로그인Naomi menoleh sedikit, tampak tidak keberatan. Tanpa banyak kata, mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri koridor.
Rahaal tetap di tempatnya. Ia tidak ikut. Hanya berdiri diam beberapa detik, memperhatikan punggung Naomi yang perlahan menjauh bersama Mareeq.
Langkah mereka tidak terburu-buru. Suara sepatu mereka terdengar pelan di lantai koridor yang mengilap. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan vending machine di ujung lorong. Lampu mesin itu menyala terang, me
"Oh." Vino langsung mengangguk.Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang. Pepohonan rindang mengelilingi sebuah taman kecil yang berada tak jauh dari rumah nenek Naomi.Di sebuah bangku taman, seorang pria dengan kaus putih dan celana jeans sedang duduk sambil memainkan ponselnya.Begitu melihat mobil Vino berhenti, ia langsung berdiri seolah menunjukkan kehadirannya."Nah, itu dia." Naomi tersenyum.Vino menghentikan mobil di pinggir jalan. "Jangan pulang kemaleman.""Iya."Naomi turun sambil membawa kotak cheesecake. Setelah itu mobil pergi meninggalkan mereka berdua. Mobil Vino pun perlahan menghilang di tikungan.Naomi menoleh ke arah Killa dan tersenyum. "Urusan apa di sekitar sini?""Ada sama kenalan."Keduanya mulai berjalan menuju bangku taman. Naomi meletakkan kotak kuenya di sampingnya. Keheningan sementara menyelimuti mereka.Tak jauh dari sana, Killa melihat ada
"Bagaimana bisa kamu bersama mama?" tanya Vino."Mama jemput Nona di kantor. Katanya proyeknya di Legacy sudah selesai dan perlu menyelesaikan beberapa urusan di London."Vino mengangguk mengerti. "Mungkin menemui pacarnya." gurau Vino.Vino melirik ke arah adiknya. Tidak ada reaksi dari Naomi. Beberapa detik benar-benar tidak ada tanggapan."Mama tidak punya pacar. Mama masih cinta papa." ujar Naomi kemudian."Hmm.." gumam Vino.Adiknya itu masih beranggapan bahwa mama masih mencintai papa. Dan pasti dia juga berpikir papa mereka masih mencintai mama. Tapi, tidak ada cara untuk mereka bisa kembali bersama.Mereka lalu keluar menuju area parkir. Angin siang berembus pelan ketika keduanya berjalan. Benar-benar cuaca yang cerah."Kenapa nggak ikut Mama ke London beberapa hari?"Naomi menoleh. "Hm?""Liburan sebentar. Hitung-hitung refreshing."Naomi menggeleng tanpa berpikir lama. "Nggak.""Kenapa?"
Malam semakin larut. Setelah membereskan beberapa barang ke koper, Renata mengajak Naomi masuk ke kamar."Ayo tidur. Besok Mama harus berangkat pagi."Naomi mengangguk. Lampu utama dipadamkan. Hanya lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan.Begitu Renata berbaring, Naomi langsung bergeser mendekat. Tanpa banyak bicara, ia memeluk pinggang ibunya seperti kebiasaan yang dulu sering dilakukannya saat kecil. Renata sempat tertawa pelan."Kamu benar-benar masih sama."Naomi memejamkan mata. "Nyaman."Tangan Renata perlahan mengusap rambut putrinya. Gerakannya lembut dan teratur. Seolah semua kegelisahan Naomi ikut tersapu setiap kali jemarinya menyisir helaian rambut itu.Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Tiba-tiba Naomi bergumam pelan."Aku suka bau Mama."Renata terkekeh. "Bagaimana baunya?""Bikin tenang."Renata tidak mampu men
Mobil berhenti di depan sebuah restoran bergaya Eropa yang tidak terlalu ramai. Renata memang sengaja memilih tempat yang tenang agar mereka bisa berbincang tanpa terganggu. Pelayan mengantar keduanya ke meja di dekat jendela.Setelah memesan makanan, suasana sempat diisi obrolan ringan mengenai pekerjaan Renata di London dan perkembangan perusahaan. Tak lama kemudian, minuman mereka datang lebih dulu. Naomi mengaduk perlahan teh hangat di depannya. Tatapannya jatuh pada permukaan cangkir. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih ragu.Renata yang mengenal putrinya sejak kecil langsung menyadarinya. "Ada yang kamu pikrikan?"Naomi mengangkat kepala. "Hm..." Ia tersenyum kecil, sedikit canggung."Mama...""Iya?""Waktu Mama hamil Kak Vino, perasaan Mama gimana?"Renata meletakkan cangkir kopinya. Pertanyaan itu membuat Renata terdiam beberapa detik. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia justru tersenyum lembut, seolah seda
Jam kerja akhirnya usai. Satu per satu karyawan mulai mematikan komputer dan merapikan meja masing-masing. Hari jumat memang hari yang pendek dan para karyawan bergegas untuk meninggalkan kantor.Naomi pun memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, lalu mengenakan blazer tipisnya. Kotak susu yang diberikan Mareeq sudah habis tinggal bungkusnya, Naomi berniat membuangnya."Naomi, aku duluan ya," pamit Flora."Iya, hati-hati." balas Naomi.Naomi tersenyum kecil sebelum ikut melangkah menuju pintu keluar. Langkahnya tenang hingga tiba di depan pintu, pintu terbuka dari luar. Naomi sempat terkejut. Itu Rahaal. Mereka sama-sama berhenti sepersekian detik. Tatapan mereka bertemu.Naomi tidak segera mengalihkan pandangan. Begitu pula Rahaal. Untuk beberapa saat, pria itu hanya menatapnya dalam diam. Ada sesuatu di matanya. Seolah ingin mengatakan sesuatu.Naomi melihat di tangannya terdapat sebuah map berwarna hitam dan beberapa lembar dokumen yang
Meeting selesai menjelang siang. Semua mulai merapikan dokumen dan laptop. Naomi sengaja sedikit memperlambat gerakannya.Biasanya setelah rapat, Rahaal akan menunggu Naomi bicara dengan kakaknya. Hari ini, dia bergegas merapikan dokumen. Ia melewati belakang kursi Naomi dengan menjaga jarak beberapa langkah, lalu langsung keluar ruangan bersama supervisor lain.Naomi hanya memperhatikannya sekilas. Ia memilih untuk tidak memikirkannya terlalu lama. Seperti biasanya, setelah rapat gabungan selesai, ia menyempatkan diri menemui Vino sebelum sang kakak kembali ke kantor Gigantic."Naomi, ayo kembali." ajak Claudia."Kamu duluan saja. Aku akan mampir ke tempat lain sebentar.""Oke. Aku duluan." ujar Claudia lalu pergi meninggalkan ruangan.Vino baru saja memasukkan beberapa map ke dalam tas kerjanya ketika melihat Naomi menghampirinya."Kak."Vino menoleh dan tersenyum. Dia melihat adiknya dengan seksama. Kali ini Naomi tampak jau
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.
Beberapa menit kemudian, penjaga tadi kembali.“Maaf, Kak,” katanya. “Stoknya memang habis. Belum datang lagi.”Naomi terdiam sebentar. “Oh… ya sudah,” jawabnya pelan.Penjaga itu mengangguk dan pergi lagi. Hening. Naomi masih menata
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du







