara, membawa serta kesunyian malam dari perbukitan Cianjur langsung ke jantung kota Jakarta yang bising.Kendi, Kenzo, dan Jenderal Yudha langsung berdiri menyambutnya. Pria tua itu melepas ikatan kepala hitamnya, menyeka peluh tipis di dahinya, lalu menghembuskan napas berat. Sorot mata Abah Usman tajam, memancarkan getaran batin yang dalam."Abah..." ucap Kendi, suaranya tertahan oleh rasa hormat yang mendalam."Aku datang membawa firasat dari angin utara, Ndi, Kenzo," suara Abah Usman parau namun tegas, menggema di dinding-dinding baja ruangan. "Meditasiku pecah semalam. Aku melihat pusaran darah dan besi membentang di atas kota ini.

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 129 : Firasat Dari Cianjur

    Asap putih tipis dari sebatang rokok yang menyala di jemariku perlahan memudar, tersapu embusan angin malam Jakarta yang mendingin. Namun, pikiranku justru terseret mundur pada sebuah bayangan yang masih meninggalkan hawa panas di sekujur kulitku.(Flashback)Dua hari yang lalu. Ruang istirahat kecil di sudut markas, berbalut dinding beton dingin dan deru mesin pendingin yang berputar monoton.Wajah Davina hanya berjarak satu inci dari wajahku. Mata hazelnya menatap tajam, menantang sekaligus menuntut. Aroma parfum Baccarat Rouge 540 bercampur dengan wangi mawar putih dari kulitnya langsung menyergap penciumanku—sebuah kombinasi pekat yang mengunci akal sehat. Saat bibir kami bertemu, tidak ada kelembutan di sana. Ciumannya brutal, memabukkan, dipenuhi rasa kepemilikan yang egois. Tangannya yang ramping namun kuat menelusuri dada telanjangku, kuku-kukunya yang bercat merah menggores pelan permukaan kulit, meninggalkan jejak panas.Aku mengangkat tubuhnya, menghimpitnya ke dinding

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 128 : Love interest Para Jagoan

    Lampu neon putih di ruang medis markas rahasia Jenderal Yudha memancarkan pendar dingin yang menerangi ruangan steril berukuran sedang itu. Bau tajam cairan antiseptik, alkohol medis, dan salep penenang berpadu di udara, menciptakan atmosfer yang sunyi dan menenangkan. Di atas ranjang berseprai putih, Siska terbaring lemas. Napasnya teratur namun berat, sisa-sisa efek obat penenang dosis tinggi yang diberikan tim medis bekerja meredakan guncangan psikis setelah teror panjang di markas The Eclipse.Jacky duduk di kursi logam tepat di sisi ranjang. Siku tangannya bertumpu di atas lutut, sementara dagunya disangga oleh kedua tangan yang saling bertaut. Matanya menyapu setiap jengkal wajah Siska yang tampak pucat—mulai dari bulu matanya yang basah oleh sisa air mata, bibirnya yang sedikit kering, hingga pergelangan tangannya yang masih dibalut perban tipis akibat gesekan tali penyiksa.Di dalam binar mata Jacky, tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari rasa kasihan seorang rekan sa

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 127 : Prahara Dua Davina

    "Siska, tenangkan dirimu." Jacky melangkah maju, tangannya dengan lembut menyentuh bahu Siska yang masih bergetar hebat. Ia membawa wanita itu duduk di atas kursi terdekat, memberikan tatapan penuh keyakinan. "Dengarkan aku. Davina memang ada di pihak kita sekarang. Soal pesan yang kau lihat di ponsel Darius... itu bukan dia."Kendi dan Kenzo saling berpandangan. Kendi maju selangkah, menatap Siska dengan dahi berkerut. "Maksudmu, Jack?""Aku menemukan file terenkripsi di server utama The Eclipse saat menyusup tadi," jelas Jacky sambil melirik sekilas ke arah Davina. "Darius tahu Davina telah berkhianat dan memihak Jenderal Yudha. Karena frustrasi dan tidak terima, Darius menciptakan sebuah duplikat biologis—kloningan Davina yang diprogram dengan memori palsu agar mengira dirinya adalah Davina yang asli. Dialah mata-mata yang mengirim informasi itu."Suasana di ruang komando mendadak senyap. Siska tertegun, napasnya perlahan mulai teratur meski sisa-sisa trauma masih membekas di mat

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 126 : Penyelamat Yang Terlambat

    Pisau bedah kecil itu bergerak membelah tali nilon yang mengikat pergelangan tangan Siska dalam satu tarikan mulus. Tali kasar yang sedari tadi menggesek kulitnya hingga berdarah kini jatuh terputus ke lantai semen yang dingin. Dari balik keremangan cahaya darurat yang berkedip merah, sosok berpakaian taktis hitam legam membuka penutup kepalanya.Itu Jacky. Wajahnya dipenuhi coretan jelaga dan sisa keringat, namun sorot matanya setajam elang yang baru saja menemukan mangsanya. Bau mesiu dan anyir darah segar menguar dari sarung tangan kulitnya yang robek di bagian buku jari.Tanpa banyak bicara, Jacky melemparkan sebuah tas ransel kecil ke pangkuan Siska. "Pakai ini. Cepat. Penjaga lapis kedua akan berpatroli dalam lima menit."Siska menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir basah. Dengan jemari yang masih bergetar hebat, ia membuka ritsleting tas itu. Di dalamnya terdapat satu set pakaian taktis bersih, kaus katun hitam, dan sebotol air mineral. Siska menggunak

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 125 : Rudapaksa Siska

    Bau antiseptik bercampur dengan aroma embun pagi yang menyusup dari celah ventilasi fasilitas bawah tanah Jenderal Yudha.Kelopak mata Mery perlahan bergetar, terbuka menampakkan manik matanya yang jernih namun kosong. Tidak ada kilatan memori atau sisa-sisa penderitaan masa lalu di sana ; yang ada hanya kehampaan yang asing. Ketika aku menggenggam jemarinya, dia menarik tangannya pelan, menatapku seperti menatap orang asing di jalanan."Siapa... kamu ?" bisiknya lirih, suaranya serak.Amnesia total itu merenggut segalanya. Program penghapusan memori The Eclipse telah membabat habis seluruh arsip masa lalunya, menyisakan lembaran putih tanpa nama, tanpa wajah, dan tanpa kenangan tentangku.Namun, di ruangan bernuansa putih steril itu, tidak ada rasa putus asa yang tersisa. Aku, Kenzo, Dira, dan yang lainnya bergantian menjaganya dengan kesabaran ekstra.Dira meracik formula pemulihan saraf, Kenzo memastikan keamanan perimeter, sementara aku duduk berjam-jam menceritakan hal-hal keci

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 32 : Asal Usul Si Badboy Bermula

    Lonceng di atas pintu cafe tua itu berdenting parau, seolah enggan menyambut kedatanganku yang membawa hawa dingin dari sisa pelarian di jembatan.Aroma kopi yang disangrai terlalu gelap dan bau kayu lapuk menyergap indra penciumanku, mencoba menutupi bau amis darah dari lengan kemejaku yang robek.

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 6 : Labirin Pengkhianat

    Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 5 : Mahkota Dari Kawat Berduri

    Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 4 : Darah Yang Terkhianati

    Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status