مشاركة

Hukuman

مؤلف: Suci Komala
last update تاريخ النشر: 2026-08-12 15:58:12

Rania menikmati secangkir kopi susu hangat di kantin rumah sakit. Ia menunggu Kenan yang entah pergi kemana. Alih-alih mengubungi Kenan, Rania mengeluarkan dompet. Di sana terselip foto lawas sang ayah. Mata yang belum sepenuhnya kering, kini basah lagi. Namun, ia mencoba tegar dan menahan agar air mata itu tidak jatuh.

"Ayah, apa kabar? Ayah pasti sudah bahagia di sana, ya? Sampai-sampai ayah gak mau datang lagi ke mimpi aku." Rania menghela napas berat.

"Aku rindu ayah," ucapnya lagi denga
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Berondong Kesayanganku   Jatuh Dari Motor

    Rania melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Jam sepuluh malam, waktu yang tepat untuk pulang, pikirnya. Karena dijam tersebut adalah jam dimana restoran tutup. Rania beranjak sambil mengenakan ranselnya. Bukan di punggung, tetapi ia pakai di depan menutupi dada. Rania melangkah cepat menuju area parkir. Namun, langkahnya kian melambat saat merasakan seseorang mengikutinya. Rania menoleh. Tidak ada siapapun di sana. Rania berlari kecil sampai akhirnya tiba di mobil. Ia bergegas masuk. Cepat-cepat ia memasang sabuk pengaman. Setelah duduk nyaman, Rania tancap gas. Rania merasa lega saat mobil meninggalkan restoran. Namun, jantungnya kembali berdetak kencang saat matanya tertuju pada kaca spion. Pria yang ia lihat di cafe tadi tengah menunggangi motor tepat di belakang mobilnya. Rania mencoba tenang dan mencoba fokus menyetir. "Tenang Rania tenang."Malam itu jalanan tidak begitu ramai. Rania melajukan mobilnya cukup kencang. Matanya kembali menatap kaca spion. Rupanya laj

  • Berondong Kesayanganku   Menghindar

    "Mau style seperti apa, hem?" tanya Jody sambil menggerakkan tangannya. Kenan memejamkan mata. Embusan napas lega keluar dari mulutnya. Bagaimana tidak? Suara Jody terdengar begitu lembut, gerakannya luwes dan sedikit gemulai. Tidak ada yang harus ia cemburui. Rania yang memerhatikan mengulum bibirnya, menahan tawa. Kenan yang melihat turut tersenyum miring. "Mau seperti ini." Rania menunjukan sebuah gambar di ponselnya. "Waw, gaya poni korea. Boleh juga. Cocok sama mukamu. Pasti terlihat kayak barbie nanti."Jody mulai eksekusi, sedangkan Kenan memilih berkutat dengan ponselnya.Dua puluh menit berlalu. "Tuh, kan, aku bilang juga apa. Kamu kayak barbie. Kamu kayak ABG, suerr, deh!" tutur Jody. Kenan bangkit dan menghampiri. "Begini lebih bagus!" Jody mengangkat rambut belakang Rania, seperti hendak mengikat bak ekor kuda. "Biarkan tergerai!" ucap Kenan cepat. Kenan menatap Rania dari pantulan cermin. Gaya rambutnya yang baru benar-benar merubah penampilannya. Tambah cantik d

  • Berondong Kesayanganku   Teman Lama dan Salon

    Seorang pria berkacamata hitam dan wanita yang tengah mendorong kereta bayi menghampiri. "Loh, Dona, Chico?!" sapa Rania dengan senyum merekah. "Apa kabar?" sapa Kenan pada si pria. Rania mengernyit melihat Kenan dan pria bernama Chico saling peluk bertanya kabar. "Tunggu, tunggu! Kalian saling kenal?"Dona tersenyum. "Tentu saja. Kenan dan suamiku itu'kan sahabatan, Ran."Rania masih bengong. "Oh, seperti itu." Lalu ia tersenyum. "Apa kabar Chiko?" lanjut Rania. "Baik, Kak Ran.""Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa bareng?" tanya Dona, sambil menatap Rania dan Kenan bergantian. Kenan merangkul Rania. "Kami sudah menikah.""Aaaaaa ...," Dona histeris, "kok, gak undang-undang, sih, Ran?"Dalam hitungan detik Rania terdiam bingung untuk menjawab, lalu tersenyum kikuk. "Hehe ... belum resepsi. Lagipula, sejak kamu keluar negeri nomormu tidak bisa dihubungi.""Lu tega banget, Ken. Lu nikah gak kasih kabar gue," protes Chico. "Udah berapa lama kalian nikah?""Belum satu minggu," jawa

  • Berondong Kesayanganku   Sweetnya Bikin Speechless

    "Masih diselidiki," jawab Kenan santai. Rania mengangguk, lalu mengatakan jika semua bahan yang dikirim pagi itu berkualitas bagus. Kenan tersenyum tipis. "Pelakunya seperti tahu kalau kita sedang mengawasi.""Sepertinya begitu. Eh, Ken, aku mau tunjukin kamu sesuatu." Rania menarik tangan Kenan. *Rupanya Rania membawa Kenan ke area parkir belakang. "Taraaa!" Kenan mengerutkan dahi. "Beli baru?"Rania menggeleng. "Bukan punyaku.""Ini mobil punya Reza," lanjutnya sambil mengusap kap mobil dengan rasa bangga. Kenan tersenyum samar, lalu menghela napas berat. "Aku tidak punya urusan.""Jelas punya! Kamu jangan memandang rendah Reza lagi. Kamu seperti tidak suka kalau dia pinjam mobilku."Kenan tersenyum samar."Kamu di sini rupanya."Kenan dan Rania menoleh. Rupanya Reza datang. "Ada apa?" tanya Rania. Bukannya menjawab, Reza justru menatap Kenan. Pria itu melangkah mendekat. "Bukannya bocah ini sudah keluar, Ran? Kenapa ada di sini?"Rania nampak kikuk. "Emm ... itu, Za ...,

  • Berondong Kesayanganku   Kartu As

    Kenan mengenyampingkan rasa kesalnya kepada Rania. Ia tancap gas menuju kantor pusat, sedangkan Rania memilih ke restoran. Masih di kawasan Sudirman, Kenan memarkirkan mobilnya di basement sebuah gedung tiga puluh dua lantai. Gedung ini merupakan aset keluarga Lim, dimana lima lantai digunakan oleh perusahaan milik Lim dan Kenan. Lantai delapan belas sampai dua puluh ditempati oleh PT. Arkana Food dan lantai dua puluh satu sampai dua puluh dua ditempati oleh Kenan --Arkana Fres Supply, sedangkan lantai lainnya disewakan ke perusahaan lain. Lift terbuka di lantai dua puluh dua. Logo Arkana Fres Supply terpampang jelas di tembok marmer ruang resepsionis. Kenan bergegas ke ruangannya. Pintu ruang kerja Kenan diketuk dua kali."Masuk."Pria yang menjadi tangan kanan Kenan melangkah masuk. Di tangannya terdapat sebuah map hitam tipis.Kenan mengangkat pandangan dari layar laptop yang baru saja ia nyalakan. "Benar sudah dapat?"Pria itu mengangguk. "Lebih dari yang kita cari." Ia meleta

  • Berondong Kesayanganku   Hukuman dan Kantor Polisi

    Kenan tersenyum sarkas. Ia tahu betul siapa yang mengirim pesan, Ardi. Kenan sama sekali tidak gentar, karena Ardi tidak tahu jika ternyata ia mengancam orang yang salah. "Cieee ... senyum-senyum sendiri. Dapat chat dari pacarnya, ya?" goda Rania, "kenalin, dong!"Candaan Rania ternyata disikapi serius oleh Kenan. Pria itu mendekati Rania yang sedang duduk bersolek di depan cermin. Kenan memutar kursi sehingga Rania menghadapnya. Posisi Kenan yang membungkuk dengan kedua tangan yang ia topang di meja rias mengunci pergerakan Rania. Jemari Kenan perlahan menyentuh dagu, memaksa Rania agar menatapnya. "Kamu cemburu?" tanyanya setengah berbisik. "Tidak!" jawab Rania tegas. Kenan tersenyum miring sambil menyisir setiap jengkal wajah Rania. Rania menutup mulut dengan telapak tangannya saat menyadari Kenan menatap bibirnya. Kenan mengerutkan dahi. Cup! Kenan mengecup kening, membuat Rania membulatkan mata. "Ini hukuman karena kamu berpikir yang macam-macam!"Tangan Rania berpindah

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status