Compartilhar

Di Restoran Jepang

Autor: NaoMiura
last update Data de publicação: 2026-07-14 20:00:05

Libur akhir pekan terasa berjalan terlalu cepat. Naomi masih berada di rumahnya ketika sebuah panggilan masuk. Nama Mareeq muncul di layar. Naomi mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Naomi." Suara di seberang terdengar sedikit serak. "Kamu lagi di mana?"

"Di rumah."

"Mau bertemu?" ujar Mareeq yang lebih terdengar seperti permintaan.

Naomi melirik jam dinding. Menjelang siang. Waktu yang tepat untuk makan siang di luar. Naomi tersenyum kecil.

"Boleh."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bilur Bulir Bertaut   Sorakan

    Suasana kantor dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan percakapan antarpegawai yang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.Naomi melangkah masuk dengan membawa tas kerjanya. Biasanya ia akan menyapa beberapa rekan di divisi marketing. Pagi itu, ia hanya tersenyum tipis lalu langsung menuju mejanya.Ia menyalakan komputer, membuka beberapa berkas pekerjaan, tetapi tatapannya kosong. Huruf-huruf di layar seolah tidak mampu ia cerna. Pikirannya masih dipenuhi hasil USG yang kemarin disimpan Leon dengan begitu hati-hati."Enam minggu."Angka itu terus terngiang.Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Naomi refleks mengangkat kepala. Mareeq. Pria itu baru saja tiba di kantor dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Seperti biasa, beberapa rekan menyapanya.Tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Naomi. Hanya beberapa detik. Naomi segera menundukkan kepala, berpura-pura sibuk membuka file di kom

  • Bilur Bulir Bertaut   Perayaan

    Keluar dari klinik, Leon masih beberapa kali membuka map berisi hasil pemeriksaan. Senyum di wajahnya tak kunjung hilang. Leon mengangkat lembar foto USG kecil itu sekali lagi."Sayang. Aku masih nggak percaya ini."Naomi hanya tersenyum tipis."Kalau bukan karena dokter yang bilang langsung, mungkin aku bakal mengira ini mimpi."Ia tertawa kecil seorang diri.Naomi memperhatikan wajah Leon. Sudah lama ia tidak melihat pria itu tersenyum selepas ini.Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Leon tidak langsung menyalakan mesin. Ia justru menoleh ke arah Naomi. Leon melirik tanggal yang terpampang di layar mobil."Hari ini valentine lho."Naomi ikut melihat. Karena sejak pagi pikirannya dipenuhi hasil test pack dan pemeriksaan dokter, ia bahkan lupa hari itu adalah Hari Valentine.Leon mengembuskan napas pelan sambil tersenyum. "Setiap tahun orang-orang sibuk kasih hadiah cokelat atau bunga."Ia menatap map hasil USG di

  • Bilur Bulir Bertaut   Pemeriksaan

    Leon melihat Naomi yang masih duduk diam di sofa. Terlihat masih sangat terkejut. Akhirnya, Leon mengajak Naomi keluar."Ayo."Naomi mengangkat wajah. "Ke mana?""Kita ke dokter."Naomi membeku. "Dokter?"Leon mengangguk. "Biar kita nggak cuma mengandalkan test pack.""Tapi...""Mumpung kita hari ini libur dan tidak ada rencana."Nada suaranya begitu tenang. Seolah semuanya sudah diputuskan. Naomi pun tidak bisa menolak.Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Leon beberapa kali melirik Naomi."Kamu mual?""Nggak.""Pusing?""Sedikit."Leon mengulurkan tangan, menggenggam jemari Naomi yang berada di atas pahanya. Pandangan Naomi tetap lurus ke depan. Sementara pikirannya entah ke mana.Mereka tiba di sebuah klinik spesialis kandungan. Ruang tunggunya dipenuhi beberapa pasangan suami istri. Seorang wanita hamil dengan perut yang sudah membesar sedang tertawa kecil

  • Bilur Bulir Bertaut   Penerimaan

    Naomi masih duduk di atas kloset yang tertutup. Air matanya sudah berhenti mengalir. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Tatapannya kosong.Di tangannya, test pack itu masih tergenggam begitu erat hingga jemarinya memutih. Ia tidak tahu sudah berapa lama berada di sana. Lima menit. Sepuluh menit. Atau mungkin lebih. Yang ia tahu hanyalah pikirannya terasa kacau. Semua rencana hidup yang selama ini ia susun seakan runtuh dalam satu pagi.Tok... Tok..."Sayang?"Suara Leon terdengar dari balik pintu. Naomi tidak menjawab."Naomi?"Masih hening. Leon mulai merasa ada yang tidak beres. Perlahan ia memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Pintu kamar mandi terbuka."Naomi."Leon mengamati kekasihnya. Ia mendapati Naomi masih mengenakan piyamanya, duduk diam di atas kloset dengan wajah yang sangat pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya sembap."Kamu kenapa?" Leon langsung berjongkok di depan

  • Bilur Bulir Bertaut   Garis Kepastian

    Begitu tiba di apartemen, suasana yang sunyi langsung menyambut Naomi. Naomi melepas sepatu dan meletakkan tas di sofa. Tak ada suara televisi. Hanya dengungan pendingin ruangan yang terdengar pelan.Ia mengeluarkan kantong dari dalam tas. Perlahan, ia mengeluarkan satu per satu isinya. Obat pelancar haid. Lalu... Sebuah kotak kecil bertuliskan test pack.Naomi meletakkannya di atas meja di ruang TV. Tatapannya tidak berpindah. Tangannya perlahan meraih kotak itu. Lalu diurungkannya. Ia menarik napas panjang.Ia menggigit bibir bawahnya. Ia berharap bahwa ini karena terlalu banyak pikiran. Dia tidak bisa membayangkan jika hasilnya benar positif. Dadanya mendadak sesak.Naomi menutup wajah dengan kedua telapak tangan."Tidak boleh..."Bisiknya lirih.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin cuma telat. Mungkin karena stres. Mungkin karena kecapekan. Semakin banyak kemungkinan yang ia pikirkan, semakin besar pula rasa

  • Bilur Bulir Bertaut   Kekhawatiran

    Mareeq mengencangkan baut roda untuk terakhir kalinya, lalu berdiri sambil mengusap kedua telapak tangannya yang dipenuhi debu. Ban cadangan sudah terpasang dengan baik. Ia menepuk pelan ban itu, memastikan semuanya aman sebelum menutup bagasi.Saat membuka pintu pengemudi, pandangannya langsung tertuju pada Naomi. Naomi masih duduk di kursi penumpang. Tatapannya mengarah ke luar jendela, tetapi seolah tidak benar-benar melihat apa pun."Naomi."Naomi sedikit tersentak. "Hmm?""Sudah selesai.""Oh..." Ia memaksakan senyum tipis. "Terima kasih."Mareeq masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Namun bukannya langsung menjalankan mobil, ia justru menoleh ke arah Naomi."Kamu kenapa?"Naomi menggeleng pelan. "Nggak kenapa-kenapa.""Kamu dari tadi diam.""Aku cuma capek."Mareeq memperhatikan wajah Naomi beberapa detik. Biasanya, setelah pekerjaan selesai atau ada kejadian kecil di jalan, Naomi akan mengomenta

  • Bilur Bulir Bertaut   Kata yang Tidak Terucap

    Makan siang itu akhirnya mencapai ujungnya tanpa benar-benar selesai. Piring-piring mulai kosong. Percakapan mereda dengan sendirinya, seperti sesuatu yang tidak ingin dipaksakan.Naomi menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap meja sebentar. Leon mengambil gelasnya, menghabiskan sisa min

  • Bilur Bulir Bertaut   Saling Percaya

    Naomi langsung melepas sendok yang masih digigitnya. Naomi akhirnya menarik sendok itu keluar, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu kecil.“Kebiasaan jelek.”Tersenyum malu karena dimarahi Mareeq seperti itu. Dia serasa menjadi Freya. Perhatian kecil dari Mareeq yan

  • Bilur Bulir Bertaut   Ruang yang Masih Ada

    Beberapa menit kemudian, penjaga tadi kembali.“Maaf, Kak,” katanya. “Stoknya memang habis. Belum datang lagi.”Naomi terdiam sebentar. “Oh… ya sudah,” jawabnya pelan.Penjaga itu mengangguk dan pergi lagi. Hening. Naomi masih menata

  • Bilur Bulir Bertaut   Wafer Roll

    Mareeq tidak membalas senyum itu. Hening. Naomi menunduk lagi. Tangannya berhenti memainkan tangannya sendiri.“Makanya aku bilang aku harusnya nggak nyaman.” Naomi melanjutkan, lebih pelan sekarang. “Karena kalau aku mulai menganggap semua ini normal… itu berarti

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status