FAZER LOGIN"Bagus! Jam segini baru pulang! Kamu sengaja mau bikin malu Ayah, hah?! Biar dikira tetangga kalo Ayah ini gak becus menjaga putrinya."
Plak! Tamparan keras mendarat di pipiku bahkan sebelum aku sempat melangkah melewati pintu rumah. Tubuhku terhuyung menabrak rak sepatu. Seketika pipi kiri ku terasa panas, berdenyut nyeri, dan mati rasa dalam waktu yang bersamaan. "Mas, sudah, jangan dipukul lagi. Mungkin Luna keasyikan keluyuran sama cowok-cowok di luar. Anak zaman sekarang kan susah diatur," sahut Ibu tiriku dari balik punggung Ayah. Ia melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang sangat kentara. Meskipun suaranya dibuat-buat seolah sedang menenangkan Ayah, aku tahu maksud dari perkataannya barusan. "Aku dari masjid, Yah... lalu menolong orang—" "Halah, alasan! Anak nakal tetap saja nakal!" potong Ayah. Matanya melotot tajam, napasnya memburu menahan amarah dengan tangannya yang menunjuk kasar ke arah kamarku. "Masuk sana! Mulai besok, uang jajanmu Ayah potong dan kamu tidak boleh keluar rumah selain untuk sekolah! Mengerti?!" Tanpa membantah lagi, aku berlari ke kamar dan langsung mengunci pintu. Di dalam sana, aku bersandar pada daun pintu. Perlahan tubuh ini merosot hingga aku terduduk di lantai. Air mataku luruh tanpa suara. Aku memegangi pipiku yang memerah, meratapi nasibku yang kian hari kian mengenaskan di rumah ini. Di tengah rasa sesak dan keputusasaan, bayangan pria tampan yang kuselamatkan di gang gelap tadi tiba-tiba melintas di pikiran. Apakah luka di perutnya sudah membaik? Apakah dia masih hidup? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sampai akhirnya aku tertidur karena kelelahan menangis. Keesokan paginya, suasana kota masih diselimuti kabut tipis. Matahari baru saja terbit ketika aku menyelinap keluar kamar. Aku berangkat tanpa berpamitan karena harus buru-buru menuju tempat semalam. Dengan menggunakan uang tabunganku yang tidak seberapa, aku membeli beberapa bungkus nasi uduk hangat di persimpangan jalan, lalu bergegas menuju tempat anak-anak jalanan berkumpul. "Kak Luna! Kakak beneran datang!" seru Dito setengah berbisik. Wajah bocah laki-laki itu tampak sangat lega saat aku melangkah masuk ke dalam bangunan tua yang beralaskan kardus-kardus bekas di sana. "Tentu saja. Kakak kan sudah janji semalam," jawabku sambil tersenyum kecil. Aku berusaha menyembunyikan rasa perih di wajah ini. Ku bagikan satu per satu bungkusan nasi kepada Dito dan teman-temannya. "Dimana dia? Apa dia baik-baik saja?" "Di sana, Kak. Dia sudah bangun dari tadi. Tapi enggan bicara. Kami takut mau mendekat, mukanya seram banget," tunjuk Dito ke sudut ruangan yang agak gelap menggunakan dagunya. Pria itu sedang terduduk bersandar pada pilar beton yang retak. Kaos hitam polosnya tampak kusut, dan balutan perban di perutnya yang kubuat semalam terlihat sedikit merembes merah. Wajahnya yang sangat tampan itu terlihat kaku dan datar. Ketika netra elangnya yang tajam dan pekat menangkap kehadiranku. Sorot matanya yang dingin langsung menatap sosokku yang berdiri terpaku. Aku melangkah mendekat dengan ragu, lalu berlutut di dekatnya dengan jarak yang aman. "Bagaimana keadaan lukamu? Aku membawakan sarapan untukmu. Makanlah." Aku menyodorkan sebungkus nasi hangat yang masih mengepulkan uap. Pria itu tidak langsung menerima makanan itu. Ia hanya menatapku datar. Suasana di sekitar kami mendadak mencekam. "Kenapa kau kembali ke sini?" suaranya terdengar sangat dingin, rendah, dan tanpa emosi. "Aku... aku sudah berjanji pada anak-anak semalam untuk datang lagi sebelum pergi ke sekolah," jawabku gugup. "Dan aku juga ingin memastikan perbanmu tidak lepas." Pria itu melirik bungkusan nasi di tanganku, lalu meraihnya. Gerakan tangannya sedikit lambat karena menahan nyeri di perutnya. "Aku tidak mati semudah itu. Tapi, terima kasih." Ia meletakkan makanan itu di sampingnya, lalu netra elangnya kembali menatapku lekat-lekat. Tatapannya terpaku pada pipi kiriku yang tampak kemerahan dan sedikit membengkak akibat tamparan Ayah semalam. Alisnya bertaut tipis, hingga mengubah ekspresi pada wajahnya. "Wajahmu. Siapa yang melakukannya?" tanya pria itu. Nada suaranya datar, namun ada ketegasan dingin yang mengintimidasi, menuntut aku untuk menjawabnya dengan jujur. Aku langsung menunduk dan menarik ujung jilbabku untuk menutupi pipi ini. "Ah, ini... tidak apa-apa. Hanya terbentur pintu semalam karena buru-buru masuk ke dalam rumah." Pria itu mendengus pendek. Suaranya terdengar sinis. "Jangan membohongiku. Pintu tidak akan meninggalkan bekas seperti itu." Aku tersentak dan langsung terdiam. Aku tak menyangka ia akan menyadarinya sedetail itu. Aku hanya bisa meremas ujung seragam sekolahku dengan cemas. Untuk mengalihkan pembicaraan, aku memberanikan diri menatapnya. "Aku belum tahu namamu. Semalam kamu terlalu sibuk menahan darah di perutmu." Pria itu diam sejenak. Sorot matanya bergerak gelisah secara samar, seolah ada hal besar yang sedang ia pertimbangkan. Ia melirik tatonya yang tertutup kaos, lalu menatap seragam sekolahku yang polos. Ia tahu, dunia gelap penuh darah miliknya bukanlah tempat bagi gadis seperti aku. "Arga," ucapnya pendek, memperkenalkan diri tanpa senyum sedikit pun. "Aku Luna. Luna Kirana," jawabku. "Kak Arga... sebenarnya, apa yang terjadi semalam? Siapa orang-orang yang mengeroyokmu? Apa Kakak seorang... preman?" tanyaku ragu, teringat ketakutan Dito dan teman-temannya semalam. Arga menatapku lurus, matanya sedingin es seolah mengunci rapat semua rahasia di kepalanya. "Bukan urusanmu. Aku hanya orang biasa yang tidak sengaja salah mencari musuh di jalanan. Jangan bertanya lebih jauh kalau kau masih ingin hidup tenang." Kata-katanya yang dingin membuatku menciut. Ia sengaja memasang jarak yang lebar di antara kami. Seolah menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya. "Maaf kalo ucapanku menyinggung perasaanmu. Tapi kamu harus tahu, aku menolongmu ikhlas. Tidak mengharap imbalan apapun." "Aku tahu itu. Tapi aku tidak suka berutang. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa kuberikan padamu," sahut Arga pendek, nadanya datar seolah ingin menyudahi percakapan. Aku mengangguk paham, merasa tidak enak jika terus mengganggunya. "Kalau begitu... aku ke sekolah dulu, " ucapku sambil berdiri dan merapikan rok seragamku. "Pergilah," sahut Arga tanpa menatapku lagi, langsung membuka bungkusan nasi uduk itu dengan gerakan kaku. Aku berbalik dan berjalan cepat keluar dari bangunan tua itu, bergegas menuju sekolah. Begitu sosokku menghilang di tikungan jalan, Arga langsung meletakkan makanan di tangannya. Ekspresi wajahnya yang kaku berubah total menjadi sangat tajam. Rasa nyeri di perutnya seolah diabaikan begitu saja saat ia berdiri dari pilar beton. Dari balik reruntuhan dinding bangunan tua, sebuah bayangan hitam melangkah mendekat dengan sangat senyap. Itu adalah tangan kanan Arga yang sejak subuh tadi sudah berhasil melacak keberadaannya. "Tuan Besar, mobil dan tim medis sudah bersiap di luar sana," ucap pria berjas hitam itu sambil membungkuk hormat. "Tunda kepulanganku ke markas," perintah Arga. Suaranya terdengar begitu tegas dan dingin, jauh berbeda dari saat ia berbicara dengan Luna tadi. Tangan kanannya tertegun. "Tapi luka Anda—" "Siapkan sebuah motor biasa yang tidak mencolok. Aku ingin mengawasi gadis tadi," potong Arga, matanya menatap tajam ke arah jalan yang dilewati ku. "Cari tahu segala hal tentang keluarganya. Terutama bajingan yang berani menyentuh wajahnya semalam." "Baik, Tuan. Apakah Anda ingin kami memberi pelajaran pada mereka?" Arga menyipitkan netra elangnya yang berbahaya. "Tidak perlu. Urusan keluarga gadis itu... aku sendiri yang akan mengurusinya. Jangan sampai dia menyadari kehadiranku."Bara tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menyemburkan tawa kecilnya sambil menutup pintu ruangan kerja Arga yang kedap suara. Langkahnya santai menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang bos—atau lebih tepatnya, sang sahabat. "Kau harus lihat wajahnya semalam, Ga. Dia ketakutan setengah mati saat aku memperagakan gaya potong leher di penthouse-mu," ujar Bara, "Dia langsung pucat. Benar-benar mati kutu dan tidak berani kabur!" Arga tidak ikut tertawa. Ia memijat pangkal hidungnya. Lembaran dokumen di mejanya sama sekali tidak tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya tak berhenti ke penthouse miliknya, memikirkan bagaimana keadaan Luna setelah apa yang terjadi tadi malam. "Ini tidak lucu, Bar," sahut Arga dengan suara rendah dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kenapa kau harus menakut-nakutinya seperti itu? Dia sudah cukup terguncang karena hampir diapa-apakan oleh rentenir siala
Suasana di dalam gudang tua itu mendadak hening. Cengkeraman kasar di pergelangan tanganku terlepas begitu saja. Pria kekar yang tadinya menyeretku melangkah mundur dengan wajah tegang. "B-berdiri, Nona. Silakan berdiri. Jangan di lantai, dingin," ucap Bos Rentenir itu. Suaranya yang tadi terdengar kejam, kini mendadak melembut dan gemetar. Ia panik, lalu menoleh ke anak buahnya. "Cepat ambilkan tasnya! Jangan biarkan kotor!" Aku segera menyambar tas sekolahku yang robek dari tangan anak buahnya, lalu memeluknya ke dada dengan erat. Tubuhku terasa sakit semua. "Kalian... kalian mau apa lagi? Tolong lepaskan aku..." lirihku dengan sisa tenaga. Sebelum Bos Rentenir sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar dengan satu hentakan keras. Tiga orang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan berkelas. Sementara pria satunya berpenampilan seperti pria umumnya. Ia hanya mengenakan jaket k
Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Ken
Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang
Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci
"Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me







