LOGIN"Papa, Mama, dan Nenek... ayo dong, pelukan lagi sama Mama Stella!" seru Liam tiba-tiba dengan suara anak kecilnya yang nyaring, memecah kesunyian di antara orang dewasa yang masih terbuai dalam keheningan emosional.Bocah tiga tahun itu merangkak turun dari sofa tempatnya duduk tadi, lalu menghampiri Stella dan Sean yang masih berlutut di hadapannya. Dengan kedua tangan mungilnya, Liam menarik ujung baju Stella dan baju Sean secara bersamaan, memaksa kedua orang tuanya itu untuk merapat semakin dekat."Liam mau kita bertiga bobok bareng di rumah baru, terus main sama Nenek, Kakek, Tante Jessica, sama Tante Clarissa juga," lanjut Liam dengan mata berbinar penuh harap, menatap bergantian ke arah seluruh anggota keluarga besar Anderson yang berdiri mengelilingi mereka.Reaksi polos dan tulus dari sang buah hati seketika membuat ketegangan di dalam ruangan president suite mencair sepenuhnya. Nyonya Besar Anderson yang berbaring di pembaringan tersenyum paling lebar, tertawa kecil sembari
"Ja-jadi... selama ini hidupku, tempat tinggalku, bahkan pekerjaan pertamaku di Swiss, semuanya adalah hasil rekayasa Papa?" ucapan Stella terhenti dengan suara bergetar hebat, matanya menatap Papa Edward penuh keterkejutan yang membuncah.Papa Edward mengangguk tenang tanpa sedikit pun rasa bersalah, justru menyunggingkan senyuman tipis yang penuh wibawa. "Betul, Stella. Papa tidak ingin menantu kesayangan Papa hidup dalam kekurangan di negeri orang. Semua fasilitas itu adalah hakmu sebagai bagian dari keluarga Anderson, meskipun saat itu hubungan kalian sedang berada di titik nadir."Sean yang berdiri di samping Stella tampak sama terkejutnya. Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menatap sang ayah dengan sorot mata menuntut penjelasan lebih jauh. "Kenapa Papa tidak pernah memberitahuku? Kenapa Papa membiarkanku tersiksa mencari keberadaan Stella selama tiga tahun penuh tanpa petunjuk apa pun?""Karena kalau Papa memberitahumu, kau tidak akan pernah belajar arti kehilangan
"Bagaimana kabar Nenek sekarang? Apakah sudah mendingan, Nek?" tanya Stella dengan nada bicara yang masih terdengar sedikit kaku dan canggung, mengingat gejolak emosi luar biasa yang baru saja ia lalui beberapa saat lalu.Mendengar pertanyaan penuh perhatian dari cucu mantunya itu, Nyonya Besar Anderson langsung tersenyum lebar hingga garis-garis keriput di wajah sepuhnya tampak semakin jelas. Wanita sepuh itu merentangkan kedua tangannya dengan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan."Nenek jauh lebih baik sekarang, Sayang! Terutama setelah melihatmu berdiri di sini bersama Liam," jawab Nyonya Besar dengan suara parau namun hangat. "Sini, mendekatlah pada Nenek. Jangan bersikap kaku begitu, sekarang kita semua sudah berkumpul sebagai keluarga seutuhnya. Jangan ingat lagi tentang masa lalu, semua tidak akan bisa ada yang di ubah. Yang terpenting semua orang sudah menyadari kesalahannya masing-masing dan pasti akan mendapat hukuman yang setimpal atas kejahatannya.” Tegas sang
"Maafkan aku, Kak Stella. Berilah sedikit saja celah di hatimu menerimaku sebagai adik iparmu, Kak. Maafin Jessica," isak Jessica sekali lagi dengan suara bergetar dengan suara tak percaya.Stella menatap lurus ke arah adik iparnya, lalu menghela napas panjang untuk meredakan gejolak di dadanya. "Sudahlah, Jessica. Anggap saja masa lalu yang buruk itu sudah terkubur dalam-dalam. Mari kita jalani hari-hari baru ke depannya dengan kedamaian," ucap Stella tulus, mencoba memberikan ketenangan bagi gadis yang masih tampak terpukul itu.Mendengar respons yang begitu bijaksana dari sang kakak ipar, senyuman tipis yang dibasahi air mata kembali terukir di wajah Jessica. Suasana di dalam ruangan president suite yang tadinya dipenuhi ketegangan emosional kini berangsur-angsur melunak, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa di antara anggota keluarga besar Anderson.Tuan Edward Anderson, yang sejak tadi berdiri memperhatikan momen rekonsiliasi tersebut dengan sorot mata penuh wibawa dan kebija
"Selamat datang kembali di keluarga besar kita, Stella," ucap pria paruh baya berwibawa itu dengan suara berat yang sarat akan ketulusan, melangkah maju mendekati Stella yang masih berdiri berdampingan dengan Sean.Stella terpaku sejenak, mengenali sosok Tuan Edward Anderson, ayah kandung Sean sekaligus kepala keluarga besar konglomerat tersebut yang selama ini dikenal sangat disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Hanya saja, selama ini sang ayah mertua memang fokus pada perusahaan yang sedang bermasalah di luar negeri, sehingga memang tidak stanby di Indonesia. Pria paruh baya itu juga salah satu pria yang cukup netral dan tidak pernah menindas Stella, karena memang rentan waktu pertemuan mereka juga tidak sering dan hanya terhitung beberapa kali itu pun dalam acara keluarga besar, sehingga mereka memang tidak banyak interaksi karnea sang ayah mertua memang sangat sibuk sekali.Melihat wajah itu memancarkan senyum yang penuh wibawa dan kebijaksanaan membuat Stella tersenyum kak
"Jangan pernah mencoba menyentuhku sembarangan, Sean," gerutu Stella sambil buru-buru menarik tangannya dari genggaman hangat sang suami, meski rona merah di pipinya gagal ia sembunyikan di balik temaram cahaya senja.Sean hanya tertawa kecil, tidak merasa tersinggung sedikit pun dengan penolakan setengah hati itu. Pria tersebut justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menikmati ekspresi salah tingkah wanita yang bertahun-tahun ia sia-baikan. "Baiklah, Nyonya Sean. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, matahari besok pagi akan menjadi saksi langkah awal kita menuju lembaran baru."Stella mendengkus pelan, memilih mengalihkan pandangannya kembali ke arah laut lepas yang mulai gelap. "Jangan coba-coba merayuku, Sean. Itu tidak akan berhasil. Masuklah ke dalam, angin malam di pesisir tidak baik untuk kesehatan orang kota sepertimu."Tanpa menunggu balasan Sean, Stella memutar tubuhnya dan melangkah masuk lebih dulu ke dalam rumah, meninggalkan sang suami yang tersenyum geli







