LOGINNaomi tertawa kecil karena bingung. "Di mana adeknya?"
Anak itu menunjuk perut Naomi. "Aku mau elus adek bayi."
Naomi terdiam. Mareeq yang sejak tadi melihat ponselnya pun perlahan mengangkat wajah. Dia tertarik dengan obrolan di sampingnya.
Naomi menatap anak kecil itu. Anak itu pun mengulurkan tangannya, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh perut Naomi. Tangannya hanya menempel sebentar.
"Adek bayinya masih sekecil ini." anak kecil itu menunjukkan dengan jariny
Ami menggenggam gelasnya dengan kedua tangan."Aku tahu perjodohan bukan jaminan bahwa dua orang akan bahagia. Aku ingin menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh."Naomi mengangguk. "Yang penting kamu bahagia."Ami menatap sahabatnya beberapa saat sebelum tersenyum. "Kamu juga harus bahagia."Naomi terdiam.Ami melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. "Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah memiliki pacar?" tanya Ami. "Aku dengar kamu bekerja di perusahaan lain daripada perusahaan keluargamu."Naomi menurunkan pandangannya. Ada begitu banyak hal yang bisa ia ceritakan kepada Ami, termasuk hal-hal yang selama ini hanya berani ia bicarakan dengan Vino. Naomi menghela napas."Ada banyak hal yang terjadi."Ami mengangguk, lalu menggeser duduknya agar menghadap Naomi sepenuhnya. "Kalau begitu, ceritakan."Naomi memandang sahabatnya. Untuk pertama kalinya sejak Ami datang, ia tidak lagi memikirkan betapa singkatnya waktu y
Naomi menoleh. "Apa?"Ami meletakkan gelasnya di atas meja. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius."Aku pulang kali ini bukan untuk liburan.""Oh?""Aku pulang untuk bertunangan."Naomi membeku. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkedip, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mendengar. Dia menatap tajam ke arah sahabatnya itu."...Apa?"Ami mengangguk untuk menghilangkan keraguan Naomi. "Aku akan bertunangan."Naomi meletakkan minumnya ke meja."Tunggu. Tunggu dulu." Naomi mengangkat tangan, meminta Ami berhenti bicara. "Kamu pulang setelah sekian lama, tiba-tiba muncul di rumahku, lalu bilang kamu mau bertunangan?"Ami menahan tawa melihat ekspresi sahabatnya."Kalau kamu mengatakannya seperti itu, kedengarannya memang agak mengejutkan.""Agak mengejutkan?" Naomi menatapnya tidak percaya. "Ami, kamu mau bertunangan!""Iya.""Dengan siapa?" tanya Naomi kemudian.Ami terdiam
Pagi harinya, sebuah pesan dari Ami masuk ke ponselnya. Sahabat lamanya itu mengingatkan bahwa mereka seharusnya bertemu hari ini. Mereka sempat membicarakan kemungkinan bertemu di apartemen Naomi. Tetapi, karena Naomi sedang berada di rumah, akhirnya mereka sepakat bertemu di sana saja.Naomi sendiri tidak keberatan. Justru ada sesuatu yang terasa menyenangkan dari gagasan bertemu Ami di rumah masa kecilnya. Tempat itu menyimpan banyak kenangan mereka, sejak masa sekolah hingga sebelum Ami pergi ke luar negeri. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu secara langsung.Selama ini, mereka hanya mengandalkan pesan singkat dan panggilan video untuk bertukar kabar. Itu pun tidak selalu bisa dilakukan sesering yang mereka inginkan karena kesibukan dan perbedaan waktu. Karena itulah, ketika Ami mengatakan akan datang, Naomi tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Siang hari, bel rumah berbunyi. Naomi segera berjalan menuju pintu karena tahu siapa yang akan datang. Beg
Naomi mengaduk kuah udonnya perlahan, meskipun ia belum berniat mengambil suapan berikutnya. Dia masih mempersiapkan keberaniannya untuk cerita selanjutnya. Dia harus mengatakan tentang rencana Mareeq mengajaknya ke Turki. Naomi ingin kakaknya tahu semuanya."Mareeq mengajakku pergi ke Turki." ujar Naomi kemudian.Vino menghentikan gerakan tangannya."Turki?""Iya." Naomi mengangguk.Vino tidak langsung memberikan tanggapan. Ia meletakkan sumpitnya, lalu menyandarkan punggung ke kursi."Kenapa dengan Turki?""Di sana anak dan istrinya tinggal." jawab Naomi."Kamu mau pergi?" tanya Vino penasaran.Pertanyaan itu membuat Naomi terdiam."Nona belum tahu."Apa tujuannya mengajakmu pergi ke negara di mana istri dan anaknya tinggal?" tanya Vino. "Dia tidak sedang menjadikanmu tameng untuk mengakhiri hubungannya dengan istrinya bukan?" ujar Vino memastikan.Naomi sedikit membelalak. Dia tampak terkejut deng
Vino mengamati wajah adiknya. Ia bisa melihat bahwa Naomi tidak sedang mencari pembenaran atas hubungannya dengan Mareeq. Justru sebaliknya, Naomi tampak terus mencari kemungkinan terburuk, seolah ia harus memastikan tidak ada seorang pun yang terluka sebelum mengizinkan dirinya sendiri bahagia."Kamu tidak bisa mencari pria lain?"Naomi menggeleng. "Mareeq ayah dari anak yang pernah Nona kandung."Vino kini mengerti. Dia pria yang sama yang pernah Naomi ceritakan. Bahwa dia mencintai orang lain ketika dia berpacaran dengan Leon."Apakah istri Mareeq tahu hubungan kalian?" tanya Vino.Naomi mengangguk. "Mereka tinggal di luar negeri.""Kamu yakin dia tidak sedang menipumu bukan?" pertanyaan Vino penuh kekhawatiran.Naomi menggeleng. Tapi tidak ada penjelasan lain.Vino terdiam sejenak. Ia ingin mengatakan bahwa Naomi tidak perlu takut, bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi ia tahu ucapan seperti itu tidak akan menyelesaika
"Bagaimana pekerjaanmu? Kapan kamu akan kembali ke kantor?" tanya Vino kemudian.Vino berusaha membuat suasana seperti biasanya. Ia tidak ingin Naomi merasa bahwa ajakan itu muncul karena dirinya baru saja menyebut nama Alina. Namun, ia juga tidak ingin membiarkan adiknya sendirian dengan pikiran-pikiran yang mungkin muncul setelah percakapan tadi."Lancar." jawab Naomi singkat. "Bahkan jika Nona dipecat, Nona akan cari tempat kerja lain." lanjutnya."Benci sekali kamu dengan kantor yang menghasilkan uang untuk kakak?""Nona nggak benci ya!" sanggah Naomi. "Jika Nona masih dapat aliran dana dari situ dengan tidak bekerja, kenapa Nona harus repot-repot bekerja di sana?""Kenapa repot-repot menghasilkan uang untuk perusahaan lain daripada perusahaan sendiri?" Vino berusaha membalik kata-kata adiknya.Naomi merasa tidak mampu membalas. Dia hanya memajukan bibirnya dengan kesal. Vino pun mengusap kepala adiknya."Kakak tidak akan memaksam
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru







