LOGINTak banyak percakapan di dalam mobil. Raya mengamati mata Mareeq yang terus melirik ke arah Naomi. Naomi sendiri berusaha tetap memandang ke luar jendela.
Mobil akhirnya memasuki kompleks perumahan Mareeq dan Raya. Gerbang terbuka, lalu mobil berhenti di depan rumah. Mareeq mematikan mesin.
Raya membuka pintu belakang perlahan, sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidur Freya. Ia mengangkat tubuh kecil itu dengan lembut ke dalam pelukannya. Freya hanya mengerang kecil, lalu ke
Naomi menarik tangannya perlahan dari permukaan tumbler itu. Dingin yang tadi terasa ringan, kini seperti tertinggal di ujung jarinya. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu menghela napas pelan dan kembali ke layar komputer. Kursor berkedip di satu baris yang belum selesai, seolah menunggu sesuatu yang bahkan Naomi sendiri belum siap memberikannya.Fokus. Ia harus kembali ke sana. Jemarinya mulai bergerak lagi, mengetik, menghapus, lalu mengetik ulang. Ritme kerja yang biasanya otomatis kini terasa sedikit dipaksakan. Tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya mengalir. Pikirannya masih terlalu penuh.Sore akhirnya datang tanpa terasa. Cahaya matahari mulai meredup, berganti warna keemasan yang jatuh lembut di balik kaca gedung. Satu per satu meja mulai ditinggalkan, suara kursi yang bergeser dan langkah kaki yang pulang menciptakan suasana yang berbeda. Lebih ringan, tapi juga lebih kosong.Naomi mematikan komputernya. Layar yang gelap memantulkan wajahnya
Mareeq tidak langsung menyalakan mobil. Tangannya masih berada di setir, tapi tidak bergerak. Pandangannya lurus ke depan, pada jalan yang terbuka, tapi pikirannya jelas tidak di sana.Naomi di sampingnya juga diam. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, justru mungkin karena terlalu banyak.Suara AC mengisi ruang di antara mereka, lembut, konstan, seperti mencoba menjaga sesuatu agar tidak pecah.“Kamu selalu tahu apa yang aku pikirkan.” kata Mareeq akhirnya. Pelan. Hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.Naomi tidak langsung menanggapi. Ia memutar tumbler di tangannya, memperhatikan embun tipis yang terbentuk di permukaannya.“Manusia memang kadang terlalu banyak berpikir,” jawabnya ringan.Mareeq terkekeh kecil. Kali ini benar-benar terdengar, meski singkat. “Itu bukan jawaban yang seharusnya.”Naomi mengangkat bahu tipis. “Itu jawaban yang aman.”Hening lagi. Tapi tid
Mareeq tidak langsung kembali pada makanannya. Ia justru menatap Naomi. Dalam diam itu, ada sesuatu yang akhirnya terasa jelas. Bahwa mungkin, mereka berdua sedang memikirkan hal yang sama. Hanya saja… belum ada yang cukup berani untuk mengatakannya lebih dulu.Naomi akhirnya mengambil gelas tehnya, menyesap pelan hanya untuk memberi jeda pada pikirannya sendiri. Rasa hangat itu turun perlahan, tapi tidak benar-benar menenangkan. Ia meletakkan gelasnya kembali, lalu menarik napas kecil.“Nanti mampir beli matcha ya,” katanya tiba-tiba.Kalimat itu terdengar ringan. Hampir seperti kebiasaan. Mareeq yang semula diam, mengangkat pandangannya. Lalu dia mengangguk. Tidak ada protes. Tidak ada pertanyaan tambahan. Dan justru itu yang membuat Naomi sedikit terdiam.Naomi menyandarkan punggungnya, memperhatikannya lagi.“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Naomi pelan pada akhirnya.Mareeq terlihat sedikit bingung. &ldq
Langit siang itu tidak benar-benar cerah. Ada lapisan tipis awan yang menggantung rendah, menyaring cahaya matahari menjadi lembut dan pucat. Seolah dunia sedang menahan diri untuk tidak terlalu terang.Angin berembus pelan, membawa aroma aspal yang hangat dan dedaunan yang bergesekan lirih di sekitar area parkir.Naomi berjalan melewati deretan mobil dengan langkah yang tidak terburu-buru, tapi juga tidak benar-benar santai. Dia ada janji makan siang dengan Mareeq.Di tempat parkir, ia sudah bisa mengenali mobil itu dari kejauhan. Selalu di posisi sama, tidak pernah berubah. Jika Naomi membawa mobil, tempatnya juga akan sama. Di sebelah mobil itu.Naomi memperlambat langkahnya sedikit saat mendekat, matanya menangkap siluet seseorang di balik kaca gelap. Mareeq.Namun ada sesuatu yang membuat langkahnya berhenti setengah detik lebih lama. Di dalam mobil itu, Mareeq tidak bergerak. Kepalanya sedikit menunduk, satu tangannya bertumpu di setir, dan y
Suara air mengalir pelan memenuhi ruang toilet yang siang itu cukup sepi. Cahaya lampu memantul di cermin besar, menciptakan suasana yang bersih, tapi juga terasa terlalu tenang.Naomi berdiri di depan wastafel, mencuci tangannya. Gerakannya rapi, seperti biasa. Tenang dan terkontrol. Di sampingnya, Claudia sedang merapikan penampilannya di depan cermin. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.“Tumblermu bagus.” Suara Claudia terdengar ringan, seolah hanya komentar biasa.Naomi melirik lewat cermin, lalu tersenyum kecil. “Yang di meja?”Claudia mengangguk. “Iya.”Naomi mengeringkan tangannya dengan tisu. “Lagi promo, jadi sekalian beli.”Claudia mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Tapi matanya masih tertahan di pantulan Naomi di cermin. Claudia tersenyum tipis.“Menariknya… Rahaal punya yang sama.”Naomi berhenti sejenak. Bukan karena terkejut. Lebih
Pagi datang dengan ritme yang kembali rapi. Naomi sudah duduk di mejanya lebih dulu, seperti biasa. Komputer menyala, beberapa dokumen terbuka, dan di sampingnya tumbler yang kemarin dia beli.Naomi sedang menatap layar komputernya ketika sebuah map diletakkan pelan di mejanya. Ia mendongak. Mareeq berdiri di sana.“Ada yang perlu direvisi,” katanya singkat, menunjuk dokumen di dalam map. “Bagian tengahnya, coba dicek lagi.”Naomi mengangguk, lalu menarik map itu mendekat. “Oke, nanti aku lihat.”Saat itulah pandangan Mareeq bergeser. Ke samping meja. Tumbler. Ia berhenti sejenak.Mareeq mengangkat alis tipis, masih memperhatikan. “Tumbler baru?” tanyanya.Naomi mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum kecil. “Iya. Bagus nggak?”Mareeq mengangguk dan tersenyum. "Bagus."Naomi tampak sedikit lebih hidup mendengar itu. Ia mengangkat tumblernya sedikit, seolah memperliha
Tiba-tiba Mareeq menyalakan lampu sein dan membelokkan mobil ke sebuah pom bensin yang masih terang di tengah malam.Naomi menoleh sedikit. “Kamu ingin beli bensin?”Mareeq menggeleng. “Kamu ingin cuci muka agar lebih segar?” Mareeq menawari.Naomi mel
Sore mulai turun perlahan di taman hiburan. Matahari tidak lagi seterang siang tadi, dan cahaya hangatnya membuat seluruh tempat itu terlihat lebih lembut. Lampu-lampu kecil yang tergantung di sepanjang jalan setapak satu per satu mulai menyala.Freya masih menggandeng tangan Mareeq, tanga
Raya melihat momen kecil itu. Begitu cepat… tapi cukup jelas. Raaya tidak berkomentar apapun. Tapi sepertinya Mareeq tahu Raya memperhatikannya. Mareeq menoleh ke arah lain.Kabin bianglala mulai turun perlahan setelah beberapa putaran. Freya masih menempel di jendela, tangannya men
Perahu angsa akhirnya kembali ke dermaga setelah hampir dua puluh menit berkeliling danau. Freya turun lebih dulu dengan langkah ringan, masih memegang tangan Mareeq.“Aku lapar,” katanya tiba-tiba.Raya tertawa kecil. “Tadi katanya masih kuat.”Freya







