/ Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Sesuatu yang Tertinggal

공유

Sesuatu yang Tertinggal

작가: NaoMiura
last update 게시일: 2026-04-05 21:00:36

Naomi berjalan ke arah ruangan mereka. Langkahnya ringan, tapi tidak sepenuhnya santai. Ada ritme yang sedikit terlalu teratur, seolah ia sedang menjaga sesuatu tetap rapi di dalam dirinya.

Di sampingnya, Mareeq berjalan dengan tempo yang lebih tenang. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia tidak terburu-buru, namun langkahnya tetap menyesuaikan dengan Naomi tanpa perlu diminta. Sesekali, tatapannya bergeser ke arah wanita itu. Bukan terang-terangan, hanya sekilas, cukup untuk m

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bilur Bulir Bertaut   Permainan di Pantai

    Claudia bicara lebih pelan. “Terima kasih sudah datang semalam.”Mareeq tidak langsung menjawab. Ada jeda sebentar seolah dia lebih fokus ke arah lain.“Kamu tidak perlu memikirkan itu.”Claudia tersenyum kecil hambar. “Aku sangat lega kamu tetap datang.”Tatapannya turun ke dress yang ia pakai pagi itu. Dress santai berwarna lembut yang nyaman dan jauh berbeda dari pakaian pestanya semalam.“Dan… terima kasih untuk ini juga.”Mareeq mengikuti arah pandangnya. Lalu berkata tenang, “Naomi yang membelinya.”Claudia terdiam.“Dia yang ingin membelikan untukmu. Aku cuma bayar.”Kalimat itu sederhana. Namun Claudia langsung menangkap maksudnya. Mareeq sengaja. Sengaja ingin Claudia tahu bahwa perhatian itu datang dari Naomi. Anehnya itu membuat dada Claudia terasa sesak.Claudia tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak benar-benar sampai ke mat

  • Bilur Bulir Bertaut   Liburan Dadakan

    "Tunggu, tunggu ..." sela Flora. "Jangan bilang Leon pergi dengan Maya?" tebak FLora."Aku menduga seperti itu." ujar Naomi lesu."Aku sudah bilang kan?" ujar Flora dengan suara sedikit gemas dan kesal bercampur. "Baiklah, kamu dan Mareeq bertemu. Lalu?""Claudia menghubungi Mareeq. Lalu sampailah kami di sini." Naomi menggidikkan bahu."Aku tidak bisa bayangkan jika tidak ada kamu apa yang akan dilakukan Claudia.""Mareeq bilang ini bukan pertama kalinya.""Sudah sering?" Flora terbelalak."Aku tidak tahu.""Kalian berdua menghubungi Mareeq ketika sedang ada masalah?" gumam Flora. "Kalian seharusnya sadar bahwa Mareeq sudah memiliki anak dan istri."Flora hanya melihat Naomi terdiam."Ya, baiklah. Aku tahu kalian sangat dekat. Tapi, kamu harus hati-hati.""Kenapa?""Aku merasa perasaan Mareeq padamu lebih dari seorang sahabat." ujar Flora mengambil makanan di meja."Kalau pun itu benar. Aku b

  • Bilur Bulir Bertaut   Si Penengah

    Naomi menutup mata sebentar. Dadanya terasa penuh. Naomi benar-benar tidak bisa bicara. Dia tidak bisa lagi mengatakan tidak bisa atau tidak boleh. Mareeq tidak sedang bercanda. Ia serius. Sangat serius.Naomi kemudian menatap lurus ke depan. Lampu jalan berpendar samar di kaca mobil, memantul di matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia menarik napas pelan. Lama. Seolah sedang mengumpulkan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.Mareeq melirik Naomi sekilas. Ia melihat jelas bagaimana wanita itu menahan sesuatu. Bukan lagi sekadar ragu, tapi hampir runtuh di dalam diamnya sendiri.“Aku nggak akan maksa kamu,” ujar Mareeq pelan.Naomi tidak bergerak. Kalimat itu membuat jemari Naomi yang saling menggenggam perlahan mengendur. Mareeq menarik napas, lalu melanjutkan, suaranya lebih rendah.“Tapi jangan menjauh dariku cuma karena kamu takut ini salah. Kalau kita memang salah…” lanjut Mareeq, “biar itu jadi tanggung j

  • Bilur Bulir Bertaut   Hal yang Boleh dan Tidak

    Secara reflek Naomi memandangnya. Mata mereka bertemu di kegelapan malam. Naomi tersenyum padanya."Aku tahu," ujarnya. "tapi, aku juga nggak tahu."Ekspresi wajah Naomi berubah seketika. Suaranya mulai gemetar. Mareeq tahu gadis itu sedang menahan tangisnya. Dia pun melepas genggaman tangannya, berganti menjadi sebuah pelukan.Naomi membenamkan wajahnya pada pria itu. Meskipun tidak terisak, tapi Mareeq tahu Naomi sedang lelah. Hanya pelukan dan usapan lembut di punggungnya yang bisa dia berikan.Selama kurang lebih sepuluh menit mereka berada di posisi itu. Sementara di dalam penginapan, dari jendela Claudia berdiri diam... Melihat semuanya.Naomi mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Mareeq. "Aku baik-baik saja."Mareeq melihat ke arah mata yang sembap itu. Rasa cemas di matanya terlihat berkurang. Mareeq pun tersenyum."Kita masuk saja?" pinta Mareeq.Naomi lalu mengangguk. Mareeq lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Na

  • Bilur Bulir Bertaut   Kekacauan di Beach Club

    Naomi menatap permukaan danau yang mulai beriak tertiup angin malam. Suasana tenang beberapa menit lalu terasa hilang begitu saja.Mareeq berdiri sambil mengambil kunci mobil. “Kita pergi sebentar.”Naomi menatap ke Mareeq. “Ada apa dengan Claudia?”“Entahlah.”Nada suara Mareeq datar, tapi Naomi bisa melihat rahangnya sedikit menegang. Mereka berjalan kembali menuju parkiran kedai. Tidak banyak percakapan selama perjalanan menuju beach club itu.Naomi duduk diam di kursi penumpang, memegang cup matchanya yang kini hanya tersisa setengah. Ia meminumnya pelan, lebih untuk mengisi keheningan daripada karena ingin. Lampu-lampu kota lewat begitu saja di balik jendela.Ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ia seharusnya tidak ikut. Ini bukan urusannya. Selain itu, Claudia pasti akan berusaha memperlihatkan kedekatan mereka.“Kamu bisa menurunkanku di sini kalau memang harus ke sana,&rdqu

  • Bilur Bulir Bertaut   Dekat yang Membingungkan

    Mobil Vino berhenti pelan di depan apartemen Naomi hampir pukul sembilan malam. Vino melirik pada adiknya. Naomi masih tetap dia, melamun bersandar kaca jendela."Siapkan energimu untuk belanja besok," ujar Vino sambil melepas seatbelt Naomi.Naomi menghela napas. "Siapkan kartu kakak untuk besok."Vino menatap adiknya beberapa detik. “Kamu capek.”Bukan pertanyaan. Naomi tersenyum tipis seolah ingin menenangkan kakaknya.“Aku butuh tidur.”Namun Vino tahu Naomi berbohong ketika wanita itu langsung turun tanpa banyak bicara. Biasanya akan ada percakapan lain yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Tapi, ini dia terlihat ingin segera menghindari kakaknya.Begitu pintu apartemen terbuka, kesunyian langsung menyambut Naomi. Gelap. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma makanan atau minuman yang biasanya dibuat Leon. Bahkan sepatu Leon pun tidak ada di dekat pintu.Naomi berdiri diam beberapa saat. Padah

  • Bilur Bulir Bertaut   Tumbler

    Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di de

  • Bilur Bulir Bertaut   Kakak-Adik

    Flora yang namanya disebut pun langsung memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak ingin disalahkan. Apalagi memang Flora yang meminta Alina menangani ini."Jangan mencoba melimpahkan kesalahan pada orang lain!"Baru pertama kalinya orang-orang melihat Naomi semarah ini. A

  • Bilur Bulir Bertaut   Persaudaraan

    "Naomi. apakah kamu ingin kopi?" Tanya Leon."Oh, aku tidak minum kopi. Temanku sudah membawakanku minum." Naomi menunjukkan minuman.Kedua pria itu saling tatap sebentar. Lalu saling mengabaikan. Entah apa yang ada di pikiran masing-masing."Ayo naik ke atas, ini sudah waktunya jam kerja." Ajak Le

  • Bilur Bulir Bertaut   Orang Baru

    "Akan ada sesuatu yang mengejutkan nanti."Naomi menatap bingung ke Mareeq. "Apa itu?""Kamu akan tahu nanti. Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi kamu pasti akan suka." Jawab Mareeq berjalan lebih dulu.Naomi mengikuti Mareeq. Mereka berjalan sampai ke ruangan Naomi. Naomi

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status